Kaliwat sumberna:
http://www.pelitaonline.com/read/politik/internasional/16/10277/lain-presiden-sby-lain-presiden-ahmadinejad/

2011/11/28 Ki Hasan <[email protected]>

>
> Kamis, 24 November 2011IranLain Presiden Ahmadinejad, Lain Presiden SBY 
> Ternyata
> ada presiden yang menikahkan anaknya dengan sangat sederhana dan bersahaja.
> Hal ini berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden SBY yang
> menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar. Padahal Indonesia tidak lebih kaya
> dari Iran.
> Suasana pernikahan anak presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad. (foto: paaduu)
> *
> Teheran, PelitaOnline*– Siapa yang tidak mengenal Presiden Iran, Mahmud
> Ahmadinejad. Selain sebagai seorang pemimpin yang sangat berani, ia juga
> dikenal sebagai pemimpin yang sangat sederhana dan bersahaja.
>
> Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu tampak saat pertama kali menduduki
> kantor kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet istana Iran yang
> sangat tinggi nilainya kepada masjid di Teheran dan menggantikannya dengan
> karpet biasa yang mudah dibersihkan.
>
> Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu tampak  juga saat ia menikahkan
> putranya, Alireza Ahmadinejad tiga tahun yang lalu. Setelah ditelusuri,
> ternyata pernikahan tersebut hanya menelan biaya 3,5 juta Toman (setara
> dengan USD 3.500/ Rp 28 Juta). Meski terbilang sederhana, pernikahan ini
> berlangsung dengan khidmat dan syahdu.
>
> Hal ini sangat berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden
> Indonesia Ibas-Aliyya yang diselenggarakan hari ini (24/11). LSM Bendera
> mencatat bahwa Biaya pernikahan Ibas-Aliya menghabiskan dana sebesar Rp 12
> Miliar. Sementara itu, tabloid Cek dan Ricek melaporkan prosesi pernikahan
> ini menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar.
>
> Pernikahan Ibas-Aliya juga berdampak negatif terhadap masyarakat.
> Pernikahan ini telah merampas hak 300 siswa sekolah alam Cikeas dan SDN 1
> Cipanas karena diliburkan, menghilangkan nafkah 1000 pedagang Pasar Cipanas
> dan 1000 angkutan umum Cipanas serta belasan ribu masyarakat yang akan
> berbelanja di Pasar Cipanas yang  menggunakan angkutan umum.
>
> Hal berbeda akan kita temukan pada pernikahan putra Ahmadinejad
> sebagaimana dilukiskan oleh Seorang *blogger*, Javad Matin. Matin
> melukiskan prosesi pernikahan itu sebagai berikut:
>
> “SAAT itu, pada Rabu malam ketika telepon saya berdering, Saya diundang ke
> upacara pernikahan sahabat baik saya, Alireza, yang akan berlangsung malam
> berikutnya.
>
> Saya tahu setiap kali Idul Ghadir (Hari libur Islam di Iran) datang
> keluarga itu pergi ke *beyt* [Istana kepresidenan] dan dia akan
> dinikahkan dengan keponakan syahid Kaveh [tentara Iran, Garda Revolusi, dan
> anggota Basij yang tewas dalam perang Irak biasa disebut syahid].
>
> Kamis malam pukul sembilan, saya pergi ke istana kepresidenan. Dari luar
> tempat itu, semua tampak biasa saja, sampai-sampai saya mengira bahwa saya
> telah datang ke tempat yang salah. Sepertinya pernikahan putra seorang
> presiden tidak diadakan di sana.
>
> Saya memasuki taman dan sadar bahwa saya harus mematikan
> telepon. Sekelompok orang berbaris untuk salat. Kemudian saya memasuki
> aula. Sejumlah meja kosong karena tamu yang duduk sedang pergi untuk
> melaksanakan salat. Buah-buahan dan kue, sebotol air mineral, beberapa
> piring dan pisau telah ditata di meja untuk para tamu.
>
> Saya menanyakan keberadaaan “doktor” [sebutan untuk Ahmadinejad dari para
> pendukungnya karena dia adalah doktor di bidang teknik sipil dan manajemen
> lalu lintas transportasi]. Saya diberi tahu bahwa dia sedang salat di
> halaman belakang.
>
> Karena kurangnya ruangan, beberapa tamu pergi menuju halaman belakang.
> Saya salat bersama, seorang ajudan senior kepresidenan, Mojtaba Samareh
> Hashemi <http://en.wikipedia.org/wiki/Mojtaba_Samareh_Hashemi>. Kemudian
> saya kembali ke aula.
>
> Sang doktor sedang duduk di meja pertama di sebelah ayah pengantin wanita.
> Setelah bersalaman hangat dengannya dan beberapa pejabat lain, saya duduk
> di salah satu meja.
>
> Kemudian sang  pengantin pria memasuki aula. Dia mengucapkan salam kepada
> setiap tamu dan duduk di samping doktor dan ayah mempelai wanita, Haj Agha
> Akbari.
>
> Ketua panitia penyelenggara pernikahan, Mr. Kheirkhah, mengatakan betapa
> doktor begitu perhatian terhadap resepsi pernikahan ini sampai pada hal-hal
> yang detailnya. Dia mengatakan bahwa doktor hanya memesan satu jenis
> makanan dan membayar 3,5 juta toman [sekitar 3.500 dolar / Rp 28 juta]
> untuk biaya resepsi.
>
> Dia menambahkan bahwa jumlah tamu pria sebanyak 180 orang. Saya hanya
> melihat sedikit pejabat negara. Saya pernah ke pernikahan pejabat publik
> sebelumnya dan di sana tidak hanya ada pengeluaran mewah tapi juga banyak
> menteri dan pejabat negara yang hadir.
>
> Tapi apa yang saya lihat disini benar-benar penuh dengan kesederhanaan.
> Ini adalah resepsi rakyat, padahal ayah sang pengatin pria adalah orang
> nomor satu di negeri ini.
>
> Dalam pesta tersebut, aura kesederhanaan sangat terasa di mana-mana. Hal
> tersebut terbukti dari cara tamu dijamu. Hal ini juga bisa dilihat dari
> mobil yang digunakan untuk mengantar pengantin dan perjamuan itu
> sendiri yang sederhana namun lezat dan harum.
>
> Pembawa acara resepsi meledek Alireza tentang subsidi dan 1 juta toman
> yang akan diterima anaknya kelak, yang membuat doktor tersenyum.
>
> Upacara telah berakhir, tetapi sang doktor dan ayahnya pengantin wanita
> berdiri di pintu gerbang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada para tamu.
>
> Menarik melihat bagaimana sang doktor melayani anak berumur 7-8 tahun yang
> berteriak “Paman! Paman!” kepadanya. Dia memeluk dan memperlakukannya
> dengan baik.
>
> Semua orang telah pulang dan sang doktor menuju dapur untuk menyampaikan
> terima kasih kepada mereka yang bekerja untuk resepsi. Ketika semua orang
> telah pergi, pengantin pria dan wanita masuk ke mobil mereka tanpa ada
> formalitas tambahan dan pulang ke rumah dengan keluarga.
>
> Saya menyampaikan selamat kepada sahabat saya, Alireza,sang doktor,
> keluarganya yang terhormat, dan juga keluarga syahid Mahmoud Kaveh. Semoga
> mereka memiliki kehidupan yang baik di bawah bayangan Imam Zaman.
>
> Sudah menjadi hak setiap orang untuk melaksanakan pernikahan dengan
> kemewahan, terlebih lagi menggunakan uang pribadi. Namun, sebagaimana
> nasihat Ali bin Abi Thalib, seorang pemimpin memiliki kekhususannya
> tersendiri. Dengan tanggung jawab yang lebih besar, dia harus bisa
> menyesuaikan dan merasakan kehidupan rakyat terbawah yang dipimpinnya.”
>
> Apakah anda setuju dengan nasihat Imam Ali bin Abi Thalib di atas wahai
> bapak SBY?
>
>
>
>
>
>
>
> [rfel / Parid Ridwanuddin]
> *dilihat 3055 kali*.
>
>

Kirim email ke