1.       Sampeyan
masih belum pernah benar-benar menjawab pertanyaan saya soal “mas’uluun
an ro’iyyatihi”. Substansi pertanyaannya adalah; kenapa kita mesti
bersalah untuk sesuatu yang kita tidak memilihnya? Salah itu beda dengan
kurang. Cacat fisik saat dilahirkan, umpamane, bisa berarti kekurangan, tetapi
kan tidak berarti kesalahan? Kekurangan bisa dimaafkan, tetapi kalau sudah
salah, ya sudah, salah aja. Lalu menjadi “tidak benar”. Beda dengan
tidak jangkep. Lhawong ke-tidak-sengaja-an saja bisa memunculkan ma’fu,
kok!


2.       Ketetapan
Allah sampeyan gebyah-uyah menjadi seperti wisdom frontier.
Dilain waktu, Anda menyiratkan Dia Maha Adil Dan Bijaksana. Anda sepertinya
kehabisan ide dengan “kalau sudah urusan Tuhan ya terima saja itu begitu”.
Anda tidak berusaha menjelaskan apa-apa mengenai keimanan selain bahwa penemu
anda sudah benar dan final. Case close...

Allah SWT dlm membuat suatu ketetapan tak akan pilih kasih, siapapun hambaNya 
yg 
dikehendaki berperan tamsil baik/buruk, ya akan terjadi saja tanpa ada yg bisa 
menolak. 

Fir'aun sblm terlahir tak minta berperan jadi penguasa dhalim, demikian para 
nabi juga 
tidak memohon diturunkan jadi utusan melainkan mengikuti wahyu Ilahi utk 
memahami 
mana iman, mana bukan. 

kenapa kedhaliman dinisbatkan pd Fir'aun, sdg keimanan pd para nabi? atw kenapa 
kita 
mesti ... (spt pertanyaan antum)? Allahu 'alam. saya gak punya authority utk 
menjawab. 
kalau uraian ttg ketetapan Allah SWT disebut gebyah-uyah, lha yg kita tahu 
memang 
demikian sifat Allah SWT. bukankah kalau sdh urusan Tuhan harus kembali padaNya?
mengimani taqdir itu lantas timbul pertanyakan kenapa Dia lakukan itu? kufur 
itu.
paling juga bisa dijawab, itu ujian buat org yg beriman. 


a'udzubillahi min asyaithaani rajiim,

Katakanlah:"Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada 
orang 
yang Engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau 
kehendaki. 
Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang 
Engkau kehendaki. 
Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas 
segala sesuatu. 

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang kepada malam. 
Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari 
yang hidup. 
Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)". 
(Ali-'Imran:26-27)
---

setiap insan lahir itu fitrah, org tuanyalah yg jadikannya yahudi, majusi ...

perhatikan bgmana manusia bimbing manusia (anaknya) dgn cara sedemikian 
macamnya. 
program org tua dlm membentuk jati diri anaknya terkadang keras, lembut, sekali 
waktu anak 
tak mengerti, berontak, kadang juga manut. diawasi, dipantau, dievaluasi dgn 
ketat dan terasa 
sangat nyata suka-dukanya oleh anak. 

semua pola & metode pendidikan diarahkan dgn tujuan baik walau sifatnya adlh 
sebatas 
HARAPAN, dan BUKAN kepastian. ketika anak mencapai saat bahagianya spt harapan 
org tuanya, 
tinggallah dia mengenang goresan amalan hikmah bimbingan orang tuanya, yg 
mungkin persis 
spt org tuanya harapkan.

apakah Allah SWT tidak mampu 'membuat program' sbgmana manusia memprogram? 
justru 'program'-Nya adlh bersifat pasti, terpantau sepanjang waktu sampai ajal 
dgn ritme 
pelaksanaannya, link keterkaitan dgn hamba yg lain. sangat halus sehingga siapa 
disuruh 
tidak merasa disuruh, siapa diperintah tidak merasa diperintah ... dstnya
---

saya suka bahasa Syarief utk mudahkan pemahaman bgmana ketentuan itu berlaku, 

Jika anda yang memutuskan maka anda 
melakukannya dengan sengaja dan terencana. 
Jika ALLAH yang memutuskannya, maka anda 
melakukannya dengan spontan dan alamiah 
tampa tahu akan berahir bagaimana tampa 
sadar.
 

