Anu mas... mungkin kalo saya boleh melihat dari sisi pintu belakang nih :),
sepertinya rasa kecewa ataupun apatis yang sebetulnya manusiawi dan melanda
hampir setiap orang, diawali ketika seseorang telah menetapkan tujuan
idealnya berdasarkan kehendak yg di-AKU-inya itu berasal dari dirinya.
(atau: KEHENDAK telah dieksploitasi sebagai MILIK pribadi si aku). Sampai
disini mungkin masih belum memunculkan masalah apa-apa, paling-paling kita
akan kerja super ngoyo supaya hasil tercapai (entah takut dibilang gagal
atau malu, dihadapan orang lain). Namun ketika dijumpainya bahwa ternyata
tujuan ideal tersebut tak tercapai sesuai keinginannya.... dus barulah
muncul rasa KECEWA.... dan kemudian kemudian merembet muncul rasa APATIS.

Permasalahan utama nurut saya ya pengeksploitasian atas KEHENDAK yang
diawal-awal itu. Coba kalo kita bisa memisahkan diri bahwa itu bukan
KEHENDAK aku, tetapi KEHENDAK sesuatu yg MENGUASAI diri aku... tentu
hasil-rasa akan berbeda; dalam menjalankannya pun akan berbeda, segalanya
jadi terasa lebih ringan, sudah tidak perduli lagi dengan apa kata orang
lain krn yg diperdulikan hanya sesuatu yang MENGUASAI dirinya saja, krn
memang DIA lah yg selalu menempel dan mengontrol kemana si aku pergi. Disini
aku hanya dipakai sebagai alat bagi DIA yang MENGUASAI.

Dus ketika hasil yg dijumpainya itupun tdk sesuai maka si aku ini pun tetap
tidak KECEWA berat manakala dia sadar bahwa DIA yang MENGUASAI ini pun
sejatinya ternyata PEMILIK KEHENDAK itu sendiri. Bagi si fulan yg sadar
bahwa dirinya hanya digunakan sebagai ajang pertempatan DIA, SANG PENGUASA,
maka segalanya akan diserahkan kembali ke DIA. Sedangkan bagi si fulan yang
belum tahu, belum sadar bagaimana mengembalikan KEHENDAK ini sebagaimana
mestinya ya tentu saja akan mengalami blank, tension, stress, dst.

Kira-kira gitu mas, kalo ini mlenceng dari topik Dinar Emas, ya tulunk
dibukakan pintu maaf ya.. :)
Saya itu punya kecendrungan mata-spontan, jadi kalo tiba-tiba lihat text
tertentu trus keinget sesuatu peristiwa, ya sudah main komen aja gak lagi
liat-liat itu topik tentang apa... he-he-he... kalo kata si komeng, spontan
uhuyy...

:)
Salam hangat


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Harry Sufehmi
Sent: Wednesday, March 11, 2009 9:46 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Misteri JUB, Nilai Rupiah, Fiat Standard, dan Standar
Emas


Saya sudah bersentuhan dengan topik dinar emas sejak beberapa tahun
yang lalu. Tapi saban kali saya mencari tahu lebih lanjut, biasanya
selalu terbentur, terhenti sampai pada dogma : "dinar emas adalah
solusi dari semua masalah ekonomi", dan seterusnya.

Jadi mirip seperti jargon HT, "khilafah is the solution". Padahal jika
komunitas/umat belum siap, maka khilafah bisa malah menjadi fitnah.

Saya cemas jika kita terlalu fokus kepada solusi tipe "silver bullet",
lalu sudah habis-habisan mencurahkan banyak resources kita kesitu -
ternyata kemudian tidak tercapai hasil yang diinginkan. Muncul
kekecewaan, dan kemudian apatisme.




Salam, HS




_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke