Wah, mohon mahap ini, kalao tidak berkenan. Tapi dengan promosi seperti anda
ini, ide-ide Islam akan susah "dijual"-nya. Anda hanya bisa berharap
menawarkannya kepada sedikit kalangan dan itu bukanlah yang potensial untuk
bisa menjadi core-person marketing atau men-spotlight brand anda. Yang
skeptis malah bisa jadi atheis... Banyak yang tahu kalau kelompok skeptical
ini paling susah dituturi dan paling banyak justru hidup di daerah-daerah
"maju".

 

Kita ini ummat dari rosul terakhir. Ndak akan pernah ada lagi Nabi atau
Rosul setelah Rosulillah Muhammad SAW. Itu yang saya yakini sampai saat ini.
Kita adalah juga pewaris "alyauma akmaltu lakum" yang menandakan bahwa dien
yang sekarang ini sudah tidak perlu label baru. Seperti label Nasrani
setelah Yahudi dan juga Islam setelah Nasrani. Inilah dien terakhir yang
merupakan penyempurna dari dien-dien sebelumnya. Nah, sekarang apa yang bisa
anda katakan seandainya penjelasan anda soal dien ini tidak lebih sempurna
dari konsep orang lain??? Meski letak "keterbatasan" Islam ternyata hanya
disebabkan oleh faktor pendakwahnya saja yang kurang bisa jualan? 

 

Dalai Lama mungkin bisa lebih "laku" dengan konsep no-single-creator
miliknya, sedangkan anda cuma kebagian kelompok konsumen sisa. Takdir
menurut pengikut Pak Dalai ini lebih fleksible. Mereka akan mencoba
pragmatis dengan argumentasi bahwa reinkarnasi, analogikan saja dengan
barzah, umpamanya, sama-sama ndak bisa dibuktikan tapi lebih memihak kepada
rasa keadilan. Miturut mereka, lho.... itupun ngomongnya ke kaum yang sudah
ndak kenal Islam, tiap hari pun dicekoki stereotip-stereotip tentang Islam.


 

Saya ulang posting saya beberapa waktu yang lalu : 

 

Ketika sebagian kaum telah terpedaya, kasihani mereka. Bimbing mereka ke
arah yang seharusnya. Perlawanan yang muncul saat bimbingan diberikan,
adalah suatu kewajaran. Mereka masih berada dalam tataran nilai yang berbeda
dengan yang ditawarkan oleh sang pembimbing. Sekuat apapun perlawanan itu,
meski bimbingan telah berungkali diberikan, adalah buah dari ketidakmampuan
mereka memahami nilai baru yang, andaikata mereka tahu, justru akan
menyelamatkan mereka dari murka. Sedemikian keras perlawanan itu, hingga
mengobarkan peperangan, tetap akan kita hadapi dengan semangat membimbing.
Tidak ada syahwat apa-apa selain pembimbingan. Kesombongan orang bodoh tak
ada artinya dimata sang Guru.

 

Lihat, Ali, menantu Rosululloh itu, mengurungkan ayunan pedangnya saat
"musuh" ternyata hanya mampu mengundang kemarahan. Tebasan pedang itu, jika
diteruskan, menurutnya hanya mewakili kejengkelan, bukan li ilaa'i
kalimatiLLahi hiyal "ulya....

 

 

Beberapa hal yang saya catat dari dialog kita adalah:

 

1.       Sampeyan masih belum pernah benar-benar menjawab pertanyaan saya
soal "mas'uluun an ro'iyyatihi". Substansi pertanyaannya adalah; kenapa kita
mesti bersalah untuk sesuatu yang kita tidak memilihnya? Salah itu beda
dengan kurang. Cacat fisik saat dilahirkan, umpamane, bisa berarti
kekurangan, tetapi kan tidak berarti kesalahan? Kekurangan bisa dimaafkan,
tetapi kalau sudah salah, ya sudah, salah aja. Lalu menjadi "tidak benar".
Beda dengan tidak jangkep. Lhawong ke-tidak-sengaja-an saja bisa memunculkan
ma'fu, kok!

2.       Ketetapan Allah sampeyan gebyah-uyah menjadi seperti wisdom
frontier. Dilain waktu, Anda menyiratkan Dia Maha Adil Dan Bijaksana. Anda
sepertinya kehabisan ide dengan "kalau sudah urusan Tuhan ya terima saja itu
begitu". Anda tidak berusaha menjelaskan apa-apa mengenai keimanan selain
bahwa penemu anda sudah benar dan final. Case close...

3.       Kita mungkin masuk ke ranah ilmu kalam, tetapi anda masih sobo ke
daerah lain.

4.       Anda sepertinya, maap lhoya, kurang siap dengan thread ini tetapi
anda jalan terus dengan tetap teguh pada ketidaksiapan itu.... 

5.       Suka atau tidak, anda meyakini sesuatu yang mirip dengan ide yang
dari duluuuuu sekali sudah ndak laku; Mu'tazilah...

 

 

Nuwun;

Tejosuroso

 

P/S: ....tunggal peguron ojo ono sing ngelungguhi batok lhoo....he he hehe

 

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of AFR
Sent: 08 Desember 2008 20:10
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c10| ext

 

tambahan sedikit,
mengkaji masalah taqdir yg sdh tertulis ini, jgn melihat goresan taqdir diri
itu hanya sepihak 
seputar rencana 'pro-aktif' diri sendiri. kita hidup di alam ini mustahil
akan selalu berencana 
lalu berkonsekuensi gagal/berhasil. pasti ada yg tak terduga, yg juga jadi
bencana/karunia.
saya kira itu yg terlupakan shg membuat kajian ini spt berputar-putar saja.

digagalkanNya rencana jahat kaum dhalim/bencana thd diri pun bagian taqdir.
hanya 
kadang/sering manusia itu sisihkan kalau keselamatan dirinya itu bagian dr
tulisan Allah SWT. 
malah mem-pahlawan-kan 'perantara'-Nya scr berlebihan.

'untung ada hansip yg patroli, kalo tidak pasti habis rumah fulan dilalap si
merah ... " 

kalau org mengerti taqdir, insya Allah kalimat spontanitasnya yg keluar adlh
syukur pd 
Allah SWT karena masih dilindungi. 

demikian halnya dgn karunia, sbgian/byk org khawatirkan bayi hidup dari
kalangan miskin, 
akan kekurangan gizi, pdhl masa bayi itu sangat penting utk pertumbuhan
menurut ahli gizi, 
ahli nutrisi, kesehatan ... mungkin demikian yakinnya penelitian itu,
lupalah pd ketentuan taqdir.

andai setiap pandangan manusia dipresumsikan selalu benar, tidak ada
ketetapan taqdir, 
tentu semua kaum masakiin pasti binasa menurut logika manusia dgn presumsi
itu. boleh jadi
pengetahuan kesehatan itu sampai pd mereka, tapi mau ikuti saran ahli gizi
tapi gak punya 
duit. ternyata byk juga bocah2 yg encer otaknya dr kalangan menengah
kebawah. 

maha Suci Allah, 
yg maha tinggi lagi maha bijaksana.



salam,
Fahru

  _____  

From: AFR <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, December 7, 2008 11:20:50 PM
Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c10|

1. ya begitulah unique sifat Allah SWT, tak ada yg menyamaiNya. apa-apa 
yg akan dilakukan manusia dgn berbagai pertimbangannya, melalui pilihan2 
yg ada + resikonya, seolah-olah pemilihan itu pilihan manusia, setiap
perbuatan 
seolah dirinya yg berbuat, kebebasannya seolah bagai tak berhamba ... dstnya

mungkin teramat halus itu utk dipahami ... begitulah Allah SWT. seolah ada
pesan 
'membebaskan tapi mengikat, mengikat tapi membebaskan'.

a'udzubillahimin syathaani rajiim,

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah 
yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, 
tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan
mereka) 
dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu'min, dengan kemenangan 
yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui.
(al-Anfaal:17)


2. Dzalika Allahu Malikul Quddus Salaamul Mu'minuul Muhayminul Aziizul
Jabbarul 
Mutakabbir. Subahanallahu ammaa yusrikuun ... Dia memag maha raja yg punya 
kewenangan tak terbatas. apa yg sdh Dia tuliskan adlh janjiNya, sunatullah
adlh 
janjiNya, setiap firmanNya adlh juga janjiNya. tak ada yang berubah ttg itu.


konotasi kata diktator itu boleh buruk buat manusia, tapi kalo disandang pd
yg 
Maha Pemurah, maha Penyayang, maha Pengampun ... 


Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana

tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat 
sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (al-Israa':13)

Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya
kamu 
ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. (al-Anfaal:68)

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau
tidaklah 
karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah
diberi 
keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.
(Yunus:19)
...

ayat2 serupa yg menyiratkan bhw sdh ada ketetapan sblm semua itu byk sekali 
(Huud 110, Thaahaa 129, As-Sajdah 28 ...), bahkan ada penegasan bahwa Dia 
tak akan pernah merubah apa2 yg sdh Dia tentukan itu. 


salam,
Fahru

  _____  

From: Tejosuroso <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, December 7, 2008 4:49:15 PM
Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c9|

Kata Kang Fahru:

 

1. amanah memang tidak ditodongkan, tapi ditawarkan (al-Ahzab:72) 
dan itu sdh ditetapkanNya bhw yg mewarisi amanat itu adlh manusia. 
penetapan itu sdh masuk blue print sblm penciptaan manusia itu sendiri. 

 

------------------
Lhaiya, Kang. Kenapa kok masih mas'ul??? Kalau memang SPK-nya sudah
dibagi-bagi??? 

Mas'uliyah itu kan, kata saya tadi, konotasinya lebih ke konsekuensi. Resiko
atas pilihan-pilihan...

 


2. gagal atw berhasilnya dlm suatu urusan itu term menurut pandangan 
manusia. taqdir tidak peduli itu melainkan apapun yg sdh nyata terjadi & 
dilakoni manusia itulah yg terbaik, bukan hal buruk & bukan hal yg sia2. 

----------------

Kenapa Gusti Allah, amitsewu ini...., sampeyan gambarkan seperti raja
diktator begitu???

 

 

ambil selintas peristiwa 'buruk' dlm sejarah manusia, mulai dari Hiroshima 
& Nagasaki hingga .. bom Mumbai yg baru saja terjadi. bencana, menurut 
Islam itu tidak ada yg buruk. apa yg mesti terjadi itulah yg terbaik
sekalipun 
menimpa org2 mu'min.

-------------------

Ngambil contohnya seperti peristiwa al-Muaisim, Mina. Itu pan sodara mukmin
kita semua??? Dari sudut sensus kependudukan saja kita sudah kalah banyak
lagi sama yang bukan mukmin. Belum lagi dari sudut ekonomi, pukulan telak
akan sangat terasa bagi keluarga yang ditinggalkan (kebanyakan calhaj kita
adalah para penopang ekonomi keluarganya). 



 

a'udzubillahi min asyiathaanirajiim,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang 
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah 
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan 
langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan
ini dengan sia-sia 
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami,
sesungguhnya 
barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau
hinakan ia, dan 
tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami,
sesungguhnya kami 
mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu):"Berimanlah kamu kepada
Tuhanmu"; 
maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan
hapuskanlah dari 
kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang
berbakti. 
Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami
dengan perantaraan 
rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak 
menyalahi janji". (Ali 'Imran:190-194)
-------------------------
"Innaka laa Tuhliful Mii'aad" dalam ayat ini kan mengharap janji-janji
balasan. Balasan baik menjadi stimulan agar kita terus berbuat baik dan
balasan buruk menjadi ancaman agar kita menjauh dari maksiat. Stimulan dan
ancaman itu mestinya selalu tertuju pada obyek aktif lho.....



 

Nuwun;

Tejosuroso

 

p/s: whueii..... liyane do turu....???

 

 

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke