--- On Wed, 3/11/09, Agus Safudi <[email protected]> wrote:
> mas, kalo pake bunga tapi per bulan cuma di bawah 3%,
> sementara mudhorobah bisa 10% atau malah lebih kira2 gimana
> ya agar usahanya survive dan berkembang (sekedar pengalaman
> dan pahit).
Ya memang bisa begitu mas. Menurut pengalaman saya, terkadang karena saat akad
tidak banyak dibahas benar detail operasionalnya. BTW, kalau toh lebih mahal,
wajar karena kalau rugi, si pemodal kan juga ikut menanggung kerugian.
Eee... tapi mudhorobah bener ya, jangan-jangan murabahah mas? Mudhorabah tuh
biasanya mah keahlian (active partner) gabung sama modal (sleeping partner).
Yang dibagi laba bersihnya, biasanya mah 60% pengelola dan 40% pemodal, tapi
bisa juga disepakati lain.
> mungkin orang-orang pada makan emas dan memakai perhisasan
> beras ngkali ya....(cuma penjelasan dari dunia antah
> berantah)
Aku yo sok bingung lho mas:-) Lha nek dihitung-hitung dari kegunaannya, beras
tuh lebih bermanfaat lho ya:-) Di makan kenyang. Lha emas, dimakan rak atos. Eh
... ning iso diijolne beras akeh dink:-) Opo meneh nek regane mundak terus.
Kalau kita baca Taiko, di Jepang dulu para samurai ya dibayar pakai beras,
mungkin karena di Jepang lebih banyak beras daripada emas ya. Ngomong-ngomong
Yen tuh agak aneh lho, 1 Yen cuma sekitar seratusan rupiah saja, padahal
ringgit bisa tigaribuan. Apa itu ya rahasianya Jepang jadi raja ekspor dan
sulit dipenetrasi barang impor.
> kalo sudah di sepakati baik legalitasnya, keterterimaannya,
> dll, kenapa tidak?
Itulah mas:-) Asal tidak dicetak ngawur saja, harganya bisa kok dijaga stabil.
Tapi diganti standar emas, kalau bener-beneran saya juga setuju lho:-) Kalau
penguasanya yang rada rezim-rezim atau diktator-diktator tuh biasanya seenaknya
saja kok mas mencetak uang:-)
> keinginan untuk merubah uang kertas dengan uang emas kira2
> apakah
> memang menginginkan keadaan yang lebih baik atau sekedar
> rindu pada
> nostalgia lampau sebagai bagian zaman ke khalifahan, who
> knows...
Saya sendiri berpendapat menjadi lebih baik mas:-) Tapi ya tetep ada
masalah-masalah yang mesti ditangani secara serius, seperti yang pernah saya
kemukakan, bagaimana JUB bisa optimal, secukupnya saja gitulah.
Tapi bisa juga lho kalau standar emas dan perak jadi dipakai secara
internasional, Indonesia juga tetep keok:-) Wong masalah intinya memang tidak
di situ kok.
> tapi terkadang saya ngelantur (gak lagi mabok sich..) kalo
> seumpanya
> KESEPAKATAN pada WAKTU itu ternyata lebih baik dari pada
> dalil naqli
> khusus untuk hal-hal di luar ritual kira-kira gimana
> ya?(mudah2an gak
> ngelantur dari topik)....live goes on..
Hayo, di zaman Rasulullah yang membuat atau memproduksi Dinar dan Dirham itu
siapa?
Salam anget-anget
B. Samparan
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam