> Makanya ane nanye sama ente. Gimana sih kok emas bisa lebih dihargai daripada > beras?
2009/3/11 Dewa Gede Permana <[email protected]>: > He-he-he... ane memang sampe sekarang nggak mudheng, sebetulnya nilai > intrinsik barang itu asal datangnya dari mana; apakah benar karena > keterbatasan barang, kelangkaan, keterbutuhan, dst.., ataukah krn kesepakatan > sosial saja. Barang yg disebut emas (Aurum=Au), mutiara, itu juga begitu, ane > juga nggak tahu sejarah manusia dulu-dulunya kenapa dia bisa bernilai tinggi > bahkan sampai dijunjung2 ibarat lambang kemegahan. Nah, kita sudah mulai bertanya secara kritis. Ini bagus sekali. Saya sudah bersentuhan dengan topik dinar emas sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi saban kali saya mencari tahu lebih lanjut, biasanya selalu terbentur, terhenti sampai pada dogma : "dinar emas adalah solusi dari semua masalah ekonomi", dan seterusnya. Jadi mirip seperti jargon HT, "khilafah is the solution". Padahal jika komunitas/umat belum siap, maka khilafah bisa malah menjadi fitnah. Saya cemas jika kita terlalu fokus kepada solusi tipe "silver bullet", lalu sudah habis-habisan mencurahkan banyak resources kita kesitu - ternyata kemudian tidak tercapai hasil yang diinginkan. Muncul kekecewaan, dan kemudian apatisme. Anyway, sejauh ini saya belum pernah berhasil melanjutkan diskusi soal dinar emas sampai lebih teknis & detail. Karena itu saya sampai saat ini belum berani secara terbuka menyatakan dukungan kepada gerakan dinar emas ini. Diskusi seperti ini bisa membantu menggali lebih lanjut berbagai hal seputar topik ini. Sehingga potensi masalah jadi bisa ketahuan, dan dicarikan terlebih dulu solusinya. Dan bukannya terbentur pada masalah tersebut belakangan, ketika dinar emas sudah digaungkan kemana-mana. Dari diskusi2 sejauh ini, saya pribadi pikir uang kartal juga sudah cukup, asal dijamin dengan benda berharga. Seperti emas, dll. Jadi nilai uangnya bukan cuma persepsi saja. Maka walaupun masih ada kurs dan pergerakan naik-turun nilai uang, tidak akan drastis seperti berbagai kasus yang sudah terjadi selama ini. Beda (uang) kertas dengan benda berharga (seperti emas) adalah kertas bisa dicetak/dibuat dalam jumlah sangat besar dan dengan sangat mudah. Maka, otomatis nilainya jadi sangat rentan / tidak stabil. Contoh visualnya bisa dilihat disini : Akur dengan soal ekonomi secara keseluruhan. Dinar emas boleh saja, tapi ekonomi negara sendiri juga tetap harus dibenahi pula. Salam, HS > Cuman yg ane yakin adalah bhw "nilai intrinsik" barang-barang tersebut sudah > dijungkir-balikan oleh tokoh yang kita kenal sebagai Nabi Isa as. Beliau ini > yang mencoba menggeser makna "nilai" yang telah berurat akar dalam budaya > bangsa israel yang notabene sangat lekat terhadap kebendaan, kemegahan, > kekayaan. Beliau mengajarkan bahwa "nilai" bukanlah berada di barang-barang > itu, melainkan dia nya terletak pada bagaimana engkau memberikan > barang-barang yang engkau sukai itu kepada orang lain yang membutuhkan. Jadi > ada pergeseran dari "nilai barang" menjadi "nilai maslahat", ada semacam > pergerakan ke arah atas menjauhi bumi, dan sepertinya hal inilah yang > mendapatkan pertentangan keras dari umat beliau. Wajar saja, sudah kadung > biasa numpuk harta tau-tau disuruh bagi-bagi ke orang lain, ya ngamuklah > orang-orang yg nggak mau ngerti maksud sang Nabi. Ajaran semacam inipun > lantas diteruskan oleh Kanjeng Rasulullah SAW sampai ke kita-kita. Jadi > sungguh para Nabi ini memang hendak membawa umat-umatnya bergerak ke arah > langit, bukannya malah terlena membenamkan diri di bumi dengan segala > pernak-pernik yang serba semu. > > Nah dari sini mungkin kita sudah bisa memahami jika masih ada orang yang > sedemikian lekatnya terhadap nilai suatu obyek ataupun obyek yang di > obyek-obyek kan (ngobyek kaleee..) seperti dalam kasus kesaktian rp. 100.000 > itu.... lha ini sama saja artinya kita balik lagi ke jaman nabi Musa, alias > jadi bangsa samiri. Dus itu berarti kita ini belum bisa dikatakan sebagai > umat Muhammad... nah lho? > > Perkara si dokter itu, nurut saya ya balik lagi ke kesepakatan diawal antara > si dokter dan pasiennya. Kalo si pasien bolak-balik datang dengan keluhan > yang sama sementara anjuran dan obat dokter gak diikuti, ya dia wajib bayar > lagi utk nebus kesalahan sendiri. Tapi kalo semata-mata karena kesalahan > diagnosis sehingga salah kasih obat/nasihat, ya si dokter kudu belajar lebih > teliti lagi sekaligus bisa memperhitungkan berapa kerugian