respons 1:
walah .. dalam taqdir koq masih ada opsinya, ya. spt bisa dinego begitu? lha
wong dr ayat2
muhkamat & tak perlu penafsiran dlm saja sangat mudah dimengerti kalo itu
saklek, permanen,
qath'i dan tak bisa dirubah. Allah SWT berkuasa berbuat apapun, tapi soal
taqdir itu jelas
Dia tidak akan berkehendak untuk merubah apa2 yg sdh Dia transkripkan.
menurut kajian tauhid, kalau saja Dia merubah apa yg sdh Dia kehendaki itu;
dalam hal ini
taqdir yg dikalungkan pd setiap makhlukNya yg meliput alam semesta & isinya;
itu berarti
Dia tidak teguh pendirian walaupun (a) apa2 yg tertulis disana itu belum
terbaca 'Kun'
oleh-Nya karena belum waktunya, dan (b) 'objek penderita', yaitu semesta &
isinya tidak tahu
apa2 saja yg Dia kehendaki pd mereka. taqdir ttg yg Dia tuliskan dlm kitab
induk itu ghaib,
tak satupun tahu kecuali Diri-Nya.
jadi, merubah taqdir itu sifat mustahil bagi Allah SWT.
andai opsi itu ada, itu berarti catatan amalan manusia bergantung pd apa yg
dilakukan.
itu benar jika dan hanya jika catatan itu berdasarkan pd pengamatan/persaksian
malaikat
Raqib & 'Atid *). tapi track catatan Allah SWT spt yg tertulis dlm kitab induk,
itu MUSTAHIL
akan 'ditulis' bergantung pd amalan manusia. sebab itu akan berlawanan dgn
kandungan
sifat ash-Shamad. bahwa hanya kepada Allah SWT segala sesuatu bergantung.
oleh karenanya setiap laku hambaNya HARUS sesuai dgn apa ditaqdirkan atas
dirinya,
terpaksa atw pun sukarela. sementara keadaan kesadaran manusia, karena merasa
'bebas'
umumnya berada antaranya. kalo lagi jaya merasa jadi penguasa, kalo lag jatuh
baru
merasa terpaksa. konsekuensinya bisa frustasi atw insyaf. sdgkan bagi sukarela
tdk ada
konsekeunsi apa-apa. lha wong ikhlas koq ..
a'udzubillahi min asyaithaani rajiim,
Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi,
baik dengan
kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya
di waktu pagi dan
petang hari. (ar-Ra'd:15)
Allah SWT memiliki 99 asma yg baik & sempurna dgn segala sifatNya. taqdir thd
semua
insan yg tertulis disana. walau pun tak satupun makhluk tahu, niscaya PASTI
baik. kalau
satu-dua atw lebih manusia ini tidak punya sangka baik akan taqdirnya sendiri,
ya sudah itu
yg namanya kalah sebelum perang, putus asa ...
*) perlu diketahui ya, dari semua catatan malaikat ttg amalan kita itu, ada
SATU hal yg
tidak ada sbgmn yg ada pd Allah SWT, yaitu ketika menyoal niat (keikhlasan).
silahkan
baca hadist Qudsi yg diriwayatkan oleh Bazzar & Thabarani. Allah SWT menolak
'pembelaan' malaikat ketika serahkan catatan kebaikan si fulan gara2 gak ikhlas.
respons 2 & 3:
ayat yg sampeyan maksud itu Al A'raaf 172. benar & lurus, sbgmana Allah SWT
terangkan
bahwa yg bedakan manusia itu imannya, sdg keadaan awalnya apakah itu Fir'aun,
para nabi
hingga semua manusia yg terlahir jaman adlh sama. juga lurus sabda Rasulullah
SAW ttg
kefitrahan bayi. lalu siapa perankan apa, Allah SWT yg mengukir/membentuk
(al-Mushawwir).
tentang ilmu Allah SWT yg sangat luas itu, manusia dipersilahkan pelajari
semampunya yg
tentu bersumber Qur'an & Hadist. tapi ingat, juga luasnya ilmu Allah itu
dibedakan dlm 2 (dua)
yg bersifat syahadat (nampak) & ghaib (tersembunyi). saya kira yg antum maksud
"... jangan mudah menyerah untuk melihat keluasan Ilmu-Nya ..."
itu adlh ilmu nampak. tapi kalau ilmu ghaib? cekak, kita itu hanya bisa -
sami'na wa atha'na -
itu aturan yg tidak boleh dilanggar. yg cekak itu ttg taqdir, tibanya kiamat,
masa lampau yg
teramat lapuk ... yg mana itu bagian dr ayat2 mutasyabihat.
Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim
yang
kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada
ukurannya.
Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha
Tinggi.
(Ar-Ra'd: 8-9)
---
orang berpikir,
apa yg dia pikirkan itu sdh-lah ada sebelumnya,
bahkan jalan jitu apa yg sdg dipikirkannya pun sdh ada,
baru saat itu sajalah dia sadari sesuatu itu harus dia pikirkan
yg mungkin dia sendiri tak temukan jalan jitu itu
setelah waktu berlalu & tahu akibat apa yg dia perbuat atas
hasil pemikirannya sblmnya, barulah dia sadari
'kalaulah tak lakukan itu, tentu akibatnya tidak akan spt ini'
tapi itu sdh terjadi, tepat spt apa yg sdh tertulis.
biarpun langit mendung atw pun terik panas
terpaksa atw sukarela, dia harus hadapi ...
itulah ar-Ra'd 15
kita lahir,
mulanya tak tahu kalau bumi ini sdh ada
setelahnya pun kita tak tahu bumi ini nanti jadi apa
cuma kata Qur'an gunungnya nanti spt bulu beterbangan
mudah2an esok masih sempat bisa lbh baik dari sekarang ...
salam,
Fahru
________________________________
From: Tejosuroso <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, December 13, 2008 9:56:36 AM
Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c11
Bagaimana dengan konsep bahwa takdir Allah swt terbagi atas kodrat dan
iradat? Bahwa kemudian takdir tetap berlaku sesuai Kehendak-Nya tetapi tidak
semuanya mutlak? Yakni ada kodrat yang tidak bisa ditolak. Seperti jenis
kelamin, warna kulit, susunan gigi, finger print, tingkat IQ, anomali
genetic, tekstur Kohaku, postur tinggi badan dan yang sebangsanya. Ada pula
takdir yang masih mu’allaq (digantung, belum ada vonis). Semacam takdir
dengan vonis yang memiliki opsi...?
Kesemua opsi-opsi itu memang Allah yang menentukan tetapi dengan Ke-Maha
Adil dan Bijaksana-an-Nya, pilihan yang ada tidak akan pernah dirasakan
kurang oleh manusia. Sedemikian kompleks iradat ini Disediakan-Nya untuk
manusia hingga manusia sendiri tidak akan pernah sanggup punya pilihan lain
selain pilihan-pilihan yang telah Ditetapkan-Nya. Tingkat kompleksitasnya
mungkin seperti sifat sorga; ma laa ainun ro’at, wa laa udzunun sami’at, wa
la khotrotin ‘ala qolbil basyar (keindahan yang mata manusia tak pernah
melihatnya, pun tiada telinga pernah mendengarnya dan yang pula tak pernah
terbersit di benak/hati manusia). Saudaraku, kalaulah sekedar mata tak
pernah melihat atau telinga tak pernah mendengar kabarnya, suatu keindahan
masih mungkin dibayangkan. Tetapi jika bahkan imajinasi sekalipun tak bisa
menjangkaunya..... subhanallah....
Iradat inilah yang saya pikir mengandung resiko pertanggung-jawaban.
Kang Fahru nulis;
Fir'aun sblm terlahir tak minta berperan jadi penguasa dhalim, demikian para
nabi juga
tidak memohon diturunkan jadi utusan melainkan mengikuti wahyu Ilahi utk
memahami
mana iman, mana bukan.
-------------------------------
Anda ingat bagaimana “posisi” anda saat di alam arwah?
Kita semua, termasuk Fir’aun dan Abi Lahab, di alam arwah dulu adalah
makhluk-makhluk-Nya yang beriman kepada-Nya. Hal itu diabadikan dalam ayat
“qoluu balaa syahid-na”. Takdir dan iradat bagi masing-masing ruhani ibarat
putih dan kuning telur yang Disediakan-Nya dengan Rahmat-Nya yang Tak
Terbatas. Fungsi kalsiumnya berdampingan dengan fungsi protein yang bahkan
tetap mengawal calon unggas yang akan baru menetas untuk bertahan hidup.
Pilihan tetap diberikan walaupun Allah memiliki hak superveto. Allah
mengendaki setiap nyawa yang diciptakannya dapat memiliki keputusan sendiri
untuk menentukan jalan yang hendak dilalui. Termasuk dengan mem-format habis
seluruh memory saat di alam arwah agar kita semua punya starting point yang
sama. Mungkin di tingkat kita-kita, amsal bisa seperti programmer yang
“menciptakan” mekanisme intelegensia artifisial (AI). Tapi kan ya kalau
lengannya dibuat hanya untuk 90 derajat mana mungkin dia bisa execute untuk
jangkauan yang lebih luas dari itu?
Kang Fahru nulis;
kenapa kedhaliman dinisbatkan pd Fir'aun, sdg keimanan pd para nabi? atw
kenapa kita
mesti ... (spt pertanyaan antum)? Allahu 'alam. saya gak punya authority utk
menjawab.
kalau uraian ttg ketetapan Allah SWT disebut gebyah-uyah, lha yg kita tahu
memang
demikian sifat Allah SWT. bukankah kalau sdh urusan Tuhan harus kembali
padaNya?
mengimani taqdir itu lantas timbul pertanyakan kenapa Dia lakukan itu? kufur
itu.
paling juga bisa dijawab, itu ujian buat org yg beriman.
------------------
Saya berusaha untuk cukup tahu diri dan membatasi hanya sampai pada hal-hal
yang mungkin. Sebab, jujur saja, melebihi otoritas itu, jangankan di ilmu
kalam, di sepakbola aja bisa offside kok. Malah lucu jadinya. Kita mbahas
takdir ini juga jangan kebabas-babas tapi juga jangan cekak. Kecerdasan kita
ndak ada apa-apanya dibanding dengan satu ruas Ketentuan-Nya yang berlapis
milyar... triliyun... atau entah sampai berapa layer mainframe-nya itu...
jadi, jangan mudah menyerah untuk melihat keluasan Ilmu-Nya. Jangan takut
terperosok asal kita, ya itu tadi, tetap jalan di jalur ilmiahnya. Biar
tidak offside. Sehingga keimanan kita jazm.
Pelajari konsep ilmu kalam. Ibnu Taymiyah banyak menulis soal ini, begitupun
Imam al-Asy'ari, Maturidhi dan lain-lain.
Kang Fahru nulis;
saya suka bahasa Syarief utk mudahkan pemahaman bgmana ketentuan itu
berlaku,
Jika anda yang memutuskan maka anda melakukannya dengan sengaja dan
terencana.
Jika ALLAH yang memutuskannya, maka anda melakukannya dengan spontan dan
alamiah
tampa tahu akan berahir bagaimana tampa sadar.
-----------------------------
Saya malah sangat tidak sependapat.
Bagaimana jika menjadi seperti ini;
Jika anda yang memutuskan maka anda akan menerima konsekuensinya, namun jika
Allah yang Memutuskan maka anda akan melihat keputusan itu sebagai Keadilan
yang tak terbantah. Anda akan habis argumen untuk menuntut apa-apa dari-Nya
berkaitan dengan keputusan itu. Baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kalau
tidak bisa begini, mana mungkin tiap hari basah bibir para Ulama genius itu
mengucap;
Laa ilma lana illa ma allamtana, innaka antal hakiimun aliim...
(tiadalah pada hamba ilmu melainkan apa yang telah Engkau berikan,
sesungguhnya Engkau Maha Adil lagi Maha Mengetahui)
Nuwun;
Tejosuroso
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam