Ngamumule Basa Sunda, Mageuhan Jati Diri Bangsa  [image:
PDF]<http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=411861>
 [image:
Print]<http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/index2.php?option=com_content&task=view&id=411861&pop=1&page=0>
  Monday,
11 July 2011   BANDUNG – Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) kembali
menggelar Kongres Bahasa Sunda (KBS) XI di Hotel Puncak Pass,Kabupaten
Bogor, mulai hari ini (11/7) sampai 13 Juli 2011.Rencananya kongres ini akan
dibuka Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.

Ketua Panitia KBS XI Idin Baidillah mengatakan, kongres akan diisi masukan
dan pandangan para ahli bahasa Sunda serta evaluasi penggunaan bahasa Sunda
di masyarakat. “Kongres yang digelar tiap lima tahunan sejak 1954 ini untuk
mencari perkembangan terbaru dalam hal bahasa Sunda.

Misalnya bagaimana cara menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi
seharihari,” ujar Idin kemarin. Menurutnya, bahasa Sunda sebagai bahasa rasa
harus bisa masuk ke pikiran dan sanubari masyarakat Sunda, karena bahasa
merupakan salah satu bentuk representasi darimana seseorang itu berasal.
Sejumlah pakar bahasa dihadirkan untuk menyampaikan makalah seperti Ajip
Rosidi,Ganjar Kurnia (Rektor Unpad), Iskandarwassid (Guru Besar UPI
Bandung), serta Yus Rusyana (Guru Besar UPI Bandung).

Dia berharap dari hasil pemikiran para pakar inilah akan melahirkan solusi
untuk permasalahan bahasa Sunda saat ini.Kongres bahasa Sunda ini menentukan
masa depan eksistensi bahasa Sunda di masyarakat. Kongres ini juga membahas
persoalan yang dihadapi bahasa Sunda di setiap daerah. Selain itu juga
mengenai bahasa, sastra, aksara Sunda, serta kebijakan pemerintah terhadap
bahasa Sunda.

“Demi mencapai tujuan itu,kami bersepakat memberi tema kegiatan ini dengan
Ngamumule Basa Sunda, Mageuhan Jati Diri Bangsa (Memuliakan Bahasa Sunda,
Menguatkan Jati Diri Bangsa),”ungkapnya. Di Jawa Barat,upaya pemuliaan
bahasa daerah ini sudah diatur dalam Perda No 5/2003 tentang Bahasa dan
Aksara Daerah.Namun perda tersebut belum sepenuhnya berjalan, terutama
implementasi di lapangan.

“Bahasa daerah merupakan jati diri dan ciri dari suatu bangsa. Jika bahasa
daerah hilang, maka bangsa pun kehilangan jati diri,”ujar Idin. Dia
menambahkan KBS pertama kali digelar tahun 1954 di Bandung.Selanjutnya
digelar setiap dua tahun yakni 1956, 1958, dan 1961. Setelah sempat vakum
sekitar 20 tahunan, KBS V kembali digelar tahun 1988 di Cipayung, Bogor.

“Kemudian digelar lima tahun sekali dengan mengambil tempat di Bandung,
Garut, dan Subang, selain di Bogor. Kongres kali ini diikuti 250 peserta
dari berbagai daerah di Jabar.Sementara hasil kongres berupa rekomendasi
akan diserahkan kepada Pemprov Jabar,”imbuhnya. atep abdillah kurniawan
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/411861/

Kirim email ke