yg ditimbulkan > pada diri si pasien akibat keteledoran si dokter. Dan dari sini so pasti > kedua belah pihak sama-sama akan belajar; belajar menjadi dokter yang > profesional dan belajar menjadi pasien yang profesional... he..he..he... > (pasien yang profesional = pasien yang gak mau ke dokter lagi). Jika proses > transaksinya seperti ini mungkin sudah tidak tepat lagi masalah ada/tidak nya > riba yg sampeyan ragukan itu. Sebetulnya angka 50.000 itu kan ya tidak utuh, > bisa dipecah-pecah komponennya, mana biaya produksi, biaya jasa, dan biaya > kembalian ke pasien jika terjadi malpraktek, dan tentu saja biaya milik > dulur-dulur fakir... kira-kira kan gitu yaa. > > :) > Salam hangat > > > -----Original Message----- > From: Bango Samparan [mailto:[email protected]] > Sent: Wednesday, March 11, 2009 6:42 AM > To: Dewa Gede Permana > Subject: RE: [is-lam] Misteri JUB, Nilai Rupiah, Fiat Standard, dan Standar > Emas > > > Ente nih kadang kok gimana sih Mas:-) Mangsudnya tuh gini lho, wong kertas > ming ditulisi 50.000, kok bisa tiba-tiba berharga Rp. 50.000, nah ini kan > namanya tipu-tipu, riba lah ya:-) > > Kalau dari emas kan enggak, Rp. 50.000 harus dibuat dari emas seharga Rp. > 50.000, mekaten menurut pemikiran hambo yang simpli ini. Atau ya sederhananya > pokoknya 1 dinar adalah ... gram emas ... karat, biarlah harga naik turun > sesuai dengan harga emas. > > Makanya ane nanye sama ente. Gimana sih kok emas bisa lebih dihargai daripada > beras? Apa karena orang percaya emas itu sakti, seperti batu geledeknya > Ponari, atau apa gitu lho? Lha kalau udah begitu, pigimana kalau kertas > bertulisan 100.000 dianggap memiliki kesaktian setara Rp. 100.000. > > Aku pernah baca Toward an Interest Free Economic System, di situ malah kita > diajak merenungkan begini: > > Kita ke dokter, bayar Rp. 50.000. Di kasih resep, ditebus, obat dimakan. > Nggak sembuh. Kembali lagi ke si dokter. Di kasih resep lagi, bayar lagi Rp. > 50.000. Nah, kayak begini ini riba atau tidak? > > Salam hangat > B. Samparan > > > --- On Tue, 3/10/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote: > >> From: Dewa Gede Permana <[email protected]> >> Subject: RE: [is-lam] Misteri JUB, Nilai Rupiah, Fiat Standard, dan Standar >> Emas >> To: [email protected] >> Date: Tuesday, March 10, 2009, 9:27 PM >> Tuh khan…. makanya ane kemaren juga sangsi dgn penjelasan >> bhw penggunaan dinar akan menghilangkan ribawi krn ribawi >> ini sebetulnya produk dari tingkah polah manusia dan bukan >> produk dari benda mati. >> >> >> >> Ente ora perlu berbaik hati minjem ke ane dinar, selain ane >> gak punya dinar, ane juga masih bingung kenapa 10 = 15. Ini >> matematika dari mane… ? >> >> Filosofis? wah ngaku nih ane blom tau samsek… apa karena >> ada emas di surga barangkali, sementara padi kagak >> disebut-sebut….. JL >> >> >> >> J >> >> Salam hangat >> >> >> >> >> >> From: Bango Samparan [mailto:[email protected]] >> Sent: Tuesday, March 10, 2009 8:28 PM >> To: [email protected]; Dewa Gede Permana >> Subject: RE: [is-lam] Misteri JUB, Nilai Rupiah, Fiat >> Standard, dan Standar Emas >> >> >> >> >> Yo ora tho mas. Lha kalau perbankannya masih pakai gaya >> bunga dan tidak pakai gaya profit loss sharing (mudharabah), >> kan riba ya masih eksis. Nah, gaya ribawi ini juga akan >> memicu instabilitas ekonomi juga. >> >> Atau, kalau aku utang ente 10 dinar, setahun ente suruh >> mengembalikan 15 dinar, itu kan juga riba. >> >> Ngomong-ngomong, iki sebetulnya rodo filosofis lho:-) >> Kenapa hayo, kok emas lebih berharga daripada beras? >> Darimana sih sebenarnya muncul harga itu? >> >> Nah, kalau begitu, salah enggak selembar kertas bisa >> berharga Rp. 100.000? >> >> Salam hangat >> B. Samparan >> >> --- On Mon, 3/9/09, Dewa Gede Permana >> <[email protected]> wrote: >> >> From: Dewa Gede Permana <[email protected]> >> Subject: RE: [is-lam] Misteri JUB, Nilai Rupiah, Fiat >> Standard, dan Standar Emas >> To: [email protected], [email protected] >> Date: Monday, March 9, 2009, 9:02 PM >> >> Tengkyu bro atas usaha pencerahannya… J >> >> Lantas kalo dikaitkan dengan masalah diawal-awal topik >> semula terkait dengan unsur ribawi itu gimana Mas? >> >> Taruhlah diasumsikan tercapai kondisi dimana emas telah >> menjadi standard moneter, apakah benar dikatakan ribawi akan >> hilang dengan sendirinya? Atau mungkin masih ada >> dinamika-dinamika yang lainnya lagi yang masih harus >> diperhitungkan? >> >> >> >> J _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
