yup setuju kang......
 
insyaAllah pemerintahan 5 th mendatang lebih punya kepedulian untuk memakmurkan 
rakyat.....amien
yuk kita sama-sama ikut berperan sesuai porsi kita masing-masing........

-----Original Message-----
From: [email protected] 
[mailto:[email protected]]on Behalf Of A Nizami
Sent: Thursday, July 16, 2009 1:12 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit


Segala musibah yang terjadi itu tak lepas dari kesalahan kita (atau sebagian 
dari kita) sendiri.

Misalnya kenapa Khoirunnisa meninggal dan tidak dapat pengobatan. Kenapa ada 
wanita yang diperkosa dan meninggal karena ditolak RS.

Itu semua karena pemimpinnya tidak bisa melindungi rakyatnya dan memberi 
pengobatan gratis.

Belum lagi gempa Yogya yang menewaskan 5000 orang dalam semalam karena tertimpa 
rumah yang ambruk. Rumah itu ambruk karena rakyatnya miskin dan tidak punya 
cukup uang untuk membangun rumah beton dengan tulang kawat dan semen yang cukup.

Itu karena pemimpinnya tidak mampu memakmurkan rakyatnya.

Salahkah pemimpinnya? Salah.
Salahkah rakyat yang memilih pemimpin itu?
Ya salah juga.. Harusnya rakyat memilih pemimpin yang betul2 punya kepedulian 
untuk memakmurkan mereka...

Jadi itu tak lepas dari kesalahan kita juga.
"Azab yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan 
bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba- Nya." [Ali 
'Imran:182]

"Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah 
sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya" [Al Anfaal:51]

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan 
tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan 
mu)." [Asy Syuura:30] 

Bukan Allah yang menyiksa kita. Tapi itu karena perbuatan kita sendiri.

Allah telah memerintahkan kita untuk memilih pemimpin yang saleh dan peduli 
kepada rakyat. Kenapa kita tidak melakukan itu?

Mudah2an kali ini kita mendapat pemimpin yang saleh dan peduli pada rakyatnya.

===
Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id

--- Pada Rab, 15/7/09, hamami <[email protected]> menulis:




Dari: hamami <[email protected]>
Judul: Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 15 Juli, 2009, 10:57 PM



Lho….bukannya team kampanye maupun sang capres pada pilpres kemarin dengan 
bangganya mengatakan jumlah/populasi orang miskin sudah banyak berkurang…..?

 

Atau barangkali “berkurang” maksudnya sudah banyak yang mati karena gak mampu 
berobat gitu, ya……? 

 

 


  _____  


From: saidi [mailto: [email protected] ] 
Sent: Saturday, July 11, 2009 5:00 PM
To: [is-lam]
Subject: [Is-lam] Fw: Orang Miskin Dilarang Sakit

 

 

----- Original Message ----- 

From: cicuk kriswanto 

Subject: Orang Miskin Dilarang Sakit

 

Orang Miskin Dilarang Sakit



 <http://www.kompas.com/data/photo/2008/06/27/2864048p.jpg> 

 
<http://www.kompas.com/read/xml/2009/06/26/11571084/Orang.Miskin.Dilarang.Sakit>
 KOMPAS/LASTI KURNIA

 
<http://www.kompas.com/read/xml/2009/06/26/11571084/Orang.Miskin.Dilarang.Sakit>
 /

Jumat, 26 Juni 2009 | 11:57 WIB

KOMPAS.com — Dua hari Achmad (68) tergeletak di lorong rumah sakit. Hari 
ketiga, setelah keluarganya menemui seorang perawat senior yang masih punya 
hubungan kerabat dengan mereka, ia akhirnya bisa mendapat tempat di salah satu 
bangsal rumah sakit. Akan tetapi, baru beberapa hari dirawat, penderita 
gangguan serius pada organ hatinya itu ”dipaksa” pulang.

Sudah sembuhkah Achmad? ”Jauh panggang dari api. Tetapi, tidak ada yang bisa 
kami lakukan agar tetap bertahan. Sebagai pasien yang berobat gratis, kami 
tentu tak bisa ngotot sebab menurut mereka tempat perawatan akan digunakan 
orang lain,” kata Umar, kerabat pasien, yang mengaku hanya bisa pasrah terkait 
kepulangan saudara sepupunya tersebut dari Rumah Sakit Muhammad Hoesin di 
Palembang.

Sejak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menerapkan sistem berobat gratis, 
masyarakat golongan bawah di wilayah ini memang bisa mengakses layanan 
kesehatan di sejumlah rumah sakit tanpa harus mengeluarkan biaya perawatan 
medis.

Namun, membeludaknya jumlah orang sakit—di tengah berbagai keterbatasan sarana 
dan prasarana kesehatan, juga tenaga dokter dan paramedis—membuat pelayanan 
tidak optimal. Di tengah situasi semacam ini, tak jarang perlakuan kurang 
manusiawi dialami banyak pasien.

Apa yang terjadi pada Achmad bisa menimpa siapa pun. Jangankan pasien dari 
keluarga miskin yang memanfaatkan sistem layanan berobat gratis, pegawai negeri 
peserta asuransi kesehatan (Askes) pun kerap dipandang sebelah mata oleh pihak 
rumah sakit.

Bahkan, pelayanan buruk juga bisa menimpa seorang dokter peserta Askes yang 
sekali waktu harus dirawat di rumah sakit terkemuka di negeri ini, tempat ia 
dulu justru pernah bertugas (Surat Pembaca Kompas, 4 Maret 2009).

Lain lagi kisah yang menimpa sastrawan Radhar Panca Dahana. Bukan soal 
perlakuan petugas medis, tetapi lebih menyangkut bagaimana status pasien yang 
kerap menjadi semacam obyek dari apa yang ia sebut korban fait accompli. Dalam 
konteks ini, pasien hanya bisa pasrah karena memang tidak ada pilihan.

Satu ketika ia menjalani operasi pengangkatan tumor di pundak.. Seusai operasi, 
ia segera ”diperbolehkan” pulang. ”Betapa pun saya minta diinapkan,” kata 
Radhar. Belum setengah perjalanan pulang, luka bekas operasi terbuka dan darah 
mengalir. Ia kembali, operasi ulang pun dilakukan. Hasilnya tak banyak 
menolong: luka tetap terbuka dan darah tiada henti mengalir.

Ia kemudian diinapkan dan diberi pilihan untuk operasi ketiga dengan kondisi 
dibius total. Menurut dokter bedah yang menanganinya, kondisi ini (dibius 
total) bagi orang seperti Radhar—yang memiliki penyakit akut lain, gagal 
ginjal—hanya punya dua opsi: hilang sadar total alias maut atau masuk ruang 
ICCU!

”Saya terpana. Lantaran kesalahan operasi, saya mesti berada pada sebuah dilema 
yang komikal: maut dan hampir maut,” tutur Radhar.

Ketika hal ini dipertanyakan, sekaligus menggugat di mana tanggung jawab para 
dokter yang membuat situasi hidup dan mati sang pasien dipertaruhkan, ”Mereka 
tak bisa menjawab.. Yang ada hanya pernyataan pendek: ’Semua terserah kepada 
keputusan Bapak’. Saya terdiam dan mereka pergi.” Bahwa akhirnya ia selamat 
dari situasi ”komikal” tersebut, Radhar percaya hal itu bisa terjadi hanya 
berkat tangan Tuhan yang ikut bermain.

Dalam situasi dan kasus yang berbeda, kisah Prita Mulyasari dan Juliana—yang 
akhirnya bersengketa dengan pihak rumah sakit pascalayanan kesehatan yang 
mereka terima—adalah sisi lain bagaimana potret hubungan pasien dan rumah sakit 
sebagai penyedia jasa layanan kesehatan. Sudah sejak lama dirasakan adanya 
ketimpangan hubungan antara pasien dan penyedia jasa layanan kesehatan.

Pasien selalu diposisikan sebagai orang yang paling membutuhkan, sementara 
rumah sakit cenderung tampil bagai dewa yang akan menentukan nasib sang pasien. 
Bahkan, di tengah ketidakpahaman pasien tentang sakit dan penyakitnya, tak 
jarang hak-hak mereka dikebiri oleh pihak rumah sakit.

Liberalisasi dunia kesehatan

Ada apa dengan sistem pelayanan kesehatan di negeri ini? Mengapa citra rumah 
sakit yang dulu kental akan fungsi sosialnya kini redup, berganti wajah dan 
tampilan barunya yang lebih berorientasi untuk kepentingan bisnis?

Bukan saja kini bermunculan rumah sakit swasta (beberapa di antaranya memasang 
label ”internasional”) dengan target-target pendapatan lewat jasa layanan 
kesehatan dan tingkat hunian kamar seperti layaknya dunia perhotelan, rumah 
sakit pemerintah (pusat) pun mulai ikut-ikutan.

Lebih ironis lagi, banyak pemerintah daerah—baik provinsi maupun 
kabupaten/kota—yang mulai mengalokasikan dana untuk membangun rumah sakit yang 
berorientasi keuntungan.

Kesenjangan pengetahuan medis tentang masalah kesehatan dan penanganannya 
memang menjadi salah satu faktor lemahnya posisi pasien (baca: konsumen) 
berhadapan dengan pengelola jasa layanan kesehatan.

Namun, banyak kalangan percaya bahwa akar dari semua itu berawal dari sistem 
layanan kesehatan di negeri ini yang sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme 
pasar. Akibatnya, aroma komersial terasa kental pada hampir setiap tindakan 
terhadap pasien, sementara fungsi sosial layanan kesehatan tertinggal jauh di 
belakang.

”Cuma dari luar, rumah sakit kelihatannya kini makin komersial dan meninggalkan 
fungsi-fungsi sosial. Sebetulnya fungsi sosial tetap jalan. Gawat darurat kan 
selalu dilayani,” kata dr Adib Abdullah Yahya, Ketua Umum Perhimpunan Rumah 
Sakit Seluruh Indonesia .

Menurut Adib, aroma komersial itu dirasakan pihak luar lantaran rumah sakit 
harus menghidupi dirinya sendiri. Rumah sakit, kan , harus hidup sehingga 
menerapkan tarif-tarif sesuai dengan biaya per unit.

Sebaliknya, dokter Kartono Mohamad—pakar kesehatan yang juga mantan Ketua Umum 
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia —melihat pelayanan kesehatan di 
Indonesia memang cenderung liberal. Semua diserahkan kepada pasar. Malah tiap 
langkah layanan dikenai tarif tanpa ada aturan yang jelas. Pemodal yang membuka 
jasa layanan kesehatan kini cenderung hanya berorientasi mencari keuntungan.

Bahkan, kata Kartono, untuk mengangkat jahitan seusai operasi pun dikenai tarif 
terpisah dari operasi itu sendiri. Demikian pula kontrol atas keadaan seusai 
tindakan sepertinya dianggap bukan merupakan bagian dari tanggung jawab 
pascatindakan, tetapi sebagai langkah baru yang dikenai tarif tersendiri.

Bukan hanya pengenaan tarif terpisah yang dipersoalkan. Besaran tarif juga 
tidak jelas karena ditentukan sendiri oleh pengelola jasa layanan kesehatan.

Seharusnya, kata Kartono, model layanan kesehatan yang berasaskan fee for 
service semacam ini—di mana tiap langkah layanan dikenai tarif 
tersendiri—diubah menjadi sistem asuransi dengan segera memberlakukan UU Sistem 
Jaminan Sosial Nasional yang sudah lima tahun ”ditidurkan”.

Dalam perspektif pasar, segala sesuatu memang diukur dari seberapa besar 
kapitalisasi bergulir. Kenyataan ini, meski kerap disanggah oleh pemerintah, 
yang secara umum berlaku dalam sistem pelayanan kesehatan di negeri ini. Dalam 
bahasa Radhar, esensi pelayanan termanipulasi oleh fasilitas dan harga, 
sementara diskriminasi terhadap pasien justru kian ditegakkan.

Lebih celaka lagi, tentu saja bagi pasien, tidak ada lembaga pengawas yang 
mengoreksi kalau ada kesalahan dalam pelayanan. Belum ada perundang-undangan 
yang khusus mengatur soal layanan kesehatan di rumah sakit, termasuk di 
dalamnya terkait kontrol dan prosedur pelayanan terhadap pasien. Pemerintah 
yang seharusnya bertindak sebagai regulator dan wasit malah ikut bermain.

Membaca berbagai kasus yang muncul ke permukaan, Hasbullah Thabrany—ahli 
kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia —mengingatkan pemerintah agar 
segera menyadari bahwa ada kegagalan pasar dalam pelayanan kesehatan. Penerapan 
mekanisme pasar dalam pelayanan rumah sakit dan pelayanan kesehatan, tambahnya, 
tidak akan dan tidak pernah menguntungkan konsumen.

Peringatan serupa juga disampaikan sejumlah ahli kesehatan yang tergabung dalam 
Forum Peduli Kesehatan Rakyat. ”Seluruh literatur telah membuktikan kegagalan 
mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan. Fakta di dunia, semakin banyak 
dokter dan rumah sakit, harga pelayanan semakin mahal. Bahkan, rumah sakit 
publik milik pemerintah ikut bersaing dalam (sistem) mekanisme pasar,” demikian 
antara lain bunyi seruan Forum Peduli Kesehatan Rakyat untuk menggugah 
kepedulian para calon presiden dan calon wakil presiden yang masih 
memarjinalkan isu kesehatan dalam kampanye- kampanye mereka.

Pertanyaannya, di tengah kuatnya isu liberalisasi di hampir semua sektor 
kehidupan berbangsa seperti sekarang, masihkah ada yang peduli? Masih adakah 
peluang UU Sistem Jaminan Sosial Nasional, yang antara lain berisikan jaminan 
kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat—tanpa memandang 
kaya-miskin—benar-benar dilaksanakan?

Kita hanya bisa menunggu. Ataukah pemerintahan ini tega membiarkan aspek 
pelayanan kesehatan sebagai ladang bisnis yang kian meruyak, sementara lebih 
dari dua pertiga rakyat yang menggunakan jasa pelayanan kesehatan menjadi dan 
atau bertambah miskin serta menderita karena tidak mampu lagi ”membeli” produk 
layanan kesehatan yang dibutuhkan? Kita hanya bisa menunggu!

Thanx


-----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan-----


_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam



  _____  

Selalu  
<http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/pingbox/mailtagline/*http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/>
 bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! 
Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke