saya pribadi (boleh berpendapat 'kan?) pelajari Qur'an/sunnah nabi itu sedikit
mirip pelajari ilmu dunia. dimana setiap pekerjaan, diupayakan berdasar pd
disiplin ilmu/hukum yg 'ditemukan' org2 sblmnya. bedanya dalil Qur'an/hadist
itu bersifat mutlak & tak bisa dirubah, sdg ilmu/hukum temuan selalu
berubah seiring byknya informasi baru.
perbedaan org cara menafsirkan Qur'an/hadist itu hal yg wajar. idealnya,
betapapun berbeda cara org tafsirkan, tidak semestinya timbulkan konflik. itu
bisa dihindari jika setiap penafsir punya sikap konsisten dimana artian setiap
sampaikan tafsiran/kajiannya, argumennya tidak boleh berbenturan dgn ayat/dalil
yg lain.
salam,
Fahru
--- On Sat, 6/7/08, Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [is-lam] Perbedaan Antara Nabi dan Rasul --c|
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected]
Date: Saturday, June 7, 2008, 9:23 AM
Proposisi ini agak berbahaya, tapi layak dipertimbangkan:
Kalau toh rantai kenabian dan kerasulan itu tak terputus, apakah
seorang MIRZA GHULAM AHMAD layak menjadi nabi dan rasul?
Salam Hangat
B. Samparan
--- A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Aliran sesat kadang berkelit, oh si A itu bukan Nabi, tapi Rasul.
> Akhirnya diikuti oleh pengikutnya.
>
> Padahal ada hadits Nabi yang mengatakan TIDAK ADA RASUL DAN NABI
> SETELAH NABI MUHAMMAD SAW:
>
> Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah
> sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi
> sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad
> Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).
>
> Mudah2an kita tidak tersesat.
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam