Iya, bennuuullll syekalii.... Gelas pertanyaan saya masih kosong....
Mungkin some other time... --------------- Bungkus tunas mencari matahari Akar tua menghunjam bumi Aku masih sendiri Sepi Orang-orang, Makin tua makin pelit! Lit! Lit! Nuwun; Tejosuroso From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of AFR Sent: 14 Desember 2008 22:56 To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c13 saya nggak apriori paham apapun termasuk mu'tazilah. adanya paham jabariyah & qadariyah malah mendikotomikan pemahaman keimanan akan tetapnya ketentuan Allah SWT yg seharusnya diimani seluruh muslim scr universal. saya juga tak begitu peduli 2 istilah itu, hanya yg saya tahu 'qadariyah' lbh konsisten dg dalil yg ada dlm Qur'an. sekali lagi, saya tidak mau apriori ... dialog dibawah itu mungkin fiktif atw hanya sekedar seni-senian berdialog. saya gak tahu & tak begitu tertarik seban jawaban2 yg dinisbatkan seolah-olah Allah mengatakan begini-begitu tidak bisa dijadikan rujukan utk membina diri. masih bagus seni-seni ala Abu Nawas. pada pertanyaan si A, A - Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih baik di Sorga, mungkinkah? menurut saya pertanyaan itu saja terlalu berlebihan, tendensius (krn ada unsur kuciwa itu) dan termasuk melancangi hal2 yg ada di alam ghaib. yg lbh saya sanksikan apa iya penghuni surga itu punya jiwa kemaruk, tak tahu diri & masih ingin hal yg lebih dr haknya padahal itu sdh jadi keputusan final Allah SWT? penghuni surga kelas 7 pun, saya kira tidak akan spt itu. melainkan akan byk bersyukur, bertasbih, bertahmid ... lha wong mu'min yg masih di dunia dpt emperan saja masih bisa bersyukur koq ini yg sdh dpt surga masih menuntut kelas yg lbh tinggi lagi? utk tahu bgmana kira2 suasana tinggal di surga a'udzubillahimin asyathaani rajiim, dalam surga yang tinggi, tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. (al-Ghasyiyah:10-11) jadi kalau pertanyaannya saja sdh agak ngaco, dengar saja jawabannya. kalo jawabnya ngaco juga, artinya dialog itu kosong tak berisi. --- lagi dialog A yg dijawab si J "Engkau gila ... " itu sebenarnya sedikit plesetan dr apa yg ada dlm Qur'an al-An'am 148, yg intinya adlh akan ada diantara manusia itu yg 'ngeyel' membela diri bahwa taqdirnya bukanlah kesalahannya, karena Allah SWT Sendiri yg merancang. seolah mereka hendak menyalahkan Allah SWT, dan mereka itu termasuk org musryik !! Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan:"Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun". Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami". Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta. (al-An'am:148) lalu Allah SWT Sendiri yg menjawab lewat ayat berikut hingga ayat ke 158(?) Katakanlah:"Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya". (al-An'am:149) ... silahkan disimak ... salam, Fahru _____ From: Tejosuroso <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sunday, December 14, 2008 3:51:42 PM Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c12 Dialog antara Abul Hasan al-Asy'ari dengan gurunya saat itu, al-Jubba'i, seorang tokoh Mu'tazilah yang telah mengecewakannya, bisa saya paste-kan di sini dari arsip Media Isnet. Al-Asy'ari (A) - Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam keadaan masih kecil. Al-Jubba'i (J) - yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka. A - Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih baik di Sorga, mungkinkah? J - Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya. A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang taqwa itu. J - Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu, jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah - Red) matikan engkau adalah untuk kemaslahatanmu. A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya Tuhanku Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku? Al-Jubba'i menjawab, "Engkau gila, (dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Al-Jubba'i hanya terdiam dan tidak menjawab). [11] Nuwun; Tejosuroso From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of AFR Sent: 14 Desember 2008 0:26 To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c12 respons 1: walah .. dalam taqdir koq masih ada opsinya, ya. spt bisa dinego begitu? lha wong dr ayat2 muhkamat & tak perlu penafsiran dlm saja sangat mudah dimengerti kalo itu saklek, permanen, qath'i dan tak bisa dirubah. Allah SWT berkuasa berbuat apapun, tapi soal taqdir itu jelas Dia tidak akan berkehendak untuk merubah apa2 yg sdh Dia transkripkan. menurut kajian tauhid, kalau saja Dia merubah apa yg sdh Dia kehendaki itu; dalam hal ini taqdir yg dikalungkan pd setiap makhlukNya yg meliput alam semesta & isinya; itu berarti Dia tidak teguh pendirian walaupun (a) apa2 yg tertulis disana itu belum terbaca 'Kun' oleh-Nya karena belum waktunya, dan (b) 'objek penderita', yaitu semesta & isinya tidak tahu apa2 saja yg Dia kehendaki pd mereka. taqdir ttg yg Dia tuliskan dlm kitab induk itu ghaib, tak satupun tahu kecuali Diri-Nya. jadi, merubah taqdir itu sifat mustahil bagi Allah SWT. andai opsi itu ada, itu berarti catatan amalan manusia bergantung pd apa yg dilakukan. itu benar jika dan hanya jika catatan itu berdasarkan pd pengamatan/persaksian malaikat Raqib & 'Atid *). tapi track catatan Allah SWT spt yg tertulis dlm kitab induk, itu MUSTAHIL akan 'ditulis' bergantung pd amalan manusia. sebab itu akan berlawanan dgn kandungan sifat ash-Shamad. bahwa hanya kepada Allah SWT segala sesuatu bergantung. oleh karenanya setiap laku hambaNya HARUS sesuai dgn apa ditaqdirkan atas dirinya, terpaksa atw pun sukarela. sementara keadaan kesadaran manusia, karena merasa 'bebas' umumnya berada antaranya. kalo lagi jaya merasa jadi penguasa, kalo lag jatuh baru merasa terpaksa. konsekuensinya bisa frustasi atw insyaf. sdgkan bagi sukarela tdk ada konsekeunsi apa-apa. lha wong ikhlas koq .. a'udzubillahi min asyaithaani rajiim, Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (ar-Ra'd:15) Allah SWT memiliki 99 asma yg baik & sempurna dgn segala sifatNya. taqdir thd semua insan yg tertulis disana. walau pun tak satupun makhluk tahu, niscaya PASTI baik. kalau satu-dua atw lebih manusia ini tidak punya sangka baik akan taqdirnya sendiri, ya sudah itu yg namanya kalah sebelum perang, putus asa ... *) perlu diketahui ya, dari semua catatan malaikat ttg amalan kita itu, ada SATU hal yg tidak ada sbgmn yg ada pd Allah SWT, yaitu ketika menyoal niat (keikhlasan). silahkan baca hadist Qudsi yg diriwayatkan oleh Bazzar & Thabarani. Allah SWT menolak 'pembelaan' malaikat ketika serahkan catatan kebaikan si fulan gara2 gak ikhlas. respons 2 & 3: ayat yg sampeyan maksud itu Al A'raaf 172. benar & lurus, sbgmana Allah SWT terangkan bahwa yg bedakan manusia itu imannya, sdg keadaan awalnya apakah itu Fir'aun, para nabi hingga semua manusia yg terlahir jaman adlh sama. juga lurus sabda Rasulullah SAW ttg kefitrahan bayi. lalu siapa perankan apa, Allah SWT yg mengukir/membentuk (al-Mushawwir). tentang ilmu Allah SWT yg sangat luas itu, manusia dipersilahkan pelajari semampunya yg tentu bersumber Qur'an & Hadist. tapi ingat, juga luasnya ilmu Allah itu dibedakan dlm 2 (dua) yg bersifat syahadat (nampak) & ghaib (tersembunyi). saya kira yg antum maksud "... jangan mudah menyerah untuk melihat keluasan Ilmu-Nya ..." itu adlh ilmu nampak. tapi kalau ilmu ghaib? cekak, kita itu hanya bisa - sami'na wa atha'na - itu aturan yg tidak boleh dilanggar. yg cekak itu ttg taqdir, tibanya kiamat, masa lampau yg teramat lapuk ... yg mana itu bagian dr ayat2 mutasyabihat. Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. (Ar-Ra'd: 8-9) --- orang berpikir, apa yg dia pikirkan itu sdh-lah ada sebelumnya, bahkan jalan jitu apa yg sdg dipikirkannya pun sdh ada, baru saat itu sajalah dia sadari sesuatu itu harus dia pikirkan yg mungkin dia sendiri tak temukan jalan jitu itu setelah waktu berlalu & tahu akibat apa yg dia perbuat atas hasil pemikirannya sblmnya, barulah dia sadari 'kalaulah tak lakukan itu, tentu akibatnya tidak akan spt ini' tapi itu sdh terjadi, tepat spt apa yg sdh tertulis. biarpun langit mendung atw pun terik panas terpaksa atw sukarela, dia harus hadapi ... itulah ar-Ra'd 15 kita lahir, mulanya tak tahu kalau bumi ini sdh ada setelahnya pun kita tak tahu bumi ini nanti jadi apa cuma kata Qur'an gunungnya nanti spt bulu beterbangan mudah2an esok masih sempat bisa lbh baik dari sekarang ... salam, Fahru _____ From: Tejosuroso <[email protected]> To: [email protected] Sent: Saturday, December 13, 2008 9:56:36 AM Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c11 Bagaimana dengan konsep bahwa takdir Allah swt terbagi atas kodrat dan iradat? Bahwa kemudian takdir tetap berlaku sesuai Kehendak-Nya tetapi tidak semuanya mutlak? Yakni ada kodrat yang tidak bisa ditolak. Seperti jenis kelamin, warna kulit, susunan gigi, finger print, tingkat IQ, anomali genetic, tekstur Kohaku, postur tinggi badan dan yang sebangsanya. Ada pula takdir yang masih mu'allaq (digantung, belum ada vonis). Semacam takdir dengan vonis yang memiliki opsi...? Kesemua opsi-opsi itu memang Allah yang menentukan tetapi dengan Ke-Maha Adil dan Bijaksana-an-Nya, pilihan yang ada tidak akan pernah dirasakan kurang oleh manusia. Sedemikian kompleks iradat ini Disediakan-Nya untuk manusia hingga manusia sendiri tidak akan pernah sanggup punya pilihan lain selain pilihan-pilihan yang telah Ditetapkan-Nya. Tingkat kompleksitasnya mungkin seperti sifat sorga; ma laa ainun ro'at, wa laa udzunun sami'at, wa la khotrotin 'ala qolbil basyar (keindahan yang mata manusia tak pernah melihatnya, pun tiada telinga pernah mendengarnya dan yang pula tak pernah terbersit di benak/hati manusia). Saudaraku, kalaulah sekedar mata tak pernah melihat atau telinga tak pernah mendengar kabarnya, suatu keindahan masih mungkin dibayangkan. Tetapi jika bahkan imajinasi sekalipun tak bisa menjangkaunya..... subhanallah.... Iradat inilah yang saya pikir mengandung resiko pertanggung-jawaban. Kang Fahru nulis; Fir'aun sblm terlahir tak minta berperan jadi penguasa dhalim, demikian para nabi juga tidak memohon diturunkan jadi utusan melainkan mengikuti wahyu Ilahi utk memahami mana iman, mana bukan. ------------------------------- Anda ingat bagaimana "posisi" anda saat di alam arwah? Kita semua, termasuk Fir'aun dan Abi Lahab, di alam arwah dulu adalah makhluk-makhluk-Nya yang beriman kepada-Nya. Hal itu diabadikan dalam ayat "qoluu balaa syahid-na". Takdir dan iradat bagi masing-masing ruhani ibarat putih dan kuning telur yang Disediakan-Nya dengan Rahmat-Nya yang Tak Terbatas. Fungsi kalsiumnya berdampingan dengan fungsi protein yang bahkan tetap mengawal calon unggas yang akan baru menetas untuk bertahan hidup. Pilihan tetap diberikan walaupun Allah memiliki hak superveto. Allah mengendaki setiap nyawa yang diciptakannya dapat memiliki keputusan sendiri untuk menentukan jalan yang hendak dilalui. Termasuk dengan mem-format habis seluruh memory saat di alam arwah agar kita semua punya starting point yang sama. Mungkin di tingkat kita-kita, amsal bisa seperti programmer yang "menciptakan" mekanisme intelegensia artifisial (AI). Tapi kan ya kalau lengannya dibuat hanya untuk 90 derajat mana mungkin dia bisa execute untuk jangkauan yang lebih luas dari itu? Kang Fahru nulis; kenapa kedhaliman dinisbatkan pd Fir'aun, sdg keimanan pd para nabi? atw kenapa kita mesti ... (spt pertanyaan antum)? Allahu 'alam. saya gak punya authority utk menjawab. kalau uraian ttg ketetapan Allah SWT disebut gebyah-uyah, lha yg kita tahu memang demikian sifat Allah SWT. bukankah kalau sdh urusan Tuhan harus kembali padaNya? mengimani taqdir itu lantas timbul pertanyakan kenapa Dia lakukan itu? kufur itu. paling juga bisa dijawab, itu ujian buat org yg beriman. ------------------ Saya berusaha untuk cukup tahu diri dan membatasi hanya sampai pada hal-hal yang mungkin. Sebab, jujur saja, melebihi otoritas itu, jangankan di ilmu kalam, di sepakbola aja bisa offside kok. Malah lucu jadinya. Kita mbahas takdir ini juga jangan kebabas-babas tapi juga jangan cekak. Kecerdasan kita ndak ada apa-apanya dibanding dengan satu ruas Ketentuan-Nya yang berlapis milyar... triliyun... atau entah sampai berapa layer mainframe-nya itu... jadi, jangan mudah menyerah untuk melihat keluasan Ilmu-Nya. Jangan takut terperosok asal kita, ya itu tadi, tetap jalan di jalur ilmiahnya. Biar tidak offside. Sehingga keimanan kita jazm. Pelajari konsep ilmu kalam. Ibnu Taymiyah banyak menulis soal ini, begitupun Imam al-Asy'ari, Maturidhi dan lain-lain. Kang Fahru nulis; saya suka bahasa Syarief utk mudahkan pemahaman bgmana ketentuan itu berlaku, Jika anda yang memutuskan maka anda melakukannya dengan sengaja dan terencana. Jika ALLAH yang memutuskannya, maka anda melakukannya dengan spontan dan alamiah tampa tahu akan berahir bagaimana tampa sadar. ----------------------------- Saya malah sangat tidak sependapat. Bagaimana jika menjadi seperti ini; Jika anda yang memutuskan maka anda akan menerima konsekuensinya, namun jika Allah yang Memutuskan maka anda akan melihat keputusan itu sebagai Keadilan yang tak terbantah. Anda akan habis argumen untuk menuntut apa-apa dari-Nya berkaitan dengan keputusan itu. Baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kalau tidak bisa begini, mana mungkin tiap hari basah bibir para Ulama genius itu mengucap; Laa ilma lana illa ma allamtana, innaka antal hakiimun aliim... (tiadalah pada hamba ilmu melainkan apa yang telah Engkau berikan, sesungguhnya Engkau Maha Adil lagi Maha Mengetahui) Nuwun; Tejosuroso _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
