> Amat:
> yap.... setuju. tapi bukankah lalu kemudian ada usaha rekonsiliasi antara
> indian dan kulit hitam di amerika dengan kulit putihnya [meskipun memang
> tidak selalu mulus], aborijin dengan white australianya [meskipun masih
> belum juga tuntas], timur timor dengan portugalnya [yang kemudian
> memungkinkan terjadinya jajak pendapat], indonesia dengan belanda [ingat
> politik balas jasa van de venter [?], india dengan inggris [dengan payung
> commonwealthnya], amerika latin dan sepanyol [yang ini saya tidak tahu]?
> bukankah juga kampiun kampiun 'barat' yang 'mengajari' kita tahu hak?
>
> Satrio:
> Sebagian rekonsiliasi ini terjadi sesudah �terlambat�. Apa yang tersisa
> bagi rakyat Indian Amerika selain yang dipertunjukkan di film bioskop dan
> �cagar budaya�?
mana yang lebih terlambat: indian amerika yang dipertunjukkan dalam film
bioskup dan 'cagar budaya' atau langkanya 'catatan' tentang suku kubu,
orang kalang dan orang samin di ruang publik indonesia?
kalau kita bicara tentang rapat atau pertemuan, kata 'terlambat' ini
referensinya jelas. tapi kalau kita bicara tentang sejarah kemanusiaan,
apakah 'terlambat' ini relevan?
dalam konteks amerika, paling tidak publik masih mempunyai 'memori sosial'
mengenai sejarah masa lalu yang tidak mengenakkan yang dilakukan oleh para
pendatang, yang dengan congkaknya mendeklarasikan: menemukan amerika
[seolah-olah amerika hilang, tak bertuan, dan karena itu ditemukan]. tapi
kita melihat bahwa 'monumen pemelihara ingatan sosial' itu sebagai sesuatu
yang 'terlambat'.
Dalam
> kasus Indonesia, politik balas budi Belanda (politik etik) dipelintir,
> dengan memberi pendidikan pada kalangan aristokrat/feodal Jawa, yang
> tujuan sebenarnya adalah menyediakan tenaga kerja administrasi yang cukup
> bisa baca-tulis (tapi tetap di bawah dominasi Belanda) untuk memenuhi
> kebutuhan kaum kapitalis Belanda. Tapi ada untungnya juga, karena ilmu ini
> memberi pencerahan dan melahirkan orang macam Soekarno, Ki Hajar
> Dewantoro, Cipto Mangunkusumo, dll..
pernahkah arus utama pendidikan memihak orang pinggiran? tolong sebutkan
di belahan bumi mana ada kebijakan pendidikan dan muatan resmi pendidikan
memihak kaum pinggiran? praksis pendidikan yang dilakukan oleh paulo
freire pun, bukan 'mainstream praksis pendidikan'.
>
> menurut saya, perubahan sikap oz dan emberikan bisa dibaca sebagai
> beberapa kemungkinan:
>
> *emberikan dan oz secara tidak langsung mengakui kekeliruannya yang
> terdahulu dalam menyikapi timor loro sae.
>
> Satrio:
> Ini bagi Oz bukan suatu pengakuan kekeliruan. Tapi manuver politik biasa.
> Dan, meminjam penjelasan Anda sendiri tentang nature politik, kalau
> kepentingan berubah atau konstelasi politik berubah, maka sikap politik
> juga bisa berubah.
bisa dilihat begitu.
>
> *emberikan dan [mantan] sekutunya [dalam pakta anzus] menjadi kehilangan
> legitimasinya karena sudah tidak ada issue perang dingin lagi, dan
> akibatnya perkara timor loro sae sudah tidak relevan lagi.
>
> *kapitalisme yang bergerak dua arah, kapitalisasi dan diversifikasi, akan
> mendapatkan momentumnya dengan melihat kembali issue timor loro sae dalam
> kerangka diversifikasi investasi.
>
> Satrio: Sudah saya jawab di atas, meski saya kurang jelas terhadap
> �diversifikasi investasi�.
begini kira kira maksud saya:
kapitalisme kan isme tentang kapital, gimana menggelembungkan kapital. ya
kan? nah kegiatan ini digampar sebagai tidak bermoral karena sifatnya yang
ekstraktif dan eksploitatif sehingga mematikan yang kecil kecil. sungguh
gagasan kapitalisme yang kayak gini tidak bermoral. karena kritik itu,
maka kapitalisme lalu bermetamorfosa, tidak lagi menjadikan pengumpulan
kapital sebagai kegiatan utama. maka kemudian muncul gagasan
libertarianisme: kekuatan pasar dan 'kebebasan' memilih menjadi jargonnya.
[dan jargon ini, pada hemat saya, sungguh kompatibel dengan issue hak
asasi manusia. bagaimana detailnya, kita bisa membuat thread diskusi yang
baru]. tapi tetap juga semuanya itu digerakkan oleh semangat mendapatkan
keuntungan, mengembangkan kapital. imperatif libertarianisme ini adalah
keragaman. gimana jargon 'pasar' dan 'kebebasan memilih' ini bisa dijaga,
kalau yang dipilih terbatas?
nah semangat kapitalisme yang bertopeng libertarian ini lah, pada hemat
saya, berkepentingan untuk memunculkan timor timur agar pasar punya
'pemain baru', dan asas 'pilihan bebas' libertarianisme terjaga.
[bandingkan dengan schumacher: small is beautiful].
> amat: bukankah lebih baik berkaok kaok tentang ham untuk membetulkan
> kekeliruan masa lalu, daripada tidak berkaok kaok sama sekali dan
> membiarkan diri selalu dihantui oleh masa lalu? untuk bertobat dan berbuat
> baik, manusia/negara tidak perlu menjadi malaikat/sorga dulu. tapi jelas
> tidak bisa dipertanggungjawabkan kalau manusia sekaligus menjadi malaikat
> dan setan.
>
> Satrio: Sekarang Anda yang memakai jargon agama dan religius, soal
> malaikat dan sorga.
maksud saya, untuk bicara tentang hak asasi manusia orang tidak harus
lebih dulu suci sama sekali. yang lebih penting adalah 'pengakuan'
'apresiasi'. kemampuan untuk berbicara hak asasi manusia, yang sebelumnya
dianggap tabu atau tidak pernah ada, pengakuan dan appresiasi terhadapnya
inilah yang saya maksudkan sebagai 'pertobatan', berbuat baik,
membetulakan kekeliruan masa lalu [kalau sekiranya di masa lalu hak asasi
manusia ini dilirik pun tidak, apalagi dihargai]. apakah untuk bicara
tentang semua ini orang harus suci dulu? kan tidak. inilah yang saya
maksudkan dengan 'untuk berbuat baik, orang/negara tidak perlu menjadi
malaikat/sorga dulu'
sebaliknya, sama tidak masuk akalnya kalau orang berbusa busa bicara
tentang hak asasi manusia sementara hak bedindenya sendiri yang bejibun di
rumah diperas, ditindas dan gajinya tak dibayarkan. kita bisa ganti
'orang' dengan 'negar' dan 'bedinde' dengan 'rakyat negara itu sendiri'.
inilah yang saya maksud dengan 'tidak bisa dipertanggunjawabkan kalau
manusia sekaligus menjadi setan dan malaikat'.
amat: dan masih juga ditambah dengan banyaknya orang
> yang menerapkan teori tidak 'bersih lingkungannya' orde baru. kalau orde
> baru mem-pki-kan anak, tetangga, saudara, dan bahkan orang yang tidak tahu
> sama sekali tentang pki itu apa, orang yang menerapkan teori 'bersih
> lingkungannya' orde baru terpaksa sadar atau tidak menuduh 'unfair'
> seluruh komunitas kulit putih. what a successful [social] education!
>
> Satrio:
> Diskusi ini tak ada hubungannya dengan soal �bersih lingkungan� atau PKI.
> Tapi bahwa Orde Baru dengan policy �bersih lingkungan� (yang seingat saya
> dipopulerkan di era Benny Murdani) itu brengsek, saya setuju!
makanya saya mengatakan: teori tidak 'bersih lingkungan'nya orde baru.
karena memang maksud saya bukan bicara tentang orde barunya, tapi tentang
teorinya.
maksud saya: dalam teori 'bersih lingkungan' itu, yang 'dihukum' bukan
saja yang [dicap] komunis, tapi juga anak, cucu, saudara, bahkan mantu dan
temannya berdasarkan asumsi konspiratif. bukankah ini juga sama dengan
kasus unamet yang kita bicarakan? yang mustinya dibongkar adalah
'unamet'nya tapi dengan penjelasan konspiratif, seluruh orang kulit putih
dibawa-bawa. [sekalipun membawa-bawa seluruh orang kulit putih itu cuma
karena terbawa oleh gaya bahasa pamflet dan demonstran].
nb:
[maaf, sebenarnya saya sedikit khawatir dengan alamat e-mail anda. nama
anda satrio tapi alamat e-mailnya majalah d&r. saya khawatir kalau anda
dituduh 'abuse of company trust'].