Tah geuning aya alamat oge blogna sagala:

Kecap Maja Menjangan - Kecap Asli Majalengka
Kantor Pusat Alamat:
Jl. Suha No.209&204 Majalengka.
Telp: (0233) 281580Web: http://majamenjangan.blogspot.com/


2011/5/5 JeBe <[email protected]>

>
>
> jadi inget baheula 30 taun ka tukang basa keur bolon keneh
> jenatna (nini-aki) karesep teh kecap manjangan (menjangan eta)
> nu memang rasana teh khas. ngan ti mulai taun 90-an ka dieu tos tara
> mendakan deui
> kitu deui harita ge aya tauco nu jadi langganan jenatna teh, ngan poho deui
> lah merk-na teh naon
> oh enya... Djadjuli mun teu salah mah merk tautjo teh. eta mah kecap
> Menjangan sareng tautjo Djadjuli jadi andelan, sok aya wae na meja makan
> baheula mah pas aya keneh kecap eta, kecap2 pabrikan samodel abc, rasana
> teh aneh
> kusabab ayeuna mah rata2 kecap pabrikan, nyaa tungtungna mah letah ge
> "beradaptasi" kana rasa anyar.
>
> ke ah amun pareng ka majalengka deuk nyiar kecap eta.
> nuhun ingpona bah, sugan teh tos teu aya dikieuna eta kecap heheh...
>
>
> --> JeBe <--
>
>
> ------------------------------
> *From:* Ki Hasan <[email protected]>
> *To:* Ki Sunda <[email protected]>
> *Sent:* Thu, May 5, 2011 5:14:37 AM
> *Subject:* [kisunda] Wisata - Pabrik Kecap Majalengka?
>
>
>
> Where to Go In West Java
> Romantisme Pabrik Kecap Tradisional Majalengka
> Kamis, 05/05/2011 - 00:32
>
>  [image: RETNO HY/"PRLM"]
> RETNO HY/"PRLM"
> Kecap asli Majalengka yang dibuat resep khusus tradisional, diolah tanpa
> menggunakan mesin dan tanpa bahan pengawet kimia. Selain itu, rasa kedelai
> yang kental dan ada dua merek kecap asli Majalengka yang tahan lama.*
>
> SECARIK kertas berupa salinan komposisi bahan pembuatan kecap tergeletak di
> atas meja. Tertulis, kacang (kedele hitam) sebanyak 100 kg (kilo gram), gula
> (gula aren) 275 kg, garam 45kg, terigu 25 kg dan air 50 liter. Meskipun
> setiap harinya komposisi bahan-bahan untuk membuat kecap selalu tidak
> berubah, tapi Oman Taufiqqurrahman selalu setia mencatatnya disecarik kertas
> dan disusun dengan rapih.
>
> “Ini untuk bukti, kalau setiap hari komposisi kecap buatan kami tidak
> berubah, dan sayapun mencatat setiap hasil kecap yang dibuat dari 100
> kilogram kedelai hitam setiap harinya,” ujar Kang Oman demikian panggilan
> akrab Oman Taufiqqurrahman, saat ditemui diruang kantor merangkap ruang
> pamer dan penjualan produk kecap Maja Menjangan.
>
> Bukan hanya carikan kertas komposisi dan hasil produksi yang tersusun rapi.
> Koran HU. “Pikiran Rakyat” yang sudah dilanggan (Alm) H. Sa’ad
> Wangsadidjaja, sang empunya pabrik kecap Maja Menjangan sejak puluhan tahun
> juga tersusun rapi di rak yang berdampingan dengan lemari tempat botol kecap
> yang tidak kalah tersusun rapi.
>
> Romantisme masa lalu Pabrik Kecap CV Maja Menjangan yang didirikan H. Sa’ad
> pada tahun 1940, berlokasi di Jalan Suha 209 Kota Majalengka, bukan hanya
> suasana ruangan kantor yang merangkap ruang pamer dan penjualan produk
> kecap. Tetapi bangunan rumah yang masih belum berubah sejak dibangun oleh
> keluarga H. Sa’ad dengan dinding batu alam sandstone berwarna
> kekuning-kuningan, juga menjadi daya tarik wisatawan minat khusus.
>
> Kota Majalengka yang selama ini dikenal dengan julukan Kota Pensiunan,
> dalam lima tahun terakhir mulai memiliki magnet sebagai daerah tujuan wisata
> minat khusus. Selain gedung-gedung tua peninggalan tuan tanah dan perkebunan
> tebu, pabrik-pabrik kecap tradisional yang hingga kini masih bertahan, juga
> menjadi salah satu tujuan berwisata.
>
> “Semula memang hanya mereka yang hendak mengadakan penelitian. Namun
> belakangan setelah televisi dan koran memberitakan, banyak komunitas ataupun
> wisatawan tersendiri yang datang berkunjung,” ujar Kang Oman. Layaknya
> perjalanan wisata minat khusus yang umumnya dilakukan, wisatawan akan
> disuguhi berbagai keterangan. Hebatnya, Kang Oman sangat pintar membuat
> wisatawan untuk tinggal berlama-lama pabrik. Sambil menghirup aroma gula
> aren diolah menjadi wedang (cair) untuk bahan campuran air hasil permentasi
> kedelai hitam, pengunjung akan diajak berkeliling.
>
> Biasanya waktu kunjungan antara pukul 9.00WIB hingga 17.00WIB atau
> bertepatan pada waktu kerja. Namun Kang Oman tidak akan menolak pengunjung
> yang datang sebelum jam kerja untuk melihat proses awal pembuatan kecap
> hingga akhir. Menurut Asep Mulyana, salah seorang kerabat H. Sa’ad yang kini
> menjadi staf di Bidang Kepariwisataan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa
> Barat, membanjirnya wisatawan minat khusus ke Kota Majalengka, khususnya ke
> pabrik kecap tradisional yang jumlahnya tinggal belasan pabrik, terjadi
> pasca pembongkaran Pabrik Gula Kadipaten berikut jalur rel kereta api
> pengangkut tebu dan dibukanya jalur Kereta Wisata Jakarta-Cirebon pada tahun
> 2007 lalu.
>
> “Semula, wisatawan minat khusus ataupun komunitas tertentu dari Jakarta,
> Bandung, dan bahkan dari luar negeri datang (kabupaten) Majalengka untuk
> mengunjungi pabrik gula dan menikmati perjalanan menggunakan lori (kereta
> tebu berbahan bakar ampas tebu) dan gotrok (kereta ditarik kuda atau sapi).
> Tapi pasca pembongkaran akhir tahun 90-an wisatawan minat khusus mulai
> beralih ke Kota Majalengka untuk menikmati bangunan tua dan pabrik kecap
> tradisional,” ujar Asep Mulyana.
>
> Selain pabrik kecap tradisional Maja Majalengka milik H. Sa’ad, pabrik
> kecap tradisional yang juga menjadi buruan wisatawan adalah pabrik kecap
> Segitiga (H. Lukman), Roda Bersayap, Matahari dan Ayam Jago. “Kecap-kecap
> tersebut menjadi trendmarknya Majalengka yang hingga kini masih terus
> bertahan dan disukai lidah masyarakat dengan tiga rasa itu yang memiliki
> cita rasa kedelai hitamnya benar-benar terasa,” ujar Asep.
>
> Tidaklah sulit untuk berburu romantisme yang diciptakan pabrik kecap
> tradisional Majalengka. Karena dimanapun kita bertanya tempat ataupun lokasi
> pabrik kecap, orang yang kita tanya akan memberikan petunjuk dengan
> memberikan penawaran ke pabrik kecap mana kita akan berkunjung. Diakui
> sejumlah wisatawan belumlah lengkap bila tidak membawa kecap tradisional
> sebagai buah tangan untuk dibawa pulang seusai berkeliling pabrik dan
> melihat langsung proses pembuatan. Bahkan tidak sedikit dari wisatawan yang
> menggelar tikar untuk menjadikan kecap yang menawarkan rasa asin, manis
> sedang, dan manis sebagai teman makan siang.
>
> “Selain rasa kedelai yang kental, dua merek kecap asli Majalengka itu juga
> tahan lama. Bahkan bisa bertahan sampai dua tahun. Padahal, kecap
> tradisional Majalengka diolah tanpa menggunakan mesin dan tanpa bahan
> pengawet kimia, dimana masing-masing pemilik memiliki resep khusus
> tradisional, namun mencampurkan garam dalam jumlah banyak pada olahan kecap
> saat proses fermentasi,” ujar Agnes (23) salah seorang mahasiswi IPB Bogor.
>
> Sekadar tambahan informasi, pabrik-pabrik kecap tradisional Majalengka
> memproduksi kecap dengan kemasan dalam botol berbagai ukuran. Ada isi 140
> mililiter (ml), 250 ml, 300 ml, 500 ml, dan 600 ml. Harga yang ditawarkan
> bervariasi, mulai Rp 3.400 hingga Rp 14.000 per botol (Retno HY/”PRLM”)***
>
> http://www.pikiran-rakyat.com/node/144007
>    
>

Kirim email ke