Hmmm,
Ya sudah. Itulah sebabnya rakyat kita lebih suka berobat ke Ponari atau 
dukun-dukun kampung yang kadang-kadang pada beberapa kasus, dukun kampung lebih 
sosial daripada dokter kota atau rumah sakit 

Ampun deh. . . Cape deh. . . 



-- pesan orisinal --
Subyek: Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit
Dari:   "Yandi Dwiputra F" <[email protected]>
Tanggal:                16-07-2009 14.09

 
betul  kang.....untuk mempertanggungjawabkan 5 th yang sudah lalu diperlukan 
5th yang  akan datang.....oleh karena itu presiden yang sekarang mempunyai 
slogan  LANJUTKAN....itu maksudnya sebagai pertanggungjawaban beliau terhadap 
5th yang  sudah lalu..... 
InsyaAllah di kemudian hari tidak akan terjadi hal yang sama......karena  
menurut saya itu tidak mungkin kan khoirunnisa sudah meninggal.....hehehe sorry 
 just kidding.......
   
-----Original Message-----
From:   [email protected]   
[mailto:[email protected]]on Behalf Of   hamami
Sent: Thursday, July 16, 2009 2:00 PM
To:   [email protected]
Subject: Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin   Dilarang Sakit

  
  
   
Bagaiamana 5 th yang sudah   berlalu…?  
Bukankah, kasus Khoirunnisa, bocah yang   bunuh diri karena malu gak bisa bayar 
uang sekolah, dan beberapa kasus yang   diberitakan di Kompas.com itu 
terjadinya pada masa kepemmpinan presiden yang   menang sekarang ini…?   
Apakah kita akan melihat hal yang sama   untuk kedua kalinya nanti….? Soal 
berharap dan berdo’a itu sudah menjadi suatu   keharusan, namun kita juga dalam 
bertindak harus melihat kebelakang sebagai   bahan pelajaran dan bagaimana 
probabilitas   kedepannya.  
   
   
  
  
  
  
From:   Yandi Dwiputra F   [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, July 16, 2009 1:20   PM
To: [email protected]
Subject: Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin   Dilarang Sakit
  
   
  
yup setuju   kang......  
  
   
  
insyaAllah   pemerintahan 5 th mendatang lebih punya kepedulian untuk 
memakmurkan   rakyat.....amien  
  
yuk kita sama-sama ikut berperan sesuai   porsi kita masing-masing........
    
-----Original   Message-----
From:   [email protected]   
[mailto:[email protected]]on Behalf Of A Nizami
Sent: Thursday, July 16, 2009 1:12   PM
To: [email protected]
Subject: Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin   Dilarang Sakit          
Segala musibah yang terjadi itu tak lepas dari   kesalahan kita (atau sebagian 
dari kita) sendiri.

Misalnya   kenapa Khoirunnisa meninggal dan tidak dapat pengobatan. Kenapa ada  
 wanita yang diperkosa dan meninggal karena ditolak RS.

Itu   semua karena pemimpinnya tidak bisa melindungi rakyatnya dan memberi   
pengobatan gratis.

Belum lagi gempa Yogya yang menewaskan 5000   orang dalam semalam karena 
tertimpa rumah yang ambruk. Rumah itu   ambruk karena rakyatnya miskin dan 
tidak punya cukup uang untuk   membangun rumah beton dengan tulang kawat dan 
semen yang   cukup.

Itu karena pemimpinnya tidak mampu memakmurkan   rakyatnya.

Salahkah pemimpinnya? Salah.
Salahkah rakyat yang   memilih pemimpin itu?
Ya salah juga.. Harusnya rakyat memilih   pemimpin yang betul2 punya kepedulian 
untuk memakmurkan   mereka...

Jadi itu tak lepas dari kesalahan kita juga.
"Azab   yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan   
bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba- Nya." [Ali   
'Imran:182]

"Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu   sendiri. Sesungguhnya Allah 
sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya"   [Al Anfaal:51]

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka   adalah disebabkan oleh perbuatan 
tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan   sebagian besar (dari 
kesalahan-kesalahan mu)." [Asy Syuura:30]   

Bukan Allah yang menyiksa kita. Tapi itu karena perbuatan kita   sendiri.

Allah telah memerintahkan kita untuk memilih pemimpin   yang saleh dan peduli 
kepada rakyat. Kenapa kita tidak melakukan   itu?

Mudah2an kali ini kita mendapat pemimpin yang saleh dan   peduli pada rakyatnya.

===
Ayo Belajar Islam sesuai Al   Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id

--- Pada Rab, 15/7/09, hamami <[email protected]>   menulis:  

Dari:   hamami <[email protected]>
Judul: Re: [Is-lam] Fw:   Orang Miskin Dilarang Sakit
Kepada: [email protected]
Tanggal:   Rabu, 15 Juli, 2009, 10:57 PM  
  
  
Lho….bukannya team kampanye   maupun sang capres pada pilpres kemarin dengan 
bangganya mengatakan   jumlah/populasi orang miskin sudah banyak   
berkurang…..?  
 Atau barangkali   “berkurang” maksudnya sudah banyak yang mati karena gak 
mampu berobat   gitu, ya……?     
  
  
  
  
From:   saidi [mailto: [email protected] ] 
Sent: Saturday, July 11, 2009   5:00 PM
To:   [is-lam]
Subject:   [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang   Sakit
  
 --   Original Message -----   
From:   cicuk   kriswanto     
Subject: Orang   Miskin Dilarang Sakit  
  
   
  
  
Orang Miskin Dilarang   Sakit  
  
  
  

  
  
KOMPAS/LASTI   KURNIA
  
/  
  
Jumat, 26 Juni 2009 |   11:57 WIB  
  
KOMPAS.com —   Dua hari Achmad (68) tergeletak di lorong rumah sakit. Hari 
ketiga,   setelah keluarganya menemui seorang perawat senior yang masih punya   
hubungan kerabat dengan mereka, ia akhirnya bisa mendapat tempat di   salah 
satu bangsal rumah sakit. Akan tetapi, baru beberapa hari   dirawat, penderita 
gangguan serius pada organ hatinya itu ”dipaksa”   pulang.

Sudah sembuhkah Achmad? ”Jauh panggang dari api.   Tetapi, tidak ada yang bisa 
kami lakukan agar tetap bertahan. Sebagai   pasien yang berobat gratis, kami 
tentu tak bisa ngotot sebab menurut   mereka tempat perawatan akan digunakan 
orang lain,” kata Umar, kerabat   pasien, yang mengaku hanya bisa pasrah 
terkait kepulangan saudara   sepupunya tersebut dari Rumah Sakit Muhammad 
Hoesin di   Palembang.

Sejak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan   menerapkan sistem berobat gratis, 
masyarakat golongan bawah di wilayah   ini memang bisa mengakses layanan 
kesehatan di sejumlah rumah sakit   tanpa harus mengeluarkan biaya perawatan 
medis.

Namun,   membeludaknya jumlah orang sakit—di tengah berbagai keterbatasan   
sarana dan prasarana kesehatan, juga tenaga dokter dan   paramedis—membuat 
pelayanan tidak optimal. Di tengah situasi semacam   ini, tak jarang perlakuan 
kurang manusiawi dialami banyak   pasien.

Apa yang terjadi pada Achmad bisa menimpa siapa pun.   Jangankan pasien dari 
keluarga miskin yang memanfaatkan sistem layanan   berobat gratis, pegawai 
negeri peserta asuransi kesehatan (Askes) pun   kerap dipandang sebelah mata 
oleh pihak rumah sakit.

Bahkan,   pelayanan buruk juga bisa menimpa seorang dokter peserta Askes yang   
sekali waktu harus dirawat di rumah sakit terkemuka di negeri ini,   tempat ia 
dulu justru pernah bertugas (Surat Pembaca Kompas, 4 Maret   2009).

Lain lagi kisah yang menimpa sastrawan Radhar Panca   Dahana. Bukan soal 
perlakuan petugas medis, tetapi lebih menyangkut   bagaimana status pasien yang 
kerap menjadi semacam obyek dari apa yang   ia sebut korban fait accompli. 
Dalam   konteks ini, pasien hanya bisa pasrah karena memang tidak ada   pilihan.

Satu ketika ia menjalani operasi pengangkatan tumor di   pundak.. Seusai 
operasi, ia segera ”diperbolehkan” pulang. ”Betapa pun   saya minta diinapkan,” 
kata Radhar. Belum setengah perjalanan pulang,   luka bekas operasi terbuka dan 
darah mengalir. Ia kembali, operasi   ulang pun dilakukan. Hasilnya tak banyak 
menolong: luka tetap terbuka   dan darah tiada henti mengalir.

Ia kemudian diinapkan dan   diberi pilihan untuk operasi ketiga dengan kondisi 
dibius total.   Menurut dokter bedah yang menanganinya, kondisi ini (dibius 
total)   bagi orang seperti Radhar—yang memiliki penyakit akut lain, gagal   
ginjal—hanya punya dua opsi: hilang sadar total alias maut atau masuk   ruang 
ICCU!

”Saya terpana. Lantaran kesalahan operasi, saya   mesti berada pada sebuah 
dilema yang komikal: maut dan hampir maut,”   tutur Radhar.

Ketika hal ini dipertanyakan, sekaligus menggugat   di mana tanggung jawab para 
dokter yang membuat situasi hidup dan mati   sang pasien dipertaruhkan, ”Mereka 
tak bisa menjawab.. Yang ada hanya   pernyataan pendek: ’Semua terserah kepada 
keputusan Bapak’. Saya   terdiam dan mereka pergi.” Bahwa akhirnya ia selamat 
dari situasi   ”komikal” tersebut, Radhar percaya hal itu bisa terjadi hanya 
berkat   tangan Tuhan yang ikut bermain.

Dalam situasi dan kasus yang   berbeda, kisah Prita Mulyasari dan Juliana—yang 
akhirnya bersengketa   dengan pihak rumah sakit pascalayanan kesehatan yang 
mereka   terima—adalah sisi lain bagaimana potret hubungan pasien dan rumah   
sakit sebagai penyedia jasa layanan kesehatan. Sudah sejak lama   dirasakan 
adanya ketimpangan hubungan antara pasien dan penyedia jasa   layanan kesehatan.

Pasien selalu diposisikan sebagai orang yang   paling membutuhkan, sementara 
rumah sakit cenderung tampil bagai dewa   yang akan menentukan nasib sang 
pasien. Bahkan, di tengah   ketidakpahaman pasien tentang sakit dan 
penyakitnya, tak jarang   hak-hak mereka dikebiri oleh pihak rumah   sakit.

Liberalisasi dunia   kesehatan

Ada apa dengan   sistem pelayanan kesehatan di negeri ini? Mengapa citra rumah 
sakit   yang dulu kental akan fungsi sosialnya kini redup, berganti wajah dan   
tampilan barunya yang lebih berorientasi untuk kepentingan   bisnis?

Bukan saja kini bermunculan rumah sakit swasta   (beberapa di antaranya 
memasang label ”internasional”) dengan   target-target pendapatan lewat jasa 
layanan kesehatan dan tingkat   hunian kamar seperti layaknya dunia perhotelan, 
rumah sakit pemerintah   (pusat) pun mulai ikut-ikutan.

Lebih ironis lagi, banyak   pemerintah daerah—baik provinsi maupun 
kabupaten/kota—yang mulai   mengalokasikan dana untuk membangun rumah sakit 
yang berorientasi   keuntungan.

Kesenjangan pengetahuan medis tentang masalah   kesehatan dan penanganannya 
memang menjadi salah satu faktor lemahnya   posisi pasien (baca: konsumen) 
berhadapan dengan pengelola jasa   layanan kesehatan.

Namun, banyak kalangan percaya bahwa akar   dari semua itu berawal dari sistem 
layanan kesehatan di negeri ini   yang sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme 
pasar. Akibatnya, aroma   komersial terasa kental pada hampir setiap tindakan 
terhadap pasien,   sementara fungsi sosial layanan kesehatan tertinggal jauh di 
  belakang.

”Cuma dari luar, rumah sakit kelihatannya kini makin   komersial dan 
meninggalkan fungsi-fungsi sosial. Sebetulnya fungsi   sosial tetap jalan. 
Gawat darurat kan   selalu dilayani,” kata dr Adib Abdullah Yahya, Ketua Umum 
Perhimpunan   Rumah Sakit Seluruh Indonesia .

Menurut   Adib, aroma komersial itu dirasakan pihak luar lantaran rumah sakit   
harus menghidupi dirinya sendiri. Rumah sakit, kan , harus   hidup sehingga 
menerapkan tarif-tarif sesuai dengan biaya per   unit.

Sebaliknya, dokter Kartono Mohamad—pakar kesehatan yang   juga mantan Ketua 
Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter   Indonesia —melihat   pelayanan kesehatan di 
Indonesia memang cenderung   liberal. Semua diserahkan kepada pasar. Malah tiap 
langkah layanan   dikenai tarif tanpa ada aturan yang jelas. Pemodal yang 
membuka jasa   layanan kesehatan kini cenderung hanya berorientasi mencari   
keuntungan.

Bahkan, kata Kartono, untuk mengangkat jahitan   seusai operasi pun dikenai 
tarif terpisah dari operasi itu sendiri.   Demikian pula kontrol atas keadaan 
seusai tindakan sepertinya dianggap   bukan merupakan bagian dari tanggung 
jawab pascatindakan, tetapi   sebagai langkah baru yang dikenai tarif 
tersendiri.

Bukan hanya   pengenaan tarif terpisah yang dipersoalkan. Besaran tarif juga 
tidak   jelas karena ditentukan sendiri oleh pengelola jasa layanan   kesehatan.

Seharusnya, kata Kartono, model layanan kesehatan   yang berasaskan fee for 
service   semacam ini—di mana tiap langkah layanan dikenai tarif   
tersendiri—diubah menjadi sistem asuransi dengan segera memberlakukan   UU 
Sistem Jaminan Sosial Nasional yang sudah lima tahun   ”ditidurkan”.

Dalam perspektif pasar, segala sesuatu memang   diukur dari seberapa besar 
kapitalisasi bergulir. Kenyataan ini, meski   kerap disanggah oleh pemerintah, 
yang secara umum berlaku dalam sistem   pelayanan kesehatan di negeri ini. 
Dalam bahasa Radhar, esensi   pelayanan termanipulasi oleh fasilitas dan harga, 
sementara   diskriminasi terhadap pasien justru kian ditegakkan.

Lebih   celaka lagi, tentu saja bagi pasien, tidak ada lembaga pengawas yang   
mengoreksi kalau ada kesalahan dalam pelayanan. Belum ada   perundang-undangan 
yang khusus mengatur soal layanan kesehatan di   rumah sakit, termasuk di 
dalamnya terkait kontrol dan prosedur   pelayanan terhadap pasien. Pemerintah 
yang seharusnya bertindak   sebagai regulator dan wasit malah ikut bermain.

Membaca   berbagai kasus yang muncul ke permukaan, Hasbullah Thabrany—ahli   
kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia —mengingatkan   pemerintah agar 
segera menyadari bahwa ada kegagalan pasar dalam   pelayanan kesehatan. 
Penerapan mekanisme pasar dalam pelayanan rumah   sakit dan pelayanan 
kesehatan, tambahnya, tidak akan dan tidak pernah   menguntungkan konsumen.

Peringatan serupa juga disampaikan   sejumlah ahli kesehatan yang tergabung 
dalam Forum Peduli Kesehatan   Rakyat. ”Seluruh literatur telah membuktikan 
kegagalan mekanisme pasar   dalam pelayanan kesehatan. Fakta di dunia, semakin 
banyak dokter dan   rumah sakit, harga pelayanan semakin mahal. Bahkan, rumah 
sakit publik   milik pemerintah ikut bersaing dalam (sistem) mekanisme pasar,”  
 demikian antara lain bunyi seruan Forum Peduli Kesehatan Rakyat untuk   
menggugah kepedulian para calon presiden dan calon wakil presiden yang   masih 
memarjinalkan isu kesehatan dalam kampanye- kampanye   mereka.

Pertanyaannya, di tengah kuatnya isu liberalisasi di   hampir semua sektor 
kehidupan berbangsa seperti sekarang, masihkah ada   yang peduli? Masih adakah 
peluang UU Sistem Jaminan Sosial Nasional,   yang antara lain berisikan jaminan 
kesehatan bagi seluruh lapisan   masyarakat—tanpa memandang 
kaya-miskin—benar-benar   dilaksanakan?

Kita hanya bisa menunggu. Ataukah pemerintahan   ini tega membiarkan aspek 
pelayanan kesehatan sebagai ladang bisnis   yang kian meruyak, sementara lebih 
dari dua pertiga rakyat yang   menggunakan jasa pelayanan kesehatan menjadi dan 
atau bertambah miskin   serta menderita karena tidak mampu lagi ”membeli” 
produk layanan   kesehatan yang dibutuhkan? Kita hanya bisa   menunggu!
  
  
Thanx


  

-----Berikut adalah Lampiran dalam   Pesan-----  
  
_______________________________________________
Is-lam   mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
  
   
  
  
  
Selalu bisa chat di profil jaringan,   blog, atau situs web pribadi! 
Yahoo! memungkinkan   Anda selalu bisa chat melalui Pingbox.   Coba!
 
<<Attachment.html>>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke