Peninggalan Sejarah Meretas Jalan "Menghidupkan" Galuh KABUPATEN Ciamis merupakan sebuah daerah yang sarat dengan peninggalan sejarah, baik peninggalan sejarah zaman raja-raja maupun zaman kabupatian, yang hingga kini masih meninggalkan misteri. Peninggalan itu terdapat di area situs Gunung Cupu, Bukit Susuru, Karang Kamulyan, dan Astana Gede Kawali.
Di tempat-tempat tersebut ditemukan banyak benda tinggalan budaya dan artefak, apa pun namanya. Ada yang diproduksi pada zaman kerajaan Hindu, kerajaan zaman Islam, hingga zaman kabupatian. Semua itu tidak bisa dilepaskan dari gerak zaman pemerintahan kolonial yang kerap memakan korban, baik dari kalangan rakyat jelata maupun kalangan menak itu sendiri. Sehubungan dengan banyaknya benda pusaka dan tinggalan sejarah yang tak ternilai harganya itu, Paguyuban Rundayan Prabu Galuh Pakuan (PRPGP) bertekad mendirikan Museum Galuh Pakuan. Untuk sementara, Museum Galuh Pakuan berlokasi di bekas Kadatuan (Keraton) Selagangga. Bangunan itu didirikan Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat pada tahun 1853. Ia adalah Bupati Ciamis ke-16 yang pada saat itu masih bernama Kabupaten Galuh. "Ke depan, museum akan dibangun di samping lokasi pemakaman keluarga di Gunung Sirnayasa Jambansari. Di situ, Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat dimakamkan. Kelak, bangunan yang akan didirikan di lokasi tersebut mengambil replika bangunan Kadatuan (Keraton) Galuh Pakuan," ujar Ketua Majelis Luhur PRPGP Raden Ikik Lukman Soemadisoeria dalam percakapannya dengan "PR" di sela-sela acara Peresmian Museum Galuh Pakuan, Minggu (18/7) di Jln. K.H. Ahmad Dahlan (Selagangga) No. 40 Ciamis. Museum itu diresmikan Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf. Pada zamannya, Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat merupakan bupati yang cukup terkenal dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Oleh karena itu, ia beroleh gelar Kangjeng Prebu. Pada masa pemerintahannya, Kangjeng Prebu membangun banyak saluran air dan beberapa dam untuk mengaliri pesawahan. Beberapa di antaranya adalah saluran Gandawangi (1839), saluran Cikatomas (1842), dam Tanjungmanggu yang kemudian diberi nama Nagawiru (1843), dan saluran Wangundiredja (1862). Selain itu, ia pun membuka banyak area pertanian baru dan perkebunan kelapa. "Dibangunnya berbagai saluran air dan beberapa dam tersebut, antara lain dimaksudkan untuk meringankan rakyat Galuh dari beban tanam paksa (cultuur stelsel) yang dilaksanakan Pemerintah Hindia Belanda sejak pertengahan Abad ke-19. Digencarkannya kegiatan tanam paksa oleh Pemerintah Hindia Belanda, pada dasarnya, merupakan pengembangan dari Preanger stelsel (sistem Priangan yang berkaitan dengan penanaman komoditas kopi) yang telah diterapkan di Priangan sejak tahun 1677. Di Kabupaten Galuh, pada waktu itu, kewajiban tanam paksa bukan hanya menanam kopi, melainkan juga wajib nenanam nila (indigo)," ungkap pakar sejarah Prof. Dr. Nina Herlina Lubis. ** menurut Nina, dirinya mendukung pendirian Museum Galuh Pakuan tersebut. Apalagi, semuanya sudah diatur di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 1995. Museum adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda bukti materiil hasil budaya manusia, alam dan lingkungan, guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. "Berkait dengan itu, pemerintah harus mendukung upaya ini. Siapa tahu, dengan adanya museum tersebut, masyarakat Ciamis dan masyarakat Indonesia pada umumnya jadi lebih mengenal lagi sejarah para leluhurnya, baik melalui benda tinggalan budaya maupun melalui buku-buku, yang akan menjelaskan apa dan bagaimana Kerajaan Galuh hingga menjadi Kabupaten Galuh yang kemudian berubah nama jadi Kabupaten Ciamis. Ada banyak hal yang harus digali di situ," kata Nina. Tekad serupa memang diusung PRPGP. Secara budaya, mereka ingin merekonstruksi Kadatuan Galuh Pakuan. "Kalau Keraton Cirebon ada jejaknya, lantas bagaimana dengan Keraton Galuh? Saat ini, tak ada jejak Keraton Galuh yang bisa dilihat secara nyata walau fakta dan data-data arkeologinya banyak diungkap dalam sejarah. Insya Allah, ke depan, kami akan mewujudkan kembali bangunan Keraton (Kadatuan) Galuh Pakuan secara budaya. Dengan adanya Kedatuan Galuh Pakuan, eksistensi Museum Galuh Pakuan akan menjadi lebih bermakna lagi," ujar Ketua Umum PRPGP Drs. Raden Galuraningrat Gani Koesoemasoebrata S.I.P, yang lebih dikenal dengan panggilan Kang Gani. Kang Gani sendiri merupakan cucu Bupati Galuh ke-17, R.A.A Koesoemasoebrata (1886-1914): bupati terakhir yang merupakan keturunan langsung Kanjeng Prebu. Leluhur Kanjeng Prebu sendiri, menurut Nina Lubis, sampai ke Prabu Siliwangi (R. Pamanah Rasa). Dan, apa yang dinamakan Kerajaan Galuh, dulu, letaknya di Kawali sebelum pindah ke Pakuan Padjadjaran. Sementara itu, Kabupaten Galuh --sebelum pindah ke tempat yang sekarang menjadi Ciamis-- pernah berlokasi di Imbanagara. Adapun Ciamis sendiri sebelumnya bernama Cibatu. Pindahnya Kabupaten Galuh dari Imbanagara ke Cibatu (Ciamis) berlangsung pada 15 Januari 1815. "Tanggal itulah yang dijadikan hari jadi Ciamis," ungkap Nina Lubis. ** LANTAS, siapa yang mengganti nama Kabupaten Galuh menjadi Ciamis? Bupati R.T. Sastrawinatalah yang mengganti nama kabupaten tersebut ketika berkuasa pada periode 1914-1936. Ia berasal dari Purwakarta dan bukan keturunan langsung para leluhur Galuh. Berkait dengan itu, PRPGP mendesak Pemerintah Kabupaten Ciamis untuk mengembalikan nama Ciamis menjadi Galuh. Alasannya, selain sudah mendarah daging di masyarakat, Galuh memiliki nilai sejarah yang panjang. Wacana ini disambut baik Wakil Gubenur Jabar Dede Yusuf dan berbagai kalangan masyarakat yang berasal dari Tatar Galuh. Malah, Dede Yusuf mengatakan, sejarah Galuh harus ditulis ulang dengan kajian-kajian yang lebih ilmiah. Kajian-kajian tersebut harus jadi pelengkap Museum Galuh Pakuan. Kang Gani menjelaskan, pencantuman kata "Galuh" menjadi nama museum bukannya tanpa alasan. Soalnya, benda-benda tinggalan budaya sebagian besar dimiliki oleh keturunan raja dan para bupati yang berkuasa di Galuh dan berdarah Galuh. "Meski demikian, isi museum tersebut masih harus dilengkapi. Belum semua benda tinggalan budaya yang ada pada keturunan keluarga raja dan bupati Galuh diserahkan ke museum ini. Apa yang kami lakukan saat ini baru lelengkah halu," tuturnya. Pendirian Museum Galuh Pakuan itu pun didukung sepenuhnya oleh Keraton Kasultanan Kasepuhan Cirebon. Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat. Apalagi, menurut dia, di masa lalu, Kerajaan Galuh dan Padjadjaran memiliki hubungan erat dengan Cirebon, terutama hubungan kekerabatan. "Kesadaran terhadap nilai-nilai lokal, dewasa ini, harus dibangkitkan. Jangan sampai anak cucu kita hanya fasih memahami kebudayaan Barat, sedangkan dalam memahami kebudayaan sendiri nol adanya. Semoga apa yang diupayakan oleh PRPGP bisa bermanfaat bagi kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kerajaan Galuh dan Padjadjaran itu jejak peninggalan budayanya juga ada," kata Sultan Sepuh. (Soni Farid Maulana/"PR")*** web: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=149531 2010/7/18 mh <[email protected]> > Keur usum garanti ngaran, baralik deui ka ngaran jaman bulukan, Ujung > Pandang jadi Makasar, > Irian jadi Papua, ayeuna Ciamis cenah rek balik deui ka Galuh. > ============ > Wacana Kabupaten Galuh Kembali Bergulir > Minggu, 18/07/2010 - 21:46 > >
