Where to Go In West Java
Romantisme Pabrik Kecap Tradisional Majalengka
Kamis, 05/05/2011 - 00:32

 [image: RETNO HY/"PRLM"]
RETNO HY/"PRLM"
Kecap asli Majalengka yang dibuat resep khusus tradisional, diolah tanpa
menggunakan mesin dan tanpa bahan pengawet kimia. Selain itu, rasa kedelai
yang kental dan ada dua merek kecap asli Majalengka yang tahan lama.*

SECARIK kertas berupa salinan komposisi bahan pembuatan kecap tergeletak di
atas meja. Tertulis, kacang (kedele hitam) sebanyak 100 kg (kilo gram), gula
(gula aren) 275 kg, garam 45kg, terigu 25 kg dan air 50 liter. Meskipun
setiap harinya komposisi bahan-bahan untuk membuat kecap selalu tidak
berubah, tapi Oman Taufiqqurrahman selalu setia mencatatnya disecarik kertas
dan disusun dengan rapih.

“Ini untuk bukti, kalau setiap hari komposisi kecap buatan kami tidak
berubah, dan sayapun mencatat setiap hasil kecap yang dibuat dari 100
kilogram kedelai hitam setiap harinya,” ujar Kang Oman demikian panggilan
akrab Oman Taufiqqurrahman, saat ditemui diruang kantor merangkap ruang
pamer dan penjualan produk kecap Maja Menjangan.

Bukan hanya carikan kertas komposisi dan hasil produksi yang tersusun rapi.
Koran HU. “Pikiran Rakyat” yang sudah dilanggan (Alm) H. Sa’ad
Wangsadidjaja, sang empunya pabrik kecap Maja Menjangan sejak puluhan tahun
juga tersusun rapi di rak yang berdampingan dengan lemari tempat botol kecap
yang tidak kalah tersusun rapi.

Romantisme masa lalu Pabrik Kecap CV Maja Menjangan yang didirikan H. Sa’ad
pada tahun 1940, berlokasi di Jalan Suha 209 Kota Majalengka, bukan hanya
suasana ruangan kantor yang merangkap ruang pamer dan penjualan produk
kecap. Tetapi bangunan rumah yang masih belum berubah sejak dibangun oleh
keluarga H. Sa’ad dengan dinding batu alam sandstone berwarna
kekuning-kuningan, juga menjadi daya tarik wisatawan minat khusus.

Kota Majalengka yang selama ini dikenal dengan julukan Kota Pensiunan, dalam
lima tahun terakhir mulai memiliki magnet sebagai daerah tujuan wisata minat
khusus. Selain gedung-gedung tua peninggalan tuan tanah dan perkebunan tebu,
pabrik-pabrik kecap tradisional yang hingga kini masih bertahan, juga
menjadi salah satu tujuan berwisata.

“Semula memang hanya mereka yang hendak mengadakan penelitian. Namun
belakangan setelah televisi dan koran memberitakan, banyak komunitas ataupun
wisatawan tersendiri yang datang berkunjung,” ujar Kang Oman. Layaknya
perjalanan wisata minat khusus yang umumnya dilakukan, wisatawan akan
disuguhi berbagai keterangan. Hebatnya, Kang Oman sangat pintar membuat
wisatawan untuk tinggal berlama-lama pabrik. Sambil menghirup aroma gula
aren diolah menjadi wedang (cair) untuk bahan campuran air hasil permentasi
kedelai hitam, pengunjung akan diajak berkeliling.

Biasanya waktu kunjungan antara pukul 9.00WIB hingga 17.00WIB atau
bertepatan pada waktu kerja. Namun Kang Oman tidak akan menolak pengunjung
yang datang sebelum jam kerja untuk melihat proses awal pembuatan kecap
hingga akhir. Menurut Asep Mulyana, salah seorang kerabat H. Sa’ad yang kini
menjadi staf di Bidang Kepariwisataan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa
Barat, membanjirnya wisatawan minat khusus ke Kota Majalengka, khususnya ke
pabrik kecap tradisional yang jumlahnya tinggal belasan pabrik, terjadi
pasca pembongkaran Pabrik Gula Kadipaten berikut jalur rel kereta api
pengangkut tebu dan dibukanya jalur Kereta Wisata Jakarta-Cirebon pada tahun
2007 lalu.

“Semula, wisatawan minat khusus ataupun komunitas tertentu dari Jakarta,
Bandung, dan bahkan dari luar negeri datang (kabupaten) Majalengka untuk
mengunjungi pabrik gula dan menikmati perjalanan menggunakan lori (kereta
tebu berbahan bakar ampas tebu) dan gotrok (kereta ditarik kuda atau sapi).
Tapi pasca pembongkaran akhir tahun 90-an wisatawan minat khusus mulai
beralih ke Kota Majalengka untuk menikmati bangunan tua dan pabrik kecap
tradisional,” ujar Asep Mulyana.

Selain pabrik kecap tradisional Maja Majalengka milik H. Sa’ad, pabrik kecap
tradisional yang juga menjadi buruan wisatawan adalah pabrik kecap Segitiga
(H. Lukman), Roda Bersayap, Matahari dan Ayam Jago. “Kecap-kecap tersebut
menjadi trendmarknya Majalengka yang hingga kini masih terus bertahan dan
disukai lidah masyarakat dengan tiga rasa itu yang memiliki cita rasa
kedelai hitamnya benar-benar terasa,” ujar Asep.

Tidaklah sulit untuk berburu romantisme yang diciptakan pabrik kecap
tradisional Majalengka. Karena dimanapun kita bertanya tempat ataupun lokasi
pabrik kecap, orang yang kita tanya akan memberikan petunjuk dengan
memberikan penawaran ke pabrik kecap mana kita akan berkunjung. Diakui
sejumlah wisatawan belumlah lengkap bila tidak membawa kecap tradisional
sebagai buah tangan untuk dibawa pulang seusai berkeliling pabrik dan
melihat langsung proses pembuatan. Bahkan tidak sedikit dari wisatawan yang
menggelar tikar untuk menjadikan kecap yang menawarkan rasa asin, manis
sedang, dan manis sebagai teman makan siang.

“Selain rasa kedelai yang kental, dua merek kecap asli Majalengka itu juga
tahan lama. Bahkan bisa bertahan sampai dua tahun. Padahal, kecap
tradisional Majalengka diolah tanpa menggunakan mesin dan tanpa bahan
pengawet kimia, dimana masing-masing pemilik memiliki resep khusus
tradisional, namun mencampurkan garam dalam jumlah banyak pada olahan kecap
saat proses fermentasi,” ujar Agnes (23) salah seorang mahasiswi IPB Bogor.

Sekadar tambahan informasi, pabrik-pabrik kecap tradisional Majalengka
memproduksi kecap dengan kemasan dalam botol berbagai ukuran. Ada isi 140
mililiter (ml), 250 ml, 300 ml, 500 ml, dan 600 ml. Harga yang ditawarkan
bervariasi, mulai Rp 3.400 hingga Rp 14.000 per botol (Retno HY/”PRLM”)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/144007

Kirim email ke