jadi inget baheula 30 taun ka tukang basa keur bolon keneh
jenatna (nini-aki) karesep teh kecap manjangan (menjangan eta)
nu memang rasana teh khas. ngan ti mulai taun 90-an ka dieu tos tara mendakan 
deui
kitu deui harita ge aya tauco nu jadi langganan jenatna teh, ngan poho deui lah 
merk-na teh naon
oh enya... Djadjuli mun teu salah mah merk tautjo teh. eta mah kecap Menjangan 
sareng tautjo Djadjuli jadi andelan, sok aya wae na meja makan
baheula mah pas aya keneh kecap eta, kecap2 pabrikan samodel abc, rasana teh 
aneh
kusabab ayeuna mah rata2 kecap pabrikan, nyaa tungtungna mah letah ge 
"beradaptasi" kana rasa anyar.

ke ah amun pareng ka majalengka deuk nyiar kecap eta.
nuhun ingpona bah, sugan teh tos teu aya dikieuna eta kecap heheh...

 --> JeBe <--




________________________________
From: Ki Hasan <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>
Sent: Thu, May 5, 2011 5:14:37 AM
Subject: [kisunda] Wisata - Pabrik Kecap Majalengka?

  
Where to Go In West Java 
Romantisme Pabrik Kecap Tradisional Majalengka
Kamis, 05/05/2011 - 00:32


RETNO HY/"PRLM"
Kecap  asli Majalengka yang dibuat resep khusus tradisional, diolah tanpa  
menggunakan mesin dan  tanpa bahan pengawet kimia. Selain itu, rasa  kedelai 
yang kental dan ada dua merek kecap asli Majalengka yang tahan  lama.*
SECARIK kertas berupa salinan komposisi bahan pembuatan kecap  tergeletak di 
atas meja. Tertulis, kacang (kedele hitam) sebanyak 100 kg  (kilo gram), gula 
(gula aren) 275 kg, garam 45kg, terigu 25 kg dan air  50 liter. Meskipun setiap 
harinya komposisi bahan-bahan untuk membuat  kecap selalu tidak berubah, tapi 
Oman Taufiqqurrahman selalu setia  mencatatnya disecarik kertas dan disusun 
dengan rapih.
“Ini untuk bukti, kalau setiap hari komposisi kecap buatan kami tidak  berubah, 
dan sayapun mencatat setiap hasil kecap yang dibuat dari 100  kilogram kedelai 
hitam setiap harinya,” ujar Kang Oman demikian  panggilan akrab Oman 
Taufiqqurrahman, saat ditemui diruang kantor  merangkap ruang pamer dan 
penjualan produk kecap Maja Menjangan.
Bukan hanya carikan kertas komposisi dan hasil produksi yang tersusun  rapi. 
Koran HU. “Pikiran Rakyat” yang sudah dilanggan (Alm) H. Sa’ad  Wangsadidjaja, 
sang empunya pabrik kecap Maja Menjangan sejak puluhan  tahun juga tersusun 
rapi 
di rak yang berdampingan dengan lemari tempat  botol kecap yang tidak kalah 
tersusun rapi.
Romantisme masa lalu Pabrik Kecap CV Maja Menjangan yang didirikan H.  Sa’ad 
pada tahun 1940, berlokasi di Jalan Suha 209 Kota Majalengka,  bukan hanya 
suasana ruangan kantor yang merangkap ruang pamer dan  penjualan produk kecap. 
Tetapi bangunan rumah yang masih belum berubah  sejak dibangun oleh keluarga H. 
Sa’ad dengan dinding batu alam sandstone  berwarna kekuning-kuningan, juga 
menjadi daya tarik wisatawan minat  khusus.
Kota Majalengka yang selama ini dikenal dengan julukan Kota  Pensiunan, dalam 
lima tahun terakhir mulai memiliki magnet sebagai  daerah tujuan wisata minat 
khusus. Selain gedung-gedung tua peninggalan  tuan tanah dan perkebunan tebu, 
pabrik-pabrik kecap tradisional yang  hingga kini masih bertahan, juga menjadi 
salah satu tujuan berwisata.
“Semula memang hanya mereka yang hendak mengadakan penelitian. Namun  
belakangan 
setelah televisi dan koran memberitakan, banyak komunitas  ataupun wisatawan 
tersendiri yang datang berkunjung,” ujar Kang Oman.  Layaknya perjalanan wisata 
minat khusus yang umumnya dilakukan,  wisatawan akan disuguhi berbagai 
keterangan. Hebatnya, Kang Oman sangat  pintar membuat wisatawan untuk tinggal 
berlama-lama pabrik. Sambil  menghirup aroma gula aren diolah menjadi wedang 
(cair) untuk bahan  campuran air hasil permentasi kedelai hitam, pengunjung 
akan 
diajak  berkeliling.
Biasanya waktu kunjungan antara pukul 9.00WIB hingga 17.00WIB atau  bertepatan 
pada waktu kerja. Namun Kang Oman tidak akan menolak  pengunjung yang datang 
sebelum jam kerja untuk melihat proses awal  pembuatan kecap hingga akhir. 
Menurut Asep Mulyana, salah seorang  kerabat H. Sa’ad yang kini menjadi staf di 
Bidang Kepariwisataan Dinas  Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, membanjirnya 
wisatawan minat  khusus ke Kota Majalengka, khususnya ke pabrik kecap 
tradisional yang  jumlahnya tinggal belasan pabrik, terjadi pasca pembongkaran 
Pabrik Gula  Kadipaten berikut jalur rel kereta api pengangkut tebu dan 
dibukanya  jalur Kereta Wisata Jakarta-Cirebon pada tahun 2007 lalu.
“Semula, wisatawan minat khusus ataupun komunitas tertentu dari  Jakarta, 
Bandung, dan bahkan dari luar negeri datang (kabupaten)  Majalengka untuk 
mengunjungi pabrik gula dan menikmati perjalanan  menggunakan lori (kereta tebu 
berbahan bakar ampas tebu) dan gotrok  (kereta ditarik kuda atau sapi). Tapi 
pasca pembongkaran akhir tahun  90-an wisatawan minat khusus mulai beralih ke 
Kota Majalengka untuk  menikmati bangunan tua dan pabrik kecap tradisional,” 
ujar Asep Mulyana.
Selain pabrik kecap tradisional Maja Majalengka milik H. Sa’ad,  pabrik kecap 
tradisional yang juga menjadi buruan wisatawan adalah  pabrik kecap Segitiga 
(H. 
Lukman), Roda Bersayap, Matahari dan Ayam  Jago. “Kecap-kecap tersebut menjadi 
trendmarknya Majalengka yang hingga  kini masih terus bertahan dan disukai 
lidah 
masyarakat dengan tiga rasa  itu yang memiliki cita rasa kedelai hitamnya 
benar-benar terasa,” ujar  Asep.
Tidaklah sulit untuk berburu romantisme yang diciptakan pabrik kecap  
tradisional Majalengka. Karena dimanapun kita bertanya tempat ataupun  lokasi 
pabrik kecap, orang yang kita tanya akan memberikan petunjuk  dengan memberikan 
penawaran ke pabrik kecap mana kita akan berkunjung.  Diakui sejumlah wisatawan 
belumlah lengkap bila tidak membawa kecap  tradisional sebagai buah tangan 
untuk 
dibawa pulang seusai berkeliling  pabrik dan melihat langsung proses pembuatan. 
Bahkan tidak sedikit dari  wisatawan yang menggelar tikar untuk menjadikan 
kecap 
yang menawarkan  rasa asin, manis sedang, dan manis sebagai teman makan siang.
“Selain rasa kedelai yang kental, dua merek kecap asli Majalengka itu  juga 
tahan lama. Bahkan bisa bertahan sampai dua tahun. Padahal, kecap  tradisional 
Majalengka diolah tanpa menggunakan mesin dan  tanpa bahan  pengawet kimia, 
dimana masing-masing pemilik memiliki resep khusus  tradisional, namun 
mencampurkan garam dalam jumlah banyak pada olahan  kecap saat proses 
fermentasi,” ujar Agnes (23) salah seorang mahasiswi  IPB Bogor.
Sekadar tambahan informasi, pabrik-pabrik kecap tradisional  Majalengka 
memproduksi kecap dengan kemasan dalam botol berbagai ukuran.  Ada isi 140 
mililiter (ml), 250 ml, 300 ml, 500 ml, dan 600 ml. Harga  yang ditawarkan 
bervariasi, mulai Rp 3.400 hingga Rp 14.000 per botol  (Retno HY/”PRLM”)***
http://www.pikiran-rakyat.com/node/144007

 

Kirim email ke