Aya video liputan Global TV: Kecap Maja Menjangan - Global Siang (HD) Uploaded by febihariadi on Dec 15, 2010 Liputan Global TV - Berita Global Siang, tentang oleh-oleh/makanan khas kota Majalengka yaitu kecap Maja Menjangan (MM). Mulai dirintis pada tahun 1940 oleh H.Saad Wangsadidjaja. http://www.youtube.com/watch?v=PSXktTuqog8
2011/5/5 Ki Hasan <[email protected]> > Tah geuning aya alamat oge blogna sagala: > > Kecap Maja Menjangan - Kecap Asli Majalengka > Kantor Pusat Alamat: > Jl. Suha No.209&204 Majalengka. > Telp: (0233) 281580Web: http://majamenjangan.blogspot.com/ > > > 2011/5/5 JeBe <[email protected]> > >> >> >> jadi inget baheula 30 taun ka tukang basa keur bolon keneh >> jenatna (nini-aki) karesep teh kecap manjangan (menjangan eta) >> nu memang rasana teh khas. ngan ti mulai taun 90-an ka dieu tos tara >> mendakan deui >> kitu deui harita ge aya tauco nu jadi langganan jenatna teh, ngan poho >> deui lah merk-na teh naon >> oh enya... Djadjuli mun teu salah mah merk tautjo teh. eta mah kecap >> Menjangan sareng tautjo Djadjuli jadi andelan, sok aya wae na meja makan >> baheula mah pas aya keneh kecap eta, kecap2 pabrikan samodel abc, rasana >> teh aneh >> kusabab ayeuna mah rata2 kecap pabrikan, nyaa tungtungna mah letah ge >> "beradaptasi" kana rasa anyar. >> >> ke ah amun pareng ka majalengka deuk nyiar kecap eta. >> nuhun ingpona bah, sugan teh tos teu aya dikieuna eta kecap heheh... >> >> >> --> JeBe <-- >> >> >> ------------------------------ >> *From:* Ki Hasan <[email protected]> >> *To:* Ki Sunda <[email protected]> >> *Sent:* Thu, May 5, 2011 5:14:37 AM >> *Subject:* [kisunda] Wisata - Pabrik Kecap Majalengka? >> >> >> >> Where to Go In West Java >> Romantisme Pabrik Kecap Tradisional Majalengka >> Kamis, 05/05/2011 - 00:32 >> >> [image: RETNO HY/"PRLM"] >> RETNO HY/"PRLM" >> Kecap asli Majalengka yang dibuat resep khusus tradisional, diolah tanpa >> menggunakan mesin dan tanpa bahan pengawet kimia. Selain itu, rasa kedelai >> yang kental dan ada dua merek kecap asli Majalengka yang tahan lama.* >> >> SECARIK kertas berupa salinan komposisi bahan pembuatan kecap tergeletak >> di atas meja. Tertulis, kacang (kedele hitam) sebanyak 100 kg (kilo gram), >> gula (gula aren) 275 kg, garam 45kg, terigu 25 kg dan air 50 liter. Meskipun >> setiap harinya komposisi bahan-bahan untuk membuat kecap selalu tidak >> berubah, tapi Oman Taufiqqurrahman selalu setia mencatatnya disecarik kertas >> dan disusun dengan rapih. >> >> “Ini untuk bukti, kalau setiap hari komposisi kecap buatan kami tidak >> berubah, dan sayapun mencatat setiap hasil kecap yang dibuat dari 100 >> kilogram kedelai hitam setiap harinya,” ujar Kang Oman demikian panggilan >> akrab Oman Taufiqqurrahman, saat ditemui diruang kantor merangkap ruang >> pamer dan penjualan produk kecap Maja Menjangan. >> >> Bukan hanya carikan kertas komposisi dan hasil produksi yang tersusun >> rapi. Koran HU. “Pikiran Rakyat” yang sudah dilanggan (Alm) H. Sa’ad >> Wangsadidjaja, sang empunya pabrik kecap Maja Menjangan sejak puluhan tahun >> juga tersusun rapi di rak yang berdampingan dengan lemari tempat botol kecap >> yang tidak kalah tersusun rapi. >> >> Romantisme masa lalu Pabrik Kecap CV Maja Menjangan yang didirikan H. >> Sa’ad pada tahun 1940, berlokasi di Jalan Suha 209 Kota Majalengka, bukan >> hanya suasana ruangan kantor yang merangkap ruang pamer dan penjualan produk >> kecap. Tetapi bangunan rumah yang masih belum berubah sejak dibangun oleh >> keluarga H. Sa’ad dengan dinding batu alam sandstone berwarna >> kekuning-kuningan, juga menjadi daya tarik wisatawan minat khusus. >> >> Kota Majalengka yang selama ini dikenal dengan julukan Kota Pensiunan, >> dalam lima tahun terakhir mulai memiliki magnet sebagai daerah tujuan wisata >> minat khusus. Selain gedung-gedung tua peninggalan tuan tanah dan perkebunan >> tebu, pabrik-pabrik kecap tradisional yang hingga kini masih bertahan, juga >> menjadi salah satu tujuan berwisata. >> >> “Semula memang hanya mereka yang hendak mengadakan penelitian. Namun >> belakangan setelah televisi dan koran memberitakan, banyak komunitas ataupun >> wisatawan tersendiri yang datang berkunjung,” ujar Kang Oman. Layaknya >> perjalanan wisata minat khusus yang umumnya dilakukan, wisatawan akan >> disuguhi berbagai keterangan. Hebatnya, Kang Oman sangat pintar membuat >> wisatawan untuk tinggal berlama-lama pabrik. Sambil menghirup aroma gula >> aren diolah menjadi wedang (cair) untuk bahan campuran air hasil permentasi >> kedelai hitam, pengunjung akan diajak berkeliling. >> >> Biasanya waktu kunjungan antara pukul 9.00WIB hingga 17.00WIB atau >> bertepatan pada waktu kerja. Namun Kang Oman tidak akan menolak pengunjung >> yang datang sebelum jam kerja untuk melihat proses awal pembuatan kecap >> hingga akhir. Menurut Asep Mulyana, salah seorang kerabat H. Sa’ad yang kini >> menjadi staf di Bidang Kepariwisataan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa >> Barat, membanjirnya wisatawan minat khusus ke Kota Majalengka, khususnya ke >> pabrik kecap tradisional yang jumlahnya tinggal belasan pabrik, terjadi >> pasca pembongkaran Pabrik Gula Kadipaten berikut jalur rel kereta api >> pengangkut tebu dan dibukanya jalur Kereta Wisata Jakarta-Cirebon pada tahun >> 2007 lalu. >> >> “Semula, wisatawan minat khusus ataupun komunitas tertentu dari Jakarta, >> Bandung, dan bahkan dari luar negeri datang (kabupaten) Majalengka untuk >> mengunjungi pabrik gula dan menikmati perjalanan menggunakan lori (kereta >> tebu berbahan bakar ampas tebu) dan gotrok (kereta ditarik kuda atau sapi). >> Tapi pasca pembongkaran akhir tahun 90-an wisatawan minat khusus mulai >> beralih ke Kota Majalengka untuk menikmati bangunan tua dan pabrik kecap >> tradisional,” ujar Asep Mulyana. >> >> Selain pabrik kecap tradisional Maja Majalengka milik H. Sa’ad, pabrik >> kecap tradisional yang juga menjadi buruan wisatawan adalah pabrik kecap >> Segitiga (H. Lukman), Roda Bersayap, Matahari dan Ayam Jago. “Kecap-kecap >> tersebut menjadi trendmarknya Majalengka yang hingga kini masih terus >> bertahan dan disukai lidah masyarakat dengan tiga rasa itu yang memiliki >> cita rasa kedelai hitamnya benar-benar terasa,” ujar Asep. >> >> Tidaklah sulit untuk berburu romantisme yang diciptakan pabrik kecap >> tradisional Majalengka. Karena dimanapun kita bertanya tempat ataupun lokasi >> pabrik kecap, orang yang kita tanya akan memberikan petunjuk dengan >> memberikan penawaran ke pabrik kecap mana kita akan berkunjung. Diakui >> sejumlah wisatawan belumlah lengkap bila tidak membawa kecap tradisional >> sebagai buah tangan untuk dibawa pulang seusai berkeliling pabrik dan >> melihat langsung proses pembuatan. Bahkan tidak sedikit dari wisatawan yang >> menggelar tikar untuk menjadikan kecap yang menawarkan rasa asin, manis >> sedang, dan manis sebagai teman makan siang. >> >> “Selain rasa kedelai yang kental, dua merek kecap asli Majalengka itu juga >> tahan lama. Bahkan bisa bertahan sampai dua tahun. Padahal, kecap >> tradisional Majalengka diolah tanpa menggunakan mesin dan tanpa bahan >> pengawet kimia, dimana masing-masing pemilik memiliki resep khusus >> tradisional, namun mencampurkan garam dalam jumlah banyak pada olahan kecap >> saat proses fermentasi,” ujar Agnes (23) salah seorang mahasiswi IPB Bogor. >> >> Sekadar tambahan informasi, pabrik-pabrik kecap tradisional Majalengka >> memproduksi kecap dengan kemasan dalam botol berbagai ukuran. Ada isi 140 >> mililiter (ml), 250 ml, 300 ml, 500 ml, dan 600 ml. Harga yang ditawarkan >> bervariasi, mulai Rp 3.400 hingga Rp 14.000 per botol (Retno HY/”PRLM”)*** >> >> http://www.pikiran-rakyat.com/node/144007 >> >
