Salam, Saya kira tidak seperti itu kondisinya... tentu saja harus ada perencanaan yang matang... Kebijakan bio-bbm haruslah terkait dengan kebijakan pada pertanian dan perkebunan (ya jelas karena awal mulanya bio-bbm adalah tanaman).. Jadi tentu saja harus ada keselarasan di semua itu...
Kalau kita bicara transportasi, tentunya kita akan bicara bbm (solar, premium, dll) sedangkan energi alternatif seperti matahari, angin, air lebih cocok jika bicara tentang listrik dan pembangkit listrik. Pemakaian energi matahari, angin dan air (yang tentunya harus dikonversi dahulu ke energi listrik) dalam sektor transportasi masih sangat mahal dan belum dapat memenuhi kelayakan secara ekonomi. Bandingkan dengan bio-bbm.. tidak ada perubahan apapun pada jenis semua jenis kendaraan yang sekarang digunakan.... Kemudian krisis pangan... sebenarnya krisis ini kan dimulai dari kebijakan pertanian yang justru menjadikan para petani sebagai "sapi perah"... Coba bayangkan, untuk memulai produksi beras, para petani sudah harus meminjam modal yang jelas mereka harus kembalikan + keuntungan trus ternyata iklim tidak keruan, panen gagal...... Lah kalau kondisinya begini terus, sapa yang mau jadi petani... lahan dijual pergi dah ke kota.... lahan jadi rumah... ya krisis.. Belum lagi penggunaan bbm minyak bumi yang masih berlebihan = global warming, perubahan iklim. Sedangkan krisis pangan secara umum diseluruh dunia lebih banyak disebabkan karena harga minyak yang makin tinggi sehingga harga impor juga makin mahal... Selain dari faktor iklim (global warming) itu tadi... So.... apa langkah awalnya? Step by step dulu lah... Step pertama menurut saya adalah kebijakan Bio-BBM dan Swasembada Pangan.... Ini untuk melepas ketergantungan terhadap minyak bumi sekaligus menguatkan produksi pangan. Satu caranya, pemerintah mengkonversi sebagian subsidi menjadi subsidi pupuk dan bibit secara total, sehingga dari awal para petani akan lebih bersemangat untuk berproduksi karena mereka tidak punya beban berat untuk mengembalikan uang + keuntungan... Untuk tanaman bio-bbm, pemerintah dapat menggunakan lahan yang memang tidak sesuai untuk tanaman pangan utama (seperti padi)... ----- Original Message ----- From: "A Nizami" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Tuesday, June 03, 2008 2:02 PM Subject: [is-lam] Bio BBM Berbahaya - Re: 1 Km hanya Rp 10 - Sepeda danMobil Listrik SolusiHematBBM > Kalau Bio BBM berbahaya bu Anggy karena luas tanah untuk perkebunan (baik > untuk pangan atau bio BBM) terus berkurang akibat pertambahan jumlah > penduduk. 40 tahun lalu penduduk dunia cuma 3 milyar, sekarang 6 milyar > lebih. Mereka mengambil lahan kebun/hutan untuk rumah, kantor, pabrik, > jalan, dsb. Contohnya di kiri kanan jalan tol sudah berdiri banyak pabrik > dan rumah. > > Nah kalau kita pakai Bio BBM, bisa2 lahan untuk pertanian untuk makanan > kita berkurang dan berubah jadi BBM untuk mobil. Krisis pangan akan lebih > menggila lagi. > > Ingat saat ini dunia tengah mengalami krisis pangan akibat kekurangan > pangan. Jika ada, harganya meroket. > > BIO BBM akan memperparah hal ini. > > Ada alternatif lain seperti energi terbarui. Misalnya panas bumi, tenaga > matahari, angin, air, dsb. > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server01.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
