Selama ini yg saya tangkap istilah "penggal kepala" itu makna qias saja.
"Kepala" adalah simbol akal rasio atau akal lahiriyah. Sehingga ketika
sipencinta bertemu dengan apa yang dicintainya harus dengan "menanggalkan
kepala", tidak membawa akal rasio lagi, harus dengan cinta murni yg tak
mengandung syirik sedikitpun (sehingga banyak kalangan yg menilai jalan sufi
ini dianggap penuh bahaya dan rintangan). Yang menjadi heboh adalah ketika
diluar ada orang lain trus tiba-tiba tereak ana al haq; ya otomatis penonton
nganggep ini orang lagi mabok atau gila (penonton dalam hali ini tentunya
menggunakan akal rasio), sedangkan orang lain yg pernah mengalami hal serupa
itu paling-paling ya cuman cengar-cengir aja.

Analoginya adalah seperti ketika sampeyan mengungkapkan rasa cinta ke istri
(dengan style rasional). Dik, akang mencintaimu dgn sepenuh hati tak lain
karena parasmu yg sangat cuantik, kulitmu sangat lembut, rambutmu yg
berkilau, cara jalanmu bak harimau lapar, warisanmu cukup memenuhi kebutuhan
7 turunan, dst.. dst... 
Ya sudah pada saat itu juga istri sampeyan langsung minta cerai, meskipun
ada kata-kata "sepenuh hati". Istri sampeyan akan bilang: akang bohong,
akang tidak tulus, cinta akang bersyarat, cinta akang tidak menyentuh esensi
saya, cinta akang tidak kepada saya, sungguh tidak kepada dzat saya, akang
masih menduakan saya, akang syirik, akang masih terhijab oleh ciri saya,
akang kufur... kufar.... kafirrrrrr.... Cari aja istri yang lain, saya nggak
sudi diduakan !!!

Makanya bahasa hati memang susah-susah gampang, sebetulnya dia gak harus
pakai kata-kata atau kalimat utk mengungkapkannya; justru seringkali
kata-kata malah tak pernah bisa menampung hakikat rasa yg sesungguhnya.

Wis ta lah, mengungkap rasa cinta sudah pasti mleset kalo pake gaya
einstein. Gak kompatibel bo... :)


Demikian sekilas info.

:)
Salam hangat

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Bango Samparan
Sent: Saturday, February 28, 2009 9:39 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Sosiologi Tidak Menilai & FTT, att. WLP, HS, BS dll

mmm ... fikih memang bisa kaku dan bisa lentur kok mas Harry, tergantung
bidang dan policy macam apa yang hendak diambil.

Tapi yang jelas, kalau ada orang yang mengatakan "Ana al Haq" dan dia waras,
lalu di SP1 dan SP2, tidak tobat, ya sebaiknya dipenggal saja:-) Para nabi,
sebagai orang yang tingkat pencapaian keimanannya paling maksimum pun tidak
pernah ada yang berani mengklaim yang semacam itu kok.

Abu bakar bisa dianggap kaku sekali ketika beliau tegas memerangi kaum yang
menolak membayar zakat saat beliau menjabat sebagai khalifah. Tapi, itu
semua, karena didasari pandangan jauh ke depan mengenai masa depan Islam dan
umat Islam.

Menariknya, dalam kasus ini keputusan Abubakar didahului dulu dengan
brainstorming antar sahabat nabi, yang di dalamnya memperlihatkan adanya
keragaman sikap. BTW, akhirnya semua sepakat dengan Abubakar, karena beliau
memiliki argumen yang sangat beralasan.

Luwes, kaku, wah barangkali kayak fenomena Schrödinger's cat:-)

Salam hangat
B. Samparan


--- On Sat, 2/28/09, Harry Sufehmi <[email protected]> wrote:

> From: Harry Sufehmi <[email protected]>
> Subject: Re: [is-lam] Sosiologi Tidak Menilai & FTT, att. WLP, HS, BS dll
> To: [email protected]
> Date: Saturday, February 28, 2009, 8:44 PM
> 2009/2/27 Alkhori M <[email protected]>:
> > Tapi sementara
> > Fiqih saya katakan KAKU, ada ruang tapi tidak boleh
> dipilih atau Having
> > Option but No Alternative, apakah cocok istilah itu
> stil in big question
> > MARK. Salam kompak selalu dari Qatar.
> 
> Hm, fikih itu malah kadang membingungkan saking terlalu
> banyaknya pilihan  :-)
> 
> Satu contoh: ketika sedang meriset soal rokok, saya
> menemukan sebuah
> fatwa dari seorang ulama Salafi. Di luar dugaan, rokok itu
> hukumnya
> bisa bermacam-macam menurut beliau, mulai dari haram 
> sampai wajib.
> Nah lho :-)
> 
> Saya sampai nyengir gede membaca fatwa tersebut. Tapi
> setelah dibaca,
> memang semua dasar2nya cukup kuat.
> 
> Begitulah lenturnya fikih. Dan ini juga yang memungkinkan
> agama ini
> jadi relevan di setiap masa, dan di setiap tempat.
> 
> Kalau fikih itu kaku, maka Islam tidak akan bisa dijalankan
> di luar
> Arab Saudi  :-)
> 
> 
> 
> Salam, HS
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke