Jangan begitu mas.
Nanti kalau masyarakat tidak bayar pajak, tidak ada uang untuk beli pentungan 
satpol PP yang dipakai untuk menggebuk rakyat.
Tidak ada uang untuk beli gas air mata untuk membubarkan kerumunan rakyat.
Bahkan nanti tidak bisa beli peluru lagi untuk menembak rakyat yang membandel 
atau teroris....:)

Teman2 Gayus juga kasihan. Nanti tidak punya uang lagi untuk beli bensin buat 
mobil mewah mereka...

===
Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id
Milis Ekonomi Nasional: [email protected]
Belajar Islam via SMS:
http://media-islam.or.id/2008/01/14/dakwah-syiar-islam-lewat-sms-mobile-phone


--- Pada Kam, 15/4/10, Dewa Gede Permana <[email protected]> menulis:

> Dari: Dewa Gede Permana <[email protected]>
> Judul: Re: [Is-lam] Fw: jangan mau bayar PPN (fyi) --> bayarpajakrestoransih 
> iya ... :)
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Kamis, 15 April, 2010, 7:13 AM
> Apapun nama dan variannya, pajak is
> pajak : "PAling-paling dibaJAK"... :)
> 
> Daripada dibajak mendingan ga usah ada pajak, beres deh, ga
> ada lagi yg
> dibajak.
> Kalo dibilang pajak adlh utk mbangun bangsa, mang selama
> ini apanya yg
> bangun, bukannya masih pada enak tidur....? :-)
> 
> Tugas aparat cs adalah menyediakan obat bius dan
> meninabobokan.
> Tugas rakyat adalah bobo-bobo manis plus bermimpi.
> 
> :)
> Salam dari republik mimpi..
> 
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[email protected]]
> On Behalf Of si Nung
> Sent: Thursday, April 15, 2010 4:57 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [Is-lam] Fw: jangan mau bayar PPN (fyi)
> -->
> bayarpajakrestoransih iya ... :)
> 
> On 15 Apr 2010 at 15:10, Setyo Wibowo wrote:
> 
> > Hehe, maap, nggak nahan mau komentar. Ini yang saya
> bilang sebelumnya 
> > bahwa sebagian wartawan juga nggak paham.
> > 
> > Dalam artikel yg dikirim cak sinung, si wartawan
> mengambil nara sumber 
> > Dirjen Pajak: -- Nama PPN pun diganti menjadi PB1
> (pajak pembangunan 
> > satu), yang besarnya ditentukan oleh Peraturan Daerah
> > (Perda) masing-masing. "Jadi, PB1 itu miliknya Pemda,
> namanya bukan 
> > PPN," kata Tjiptardjo. --
> > 
> > Ini tentu saja menggelikan bagi yg pernah belajar
> pajak. Pajak PB I 
> > itu sudah ada sejak jaman rekiplik berdiri. Mosok kok
> ditafsir (nama 
> > baru) menggantikan PPN??
> 
> karena memang banyak undang-undang yang perlu
> dipelajari/dibaca/di_iqra :)
> 
> imho, bila memang di struk restoran tertulis PPN,
> sepertinya memang dapat
> kita TOLAK
> 
> mbok yao ... bila yang dimaksud adalah pajak pembangunan
> satu (PP1/PB1) maka
> yang tertulis juga PP1/PB1
> 
> cmiiw
> 
> sinung
> 
> 
> 
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
> 
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
> 



_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke