kalo saya sih pake ajian "berhentilah makan sebelum rasa kenyang itu datang"....

lho opo hubungane ? :))



2009/7/16 hamami <[email protected]>:
> Kang Yandi, saya ada kekhawatiran slogan itu akan digunakan lagi  manakala
> dalam lima tahun kedua inipun tidak banyak membawa perubahan yang lebih
> baik, sehingga perlu ada 5 th ketiga, keempat, kelima, dst. Bukankah sejarah
> telah menunjukkannya seperti itu…? .
>
> Meskipun UU sudah menetapkan masa jabatan presiden maksimal hanya 2x. Kita
> juga harus mencermati dimana UU itu diusulkan oleh pemerintah (tul gak,
> sih..? mhn koreksi kalau salah) dan disahkan oleh DPR.
>
> Kalau kita lihat sekarang , anggota DPR hasil pemilu lalu didominasi juga
> oleh partai yang menguasai pemerintahan saat ini plus yang juga pro
> pemerintah. Hal itu bukan tidak mungkin UU yang ada itu akan diusulkan untuk
> dirubah sesuai keinginan pihak yang berkuasa, misalkan menjadi “JABATAN
> PRESIDEN BISA DIPERPANJANG SELAMA CITA2NYA BELUM TERCAPAI”   he….he…he…..
>
>
>
> Jangan katakan itu idak mungkin, sejarah telah menunjukkan itu. Dan itulah
> yang saya maksudkan dengan “dalam bertindak harus melihat juga kebelakang
> sebagai bahan pelajaran dan bagaimana probabilitas kedepannya”, sehingga
> tidak sekedar manut nut pada sesuatu yang ditetapkan oleh mereka2 yang juga
> punya kepentingan.
>
> Apalagi dengan menggunakan dalil2 agama yang terkesan dicari-cari
> kesesuaiannya dan dipaksakan.
>
>
>
> Wassalam
>
> Hamami
>
> ________________________________
>
> From: Yandi Dwiputra F [mailto:[email protected]]
> Sent: Thursday, July 16, 2009 2:10 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit
>
>
>
> betul kang.....untuk mempertanggungjawabkan 5 th yang sudah lalu diperlukan
> 5th yang akan datang.....oleh karena itu presiden yang sekarang mempunyai
> slogan LANJUTKAN....itu maksudnya sebagai pertanggungjawaban beliau terhadap
> 5th yang sudah lalu.....
>
> InsyaAllah di kemudian hari tidak akan terjadi hal yang sama......karena
> menurut saya itu tidak mungkin kan khoirunnisa sudah meninggal.....hehehe
> sorry just kidding.......
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[email protected]]on Behalf Of hamami
> Sent: Thursday, July 16, 2009 2:00 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit
>
>
>
> Bagaiamana 5 th yang sudah berlalu…?
>
> Bukankah, kasus Khoirunnisa, bocah yang bunuh diri karena malu gak bisa
> bayar uang sekolah, dan beberapa kasus yang diberitakan di Kompas.com itu
> terjadinya pada masa kepemmpinan presiden yang menang sekarang ini…?
>
> Apakah kita akan melihat hal yang sama untuk kedua kalinya nanti….? Soal
> berharap dan berdo’a itu sudah menjadi suatu keharusan, namun kita juga
> dalam bertindak harus melihat kebelakang sebagai bahan pelajaran dan
> bagaimana probabilitas kedepannya.
>
>
>
>
>
> ________________________________
>
> From: Yandi Dwiputra F [mailto:[email protected]]
> Sent: Thursday, July 16, 2009 1:20 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit
>
>
>
> yup setuju kang......
>
>
>
> insyaAllah pemerintahan 5 th mendatang lebih punya kepedulian untuk
> memakmurkan rakyat.....amien
>
> yuk kita sama-sama ikut berperan sesuai porsi kita masing-masing........
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[email protected]]on Behalf Of A Nizami
> Sent: Thursday, July 16, 2009 1:12 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit
>
> Segala musibah yang terjadi itu tak lepas dari kesalahan kita (atau sebagian
> dari kita) sendiri.
>
> Misalnya kenapa Khoirunnisa meninggal dan tidak dapat pengobatan. Kenapa ada
> wanita yang diperkosa dan meninggal karena ditolak RS.
>
> Itu semua karena pemimpinnya tidak bisa melindungi rakyatnya dan memberi
> pengobatan gratis.
>
> Belum lagi gempa Yogya yang menewaskan 5000 orang dalam semalam karena
> tertimpa rumah yang ambruk. Rumah itu ambruk karena rakyatnya miskin dan
> tidak punya cukup uang untuk membangun rumah beton dengan tulang kawat dan
> semen yang cukup.
>
> Itu karena pemimpinnya tidak mampu memakmurkan rakyatnya.
>
> Salahkah pemimpinnya? Salah.
> Salahkah rakyat yang memilih pemimpin itu?
> Ya salah juga.. Harusnya rakyat memilih pemimpin yang betul2 punya
> kepedulian untuk memakmurkan mereka...
>
> Jadi itu tak lepas dari kesalahan kita juga.
> "Azab yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan
> bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba- Nya." [Ali
> 'Imran:182]
>
> "Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah
> sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya" [Al Anfaal:51]
>
> "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
> perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
> kesalahan-kesalahan mu)." [Asy Syuura:30]
>
> Bukan Allah yang menyiksa kita. Tapi itu karena perbuatan kita sendiri.
>
> Allah telah memerintahkan kita untuk memilih pemimpin yang saleh dan peduli
> kepada rakyat. Kenapa kita tidak melakukan itu?
>
> Mudah2an kali ini kita mendapat pemimpin yang saleh dan peduli pada
> rakyatnya.
>
> ===
> Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
> http://media-islam.or.id
>
> --- Pada Rab, 15/7/09, hamami <[email protected]> menulis:
>
> Dari: hamami <[email protected]>
> Judul: Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Rabu, 15 Juli, 2009, 10:57 PM
>
> Lho….bukannya team kampanye maupun sang capres pada pilpres kemarin dengan
> bangganya mengatakan jumlah/populasi orang miskin sudah banyak berkurang…..?
>
>  Atau barangkali “berkurang” maksudnya sudah banyak yang mati karena gak
> mampu berobat gitu, ya……?
>
> ________________________________
>
> From: saidi [mailto: [email protected] ]
> Sent: Saturday, July 11, 2009 5:00 PM
> To: [is-lam]
> Subject: [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit
>
>  -- Original Message -----
>
> From: cicuk kriswanto
>
> Subject: Orang Miskin Dilarang Sakit
>
>
>
> Orang Miskin Dilarang Sakit
>
> KOMPAS/LASTI KURNIA
>
> /
>
> Jumat, 26 Juni 2009 | 11:57 WIB
>
> KOMPAS.com — Dua hari Achmad (68) tergeletak di lorong rumah sakit. Hari
> ketiga, setelah keluarganya menemui seorang perawat senior yang masih punya
> hubungan kerabat dengan mereka, ia akhirnya bisa mendapat tempat di salah
> satu bangsal rumah sakit. Akan tetapi, baru beberapa hari dirawat, penderita
> gangguan serius pada organ hatinya itu ”dipaksa” pulang.
>
> Sudah sembuhkah Achmad? ”Jauh panggang dari api. Tetapi, tidak ada yang bisa
> kami lakukan agar tetap bertahan. Sebagai pasien yang berobat gratis, kami
> tentu tak bisa ngotot sebab menurut mereka tempat perawatan akan digunakan
> orang lain,” kata Umar, kerabat pasien, yang mengaku hanya bisa pasrah
> terkait kepulangan saudara sepupunya tersebut dari Rumah Sakit Muhammad
> Hoesin di Palembang.
>
> Sejak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menerapkan sistem berobat gratis,
> masyarakat golongan bawah di wilayah ini memang bisa mengakses layanan
> kesehatan di sejumlah rumah sakit tanpa harus mengeluarkan biaya perawatan
> medis.
>
> Namun, membeludaknya jumlah orang sakit—di tengah berbagai keterbatasan
> sarana dan prasarana kesehatan, juga tenaga dokter dan paramedis—membuat
> pelayanan tidak optimal. Di tengah situasi semacam ini, tak jarang perlakuan
> kurang manusiawi dialami banyak pasien.
>
> Apa yang terjadi pada Achmad bisa menimpa siapa pun. Jangankan pasien dari
> keluarga miskin yang memanfaatkan sistem layanan berobat gratis, pegawai
> negeri peserta asuransi kesehatan (Askes) pun kerap dipandang sebelah mata
> oleh pihak rumah sakit.
>
> Bahkan, pelayanan buruk juga bisa menimpa seorang dokter peserta Askes yang
> sekali waktu harus dirawat di rumah sakit terkemuka di negeri ini, tempat ia
> dulu justru pernah bertugas (Surat Pembaca Kompas, 4 Maret 2009).
>
> Lain lagi kisah yang menimpa sastrawan Radhar Panca Dahana. Bukan soal
> perlakuan petugas medis, tetapi lebih menyangkut bagaimana status pasien
> yang kerap menjadi semacam obyek dari apa yang ia sebut korban fait
> accompli. Dalam konteks ini, pasien hanya bisa pasrah karena memang tidak
> ada pilihan.
>
> Satu ketika ia menjalani operasi pengangkatan tumor di pundak.. Seusai
> operasi, ia segera ”diperbolehkan” pulang. ”Betapa pun saya minta
> diinapkan,” kata Radhar. Belum setengah perjalanan pulang, luka bekas
> operasi terbuka dan darah mengalir. Ia kembali, operasi ulang pun dilakukan.
> Hasilnya tak banyak menolong: luka tetap terbuka dan darah tiada henti
> mengalir.
>
> Ia kemudian diinapkan dan diberi pilihan untuk operasi ketiga dengan kondisi
> dibius total. Menurut dokter bedah yang menanganinya, kondisi ini (dibius
> total) bagi orang seperti Radhar—yang memiliki penyakit akut lain, gagal
> ginjal—hanya punya dua opsi: hilang sadar total alias maut atau masuk ruang
> ICCU!
>
> ”Saya terpana. Lantaran kesalahan operasi, saya mesti berada pada sebuah
> dilema yang komikal: maut dan hampir maut,” tutur Radhar.
>
> Ketika hal ini dipertanyakan, sekaligus menggugat di mana tanggung jawab
> para dokter yang membuat situasi hidup dan mati sang pasien dipertaruhkan,
> ”Mereka tak bisa menjawab.. Yang ada hanya pernyataan pendek: ’Semua
> terserah kepada keputusan Bapak’. Saya terdiam dan mereka pergi.” Bahwa
> akhirnya ia selamat dari situasi ”komikal” tersebut, Radhar percaya hal itu
> bisa terjadi hanya berkat tangan Tuhan yang ikut bermain.
>
> Dalam situasi dan kasus yang berbeda, kisah Prita Mulyasari dan Juliana—yang
> akhirnya bersengketa dengan pihak rumah sakit pascalayanan kesehatan yang
> mereka terima—adalah sisi lain bagaimana potret hubungan pasien dan rumah
> sakit sebagai penyedia jasa layanan kesehatan. Sudah sejak lama dirasakan
> adanya ketimpangan hubungan antara pasien dan penyedia jasa layanan
> kesehatan.
>
> Pasien selalu diposisikan sebagai orang yang paling membutuhkan, sementara
> rumah sakit cenderung tampil bagai dewa yang akan menentukan nasib sang
> pasien. Bahkan, di tengah ketidakpahaman pasien tentang sakit dan
> penyakitnya, tak jarang hak-hak mereka dikebiri oleh pihak rumah sakit.
>
> Liberalisasi dunia kesehatan
>
> Ada apa dengan sistem pelayanan kesehatan di negeri ini? Mengapa citra rumah
> sakit yang dulu kental akan fungsi sosialnya kini redup, berganti wajah dan
> tampilan barunya yang lebih berorientasi untuk kepentingan bisnis?
>
> Bukan saja kini bermunculan rumah sakit swasta (beberapa di antaranya
> memasang label ”internasional”) dengan target-target pendapatan lewat jasa
> layanan kesehatan dan tingkat hunian kamar seperti layaknya dunia
> perhotelan, rumah sakit pemerintah (pusat) pun mulai ikut-ikutan.
>
> Lebih ironis lagi, banyak pemerintah daerah—baik provinsi maupun
> kabupaten/kota—yang mulai mengalokasikan dana untuk membangun rumah sakit
> yang berorientasi keuntungan.
>
> Kesenjangan pengetahuan medis tentang masalah kesehatan dan penanganannya
> memang menjadi salah satu faktor lemahnya posisi pasien (baca: konsumen)
> berhadapan dengan pengelola jasa layanan kesehatan.
>
> Namun, banyak kalangan percaya bahwa akar dari semua itu berawal dari sistem
> layanan kesehatan di negeri ini yang sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme
> pasar. Akibatnya, aroma komersial terasa kental pada hampir setiap tindakan
> terhadap pasien, sementara fungsi sosial layanan kesehatan tertinggal jauh
> di belakang.
>
> ”Cuma dari luar, rumah sakit kelihatannya kini makin komersial dan
> meninggalkan fungsi-fungsi sosial. Sebetulnya fungsi sosial tetap jalan.
> Gawat darurat kan selalu dilayani,” kata dr Adib Abdullah Yahya, Ketua Umum
> Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia .
>
> Menurut Adib, aroma komersial itu dirasakan pihak luar lantaran rumah sakit
> harus menghidupi dirinya sendiri. Rumah sakit, kan , harus hidup sehingga
> menerapkan tarif-tarif sesuai dengan biaya per unit.
>
> Sebaliknya, dokter Kartono Mohamad—pakar kesehatan yang juga mantan Ketua
> Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia —melihat pelayanan kesehatan di
> Indonesia memang cenderung liberal. Semua diserahkan kepada pasar. Malah
> tiap langkah layanan dikenai tarif tanpa ada aturan yang jelas. Pemodal yang
> membuka jasa layanan kesehatan kini cenderung hanya berorientasi mencari
> keuntungan.
>
> Bahkan, kata Kartono, untuk mengangkat jahitan seusai operasi pun dikenai
> tarif terpisah dari operasi itu sendiri. Demikian pula kontrol atas keadaan
> seusai tindakan sepertinya dianggap bukan merupakan bagian dari tanggung
> jawab pascatindakan, tetapi sebagai langkah baru yang dikenai tarif
> tersendiri.
>
> Bukan hanya pengenaan tarif terpisah yang dipersoalkan. Besaran tarif juga
> tidak jelas karena ditentukan sendiri oleh pengelola jasa layanan kesehatan.
>
> Seharusnya, kata Kartono, model layanan kesehatan yang berasaskan fee for
> service semacam ini—di mana tiap langkah layanan dikenai tarif
> tersendiri—diubah menjadi sistem asuransi dengan segera memberlakukan UU
> Sistem Jaminan Sosial Nasional yang sudah lima tahun ”ditidurkan”.
>
> Dalam perspektif pasar, segala sesuatu memang diukur dari seberapa besar
> kapitalisasi bergulir. Kenyataan ini, meski kerap disanggah oleh pemerintah,
> yang secara umum berlaku dalam sistem pelayanan kesehatan di negeri ini.
> Dalam bahasa Radhar, esensi pelayanan termanipulasi oleh fasilitas dan
> harga, sementara diskriminasi terhadap pasien justru kian ditegakkan.
>
> Lebih celaka lagi, tentu saja bagi pasien, tidak ada lembaga pengawas yang
> mengoreksi kalau ada kesalahan dalam pelayanan. Belum ada perundang-undangan
> yang khusus mengatur soal layanan kesehatan di rumah sakit, termasuk di
> dalamnya terkait kontrol dan prosedur pelayanan terhadap pasien. Pemerintah
> yang seharusnya bertindak sebagai regulator dan wasit malah ikut bermain.
>
> Membaca berbagai kasus yang muncul ke permukaan, Hasbullah Thabrany—ahli
> kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia —mengingatkan pemerintah
> agar segera menyadari bahwa ada kegagalan pasar dalam pelayanan kesehatan.
> Penerapan mekanisme pasar dalam pelayanan rumah sakit dan pelayanan
> kesehatan, tambahnya, tidak akan dan tidak pernah menguntungkan konsumen.
>
> Peringatan serupa juga disampaikan sejumlah ahli kesehatan yang tergabung
> dalam Forum Peduli Kesehatan Rakyat. ”Seluruh literatur telah membuktikan
> kegagalan mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan. Fakta di dunia, semakin
> banyak dokter dan rumah sakit, harga pelayanan semakin mahal. Bahkan, rumah
> sakit publik milik pemerintah ikut bersaing dalam (sistem) mekanisme pasar,”
> demikian antara lain bunyi seruan Forum Peduli Kesehatan Rakyat untuk
> menggugah kepedulian para calon presiden dan calon wakil presiden yang masih
> memarjinalkan isu kesehatan dalam kampanye- kampanye mereka.
>
> Pertanyaannya, di tengah kuatnya isu liberalisasi di hampir semua sektor
> kehidupan berbangsa seperti sekarang, masihkah ada yang peduli? Masih adakah
> peluang UU Sistem Jaminan Sosial Nasional, yang antara lain berisikan
> jaminan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat—tanpa memandang
> kaya-miskin—benar-benar dilaksanakan?
>
> Kita hanya bisa menunggu. Ataukah pemerintahan ini tega membiarkan aspek
> pelayanan kesehatan sebagai ladang bisnis yang kian meruyak, sementara lebih
> dari dua pertiga rakyat yang menggunakan jasa pelayanan kesehatan menjadi
> dan atau bertambah miskin serta menderita karena tidak mampu lagi ”membeli”
> produk layanan kesehatan yang dibutuhkan? Kita hanya bisa menunggu!
>
> Thanx
>
> -----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan-----
>
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
>
>
> ________________________________
>
> Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
> Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
>
> __________ NOD32 4117 (20090530) Information __________
>
> This message was checked by NOD32 antivirus system.
> http://www.eset.com
>
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke