"Pasantren" Benteng Terakhir Bahasa Sunda
Selasa, 12/07/2011 - 09:36
  [image: ERIYANTI/"PRLM"]
ERIYANTI/"PRLM"
PEMIMPIN Redaksi HU Pikiran Rakyat H. Budiana (kanan) dan Taufik Faturrohman
(kiri) saat menyampaikan materi pada sidang komisi C bidang media, Kongres
Basa Sunda, di Cipayung, Bogor, Selasa (12/7).*

BOGOR, (PRLM).- "Pasantren" satu-satunya benteng terakhir yang diharapkan
akan menjaga keberlangsungan bahasa Sunda. Di pesantren komunikasi masih
menggunakan bahasa Sunda. Terjemahan sumber-sumber pengajian seperti
sapinah. Sulam taopek, dll menggunakan bahasa Sunda. Walaupun sudah banyak
khutbah yang disamapikan dalam bahasa Indonesia.

Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Ganjar Kurnia menyampaikan
hal itu pada Kongres Basa Sunda IX di Hotel Jaya Raya, Cipayung, Bogor,
Selasa (12/7).

Ganjar mengatakan, ada banyak yang dapat dilakukan untuk ngamumule basa
Sunda, mageuhan diri bangsa, antara lain merevolusi kurikulum pendidikan
basa Sunda, mengubah metode pengajaran dari bahasa Sunda terkesan sulit
menjadi mudah.

Caranya, kata Ganjar, dengan mengajarkan bahasa Sunda "beuki lila bueki
resep" bukan "beuki lila beuki teu resep". Seperti mengajak siswa langsung
ngawih. Isi kawih yang mendidik, bukan hanya akan menyenangkan siswa dalam
mempelajari bahasa Sunda tetapi juga akan mengubah perilaku anak.
(A-148/A-147)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/151624

Kirim email ke