Aliran sesat kadang berkelit, oh si A itu bukan Nabi, tapi Rasul. Akhirnya diikuti oleh pengikutnya.
Padahal ada hadits Nabi yang mengatakan TIDAK ADA RASUL DAN NABI SETELAH NABI MUHAMMAD SAW: Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik). Mudah2an kita tidak tersesat. --- On Thu, 6/5/08, AFR <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: AFR <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [is-lam] Perbedaan Antara Nabi dan Rasul --c| > To: [email protected], "Haji .Syaifuddin Ma'rifatullah" <[EMAIL > PROTECTED]> > Date: Thursday, June 5, 2008, 6:19 PM > penafsiran Asy-Syuura:51 bahwa nabi sudah berakhir, sedang > utusan akan terus berlangsung sampai kiamat, saya setuju. > itu urusan Allah SWT sbgmana Dia turunkan Qur'an > & Dia jaga sendiri. > > tapi kalau ditambah-tambahi manusia bisa jadi utusan (walau > bukan nabi), apa lagi ada "motto": boleh jadi saya > jadi rasul bagi anda, anda pun bisa jadi rasul bagi saya; > ini yg bisa menjebak manusia pd sifat riya', ujub, > takabbur diri. > > kalau ada org sdh merasa dirinya bersih, setiap gerak > langkahnya hanif, shg setiap dtg kemana senantiasa membawa > berkah pd siapa saja di sana, niscaya org ini akan didekati > iblis utk merasa dirinya sdh jadi rasul. itu terjadi berawal > dr rasa riya'! sdgkan kata Rasulullah SAW, riya' itu > spt bara api memakan kayu ... dstnya > > a'udzubillahi min asyaithaani rajiim, > Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari > manusia: sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha > Melihat. (al-Hajj:75) > > kerasulan itu urusan Allah SWT yg memilih, BUKAN dr asumsi > manusia karena kearifan ssrg dlm sehari-harinya. kalo ada > nasehat fil haq wal sabr dari si fulan yg senantiasa > merujuk pada Qur'an/hadist, si fulan tetap saja si > fulan, tidak sekonyong-konyong dia dinisbatkan sbg rasul > (utusan). > > Asy-Syuura:51 juga tidak menegaskan utusan itu dr golongan > manusia. > --- > > kesimpulan, > ahmadiyah itu harus bubar atw mereka sejajarkan diri dgn > kelompok lia aminuddin, sekte avengelis ... sejenisnya. > jangan mendompleng syi'ar Islam karena itu akan jadi > fitnah yg nyata. kepada rekan wa' haji SM silahkan > renung kembali keraguan antum ttg betapa sesat ahmadiyah. > ini juga kepada kawan yg ahmadiyanism. > > dulu Rasulullah SAW dituduh ajarannnya ngikuti kaum yahudi > & nasrani gara2 sekiblat dgn mereka (masjid > al-Asqa). tiga bulan berturut2, beliau memohon dialihkan > kiblat ke al-Haram dan Allah SWT memperkenankannya. > > saya bukan rasul, bukan utusan, manusia yg lahir dr benih > hina yg terpancar. > > > > > > salam, > Fahru > > --- On Thu, 6/5/08, Haji .Syaifuddin Ma'rifatullah > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: Haji .Syaifuddin Ma'rifatullah > <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [is-lam] Perbedaan Antara Nabi dan Rasul > To: [email protected] > Date: Thursday, June 5, 2008, 10:18 AM > > Bismillaah, Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim > > Kenabian sudah ditutup - "la nabiyah ba'da". > Nabi > adalah orang yang diberitugas oleh Allah untuk menyampaikan > "berita > besar" yang disebut "an-naba'". > An-Naba' bukan sembarang berita, > melainkan berita besar yang tidak pernah diberitakan > sebelumnya, > sebagai tanda kasih dan sayang Allah kepada manusia. > > Berita > besar itu kemudian disebut sebagai "ajaran > agama". Setiap kedatangan > berita besar memberikan penyegaran baru terhadap agama yang > telah > dikirimkan sebelumnya. Nabi Muhammad dipercaya adalah > pembawa berita besar terakhir dari Allah subhana wa > ta'ala kepada manusia. > > Bagaimana dengan "Rasul" ? > > Rasul artinya adalah "utusan". Rasul Allah > artinya utusan Allah. > Kita harus bisa membedakan antara nabi dan rasul. > > Semua > manusia dapat dijadikan sebagai "rasul" oleh > Allah kepada siapa saja > yang Allah kehendaki. Bahkan hewan pun dijadikan rasul oleh > Allah > (dijadikan utusan oleh Allah). Contohnya adalah seekor > burung yang > diutus Allah untuk Qabil yang baru saja membunuh Habil > saudaranya. Burung > itu itu diberitugas untuk menjelaskan bagaimana cara > menguburkan orang > yang sudah mati, yaitu dengan menggali lubang di tanah dan > memasukkan > orang yang mati ke dalamnya dan menimbunnya hingga rapat. > > Ini > inline dengan fungsi "khalifah Allah di bumi" > kepada manusia - menjadi > "wakil Allah" (yaitu orang yang bekerja atas nama > Allah) kepada siapa > saja yang dikehendaki Allah. Perutusan Allah kepada manusia > sampai saat > ini masih berlangsung dan akan tetap berlangsung selamanya. > Ini adalah > bagian dari "dialog Allah dengan manusia" yang > berjalan secara tidak > langsung sampai saat ini. > > Ref: > ***42:51*** > 51. > Dan tidak mungkin bagi > seorang manusiapun bahwa > Allah > berkata-kata dengan dia kecuali dengan : > perantaraan wahyu atau > dibelakang tabir atau > dengan mengutus seorang utusan > lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa > yang Dia kehendaki. > Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. > > > Jadi hanya ada "tiga kemungkinan" Allah > berkomunikasi dengan manusia. > > (1). Dengan perantaraan wahyu : hal ini masih dimungkinkan > bila Al-Qur'an dikatakan sebagai wahyu, maka Allah > berkomikasi melalui Al-Qur'an pada ayat2 yang > digerakkan oleh Allah sehingga manusia membaca suatu ayat > Al-Qur'an sebagai "jawaban Allah" atau > sebagai "perintah Allah". Setiap mulut yang > membaca Al-Qur'an > dan kemudian dapat didengar oleh manusia, maka itu adalah > bentuk komunikasi Allah dengan manusia yang > mendengarkannya. > > (2). Di Belakang tabir, seperti yang terjadi pada Nabi Musa > (alaihi salam), ada mendengar suara tetapi tidak dapat > melihat sosok yang mengucapkan suara itu. Adalah > rahasia Allah, bila hari ini ada orang yang diberikan > kemampuan seperti ini oleh Allah. > > (3). Dengan mengutus seorang utusan lalu kepada utusan itu > diingatkan oleh Allah untuk menyampaikan sesuatu sehingga > orang yang mendengarkannya mendapat suatu pengetahuan atau > kesadaran baru lalu melakukan sesuatu dengan izin > Allah sesuai > yang dikehendaki-Nya. > > Utusan di sini,bisa jadi berupa hewan atau manusia sesama > kita - atau sesama khalifah Allah . "Kita juga bisa > jadi dipilih Allah untuk menjadi utusan-Nya" kepada > manusia lainnya pada suatu tertentu tentang masalah > tertentu. > > Sedangkan nabi adalah orang yang > dipilih khusus untuk mengemban tugas yang besar > menyampaikan berita > besar "agama". Jadi logis bagi kita untuk > mempercayai bahwa "la nabiyah > ba'da" - tidak ada nabi lagi sesudah nabi > Muhammad. > > Maafkan > saya, kajian ini "luar biasa" karena agak > terbalik dari yang selama ini > difahami olah sebagian besar kita. Saran saya, jangan > cepat2 mengambil > kesimpulan, baca berulang-ulang dan fahami dengan > "hati yang hanya ada > Allah di dalamnya" (kosong dari hal lain) - hening. > > Demikian, > semoga bermanfaat untuk memperkuat keimanan dan > membangkitkan semangat > pengabdian kepada Allah dengan keikhlasan yang tinggi. > > As-Salaamu Alaikum > > Catatan: > Semoga dengan publikasi ini, semua fihak dapat memahami apa > yang fahami tentang Nabi dan Rasul. Pemahaman ini,,merupakan > dasar dari sikap saya sampai dengan saat ini. Semoga Allah > mengampuni saya, jika terjadi kesalahan dalam saya memahami > ilmu-Nya dan semoga Allah berkenan membimbing saya ke jalan > yang lurus dan diridhoi-Nya. > > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam_______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