salam,
Fahru


________________________________
From: Tejosuroso <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, December 10, 2008 6:42:11 AM
Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c10| ext

 
Wah, mohon mahap ini, kalao tidak berkenan. Tapi dengan promosi
seperti anda ini, ide-ide Islam akan susah “dijual”-nya. Anda hanya
bisa berharap menawarkannya kepada sedikit kalangan dan itu bukanlah yang
potensial untuk bisa menjadi core-person marketing atau men-spotlight brand
anda. Yang skeptis malah bisa jadi atheis... Banyak yang tahu kalau kelompok
skeptical ini paling susah dituturi dan paling banyak justru hidup di
daerah-daerah “maju”.
 
Kita ini ummat dari rosul terakhir. Ndak akan pernah ada lagi
Nabi atau Rosul setelah Rosulillah Muhammad SAW. Itu yang saya yakini sampai
saat ini. Kita adalah juga pewaris “alyauma akmaltu lakum” yang
menandakan bahwa dien yang sekarang ini sudah tidak perlu label baru. Seperti
label Nasrani setelah Yahudi dan juga Islam setelah Nasrani. Inilah dien
terakhir yang merupakan penyempurna dari dien-dien sebelumnya. Nah, sekarang
apa yang bisa anda katakan seandainya penjelasan anda soal dien ini tidak lebih
sempurna dari konsep orang lain??? Meski letak “keterbatasan” Islam
ternyata hanya disebabkan oleh faktor pendakwahnya saja yang kurang bisa
jualan? 
 
Dalai Lama mungkin bisa lebih “laku” dengan konsep
no-single-creator miliknya, sedangkan anda cuma kebagian kelompok konsumen
sisa. Takdir menurut pengikut Pak Dalai ini lebih fleksible. Mereka akan
mencoba pragmatis dengan argumentasi bahwa reinkarnasi, analogikan saja dengan
barzah, umpamanya, sama-sama ndak bisa dibuktikan tapi lebih memihak kepada
rasa keadilan. Miturut mereka, lho.... itupun ngomongnya ke kaum yang sudah ndak
kenal Islam, tiap hari pun dicekoki stereotip-stereotip tentang Islam.  
 
Saya ulang posting saya beberapa waktu yang lalu : 
 
Ketika sebagian kaum
telah terpedaya, kasihani mereka. Bimbing mereka ke arah yang seharusnya.
Perlawanan yang muncul saat bimbingan diberikan, adalah suatu kewajaran. Mereka
masih berada dalam tataran nilai yang berbeda dengan yang ditawarkan oleh sang
pembimbing. Sekuat apapun perlawanan itu, meski bimbingan telah berungkali
diberikan, adalah buah dari ketidakmampuan mereka memahami nilai baru yang,
andaikata mereka tahu, justru akan menyelamatkan mereka dari murka. Sedemikian
keras perlawanan itu, hingga mengobarkan peperangan, tetap akan kita hadapi
dengan semangat membimbing. Tidak ada syahwat apa-apa selain pembimbingan.
Kesombongan orang bodoh tak ada artinya dimata sang Guru.
 
Lihat, Ali, menantu
Rosululloh itu, mengurungkan ayunan pedangnya saat “musuh” ternyata
hanya mampu mengundang kemarahan. Tebasan pedang itu, jika diteruskan,
menurutnya hanya mewakili kejengkelan, bukan li ilaa’i kalimatiLLahi
hiyal “ulya....
 
 
Beberapa hal yang saya catat dari dialog kita adalah:
 
1.       Sampeyan
masih belum pernah benar-benar menjawab pertanyaan saya soal “mas’uluun
an ro’iyyatihi”. Substansi pertanyaannya adalah; kenapa kita mesti
bersalah untuk sesuatu yang kita tidak memilihnya? Salah itu beda dengan
kurang. Cacat fisik saat dilahirkan, umpamane, bisa berarti kekurangan, tetapi
kan tidak berarti kesalahan? Kekurangan bisa dimaafkan, tetapi kalau sudah
salah, ya sudah, salah aja. Lalu menjadi “tidak benar”. Beda dengan
tidak jangkep. Lhawong ke-tidak-sengaja-an saja bisa memunculkan ma’fu,
kok!
2.       Ketetapan
Allah sampeyan gebyah-uyah menjadi seperti wisdom frontier.
Dilain waktu, Anda menyiratkan Dia Maha Adil Dan Bijaksana. Anda sepertinya
kehabisan ide dengan “kalau sudah urusan Tuhan ya terima saja itu begitu”.
Anda tidak berusaha menjelaskan apa-apa mengenai keimanan selain bahwa penemu
anda sudah benar dan final. Case close...
3.       Kita
mungkin masuk ke ranah ilmu kalam, tetapi anda masih sobo ke daerah lain.
4.       Anda
sepertinya, maap lhoya, kurang siap dengan thread ini tetapi anda jalan terus
dengan tetap teguh pada ketidaksiapan itu.... 
5.       Suka atau
tidak, anda meyakini sesuatu yang mirip dengan ide yang dari duluuuuu sekali
sudah ndak laku; Mu’tazilah...
 
 
Nuwun;
Tejosuroso
 
P/S: ....tunggal peguron ojo ono sing ngelungguhi batok lhoo....he
he hehe
 
From:[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of AFR
Sent: 08 Desember 2008 20:10
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c10| ext
 
tambahan
sedikit,
mengkaji masalah taqdir yg sdh tertulis ini, jgn melihat goresan taqdir diri
itu hanya sepihak 
seputar rencana 'pro-aktif' diri sendiri. kita hidup di alam ini mustahil akan
selalu berencana 
lalu berkonsekuensi gagal/berhasil. pasti ada yg tak terduga, yg juga jadi
bencana/karunia.
saya kira itu yg terlupakan shg membuat kajian ini spt berputar-putar saja.

digagalkanNya rencana jahat kaum dhalim/bencana thd diri pun bagian taqdir.
hanya 
kadang/sering manusia itu sisihkan kalau keselamatan dirinya itu bagian dr
tulisan Allah SWT. 
malah mem-pahlawan-kan 'perantara'-Nya scr berlebihan.

'untung ada hansip yg patroli, kalo tidak pasti habis rumah fulan dilalap si
merah ... " 

kalau org mengerti taqdir, insya Allah kalimat spontanitasnya yg keluar adlh
syukur pd 
Allah SWT karena masih dilindungi. 

demikian halnya dgn karunia, sbgian/byk org khawatirkan bayi hidup dari
kalangan miskin, 
akan kekurangan gizi, pdhl masa bayi itu sangat penting utk pertumbuhan menurut
ahli gizi, 
ahli nutrisi, kesehatan ... mungkin demikian yakinnya penelitian itu, lupalah
pd ketentuan taqdir.

andai setiap pandangan manusia dipresumsikan selalu benar, tidak ada ketetapan
taqdir, 
tentu semua kaum masakiin pasti binasa menurut logika manusia dgn presumsi itu.
boleh jadi
pengetahuan kesehatan itu sampai pd mereka, tapi mau ikuti saran ahli gizi tapi
gak punya 
duit. ternyata byk juga bocah2 yg encer otaknya dr kalangan menengah kebawah. 

maha Suci Allah, 
yg maha tinggi lagi maha bijaksana.



salam,
Fahru

________________________________
 
From:AFR <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, December 7, 2008 11:20:50 PM
Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c10|
1.
ya begitulah unique sifat Allah SWT, tak ada yg menyamaiNya. apa-apa 
yg akan dilakukan manusia dgn berbagai pertimbangannya, melalui pilihan2 
yg ada + resikonya, seolah-olah pemilihan itu pilihan manusia, setiap perbuatan 
seolah dirinya yg berbuat, kebebasannya seolah bagai tak berhamba ... dstnya

mungkin teramat halus itu utk dipahami ... begitulah Allah SWT. seolah ada
pesan 
'membebaskan tapi mengikat, mengikat tapi membebaskan'.

a'udzubillahimin syathaani rajiim,

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah 
yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, 
tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan
mereka) 
dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu'min, dengan kemenangan 
yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui.
(al-Anfaal:17)


2. Dzalika Allahu Malikul Quddus Salaamul Mu'minuul Muhayminul Aziizul Jabbarul 
Mutakabbir. Subahanallahu ammaa yusrikuun ... Dia memag maha raja yg punya 
kewenangan tak terbatas. apa yg sdh Dia tuliskan adlh janjiNya, sunatullah adlh 
janjiNya, setiap firmanNya adlh juga janjiNya. tak ada yang berubah ttg itu. 

konotasi kata diktator itu boleh buruk buat manusia, tapi kalo disandang pd yg 
Maha Pemurah, maha Penyayang, maha Pengampun ... 


Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana 
tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat 
sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (al-Israa':13)

Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya
kamu 
ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. (al-Anfaal:68)

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau
tidaklah 
karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah
diberi 
keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.
(Yunus:19)
...

ayat2 serupa yg menyiratkan bhw sdh ada ketetapan sblm semua itu byk sekali 
(Huud 110, Thaahaa 129, As-Sajdah 28 ...), bahkan ada penegasan bahwa Dia 
tak akan pernah merubah apa2 yg sdh Dia tentukan itu. 


salam,
Fahru

________________________________
 
From:Tejosuroso <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, December 7, 2008 4:49:15 PM
Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c9|
Kata
Kang Fahru:
 
1. amanah memang
tidak ditodongkan, tapi ditawarkan (al-Ahzab:72) 
dan itu sdh ditetapkanNya bhw yg mewarisi amanat itu adlh manusia. 
penetapan itu sdh masuk blue print sblm
penciptaan manusia itu sendiri. 
 
------------------
Lhaiya, Kang.
Kenapa kok masih mas’ul??? Kalau memang SPK-nya sudah dibagi-bagi??? 
Mas’uliyah
itu kan, kata saya tadi, konotasinya lebih ke konsekuensi. Resiko atas
pilihan-pilihan...
 

2. gagal atw berhasilnya dlm suatu urusan itu term menurut pandangan 
manusia. taqdir tidak peduli itu melainkan apapun yg sdh nyata terjadi & 
dilakoni manusia itulah yg terbaik, bukan hal buruk & bukan hal yg sia2. 

----------------
Kenapa
Gusti Allah, amitsewu ini...., sampeyan gambarkan seperti raja diktator
begitu???
 
 
ambil selintas
peristiwa 'buruk' dlm sejarah manusia, mulai dari Hiroshima 
& Nagasaki hingga .. bom Mumbai yg baru saja terjadi. bencana, menurut 
Islam itu tidak ada yg buruk. apa yg mesti terjadi itulah yg terbaik sekalipun 
menimpa org2 mu'min.
-------------------
Ngambil contohnya seperti peristiwa al-Muaisim, Mina. Itu
pan sodara mukmin kita semua??? Dari sudut sensus kependudukan saja kita sudah
kalah banyak lagi sama yang bukan mukmin. Belum lagi dari sudut ekonomi,
pukulan telak akan sangat terasa bagi keluarga yang ditinggalkan (kebanyakan
calhaj kita adalah para penopang ekonomi keluarganya). 


 
a'udzubillahi min asyiathaanirajiim,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang 
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah 
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan 
langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia 
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami,
sesungguhnya 
barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau
hinakan ia, dan 
tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami,
sesungguhnya kami 
mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu):"Berimanlah kamu
kepada Tuhanmu"; 
maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan
hapuskanlah dari 
kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang
berbakti. 
Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang
telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan 
rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak 
menyalahi janji". (Ali 'Imran:190-194)
-------------------------
“Innaka laa
Tuhliful Mii’aad” dalam ayat ini kan mengharap janji-janji balasan.
Balasan baik menjadi stimulan agar kita terus berbuat baik dan balasan buruk
menjadi ancaman agar kita menjauh dari maksiat. Stimulan dan ancaman itu 
mestinya
selalu tertuju pada obyek aktif lho.....


 
Nuwun;
Tejosuroso
 
p/s:
whueii..... liyane do turu....???


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke