2009/3/11 Bango Samparan <[email protected]>: > --- On Wed, 3/11/09, Harry Sufehmi <[email protected]> wrote: >> Nah, kita sudah mulai bertanya secara kritis. Ini bagus >> sekali. >> >> Saya sudah bersentuhan dengan topik dinar emas sejak >> beberapa tahun >> yang lalu. Tapi saban kali saya mencari tahu lebih lanjut, >> biasanya >> selalu terbentur, terhenti sampai pada dogma : "dinar >> emas adalah >> solusi dari semua masalah ekonomi", dan seterusnya. >> >> Jadi mirip seperti jargon HT, "khilafah is the >> solution". Padahal jika >> komunitas/umat belum siap, maka khilafah bisa malah menjadi >> fitnah. > > Aha ... saya malah pernah digelari seorang temen HT sebagai setan berbulu > malaikat kok mas, hanya gara-gara ingin menghaluskan analisis mengenai banyak > hal.
Hehe.. gelar yang cukup unik, dan menohok juga :-) > Saya sampaikan contoh Ringgit Malaysia itu, agar kita bisa membayangkan bahwa > persoalan intinya justru pada manejemen perekonomian kita yang memang sudah > amburadul. Sritua Arief dan Adi Sasono pernah bilang, struktur > sosial-politik-ekonomi kita tuh tak berubah sejak masa tanam paksa kok mas, > tetap ekploitatif terhadap massa rakyat, atas keuntungan segelitir elit yang > menduduki status quo. Masih mending zaman tanam paksa -- mertua saya bercerita dulu mereka dapat subsidi/jaminan. Jadi ternyata di zaman Belanda itu ada semacam bulognya. Petani mendapat jaminan bahwa padinya akan dibeli dengan harga (misalnya) 2 gulden per ton. Nah, lalu apakah kemudian ke pembeli akan terjual 3 gulden atau malah cuma 1 gulden, itu sudah urusan Bulog. Bukan urusan petani lagi. Gilanya lagi, dulu itu orang kampung malah bisa mengekspor. Sadis. Warga desa kami (silungkang) itu biasa mengekspor ke luar negeri. Padahal kalau mas Bango lihat, aslli itu desa terpencil dan tidak bonafid lah. Kita lagi jalan di pegunungan, melewati sebuah celah, tiba di lembah - lalu tiba2 ada desa kecil itu, hehe. Ternyata zaman Belanda bisa impor benang emas sendiri, lalu ekspor tenunan / songket. Ini karena difasilitasi oleh kantor posnya, baik dalam soal pengiriman barang maupun transfer dana keluar/masuknya. Selain juga urusan perjalanan ke luar negeri itu dipermudah. Malah sempat expo segala di Belgia :) Karena di kampung bisa hidup dengan cukup nyaman, maka tidak terasa perlu untuk mencari nafkah di kota. Alhasil, tidak ada masalah urbanisasi. Tapi dulu itu memang desa kecil tersebut diberkati dengan beberapa wali nagari yang cukup cerdas. Misalnya, pada zaman Romusha, tidak ada seorangpun korban meninggal dari desa tsb. Ternyata, wali nagarinya tahu kabar mengenai Jepang dari radio. Lalu dipersiapkannya bendera jepang di kantor nagari, dan sebuah foto seorang warga desa berukuran besar yang kebetulan berada di jepang, tentu dengan berbagai atribut jepang. Ketika tentara jepang tiba, mereka terkejut melihat desa kecil itu sudah siap menyambut mereka dengan berbagai atribut yang familiar, he he. Kemudian terjadi negosiasi yang cukup simpatik. Alhasil, disepakati bahwa pekerja romusha dilakukan bergilir, dan mereka boleh membawa bekal makanan. Juga mereka tidak diperlakukan dengan sadis. Kakek saya termasuk adalah pekerja romusha juga. Walaupun pekerjaannya berat, namun alhamdulillah beliau dan warga lainnya selamat semuanya. Intelligence & Lobi / komunikasi / silaturahmi itu memang penting sekali ya :-) Eh, jadi melenceng... > Posting-posting saya tentang uang emas, sebetulnyakan memberikan data yang > riil mengenai permasalahan yang mungkin tetap muncul meski emas dipakai > sebagai standar moneter. Tapi, ya itu, sering disalahtafsiri saya anti > standar emas :-) Tapi, ya sudahlah. Ndak apa, banyak-banyak sabar ya mas. Kalau kita tidak sabar, ilmu kita nanti jadi mubazir juga, sayang. Thanks. Salam, HS > > Salam hangat > B. Samparan _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
