There's a place in your heart, And I know that it is love....

Heal the world, make it a better place,
For you and for me and the entire human race.."

... make it better place for you and for me...


You have same dream Jacko... and I won't say goodbye to your dream,
our dream... 'cause our 'feel" of human being will still alive
forever..

:)


2009/7/11 saidi <[email protected]>:
>
> ----- Original Message -----
> From: cicuk kriswanto
> Subject: Orang Miskin Dilarang Sakit
> Orang Miskin Dilarang Sakit
> KOMPAS/LASTI KURNIA
> /
>
> Jumat, 26 Juni 2009 | 11:57 WIB
>
> KOMPAS.com — Dua hari Achmad (68) tergeletak di lorong rumah sakit. Hari
> ketiga, setelah keluarganya menemui seorang perawat senior yang masih punya
> hubungan kerabat dengan mereka, ia akhirnya bisa mendapat tempat di salah
> satu bangsal rumah sakit. Akan tetapi, baru beberapa hari dirawat, penderita
> gangguan serius pada organ hatinya itu ”dipaksa” pulang.
>
> Sudah sembuhkah Achmad? ”Jauh panggang dari api. Tetapi, tidak ada yang bisa
> kami lakukan agar tetap bertahan. Sebagai pasien yang berobat gratis, kami
> tentu tak bisa ngotot sebab menurut mereka tempat perawatan akan digunakan
> orang lain,” kata Umar, kerabat pasien, yang mengaku hanya bisa pasrah
> terkait kepulangan saudara sepupunya tersebut dari Rumah Sakit Muhammad
> Hoesin di Palembang.
>
> Sejak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menerapkan sistem berobat gratis,
> masyarakat golongan bawah di wilayah ini memang bisa mengakses layanan
> kesehatan di sejumlah rumah sakit tanpa harus mengeluarkan biaya perawatan
> medis.
>
> Namun, membeludaknya jumlah orang sakit—di tengah berbagai keterbatasan
> sarana dan prasarana kesehatan, juga tenaga dokter dan paramedis—membuat
> pelayanan tidak optimal. Di tengah situasi semacam ini, tak jarang perlakuan
> kurang manusiawi dialami banyak pasien.
>
> Apa yang terjadi pada Achmad bisa menimpa siapa pun. Jangankan pasien dari
> keluarga miskin yang memanfaatkan sistem layanan berobat gratis, pegawai
> negeri peserta asuransi kesehatan (Askes) pun kerap dipandang sebelah mata
> oleh pihak rumah sakit.
>
> Bahkan, pelayanan buruk juga bisa menimpa seorang dokter peserta Askes yang
> sekali waktu harus dirawat di rumah sakit terkemuka di negeri ini, tempat ia
> dulu justru pernah bertugas (Surat Pembaca Kompas, 4 Maret 2009).
>
> Lain lagi kisah yang menimpa sastrawan Radhar Panca Dahana. Bukan soal
> perlakuan petugas medis, tetapi lebih menyangkut bagaimana status pasien
> yang kerap menjadi semacam obyek dari apa yang ia sebut korban fait
> accompli. Dalam konteks ini, pasien hanya bisa pasrah karena memang tidak
> ada pilihan.
>
> Satu ketika ia menjalani operasi pengangkatan tumor di pundak. Seusai
> operasi, ia segera ”diperbolehkan” pulang. ”Betapa pun saya minta
> diinapkan,” kata Radhar. Belum setengah perjalanan pulang, luka bekas
> operasi terbuka dan darah mengalir. Ia kembali, operasi ulang pun dilakukan.
> Hasilnya tak banyak menolong: luka tetap terbuka dan darah tiada henti
> mengalir.
>
> Ia kemudian diinapkan dan diberi pilihan untuk operasi ketiga dengan kondisi
> dibius total. Menurut dokter bedah yang menanganinya, kondisi ini (dibius
> total) bagi orang seperti Radhar—yang memiliki penyakit akut lain, gagal
> ginjal—hanya punya dua opsi: hilang sadar total alias maut atau masuk ruang
> ICCU!
>
> ”Saya terpana. Lantaran kesalahan operasi, saya mesti berada pada sebuah
> dilema yang komikal: maut dan hampir maut,” tutur Radhar.
>
> Ketika hal ini dipertanyakan, sekaligus menggugat di mana tanggung jawab
> para dokter yang membuat situasi hidup dan mati sang pasien dipertaruhkan,
> ”Mereka tak bisa menjawab. Yang ada hanya pernyataan pendek: ’Semua terserah
> kepada keputusan Bapak’. Saya terdiam dan mereka pergi.” Bahwa akhirnya ia
> selamat dari situasi ”komikal” tersebut, Radhar percaya hal itu bisa terjadi
> hanya berkat tangan Tuhan yang ikut bermain.
>
> Dalam situasi dan kasus yang berbeda, kisah Prita Mulyasari dan Juliana—yang
> akhirnya bersengketa dengan pihak rumah sakit pascalayanan kesehatan yang
> mereka terima—adalah sisi lain bagaimana potret hubungan pasien dan rumah
> sakit sebagai penyedia jasa layanan kesehatan. Sudah sejak lama dirasakan
> adanya ketimpangan hubungan antara pasien dan penyedia jasa layanan
> kesehatan.
>
> Pasien selalu diposisikan sebagai orang yang paling membutuhkan, sementara
> rumah sakit cenderung tampil bagai dewa yang akan menentukan nasib sang
> pasien. Bahkan, di tengah ketidakpahaman pasien tentang sakit dan
> penyakitnya, tak jarang hak-hak mereka dikebiri oleh pihak rumah sakit.
>
> Liberalisasi dunia kesehatan
>
> Ada apa dengan sistem pelayanan kesehatan di negeri ini? Mengapa citra rumah
> sakit yang dulu kental akan fungsi sosialnya kini redup, berganti wajah dan
> tampilan barunya yang lebih berorientasi untuk kepentingan bisnis?
>
> Bukan saja kini bermunculan rumah sakit swasta (beberapa di antaranya
> memasang label ”internasional”) dengan target-target pendapatan lewat jasa
> layanan kesehatan dan tingkat hunian kamar seperti layaknya dunia
> perhotelan, rumah sakit pemerintah (pusat) pun mulai ikut-ikutan.
>
> Lebih ironis lagi, banyak pemerintah daerah—baik provinsi maupun
> kabupaten/kota—yang mulai mengalokasikan dana untuk membangun rumah sakit
> yang berorientasi keuntungan.
>
> Kesenjangan pengetahuan medis tentang masalah kesehatan dan penanganannya
> memang menjadi salah satu faktor lemahnya posisi pasien (baca: konsumen)
> berhadapan dengan pengelola jasa layanan kesehatan.
>
> Namun, banyak kalangan percaya bahwa akar dari semua itu berawal dari sistem
> layanan kesehatan di negeri ini yang sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme
> pasar. Akibatnya, aroma komersial terasa kental pada hampir setiap tindakan
> terhadap pasien, sementara fungsi sosial layanan kesehatan tertinggal jauh
> di belakang.
>
> ”Cuma dari luar, rumah sakit kelihatannya kini makin komersial dan
> meninggalkan fungsi-fungsi sosial. Sebetulnya fungsi sosial tetap jalan.
> Gawat darurat kan selalu dilayani,” kata dr Adib Abdullah Yahya, Ketua Umum
> Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia.
>
> Menurut Adib, aroma komersial itu dirasakan pihak luar lantaran rumah sakit
> harus menghidupi dirinya sendiri. Rumah sakit, kan, harus hidup sehingga
> menerapkan tarif-tarif sesuai dengan biaya per unit.
>
> Sebaliknya, dokter Kartono Mohamad—pakar kesehatan yang juga mantan Ketua
> Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia—melihat pelayanan kesehatan di
> Indonesia memang cenderung liberal. Semua diserahkan kepada pasar. Malah
> tiap langkah layanan dikenai tarif tanpa ada aturan yang jelas. Pemodal yang
> membuka jasa layanan kesehatan kini cenderung hanya berorientasi mencari
> keuntungan.
>
> Bahkan, kata Kartono, untuk mengangkat jahitan seusai operasi pun dikenai
> tarif terpisah dari operasi itu sendiri. Demikian pula kontrol atas keadaan
> seusai tindakan sepertinya dianggap bukan merupakan bagian dari tanggung
> jawab pascatindakan, tetapi sebagai langkah baru yang dikenai tarif
> tersendiri.
>
> Bukan hanya pengenaan tarif terpisah yang dipersoalkan. Besaran tarif juga
> tidak jelas karena ditentukan sendiri oleh pengelola jasa layanan kesehatan.
>
> Seharusnya, kata Kartono, model layanan kesehatan yang berasaskan fee for
> service semacam ini—di mana tiap langkah layanan dikenai tarif
> tersendiri—diubah menjadi sistem asuransi dengan segera memberlakukan UU
> Sistem Jaminan Sosial Nasional yang sudah lima tahun ”ditidurkan”.
>
> Dalam perspektif pasar, segala sesuatu memang diukur dari seberapa besar
> kapitalisasi bergulir. Kenyataan ini, meski kerap disanggah oleh pemerintah,
> yang secara umum berlaku dalam sistem pelayanan kesehatan di negeri ini.
> Dalam bahasa Radhar, esensi pelayanan termanipulasi oleh fasilitas dan
> harga, sementara diskriminasi terhadap pasien justru kian ditegakkan.
>
> Lebih celaka lagi, tentu saja bagi pasien, tidak ada lembaga pengawas yang
> mengoreksi kalau ada kesalahan dalam pelayanan. Belum ada perundang-undangan
> yang khusus mengatur soal layanan kesehatan di rumah sakit, termasuk di
> dalamnya terkait kontrol dan prosedur pelayanan terhadap pasien. Pemerintah
> yang seharusnya bertindak sebagai regulator dan wasit malah ikut bermain.
>
> Membaca berbagai kasus yang muncul ke permukaan, Hasbullah Thabrany—ahli
> kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia—mengingatkan pemerintah agar
> segera menyadari bahwa ada kegagalan pasar dalam pelayanan kesehatan.
> Penerapan mekanisme pasar dalam pelayanan rumah sakit dan pelayanan
> kesehatan, tambahnya, tidak akan dan tidak pernah menguntungkan konsumen.
>
> Peringatan serupa juga disampaikan sejumlah ahli kesehatan yang tergabung
> dalam Forum Peduli Kesehatan Rakyat. ”Seluruh literatur telah membuktikan
> kegagalan mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan. Fakta di dunia, semakin
> banyak dokter dan rumah sakit, harga pelayanan semakin mahal. Bahkan, rumah
> sakit publik milik pemerintah ikut bersaing dalam (sistem) mekanisme pasar,”
> demikian antara lain bunyi seruan Forum Peduli Kesehatan Rakyat untuk
> menggugah kepedulian para calon presiden dan calon wakil presiden yang masih
> memarjinalkan isu kesehatan dalam kampanye- kampanye mereka.
>
> Pertanyaannya, di tengah kuatnya isu liberalisasi di hampir semua sektor
> kehidupan berbangsa seperti sekarang, masihkah ada yang peduli? Masih adakah
> peluang UU Sistem Jaminan Sosial Nasional, yang antara lain berisikan
> jaminan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat—tanpa memandang
> kaya-miskin—benar-benar dilaksanakan?
>
> Kita hanya bisa menunggu. Ataukah pemerintahan ini tega membiarkan aspek
> pelayanan kesehatan sebagai ladang bisnis yang kian meruyak, sementara lebih
> dari dua pertiga rakyat yang menggunakan jasa pelayanan kesehatan menjadi
> dan atau bertambah miskin serta menderita karena tidak mampu lagi ”membeli”
> produk layanan kesehatan yang dibutuhkan? Kita hanya bisa menunggu!
>
> Thanx
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke