On Fri, Jun 20, 2003 at 06:40:31PM +0700, Syafril Hermansyah wrote:
> > weleh kok jadi gitu argumentasinya? :-) ya kalau memang tidak
> > perlu email ya ndak usah dikasih akses email.
> 
> Itu contoh extrem memang, tp intinya adalah kasih dia pengetahuan sesuai
> dg porsinya, yg berkorelasi postif dg pekerjaannya.

kalau gitu itu bukan contoh extrem, tapi contoh yang salah :-)
sopir ya harus bisa nyetir. kalau ndak bisa nyetir jangan jadi
sopir. kalau kerja di sini harus ngerti email, kalau ndak ngerti
jangan kerja di sini.

> Kalau pekerjaannya cukup dg bisa read/reply ya nggak perlu
> dipaksain hrs expert soal email atau menangani virus segala.

kenyataannya gini: di perusahaan tidak ada itu expert email,
tidak ada itu expert virus. saya benar-benar kurang paham dengan
istilah expert. berkali-kali bilang expart-expert soal email ini
kamsudnya apa :-)

> Pakai anti virus itu kayak asuransi kendaraan, kalau nggak pernah kena
> insiden ya nggak perlu asuransi.

whoa .. ini jelas FUD. antivirus itu ibarat sesuatu yang harus ada
karena tidak ada jaminan keamanan atas barang yang kita beli.
untuk mendapatkan jaminan tsb. kita harus beli lagi :-)

masih ingat dgn ini: seperti jual makan beracun plus antiracunnya
he..he..

yang sangat menyedihkan kan jaminan itu pun sebenarnya tidak ada.
yang ada cuman marketing FUD.

> Dokter itu profesi, mirip dg akuntan, pengacara dll.

ndak ada hubungannya dengan istilah profesi.

> Kalau dia Dokter hewan ngapain belajar alat peralatan bedah jantung
> manusia, yg dia perlu tentu saja pengetahuan mendalam soal hewan dan
> alat-2x yg berhubungan dg profesinya.

artinya: dia harus menguasai apa-apa yang berkaitan dengan
pekerjaannya.

> Virus komputer tidak berkaitan dg nyawa. Tidak bisa baca email header,
> tidak berarti dia harus masuk rumah sakit :-)

oh salah tangkap rupanya. maksudnya: orang jadi menyepelekan karena
tidak berkaitan dengan sesuatu yang (dianggap) penting. soal email,
soal usaha menghindari terkena virus itu masalah sepele. tapi kalau
itu bagian dari pekerjaan kita, ya tidak bisa kita selekan lagi.

seperti orang membuat skripsi/tesis/disertasi. karena tidak ada
taruhan yang berat atas kesimpulan yang ditulis, mereka ya santai-
santai saja: memanipulasi data, mengarang cerita dlsb.

> Dia sudah bisa dan mau pakai email secara benar sdh bagus, nggak perlu
> harus expert, cukup menggeluti email/IT saja yg expert.

pengetahuan dasar soal pencegahan mail terkena virus ini gampang
sekali. tidak butuh expert. bahkan staff IT yang dibilang expert
soal ini pun tidak ada. yang ada cuman jongos yang tiap hari menjaga
penampilan meningkatkan mutu.

naga-naganya rezim IT di indonesia sama dengan rezim medis, inginnya
semua orang bergantung, dan eksistensi mereka terjaga. pemberdayaan
pasien itu dianggap identik dengan mematikan asap dapur.

sayang sekali. akhirnya yang dibilang tenaga IT melimpah ruah di
Indonesia itu isinya cuman orang-orang yang bisa setting email client,
install antivirus. itu sudah cukup untuk mendapat gelar expert
dibidang email dan virus. jadi ingat saya dulu dibilang jagoan
komputer gara-gara bisa ngetik tugas pakai WS. kasihan deh lu.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

--
Right or wrong my list. Unsubscribe option is currently unavailable.
Indeed, it's available upon request .. but: cepek dulu donk!

Kirim email ke