Bagaimana dengan konsep bahwa takdir Allah swt terbagi atas kodrat dan
iradat? Bahwa kemudian takdir tetap berlaku sesuai Kehendak-Nya tetapi tidak
semuanya mutlak? Yakni ada kodrat yang tidak bisa ditolak. Seperti jenis
kelamin, warna kulit, susunan gigi, finger print, tingkat IQ, anomali
genetic, tekstur Kohaku, postur tinggi badan dan yang sebangsanya. Ada pula
takdir yang masih mu’allaq (digantung, belum ada vonis). Semacam takdir
dengan vonis yang memiliki opsi...?

Kesemua opsi-opsi itu memang Allah yang menentukan tetapi dengan Ke-Maha
Adil dan Bijaksana-an-Nya, pilihan yang ada tidak akan pernah dirasakan
kurang oleh manusia. Sedemikian kompleks iradat ini Disediakan-Nya untuk
manusia hingga manusia sendiri tidak akan pernah sanggup punya pilihan lain
selain pilihan-pilihan yang telah Ditetapkan-Nya. Tingkat kompleksitasnya
mungkin seperti sifat sorga; ma laa ainun ro’at, wa laa udzunun sami’at, wa
la khotrotin ‘ala qolbil basyar (keindahan yang mata manusia tak pernah
melihatnya, pun tiada telinga pernah mendengarnya dan yang pula tak pernah
terbersit di benak/hati manusia). Saudaraku, kalaulah sekedar mata tak
pernah melihat atau telinga tak pernah mendengar kabarnya, suatu keindahan
masih mungkin dibayangkan. Tetapi jika bahkan imajinasi sekalipun tak bisa
menjangkaunya..... subhanallah....

Iradat inilah yang saya pikir mengandung resiko pertanggung-jawaban.


Kang Fahru nulis;

Fir'aun sblm terlahir tak minta berperan jadi penguasa dhalim, demikian para
nabi juga 
tidak memohon diturunkan jadi utusan melainkan mengikuti wahyu Ilahi utk
memahami 
mana iman, mana bukan. 
-------------------------------
Anda ingat bagaimana “posisi” anda saat di alam arwah?

Kita semua, termasuk Fir’aun dan Abi Lahab, di alam arwah dulu adalah
makhluk-makhluk-Nya yang beriman kepada-Nya. Hal itu diabadikan dalam ayat
“qoluu balaa syahid-na”. Takdir dan iradat bagi masing-masing ruhani ibarat
putih dan kuning telur yang Disediakan-Nya dengan Rahmat-Nya yang Tak
Terbatas. Fungsi kalsiumnya berdampingan dengan fungsi protein yang bahkan
tetap mengawal calon unggas yang akan baru menetas untuk bertahan hidup.
Pilihan tetap diberikan walaupun Allah memiliki hak superveto. Allah
mengendaki setiap nyawa yang diciptakannya dapat memiliki keputusan sendiri
untuk menentukan jalan yang hendak dilalui. Termasuk dengan mem-format habis
seluruh memory saat di alam arwah agar kita semua punya starting point yang
sama. Mungkin di tingkat kita-kita, amsal bisa seperti programmer yang
“menciptakan” mekanisme intelegensia artifisial (AI). Tapi kan ya kalau
lengannya dibuat hanya untuk 90 derajat mana mungkin dia bisa execute untuk
jangkauan yang lebih luas dari itu?



Kang Fahru nulis;

kenapa kedhaliman dinisbatkan pd Fir'aun, sdg keimanan pd para nabi? atw
kenapa kita 
mesti ... (spt pertanyaan antum)? Allahu 'alam. saya gak punya authority utk
menjawab. 
kalau uraian ttg ketetapan Allah SWT disebut gebyah-uyah, lha yg kita tahu
memang 
demikian sifat Allah SWT. bukankah kalau sdh urusan Tuhan harus kembali
padaNya?
mengimani taqdir itu lantas timbul pertanyakan kenapa Dia lakukan itu? kufur
itu.
paling juga bisa dijawab, itu ujian buat org yg beriman. 
------------------
Saya berusaha untuk cukup tahu diri dan membatasi hanya sampai pada hal-hal
yang mungkin. Sebab, jujur saja, melebihi otoritas itu, jangankan di ilmu
kalam, di sepakbola aja bisa offside kok. Malah lucu jadinya. Kita mbahas
takdir ini juga jangan kebabas-babas tapi juga jangan cekak. Kecerdasan kita
ndak ada apa-apanya dibanding dengan satu ruas Ketentuan-Nya yang berlapis
milyar... triliyun... atau entah sampai berapa layer mainframe-nya itu...
jadi, jangan mudah menyerah untuk melihat keluasan Ilmu-Nya. Jangan takut
terperosok asal kita, ya itu tadi, tetap jalan di jalur ilmiahnya. Biar
tidak offside. Sehingga keimanan kita jazm.

Pelajari konsep ilmu kalam. Ibnu Taymiyah banyak menulis soal ini, begitupun
Imam al-Asy'ari, Maturidhi dan lain-lain.



Kang Fahru nulis;

saya suka bahasa Syarief utk mudahkan pemahaman bgmana ketentuan itu
berlaku, 

Jika anda yang memutuskan maka anda melakukannya dengan sengaja dan
terencana. 
Jika ALLAH yang memutuskannya, maka anda melakukannya dengan spontan dan
alamiah 
tampa tahu akan berahir bagaimana tampa sadar.
 
-----------------------------
Saya malah sangat tidak sependapat.

Bagaimana jika menjadi seperti ini;

Jika anda yang memutuskan maka anda akan menerima konsekuensinya, namun jika
Allah yang Memutuskan maka anda akan melihat keputusan itu sebagai Keadilan
yang tak terbantah. Anda akan habis argumen untuk menuntut apa-apa dari-Nya
berkaitan dengan keputusan itu. Baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kalau
tidak bisa begini, mana mungkin tiap hari basah bibir para Ulama genius itu
mengucap; 

Laa ilma lana illa ma allamtana, innaka antal hakiimun aliim...
(tiadalah pada hamba ilmu melainkan apa yang telah Engkau berikan,
sesungguhnya Engkau Maha Adil lagi Maha Mengetahui)


Nuwun;
Tejosuroso

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke