Kembalikan Ciamis Jadi Galuh!

WACANA mengganti nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh mengemuka
dalam acara peresmian Museum Galuh Pakuan di bekas Kadatuan (Keraton)
Selagangga Jln. K.H. Ahmad Dahlan (Selagangga) No. 40 Ciamis, Sabtu (17/7).
Acara yang diselenggarakan Paguyuban Rundayan Prabu Galuh Pakuan (PRPGP) itu
dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf.

"Dahulu, perubahan nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis merupakan
proses politik, maka proses politik pula yang akan dapat mengembalikan nama
aslinya, yaitu Kabupaten Galuh," kata Ketua PRPGP Raden Galuraningrat Gani
Koesoemasoebrata.

Karena sudah memasuki ranah politik, menurut dia, persoalan perubahan nama
menjadi wewenang DPRD Ciamis. "Saatnya sekarang DPRD Ciamis mengambil
langkah perubahan nama tersebut," katanya.

Dia mengungkapkan, perubahan nama tersebut merupakan wacana yang sudah lama
muncul. Bagi masyarakat tatar Galuh, menurut Gani, nama Galuh sudah mewujud
menjadi jati diri. "Selama ini, wacana tersebut hanya sebatas pendapat.
Tidak ada tindak lanjutnya. Bagi kami, menyandang nama Galuh merupakan
kebanggaan tersendiri. Sekarang merupakan waktu yang tepat untuk
menindaklanjuti wacana tersebut," tuturnya.

Ya, Kabupaten Galuh diubah menjadi Ciamis oleh Bupati R.T. Sastrawinata
(1914-1936). Sebelumnya, Sastrawinata mengganti Bupati R.A.A Kusumasubrata
(1872-1914) yang merupakan keturunan langsung Kanjeng Prebu (Raden Aria
Dipati Koesoema Di Ningrat) yang berkuasa pada 1839-1886. Gelar Kanjeng
Prebu (bukan Prabu -red.) diberikan oleh masyarakat Galuh. Pada zamannya,
Raden Aria merupakan Bupati Galuh yang terkenal, disegani, dan sangat
dicintai rakyatnya. Dia dinilai berhasil dalam membangun Kabupaten Galuh
dalam berbagai bidang, baik pertanian, ekonomi, maupun penyebaran agama
Islam.

"Saya setuju nama Kabupaten Ciamis dikembalikan ke nama semula, yakni
Kabupaten Galuh. Selain itu, karena Banten sudah berpisah dari Jawa Barat,
nama Provinsi Jawa Barat pun harus diganti menjadi Provinsi Padjadjaran,"
ujar Dede Yusuf.

Menurut dia, hal ini karena Kerajaan Padjadjaran pada zamannya berhasil
membangun tatar Sunda dan menyatukan berbagai kerajaan yang ada di tatar
Sunda, khususnya pada zaman Sri Baduga Maharaja berkuasa. "Seperti kita
ketahui, para Bupati Galuh yang berkuasa pada zamannya merupakan keturunan
langsung dari raja-raja Galuh dan Padjadjaran," ujar Dede Yusuf.

Digantinya nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh, menurut Ketua
Majelis Luhur PRPGP, R. Ikik Lukman Soemadisoeria, bukannya tanpa alasan.
Berbagai organisasi kemasyarakatan di Kabupaten Ciamis saat ini selalu
mengaitkan dirinya dengan nama Galuh, bukan Ciamis. "Apa sebab? Karena nama
Galuh mempunyai nilai sejarah yang panjang, yang sudah mendarah daging
dengan kehidupan orang-orang Galuh itu sendiri," ujar Ikik.

Munculnya wacana penggantian nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh
juga ditanggapi serius Ketua Komisi IV DPRD Ciamis, Hendra S. Marcusi.
Menurut dia, itu merupakan usulan yang baik dan saat ini memang tengah
menjadi tema perbincangan di kalangan anggota DPRD Ciamis. "Semangat
kegaluhan memang sedang mengemuka saat ini. Bagaimanapun, Galuh merupakan
pusat kerajaan Sunda sebelum pindah ke Pakuan Padjadjaran," ujar Hendra.

Peresmian museum

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum PRPGP, R. Galuraningrat Gani
Koesoemasoebrata, cucu mendiang R.A.A. Kusumasubrata (bupati terakhir
Kabupaten Galuh, keturunan dari raja-raja Galuh) mengatakan, didirikannya
Museum Galuh Pakuan merupakan upaya rekonstruksi sejarah Kerajaan Galuh
melalui tinggalan benda-benda budaya. Selain itu, mereka juga berencana
membangun replika Kerajaan Galuh yang akan dibangun dekat Pemakaman
Jambansari, tempat mendiang Raden Aria Adipati Kusuma Di Ningrat (Kanjeng
Prebu) dikuburkan.

"Isi museum yang sekarang diresmikan memang belum lengkap karena seluruh
keluarga atau keturunan raja-raja Galuh belum menyerahkan benda-benda
tinggalan budaya yang dikoleksinya. Insya Allah, ke depan akan dilengkapi.
Ini baru langkah awal," katanya.

Sultan Sepuh XIV Keraton Kasultanan Kasepuhan Cirebon P.R.A. Arief
Natadiningrat mengatakan, pihaknya mendukung didirikannya Museum Galuh
Pakuan --juga Kadatuan Galuh Pakuan-- dalam konteks budaya. Tujuannya, demi
pengenalan masyarakat terhadap kekayaan nilai-nilai lokal.

"Secara fakta dan data, sejarah mengatakan bahwa Kerajaan Galuh dan
Padjadjaran itu ada. Jadi, tinggalan benda-benda budayanya pasti ada. Selain
itu, kerajaan yang ada di tatar Galuh ini tidak hanya ada pada zaman Islam,
pada zaman Hindu pun ada. Pendek kata, saya mendukung," ujar Sultan.

Hal yang sama juga diucapkan tokoh masyarakat sekaligus mantan Rektor Unpad,
Himendra Wargadibrata. Pihaknya mendukung sepenuhnya gagasan didirikannya
Museum Galuh Pakuan dan Kadatuan Galuh Pakuan sebagai pusat sejarah dan
budaya tinggalan Kerajaan Galuh dan Padjadjaran, yang keturunannya menyebar
di mana-mana. (Soni Farid Maulana/ Nurhandoko/"PR")***

web:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=149145


2010/7/18 mh <[email protected]>

> Keur usum garanti ngaran, baralik deui ka ngaran jaman bulukan, Ujung
> Pandang jadi Makasar,
> Irian jadi Papua, ayeuna Ciamis cenah rek balik deui ka Galuh.
> ============
> Wacana Kabupaten Galuh Kembali Bergulir
> Minggu, 18/07/2010 - 21:46
>
> NURHANDOKO/"PRLM"
> Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf menerima penjelasan koleksi benda
> pusaka sejarah Galuh yang disimpan di Museum Galuh Pakuan. Museum yang baru
> diresmikan Minggu (18/7)di Jl KH A Dahlan No 40 Ciamis seberang Komplek
> Makam Jambansari.*
>
>

Kirim email ke