Boediono Klarifikasi Soal Redenominasi

JAKARTA, (PR).-
Wakil Presiden Boediono memanggil Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan
Pjs. Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution. Hal itu untuk
mengklarifikasi rencana redenominasi mata uang rupiah.

Pertemuan tersebut di luar rencana agenda, karena Wapres hanya akan bertemu
dengan General International Air Transport Association (IATA). Namun, hal
itu harus dilakukan karena pentingnya persoalan. Agus dan Darmin akhirnya
menghadap Boediono sekitar satu jam sejak pukul 16.30 WIB.

Seusai pertemuan itu Boediono meminta masyarakat tenang menghadapi rencana
tersebut. "Sekarang ini masalahnya adalah menjaga ketenangan dan kestabilan
suasana, tidak usah terpengaruh oleh hasil studi soal redenominasi. Nanti
pada waktunya akan kami bahas bersama-sama," ujarnya.

Wapres mengakui, BI memang melakukan kajian redenominasi dengan serius.
"Statusnya studi. Dan memang itu adalah domainnya BI. Bank sentral di mana
pun bisa mempelajari berbagai opsi. Tadi saya ketemu Pak Darmin, saya cek
langsung, studi itu berlanjut dan belum selesai," katanya.

Menurut Boediono, rencana pemberlakuan redenominasi rupiah ini masih harus
melalui proses yang panjang sehingga kebijakan ini tidak akan diberlakukan
dalam waktu dekat.

"Redenominasi itu di berbagai negara memang sudah dilakukan, misalnya Turki
dan sebagainya. Itu biar dipelajari, sekali lagi ini statusnya studi, dan
studi itu mau jadi policy (kebijakan) panjang prosesnya," ujar Boediono.

Sebelumnya, Darmin mengatakan, BI memang serius menggodok kebijakan
tersebut. BI memperkirakan proses redenominasi akan membutuhkan waktu
sekitar sepuluh tahun.

Tahapan pertama yang dilakukan bank sentral yakni sosialisasi yang dimulai
sejak tahun 2011 dan tuntas pada 2022.

Darmin memaparkan, redenominasi akan dimulai pada tahun 2011 di mana pada
tahap pertama dilakukan tahapan sosialisasi sampai dengan tahun 2012.

Darmin yakin redenominasi rupiah tidak akan mengalami nasib tragis seperti
dolar Zimbabwe. Kegagalan negara Zimbabwe dalam melakukan redenominasi
beberapa waktu yang lalu disebabkan oleh tidak terkendalinya tingkat
inflasi.

"Indonesia tidak akan senasib dengan Zimbabwe soal redenominasi ini karena
tingkat inflasi di Indonesia masih sangat terkendali sehingga redenominasi
diharapkan berjalan mulus. Bahkan, tingkat inflasi dalam 2-3 tahun ke depan
bisa turun ke 4,5 persen plus minus 1 persen," katanya.

Kegagalan Zimbabwe melakukan redenominasi, menurut dia, karena tingkat
inflasi di negara itu naik dan tidak kredibel sewaktu dilakukannya proses
redenominasi. "Jadi itu dianggap gagal redenominasi di Zimbabwe karena pada
saat redenominasi inflasi terus membubung tinggi," kata Darmin.

Mengenai sanering atau pemotongan nilai tukar rupiah yang pernah terjadi
pada tahun 1965, Darmin mengatakan bahwa hal itu terjadi karena ledakan
inflasi. "Waktu itu terjadi inflasi yang mencapai 650 persen per tahun. Maka
sanering diperlukan pada masa itu," ujarnya.

Hal tersebut, menurut Darmin jauh berbeda dengan redenominasi yang
direncanakan akan dilakukan. "Redenominasi hanya akan berhasil jika inflasi
terkendali seperti saat ini," ucapnya.

Tujuan BI melakukan redenominasi rupiah karena uang pecahan Indonesia yang
terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah mempunyai pecahan terbesar kedua
di dunia setelah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 dong. (A-78)***

web:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=151421


2010/8/2 mh <[email protected]>

> bejana duit 100.000 bakal dipangkas jadi 100, enya kitu?
> cing aya tukang bank, naon tah efekna?
>
> ========
> *Redenominasi Rupiah*
> Nilai Pecahan Rupiah Bakal Dipangkas?
> Senin, 2 Agustus 2010 | 09:32 WIB
>
>
>

Kirim email ke