--- On Wed, 3/11/09, Harry Sufehmi <[email protected]> wrote:
> Nah, kita sudah mulai bertanya secara kritis. Ini bagus
> sekali.
>
> Saya sudah bersentuhan dengan topik dinar emas sejak
> beberapa tahun
> yang lalu. Tapi saban kali saya mencari tahu lebih lanjut,
> biasanya
> selalu terbentur, terhenti sampai pada dogma : "dinar
> emas adalah
> solusi dari semua masalah ekonomi", dan seterusnya.
>
> Jadi mirip seperti jargon HT, "khilafah is the
> solution". Padahal jika
> komunitas/umat belum siap, maka khilafah bisa malah menjadi
> fitnah.
Aha ... saya malah pernah digelari seorang temen HT sebagai setan berbulu
malaikat kok mas, hanya gara-gara ingin menghaluskan analisis mengenai banyak
hal.
Posting-posting saya tentang uang emas, sebetulnyakan memberikan data yang riil
mengenai permasalahan yang mungkin tetap muncul meski emas dipakai sebagai
standar moneter. Tapi, ya itu, sering disalahtafsiri saya anti standar emas:-)
Tapi, ya sudahlah.
Saya sampaikan contoh Ringgit Malaysia itu, agar kita bisa membayangkan bahwa
persoalan intinya justru pada manejemen perekonomian kita yang memang sudah
amburadul. Sritua Arief dan Adi Sasono pernah bilang, struktur
sosial-politik-ekonomi kita tuh tak berubah sejak masa tanam paksa kok mas,
tetap ekploitatif terhadap massa rakyat, atas keuntungan segelitir elit yang
menduduki status quo.
Salam hangat
B. Samparan
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam