BISMILLAHIRAHMANNIROHIM
Hmmm, 
Saya ingin mengulang : 

A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya  Tuhanku

Engkau  ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa

depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku?

 

Al-Jubba'i  menjawab,  "Engkau  gila,  (dalam  riwayat  lain

dikatakan,   bahwa   Al-Jubba'i   hanya  terdiam  dan  tidak

menjawab). [11]


 Ini ,mengingatkan saya akan dialog antara ALLAH SWT dengan Malaikat :

Allah SWT berfirman kepada Malaikat : "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada 
para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka 
bumi". Qs.Al Baqarah (2): 30
Malaikat menjawab: "Mereka (para malaikat) berkata: "Mengapa Engkau hendak 
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan 
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan 
menyucikan Engkau?" Qs.2: 30
Tuhan berfirman keapada Malaikat "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak 
kamu ketahui". Qs.Al Baqarah (2): 30

Apabila kita perhatikan pada ayat : Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak 
kamu ketahui"
Sekarang, mari kita perhatingkan dan merenungkan apa maksud dari "Sesungguhnya 
Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"
Jadi ALLAH sudah mengetahui kalau manusia akan melakukan kerusakan di muka 
bumi, lebih jauh lagi ALLAH mengetahui bagaimana secara detail tanpa terlewat 
perbuatan-perbuatan mahluqnya (manusia) yang akan diturunkan ke bumi. Tetapi 
ALLAH tetap melakukan penciptaan manusia.
Mari kita berandai-andai, bahwa tafsir dari "Sesungguhnya Aku mengetahui apa 
yang tidak kamu ketahui" kita rujuk kepada pengertian berikut :
Aku mengetahui (keinginanku) yang tidak aku kamu ketahui
Kenapa saya menyimpulkan begitu? ini jelas terlihat dari pertanyaan para 
Malikat kepada ALLAH SWT "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi 
itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal 
kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" 
Malaikat menanyakan apa keinginan ALLAH dari menciptakan manusia. Jika hanya 
karna ALLAH menginkan mahluq-mahluq beribadah kepadaNYA, bukankah hal itu sudah 
dilakukan oleh malaikat. Tetapi ALLAH menjawab "Sesungguhnya Aku mengetahui apa 
yang tidak kamu ketahui" 
tetapi ALLAH juga menerangkan pada ayat lain : "Dan Aku tidak menciptakan jin 
dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" Qs.Adz Dzaariyaat (51): 
56
Pada kalimat : "melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" menyatakan tentang 
hak dan kewajiban dari jin dan manusia untuk mengabdi kepada ALLAH.
Tetapi apakah hanya sampai sebatas itu saja? apakah hanya itu saja yang 
diinginkan ALLAH, jika demikian maka ALLAH tidak akan menjawab pertanyaan 
malaikat dengan berfirman "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu 
ketahui" karna para malaikat sudah menanyakan ini  "Mengapa Engkau hendak 
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan 
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan 
menyucikan Engkau?

Jadi ada alasan lain kenapa ALLAH menciptakan manusia selain alasan manusia 
harus beribadah kepada ALLAH. Alasan yang paling mudah dipahami adalah karna 
ALLAH memiliki sifat Qudrah dan Iradah. Karna ALLAH SWT berkendak demikian.
Jadi mudah-mudahan penjelasan ini akan bisa menjawab pertanyaan : 
A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya  Tuhanku

Engkau  ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa

depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku?

 

Al-Jubba'i  menjawab,  "Engkau  gila,  (dalam  riwayat  lain

dikatakan,   bahwa   Al-Jubba'i   hanya  terdiam  dan  tidak

menjawab). [11]


Akan tetapi hal ini malah mengarahkan claim oran-orang kafir bahwa ALLAH tidak 
adil..?
Tetapi itu tidak benar, karna pengertian adil sendiri adalah "menempatkan 
sesuatu pada tempatnya"
Jika ALLAH menghendaki apapun, maka ALLAH telah meletakkan segala sesuatu 
sesuai pada tempatnya ( sesuai HAQ dan KEKUASAANYA)

Sampai sini kita kita bisa menarik kesimpulan....
Bahwa apaun, bagaimanapun keputusan dan perbuatan yang akan kita lakukan adalah 
ALLAH mengetahuinya, karna ALLAH mengetahuinya maka artinya itu telah 
ditetapkan sesuai dengan kehendakNYA.
Jadi, sekali lagi, silahkan anda menentukan apapun, berusaha bagaimanapun, maka 
ALLAH telah mengetahui hasil dan apa yang akan terjadi.

Ingatlah, bahwa nikmat ALLAH yang paling besar adalah nikmat Iman dan Islam, 
dan ALLAH memberikan itu kepada anda bukan karna usaha anda, tetapi karna sifat 
ALLAH yang Qudrah dan Iradah.

Sukron





----- Original Message ----- 
  From: Tejosuroso 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, December 14, 2008 4:51 PM
  Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c12


  Dialog antara Abul Hasan al-Asy'ari dengan gurunya saat itu, al-Jubba'i, 
seorang tokoh Mu'tazilah yang telah mengecewakannya, bisa saya paste-kan di 
sini dari arsip Media Isnet.

   

  Al-Asy'ari  (A) - Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga

  orang  bersaudara  setelah  wafat;  yang  tua   mati   dalam

  bertaqwa;  yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam

  keadaan masih kecil.

   

  Al-Jubba'i (J) - yang  taqwa  mendapat  terbaik;  yang  kafir

  masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka.

   

  A  -  Kalau  yang  kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih

  baik di Sorga, mungkinkah?

   

  J - Tidak, karena tempat  itu  hanya  dapat  dicapai  dengan

  jalan  ibadat  dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil

  belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya.

   

  A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan:  itu  bukan

  salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan

  mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh  yang

  taqwa itu.

   

  J  -  Allah  akan  menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu,

  jika engkau terus hidup, engkau  akan  berbuat  maksiat  dan

  engkau  akan mendapat siksa; maka Saya (Allah - Red) matikan

  engkau adalah untuk kemaslahatanmu.

   

  A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya  Tuhanku

  Engkau  ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa

  depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku?

   

  Al-Jubba'i  menjawab,  "Engkau  gila,  (dalam  riwayat  lain

  dikatakan,   bahwa   Al-Jubba'i   hanya  terdiam  dan  tidak

  menjawab). [11]

   

   

  Nuwun;

  Tejosuroso

   

  From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
On Behalf Of AFR
  Sent: 14 Desember 2008 0:26
  To: [email protected]
  Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c12

   

  respons 1:
  walah .. dalam taqdir koq masih ada opsinya, ya. spt bisa dinego begitu? lha 
wong dr ayat2 
  muhkamat & tak perlu penafsiran dlm saja sangat mudah dimengerti kalo itu 
saklek, permanen,
  qath'i dan tak bisa dirubah. Allah SWT berkuasa berbuat apapun, tapi soal 
taqdir itu jelas
  Dia tidak akan berkehendak untuk merubah apa2 yg sdh Dia transkripkan.

  menurut kajian tauhid, kalau saja Dia merubah apa yg sdh Dia kehendaki itu; 
dalam hal ini 
  taqdir yg dikalungkan pd setiap makhlukNya yg meliput alam semesta & isinya; 
itu berarti 
  Dia tidak teguh pendirian walaupun (a) apa2 yg tertulis disana itu belum 
terbaca 'Kun' 
  oleh-Nya karena belum waktunya, dan (b) 'objek penderita', yaitu semesta & 
isinya tidak tahu 
  apa2 saja yg Dia kehendaki pd mereka. taqdir ttg yg Dia tuliskan dlm kitab 
induk itu ghaib,
  tak satupun tahu kecuali Diri-Nya. 

  jadi, merubah taqdir itu sifat mustahil bagi Allah SWT. 

  andai opsi itu ada, itu berarti catatan amalan manusia bergantung pd apa yg 
dilakukan.
  itu benar jika dan hanya jika catatan itu berdasarkan pd 
pengamatan/persaksian malaikat 
  Raqib & 'Atid *). tapi track catatan Allah SWT spt yg tertulis dlm kitab 
induk, itu MUSTAHIL 
  akan 'ditulis' bergantung pd amalan manusia. sebab itu akan berlawanan dgn 
kandungan 
  sifat ash-Shamad. bahwa hanya kepada Allah SWT segala sesuatu bergantung. 

  oleh karenanya setiap laku hambaNya HARUS sesuai dgn apa ditaqdirkan atas 
dirinya, 
  terpaksa atw pun sukarela. sementara keadaan kesadaran manusia, karena merasa 
'bebas'
  umumnya berada antaranya. kalo lagi jaya merasa jadi penguasa, kalo lag jatuh 
baru 
  merasa terpaksa. konsekuensinya bisa frustasi atw insyaf. sdgkan bagi 
sukarela tdk ada 
  konsekeunsi apa-apa. lha wong ikhlas koq ..

  a'udzubillahi min asyaithaani rajiim,

  Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, 
baik dengan 
  kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu 
pagi dan 
  petang hari. (ar-Ra'd:15)


  Allah SWT memiliki 99 asma yg baik & sempurna dgn segala sifatNya. taqdir thd 
semua 
  insan yg tertulis disana. walau pun tak satupun makhluk tahu, niscaya PASTI 
baik. kalau 
  satu-dua atw lebih manusia ini tidak punya sangka baik akan taqdirnya 
sendiri, ya sudah itu 
  yg namanya kalah sebelum perang, putus asa ...

  *) perlu diketahui ya, dari semua catatan malaikat ttg amalan kita itu, ada 
SATU hal yg 
  tidak ada sbgmn yg ada pd Allah SWT, yaitu ketika menyoal niat (keikhlasan). 
silahkan 
  baca hadist Qudsi yg diriwayatkan oleh Bazzar & Thabarani. Allah SWT menolak 
  'pembelaan' malaikat ketika serahkan catatan kebaikan si fulan gara2 gak 
ikhlas.


  respons 2 & 3:
  ayat yg sampeyan maksud itu Al A'raaf 172. benar & lurus, sbgmana Allah SWT 
terangkan 
  bahwa yg bedakan manusia itu imannya, sdg keadaan awalnya apakah itu Fir'aun, 
para nabi
  hingga semua manusia yg terlahir jaman adlh sama. juga lurus sabda Rasulullah 
SAW ttg 
  kefitrahan bayi. lalu siapa perankan apa, Allah SWT yg mengukir/membentuk 
(al-Mushawwir).

  tentang ilmu Allah SWT yg sangat luas itu, manusia dipersilahkan pelajari 
semampunya yg
  tentu bersumber Qur'an & Hadist. tapi ingat, juga luasnya ilmu Allah itu 
dibedakan dlm 2 (dua)
  yg bersifat syahadat (nampak) & ghaib (tersembunyi). saya kira yg antum 
maksud 

      "... jangan mudah menyerah untuk melihat keluasan Ilmu-Nya ..."

  itu adlh ilmu nampak. tapi kalau ilmu ghaib? cekak, kita itu hanya bisa - 
sami'na wa atha'na - 
  itu aturan yg tidak boleh dilanggar. yg cekak itu ttg taqdir, tibanya kiamat, 
masa lampau yg 
  teramat lapuk ... yg mana itu bagian dr ayat2 mutasyabihat.


  Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan 
rahim yang 
  kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada 
ukurannya. 
  Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha 
Tinggi. 
  (Ar-Ra'd: 8-9)
  ---


  orang berpikir, 
  apa yg dia pikirkan itu sdh-lah ada sebelumnya, 
  bahkan jalan jitu apa yg sdg dipikirkannya pun sdh ada,
  baru saat itu sajalah dia sadari sesuatu itu harus dia pikirkan
  yg mungkin dia sendiri tak temukan jalan jitu itu

  setelah waktu berlalu & tahu akibat apa yg dia perbuat atas 
  hasil pemikirannya sblmnya, barulah dia sadari 
  'kalaulah tak lakukan itu, tentu akibatnya tidak akan spt ini' 

  tapi itu sdh terjadi, tepat spt apa yg sdh tertulis.
  biarpun langit mendung atw pun terik panas
  terpaksa atw sukarela, dia harus hadapi ...

  itulah ar-Ra'd 15


  kita lahir, 
  mulanya tak tahu kalau bumi ini sdh ada
  setelahnya pun kita tak tahu bumi ini nanti jadi apa
  cuma kata Qur'an gunungnya nanti spt bulu beterbangan
  mudah2an esok masih sempat bisa lbh baik dari sekarang ...


  salam,
  Fahru


------------------------------------------------------------------------------

  From: Tejosuroso <[email protected]>
  To: [email protected]
  Sent: Saturday, December 13, 2008 9:56:36 AM
  Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c11

  Bagaimana dengan konsep bahwa takdir Allah swt terbagi atas kodrat dan
  iradat? Bahwa kemudian takdir tetap berlaku sesuai Kehendak-Nya tetapi tidak
  semuanya mutlak? Yakni ada kodrat yang tidak bisa ditolak. Seperti jenis
  kelamin, warna kulit, susunan gigi, finger print, tingkat IQ, anomali
  genetic, tekstur Kohaku, postur tinggi badan dan yang sebangsanya. Ada pula
  takdir yang masih mu'allaq (digantung, belum ada vonis). Semacam takdir
  dengan vonis yang memiliki opsi...?

  Kesemua opsi-opsi itu memang Allah yang menentukan tetapi dengan Ke-Maha
  Adil dan Bijaksana-an-Nya, pilihan yang ada tidak akan pernah dirasakan
  kurang oleh manusia. Sedemikian kompleks iradat ini Disediakan-Nya untuk
  manusia hingga manusia sendiri tidak akan pernah sanggup punya pilihan lain
  selain pilihan-pilihan yang telah Ditetapkan-Nya. Tingkat kompleksitasnya
  mungkin seperti sifat sorga; ma laa ainun ro'at, wa laa udzunun sami'at, wa
  la khotrotin 'ala qolbil basyar (keindahan yang mata manusia tak pernah
  melihatnya, pun tiada telinga pernah mendengarnya dan yang pula tak pernah
  terbersit di benak/hati manusia). Saudaraku, kalaulah sekedar mata tak
  pernah melihat atau telinga tak pernah mendengar kabarnya, suatu keindahan
  masih mungkin dibayangkan. Tetapi jika bahkan imajinasi sekalipun tak bisa
  menjangkaunya..... subhanallah....

  Iradat inilah yang saya pikir mengandung resiko pertanggung-jawaban.


  Kang Fahru nulis;

  Fir'aun sblm terlahir tak minta berperan jadi penguasa dhalim, demikian para
  nabi juga 
  tidak memohon diturunkan jadi utusan melainkan mengikuti wahyu Ilahi utk
  memahami 
  mana iman, mana bukan. 
  -------------------------------
  Anda ingat bagaimana "posisi" anda saat di alam arwah?

  Kita semua, termasuk Fir'aun dan Abi Lahab, di alam arwah dulu adalah
  makhluk-makhluk-Nya yang beriman kepada-Nya. Hal itu diabadikan dalam ayat
  "qoluu balaa syahid-na". Takdir dan iradat bagi masing-masing ruhani ibarat
  putih dan kuning telur yang Disediakan-Nya dengan Rahmat-Nya yang Tak
  Terbatas. Fungsi kalsiumnya berdampingan dengan fungsi protein yang bahkan
  tetap mengawal calon unggas yang akan baru menetas untuk bertahan hidup.

  Pilihan tetap diberikan walaupun Allah memiliki hak superveto. Allah
  mengendaki setiap nyawa yang diciptakannya dapat memiliki keputusan sendiri
  untuk menentukan jalan yang hendak dilalui. Termasuk dengan mem-format habis
  seluruh memory saat di alam arwah agar kita semua punya starting point yang
  sama. Mungkin di tingkat kita-kita, amsal bisa seperti programmer yang
  "menciptakan" mekanisme intelegensia artifisial (AI). Tapi kan ya kalau
  lengannya dibuat hanya untuk 90 derajat mana mungkin dia bisa execute untuk
  jangkauan yang lebih luas dari itu?



  Kang Fahru nulis;

  kenapa kedhaliman dinisbatkan pd Fir'aun, sdg keimanan pd para nabi? atw
  kenapa kita 
  mesti ... (spt pertanyaan antum)? Allahu 'alam. saya gak punya authority utk
  menjawab. 
  kalau uraian ttg ketetapan Allah SWT disebut gebyah-uyah, lha yg kita tahu
  memang 
  demikian sifat Allah SWT. bukankah kalau sdh urusan Tuhan harus kembali
  padaNya?
  mengimani taqdir itu lantas timbul pertanyakan kenapa Dia lakukan itu? kufur
  itu.
  paling juga bisa dijawab, itu ujian buat org yg beriman. 
  ------------------
  Saya berusaha untuk cukup tahu diri dan membatasi hanya sampai pada hal-hal
  yang mungkin. Sebab, jujur saja, melebihi otoritas itu, jangankan di ilmu
  kalam, di sepakbola aja bisa offside kok. Malah lucu jadinya. Kita mbahas
  takdir ini juga jangan kebabas-babas tapi juga jangan cekak. Kecerdasan kita
  ndak ada apa-apanya dibanding dengan satu ruas Ketentuan-Nya yang berlapis
  milyar... triliyun... atau entah sampai berapa layer mainframe-nya itu...
  jadi, jangan mudah menyerah untuk melihat keluasan Ilmu-Nya. Jangan takut
  terperosok asal kita, ya itu tadi, tetap jalan di jalur ilmiahnya. Biar
  tidak offside. Sehingga keimanan kita jazm.

  Pelajari konsep ilmu kalam. Ibnu Taymiyah banyak menulis soal ini, begitupun
  Imam al-Asy'ari, Maturidhi dan lain-lain.



  Kang Fahru nulis;

  saya suka bahasa Syarief utk mudahkan pemahaman bgmana ketentuan itu
  berlaku, 

  Jika anda yang memutuskan maka anda melakukannya dengan sengaja dan
  terencana. 
  Jika ALLAH yang memutuskannya, maka anda melakukannya dengan spontan dan
  alamiah 
  tampa tahu akan berahir bagaimana tampa sadar.
   
  -----------------------------
  Saya malah sangat tidak sependapat.

  Bagaimana jika menjadi seperti ini;

  Jika anda yang memutuskan maka anda akan menerima konsekuensinya, namun jika
  Allah yang Memutuskan maka anda akan melihat keputusan itu sebagai Keadilan
  yang tak terbantah. Anda akan habis argumen untuk menuntut apa-apa dari-Nya
  berkaitan dengan keputusan itu. Baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kalau
  tidak bisa begini, mana mungkin tiap hari basah bibir para Ulama genius itu
  mengucap; 

  Laa ilma lana illa ma allamtana, innaka antal hakiimun aliim...
  (tiadalah pada hamba ilmu melainkan apa yang telah Engkau berikan,
  sesungguhnya Engkau Maha Adil lagi Maha Mengetahui)


  Nuwun;
  Tejosuroso

  _______________________________________________
  Is-lam mailing list
  [email protected]
  http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

  _______________________________________________
  Is-lam mailing list
  [email protected]
  http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

   



------------------------------------------------------------------------------


  _______________________________________________
  Is-lam mailing list
  [email protected]
  http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke