Lha itu lah mas, definisi memang hampir pasti mereduksi realitas. Makanya yang 
maqam-nya udah duwur kalau tidak diem, ya hati-hati ngomong kepada awam.

Dalam hubungan kholiq (yang tak ada sesuatu pun yang menyamainya) dan makhluk 
(yang diciptakannya), sombong sekali kalau si makhluk menyatakan "aku dah 
sampai".

Kalau dalam tradisi cerita silat hongkong ala Tony Wong, itu namanya kerasukan 
iblis. Kalau dalam tradisi tasauf, itulah kekafiran paling gede.

Salam hangat
B. Samparan


--- On Sat, 2/28/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote:

> From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
> Subject: RE: [is-lam] Sosiologi Tidak Menilai & FTT, att. WLP, HS, BS dll
> To: [email protected], [email protected]
> Date: Saturday, February 28, 2009, 11:38 PM
> Selama ini yg saya tangkap istilah "penggal
> kepala" itu makna qias saja.
> "Kepala" adalah simbol akal rasio atau akal
> lahiriyah. Sehingga ketika
> sipencinta bertemu dengan apa yang dicintainya harus dengan
> "menanggalkan
> kepala", tidak membawa akal rasio lagi, harus dengan
> cinta murni yg tak
> mengandung syirik sedikitpun (sehingga banyak kalangan yg
> menilai jalan sufi
> ini dianggap penuh bahaya dan rintangan). Yang menjadi
> heboh adalah ketika
> diluar ada orang lain trus tiba-tiba tereak ana al haq; ya
> otomatis penonton
> nganggep ini orang lagi mabok atau gila (penonton dalam
> hali ini tentunya
> menggunakan akal rasio), sedangkan orang lain yg pernah
> mengalami hal serupa
> itu paling-paling ya cuman cengar-cengir aja.
> 
> Analoginya adalah seperti ketika sampeyan mengungkapkan
> rasa cinta ke istri
> (dengan style rasional). Dik, akang mencintaimu dgn sepenuh
> hati tak lain
> karena parasmu yg sangat cuantik, kulitmu sangat lembut,
> rambutmu yg
> berkilau, cara jalanmu bak harimau lapar, warisanmu cukup
> memenuhi kebutuhan
> 7 turunan, dst.. dst... 
> Ya sudah pada saat itu juga istri sampeyan langsung minta
> cerai, meskipun
> ada kata-kata "sepenuh hati". Istri sampeyan akan
> bilang: akang bohong,
> akang tidak tulus, cinta akang bersyarat, cinta akang tidak
> menyentuh esensi
> saya, cinta akang tidak kepada saya, sungguh tidak kepada
> dzat saya, akang
> masih menduakan saya, akang syirik, akang masih terhijab
> oleh ciri saya,
> akang kufur... kufar.... kafirrrrrr.... Cari aja istri yang
> lain, saya nggak
> sudi diduakan !!!
> 
> Makanya bahasa hati memang susah-susah gampang, sebetulnya
> dia gak harus
> pakai kata-kata atau kalimat utk mengungkapkannya; justru
> seringkali
> kata-kata malah tak pernah bisa menampung hakikat rasa yg
> sesungguhnya.
> 
> Wis ta lah, mengungkap rasa cinta sudah pasti mleset kalo
> pake gaya
> einstein. Gak kompatibel bo... :)
> 
> 
> Demikian sekilas info.
> 
> :)
> Salam hangat


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke