Merawat Situs yang Tersebar

Sejumlah kompleks pemakaman raja dan bupati tersebar di Kabupaten Ciamis.
Dua pemakaman terkenal adalah Kompleks Jambansari yang berlokasi di Gunung
Sirnayasa dan Kompleks Gunung Asih Sukasirna. Di Jambansari terdapat makam
Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat, Bupati Galuh Ke-16, sedangkan di
Gunung Asih Sukasirna terdapat makam R.A.A. Koesoema Soebrata, Bupati Galuh
Ke-17. Menurut R.A. Tati Nirwati K.S., cucu R.A.A. Koesoema Soebrata, dua
tempat itu sering diziarahi masyarakat, dari dalam dan luar Ciamis, untuk
ngalap berkah atau mendoakan kedua tokoh agar mendapat tempat yang layak di
sisi Allah.

Di lokasi Pemakaman Gunung Asih Sukasirna, selain ada makam bupati Galuh
terakhir, juga ada makam Eyang Kartadiredja, orang sakti, yang disebut-sebut
sebagai guru spiritual R.A.A. Koesoema Soebrata. Selain itu, ada juga bekas
Pesanggrahan R.A.A. Koesoema Soebrata yang tinggal rangkai dan bekas-bekas
batu-bata yang menggambarkan ruang-ruang tertentu dalam bangunan tersebut.
Sebagian dari bekas pesanggrahan itu sudah berupa kebun yang ditanami pohon
pisang, pohon jambu, dan sejumlah pohon lain yang tumbuh dengan sendirinya.
Di tempat tersebut, berdasarkan rencana akan dibangun kembali Pesanggarahan
R.A.A Koesoema Soebrata yang akan digunakan sebagai tempat menyimpan
barang-barang peninggalan sejarah. Pemakaman Gunung Asih dan bekas
pasanggrahan itu berlokasi di Lembur Balong. Rumah Tati pun ada di situ.

Adapun para leluhur kedua bupati tersebut, selain ada yang dikuburkan di
Imbanagara, juga di Kawali. Di Kawali, sebagaimana diketahui, terdapat
sejumlah situs yang memiliki nilai sejarah tak terhingga. Situs berupa
kuburan kuno dan lempengan batu bertulis yang ditemukan para arkeolog, untuk
sementara, disimpan di Astana Gede Kawali. Hingga kini, informasi mengenai
"jati diri" hasil temuan itu masih misteri. Para arkeolog meyakini, di bawah
hamparan tanah tersebut masih tersimpan sejumlah benda tinggalan budaya
lainnya yang diproduksi pada masa-masa awal Kerajaan Galuh di Kawali.

**

Pada zamannya, Astana Gede Kawali dipercaya sebagai tempat suci bagi
raja-raja Sunda di Kawali dalam menyucikan diri. Di tempat ini, selain ada
makam Pangeran Usman (penyebar agama Islam di Kawali yang datang dari
Cirebon), juga ada kuburan Adipati Singacala. Selain itu, tentu saja ada
beberapa situs peninggalan raja-raja Sunda, seperti Situs Cikawali, Situs
Sang Hiyang Maya Datar, Situs Penobatan Raja-Raja Sunda, dan enam buah
prasasti. Situs Sang Hyang Maya Datar adalah tempat raja-raja Sunda
memberikan petuah kepada rakyatnya. Adapun sejumlah raja yang pernah
berkuasa di Kawali adalah Raja Ajiguna Linggawisesa, Prabu Ragamulya, Prabu
Linggabuana (Sri Baduga), Adipati Bunisora Suradipati, Prabu Niskala Wastu
Kancana, Prabu Dewaniskala, dan Prabu Jaya Dewata yang dikenal dengan
sebutan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi atau Pamanah Rasa.

Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat, Bupati Galuh ke-16, sebagaimana
dikatakan Nina Herlina Lubis, merupakan keturunan Prabu Haur Kuning, penerus
raja-raja Galuh sebelumnya. "Berkait dengan itu, sejarah Galuh harus ditulis
ulang dengan kajian yang mendalam dan dapat dipertanggungjawabkan secara
akademis. Paguyuban Rundayan Prabu Galuh Pakuan telah berencana menulis buku
tersebut dengan membentuk tim," ujar Nina.

Tempat bersejarah di Ciamis, selain terdapat di Panjalu dan Gunung Cupu,
juga terdapat di Kawali, Karang Kamulyan, Gunung Padang, Gunung Panaekan,
Rawa Onom, dan Bukit Susuru. Di bukit ini terdapat situs arkeologi dalam
bentuk dolmen, menhir, dan punden berundak. Peninggalan budaya dari masa
prasejarah itu dimanfaatkan oleh masyarakat berkebudayaan Hindu, juga Islam.
"Di sana ada dolmen yang kemudian dijadikan batu pangcalikan (tempat duduk
bertapa) pada masa Hindu. Setelah Islam masuk, dipercaya oleh masyarakat
sebagai tempat salat Prabu Dimuntur. Prabu Dimuntur atau Rangga Permana
adalah keturunan Prabu Geusan Ulun, penguasa Sumedang yang menikahi Tanduran
Gagang, Puteri Maharaja Kawali dan diberi kedudukan sebagai Raja Galuh
Kertabumi," ungkap Nina.

Hendra S. Marcusi, Ketua Komisi IV DPRD Ciamis mengatakan, langkah awal yang
dilakukan PRPGP ini patut didukung untuk mewujudkan museum yang
representatif di Jawa Barat. "Kepentingannya bukan hanya untuk sejarah,
melainkan juga untuk pariwisata," katanya. (Soni Farid Maulana/"PR")***

web:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=149530


2010/7/18 mh <[email protected]>

> Keur usum garanti ngaran, baralik deui ka ngaran jaman bulukan, Ujung
> Pandang jadi Makasar,
> Irian jadi Papua, ayeuna Ciamis cenah rek balik deui ka Galuh.
> ============
> Wacana Kabupaten Galuh Kembali Bergulir
> Minggu, 18/07/2010 - 21:46
>
> NURHANDOKO/"PRLM"
> Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf menerima penjelasan koleksi benda
> pusaka sejarah Galuh yang disimpan di Museum Galuh Pakuan. Museum yang baru
> diresmikan Minggu (18/7)di Jl KH A Dahlan No 40 Ciamis seberang Komplek
> Makam Jambansari.*
>
>

Kirim email ke