-----Original Message-----
From:                   [EMAIL PROTECTED]
Sent:                   Thursday, September 02, 1999 2:26 AM
To:                     Multiple recipients of list
Cc:
Subject:                        Re: FW: Re: UNAMET gombal


amat:
bung majalah dr, saya setuju bahwa 'barat' mendominasi wacana tidak hanya
politik, tapi juga sosial dan budaya. tapi dalam konteks dominasi ini,
saya belum menjumpai ungkapan 'white burden men'. bisakah anda mencerahi
saya, di mana saya bisa mendapatkan referensi perihal 'white burden men'
dalam konteks dominasi 'barat'?

Satrio:
Sayang, koleksi buku saya sangat terbatas. Ini adalah cuplikan yang pernah
saya baca, tapi saya lupa di buku mana dan karangan siapa.
amat:
anda pernah baca 'hikayat siti mariyah'? di sana juga dilukiskan bagaimana
para [abdi] ningrat merasa berkewajiban untuk membudayakan perempuan
pesisir ini.

gunawan mohamad dalam kumpulan 'menagerie' juga mengeluhkan bagaimana
budaya pesisirannya inferior dan perlu disubordinasikan ke budaya 'negari-
gung' [istilah ini diambil dari koentjaraningrat]?

lalu, bukankah semangat untuk memberadabkan ini juga ada dalam hubungan
budaya lokal? mengapa musti 'kulit putih' yang di-'single out'?

Satrio:
Saya �kan sudah bilang, ketika ramai bicara soal �kulit putih� itu adalah
gaya bahasa pamflet dan demonstran. Nggak usah terlalu diseriusin. Saya
sudah pasti setuju bahwa wacana dominasi ini tidak terbatas pada kulit
putih.

Amat:
arief budiman dalam seminar kemarin mengatakan bahwa rasisme adalah
konstruksi sosial untuk melayani kepentingan lain. menggunakan kerangka
ini maka saya menduga bahwa kita perlu memetakan 'kulit putih' untuk bisa
kita 'bidik' [dengan kepentingan yang lain. bukan karena deskripsi
keputihan yang kita proposisikan].

ini seperti kebanyakan kita melihat cindo. kita perlu membuat deskripsi
cindo sedemikian rupa: binatang ekonomi, tidak nasionalis, sumber petaka
ekonomi, tukang suap, agar kejengkelan kita tersalur. [bandingkan dengan
deskripsi jawa: malas, mata keranjang untuk yang laki-laki, murahan untuk
perempuannya]. ketika kita ditanya apakah kita kenal dengan seorang cindo
dan jawabannya 'iya'. dan apakah deskripsi itu tepat untuk mendeskripsikan
teman kita itu, 'o....dia kekecualian'.

Satrio: Sudah saya jawab di atas. Saya sih OK saja.
Amat:
yap.... setuju. tapi bukankah lalu kemudian ada usaha rekonsiliasi antara
indian dan kulit hitam di amerika dengan kulit putihnya [meskipun memang
tidak selalu mulus], aborijin dengan white australianya [meskipun masih
belum juga tuntas], timur timor dengan portugalnya [yang kemudian
memungkinkan terjadinya jajak pendapat], indonesia dengan belanda [ingat
politik balas jasa van de venter [?], india dengan inggris [dengan payung
commonwealthnya], amerika latin dan sepanyol [yang ini saya tidak tahu]?
bukankah juga kampiun kampiun 'barat' yang 'mengajari' kita tahu hak?

Satrio:
Sebagian rekonsiliasi ini terjadi sesudah �terlambat�. Apa yang tersisa bagi
rakyat Indian Amerika selain yang dipertunjukkan di film bioskop dan �cagar
budaya�? Untuk yang kulit hitam, masih agak lumayan, karena ada Michael
Jackson, Muhammad Ali, George Benson, Colin Powell, dll.
Dalam kasus Indonesia, politik balas budi Belanda (politik etik) dipelintir,
dengan memberi pendidikan pada kalangan aristokrat/feodal Jawa, yang tujuan
sebenarnya adalah menyediakan tenaga kerja administrasi yang cukup bisa
baca-tulis (tapi tetap di bawah dominasi Belanda) untuk memenuhi kebutuhan
kaum kapitalis Belanda. Tapi ada untungnya juga, karena ilmu ini memberi
pencerahan dan melahirkan orang macam Soekarno, Ki Hajar Dewantoro, Cipto
Mangunkusumo, dll..

amat:
di mana indonesia yang dalam setatmennya mengaku berpolitik bebas dan
aktif, dalam prakteknya berayun ke 'barat' dengan dimampuskannya [bukan
mampus sendiri karena mati kayak sopiet] sosialisme dan komunisme di
indonesia.

Satrio: Kita ingin berpolitik bebas-aktif. Dalam beberapa kasus, itu
berhasil. Amerika dan Saudi ingin Indonesia mengirim pasukan, dalam koalisi
multinasional melawan Irak dalam Peran Teluk 1991. Tapi RI menolak.
RI juga menolak membuat pakta pertahanan di Asia Tenggara, dan lebih
mendorong ASEAN sebagai organisasi ekonomi.

Namun RI tidak bisa menutup mata pada realita kekuatan internasional, siapa
yang punya duit, siapa punya senjata. Kalau masih menginjak bumi, kita harus
memperhitungkan realita.

amat:
dan sebenarnya kekhawatiran ri itu juga bisa dibaca sebagai kekhawatiran
juragan emberikan akan hegemoninya di kawasan asia sesudah dipecundangi di
perang vietnam. kalau lebih mau sakartis, indonesia yang katanya
berpolitik bebas dan aktif itu, musti mengikuti 'juragan' barunya.

Satrio: sudah saya jawab di atas.

amat:
[dulu-dulunya, seingat saya, kata atau jargon 'munafik' itu miliknya
wacana agama yang bergiat dalam konsistensi ketaatan, karena memang
begitulah intisari keberagamaan atau keberimanan. sementara politik adalah
perihal kepentingan, kekuasaan yang jelas tidak menjadikan konsistensi
sebagai acuan utamanya. logika untuk mengatakan politik 'munafik', sejalan
dengan logika 'binatang bodoh'.]

menurut saya, perubahan sikap oz dan emberikan bisa dibaca sebagai
beberapa kemungkinan:

*emberikan dan oz secara tidak langsung mengakui kekeliruannya yang
terdahulu dalam menyikapi timor loro sae.

Satrio:
Ini bagi Oz bukan suatu pengakuan kekeliruan. Tapi manuver politik biasa.
Dan, meminjam penjelasan Anda sendiri tentang nature politik, kalau
kepentingan berubah atau konstelasi politik berubah, maka sikap politik juga
bisa berubah.

*emberikan dan [mantan] sekutunya [dalam pakta anzus] menjadi kehilangan
legitimasinya karena sudah tidak ada issue perang dingin lagi, dan
akibatnya perkara timor loro sae sudah tidak relevan lagi.

*kapitalisme yang bergerak dua arah, kapitalisasi dan diversifikasi, akan
mendapatkan momentumnya dengan melihat kembali issue timor loro sae dalam
kerangka diversifikasi investasi.

Satrio: Sudah saya jawab di atas, meski saya kurang jelas terhadap
�diversifikasi investasi�. Kalau saya tak keliru menangkap, investasi di
Tim-Tim tidak banyak bedanya, baik Tim-Tim yang merdeka atau Tim-Tim di
bawah RI. Yang beda cuma elite politiknya (dan mungkin isi deal-nya).
HAM!
amat:
bukankah lebih baik berkaok kaok tentang ham untuk membetulkan kekeliruan
masa lalu, daripada tidak berkaok kaok sama sekali dan membiarkan diri
selalu dihantui oleh masa lalu? untuk bertobat dan berbuat baik,
manusia/negara tidak perlu menjadi malaikat/sorga dulu. tapi jelas tidak
bisa dipertanggungjawabkan kalau manusia sekaligus menjadi malaikat dan
setan.

Satrio: Sekarang Anda yang memakai jargon agama dan religius, soal malaikat
dan sorga.
amat:
dan masih juga ditambah dengan banyaknya orang yang menerapkan teori tidak
'bersih lingkungannya' orde baru. kalau orde baru mem-pki-kan anak,
tetangga, saudara, dan bahkan orang yang tidak tahu sama sekali tentang
pki itu apa, orang yang menerapkan teori 'bersih lingkungannya' orde baru
terpaksa sadar atau tidak menuduh 'unfair' seluruh komunitas kulit putih.
what a successful [social] education!

Satrio:
Diskusi ini tak ada hubungannya dengan soal �bersih lingkungan� atau PKI.
Tapi bahwa Orde Baru dengan policy �bersih lingkungan� (yang seingat saya
dipopulerkan di era Benny Murdani) itu brengsek, saya setuju!

Kirim email ke