On Thu, Jan 22, 2009 at 2:16 PM, ilen kardani
<[email protected]> wrote:
>
> Perkara aden gaduh kayakinan Siliwangi teh islam sajati kusabab meureunan
> ningali aya nu samodel tina ajaranana, teu nanaon, ngan bisa jadi aya urang
> Arab nu ngumbara kadieu jeung diajar kasundaan terus disebarkeun di ditu.
> Atawa meureunan Muhammad na pisan urang sunda, matak teu bisaeun maca
> tulisan arab oge. Jeung adat kalawan rupana oge rada beda ti Urang Arab
> umumna, kasep, handap asor, jeung tara linyok bohong. Pan ieu mah kanyataan
> urang sunda sapopoe atuh, sapertos conto-conto sanesna anu jadi kabiasaan di
> Sunda tapi jadi ajaran di ditu:
>
> - Hade budi basa: da urang arab mah aslina goreng genggerong, dangukeun mun
> urang arab keur ngobrol, siga parasea
> - Mere maweh: da puguh paredit pisan urang ditu mah, kaayeunakeun oge loba
> TKW teu di bayar gajihna
> - Getol beberesih (sibeungeut jeung mandi): mandi ge kudu di titah da puguh
> hese cai tea
> - Sumembah ka pangeran : da aslina mah nyarembah patung, dugi ka Kabah ge
> pinuh dijeun tempat nyimpenan patung2
> - Handap asor ka sasama: da si eta mah meni asa pang dipikanyaahna ku
> Pangeran, jadi adigung adiguna
> - Diajar ngarasakeun lapar: da tukang barangdahar wungkul , teu awewe teu
> lalaki awakna bareukah
> - Ngahargaan ka awewe: di ditue mah awewe teh jadi kelas dua, malahan aya nu
> diparaehan ti orokna keneh
> - jrrd
>
> Aya nu sarua pamundut Prabu Siliwangi sareng Nabi Muhammad, nyaeta duanana
> teu meunang digambarkeun/dilukis, duka naon kasang tukangna mah.
>
aya hasil liputan di kawasan timur tengah, jiga kumaha cenah
karakteristik jalmana.
nyanggakeun bejana:
salam,
mh
======
Print Send Close
Titik Nol (124): Mehman
AGUSTINUS WIBOWO
Puncak-puncak lancip pegunungan di Pasu.
Jumat, 23 Januari 2009 | 07:25 WIB
[Tayang: Senin - Jumat]
"Aap hamare mehman hai. Anda adalah tamu kami," kata seorang
sopir truk dari Karimabad, yang - selain menolak menerima ongkos -
menawari saya sekotak biskuit dan sekaleng minuman. Saya hampir tak
bisa berkata-kata menerima ketulusan persahabatan ini.
Jika Anda menjelajah Pakistan, ada satu hal yang selalu hadir:
keramahtamahan. Dalam bahasa Urdu disebut mehmannavazi. Tak peduli
betapa miskinnya orang-orang di negeri ini, bagaimana pun tingkat
pendidikan dan latar belakang sosialnya, semuanya seakan berlomba
menawarkan yang terbaik untuk para tamu.
Mehman, sebuah konsep yang melekat dalam sanubari penduduk setempat.
Begitu kuatnya, sampai saya jadi malu sendiri. Tuan rumah tak makan
tak mengapa, asalkan tamu dijamu dengan limpahan makanan mewah. Tak
ada uang tak mengapa, asalkan sang tamu tetap merasa nyaman. Menggigil
kedinginan bukan masalah, asalkan sang tamu tetap hangat dan lelap.
Dari Chapursan kembali ke Karimabad, saya harus melewati Kota Sost di
perbatasan Pakistan-Cina. Harga karcis angkot Sost-Karimabad cuma 100
Rupee, sekitar 15 ribu. Tidak mahal. Tapi saya memutuskan berjalan
kaki agar lebih menikmati keindahan lembah-lembah dan barisan gunung
Karakoram. Kalau sudah capek, sesekali saya menumpang mobil yang
melintas.
Hari ini matahari bersinar cerah. Lembah tanpa sinar mentari di
Chapursan menjadi kenangan. Barisan pegunungan Gojal menampakkan
keagungan yang langsung meresap ke relung hati. Jarak ke Karimabad
sekitar 90 kilometer, sungguh indah kalau dinikmati secara perlahan.
Setiap langkah adalah ucapan syukur terhadap rahmat Tuhan ke muka
bumi. Setiap langkah adalah kekaguman akan ciptaannya.
Saya sudah berjalan sekitar empat kilometer dari Sost, ketika sebuah
mobil Volvo berhenti, menawari saya untuk menumpang. Pengemudi dan
penumpangnya berasal dari Kholistan, termasuk daerah korban bencana.
"Berjanjilah untuk datang ke Kholistan. Di sana kami
membutuhkan banyak sekali sukarelawan," kata sopir berjenggot lebat,
berkaca mata hitam, berselempang selimut, berjubah dan bertopi pakkol
itu.
Penampilan orang etnis Pathan memang biasanya lebih sangar. Pathan
adalah minoritas di Pakistan tetapi mayoritas di Afghanistan.
Orang-orang Kholistan ini tidak menyetir sampai Pasu, desa tujuan saya
berikutnya.
"Jalan sajalah," kata sopir itu, "Pasu sudah dekat."
Walaupun matahari bersinar cerah dan langit biru bersih, berjalan di
tengah gunung-gunung raksasa ini sungguh dingin rasanya. Pegunungan
ini terlalu tinggi sehingga sinar mentari bahkan tak mampu menyentuh
jalan raya di dasar lembah. Saya berjalan dalam dinginnya
bayang-bayang. Angin juga menderu kencang. Saya semakin merasa sebagai
makhluk kecil yang merayap di permukaan bumi yang demikian sempurna
penciptaannya.
'Tidak jauh', seperti yang dikatakan oleh sopir truk itu, dalam
kenyataannya adalah 20 kilometer jaraknya. Ukuran jauh dekat orang
pegunungan mungkin memang tidak sama dengan standar kita. Beruntung
saya mendapat tumpangan lain, sebuah truk punya orang-orang Pathan
dari selatan Pakistan, menuju ke kota Rawalpindi.
Di Pakistan, tak ada orang yang membiarkan tamu kesusahan. Demikian
juga para sopir truk. Hampir semuanya berhenti menawarkan tumpangan
kepada saya yang sedang berjalan kaki. Saya amat suka naik truk,
apalagi kalau duduk di atap. Gunung menjulang di kiri-kanan. Di atas
atap truk, semuanya tampak garang, perkasa, penuh aura. Hanya dua hal
yang menganggu – angin yang menderu dan kabel listrik yang tergantung,
melintang rendah di atas jalan.
Truk Pakistan bukan hanya sebarang alat transportasi. Truk juga
merupakan sebuah karya seni. Lihatlah betapa mewahnya perhiasan,
ukiran, gambaran yang memoles sekujur tubuh truk ini. Pengemudi truk,
yang biasanya identitik dengan hidup yang keras, ternyata juga manusia
yang punya cita rasa seni tinggi. Bunga merah, kuning, dan hijau yang
tak pernah absen di depan kemudi memberikan sentuhan feminin. Kaca
depan selalu bertulis "Ya Allah" dan "Masya Allah".
Pasu terletak di lembah Gojal. Menurut seorang pria yang mengaku
sejarawan di Karimabad, kata Gojal berasal dari kisah pejabat kolonial
Inggris yang salah dengar kata 'go jail'. Di dusun Pasu, gunung-gunung
tinggi berujung runcing menjulang, mirip atap katedral. Salju masih
membungkus puncak-puncaknya, menambah kemahaagungan barisan arsitektur
alam ciptaan-Nya. Di hadapannya ada sungai es terbesar kedua di dunia,
memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan.
Desa yang begitu indah ini adalah desa mati. Tak ada seorang pun di
sini. Di musim dingin, hampir tak ada wisatawan yang datang ke Lembah
Hunza. Listrik pun terbatas. Penduduk desa Pasu, yang kebanyakan
adalah pemilik warung dan losmen, mengungsi ke tempat yang lebih
hangat dan nyaman ketika tak ada lagi bisnis yang menjanjikan di sini.
Perut keroncongan, saya berjalan terseok-seok. Jalanan sepi, hampir
tak ada truk yang melintas. Sejak awal Januari hingga musim panas
nanti perbatasan Khunjerab dengan China ditutup. Angkutan barang
komoditas ekspor dan impor sudah jarang. Bahkan untuk menumpang truk
pun saya seharusnya tak berharap banyak.
Saya berjalan lagi hampir dua jam, ketika tiba-tiba melintas sebuah
truk besar yang berhenti sendiri tanpa saya melambaikan tangan.
"Naik, ayo cepat," seru sopir.
Melihat saya yang kelaparan, ia membelikan saya biskuit. Saya sama
sekali tidak dibolehkan membayar sepeser pun.
"Aap hamare mehman hai!" Kata mehman sungguh membuat ego
saya tertohok.
Di dusun Gulmit yang mungil ini, sekali lagi saya berjumpa dengan
Majid, kawan dari Chapursan. Di tempat ini alur perjumpaan tak
terduga, perpisahan, perjumpaan kembali, sudah teratur bak cerita film
India. Majid kembali tertawa terguncang-guncang melihat saya.
"Hunza memang kecil. Kita bisa berjumpa di mana-mana!"
Menjelang senja saya kembali lagi ke penginapan Kakek Haider, setelah
menumpang empat kendaraan berbeda. Di bawah naungan puncak-puncak
raksasa ini, keramahtamahan menjadi jalan hidup.
(Bersambung)
_______________
Ayo ngobrol langsung dengan Agustinus Wibowo di Kompas Forum. Buruan
registrasi!
Agustinus Wibowo
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/23/07250178/Titik.Nol.124.Mehman
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/