Heueh nyah, geus jadi tabiat jalma sakabeh Indonesia (kaasup uing oge meureun) 
utamana pajabat luhur atawa pajabat handap. Gelo hormat jeung Gelo kakayaan. 
Hayang dialem jeung dipupuja, geus sagalana pang "AINGNA". Sagala palayanan 
jeung fasilitas pikeun maranehanana anu ngajabat sok aya tulisan SVIP atawa VIP 
boh asup ka hotel atawa asup ka rumah sakit. Kamana-mana mun ngayakeun dines 
dikawal, super ekstra ketat, jalan longsong jeung lancar. Ngayakeun acara 
nikahkeun lain ceunah jeung beja sok meakeun duitna milyaran rupiah, mun 
dibagikeun ka desa-desa pikeun ngembangkeun jeung ngaberdayakeun masyarakat 
desa, pastina kara 10 desa kacumponan (per desa 1 milyar). Heueuh duitna duit 
manehna, teuing meunang timana teu kudu nyaho urang mah. Ari ningali kitu sok 
jadi panas tiris awak Mang Ujang, kusabab boroning hayang mestakeun anakna 
kawin, mayar duit administrasi KUA oge rada bingung. 
Sok hayang seuri nempo laku lampah para INOHONG / PAJABAT, mun maranehna pidato 
dihareupeun rahayat sok ngumbar janji. Mangrupa janji rek mantu para petani, 
rek mantu para nalayan, rek mantu fasilitas pendidikan jeung kasehatan unggal 
desa jeung sajabana. Mun ngetung presentase janji 100% anu diumbar, anu 
direalisasikeun ngan 5%,  sesana 95% diumbar deui dina waktu Pemilu atawa 
Pemilu KADA tahun hareup. Eta oge mun kapilih ku rahayat.
Mun nempo kana fasilitas para pajabat "SVIP & VIP", kira-kira mun aya pajabat 
modar terus asup liang kubur tuluy dijemput ku Malaikat, naha Malaikat 
make pejemputan "SVIP & VIP"?  Sugan kitu para Malaikat pinuh hidmat jeung 
ngabaris ngajemput pajabat si Pulan di alam kubur.
Allah SWT berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk 
kedalam kubur, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu” 
(At-Takatsur: 1-3)
 
   
 

Dari: Oman Abdurahman <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]> 
Cc: Ki Sunda <[email protected]> 
Dikirim: Senin, 28 November 2011 12:50
Judul: Re: [kisunda] Dua Resepsi Pernikahan?


  
Ngaranna teh beda kumis. Titenan wae nu hiji teu
kumisan, nu hiji deui kumisan badag :)

Sent from my iPhone 
Oman Abdurahman

On 28 Nov 2011, at 12:47, Ki Hasan <[email protected]> wrote:


  
>
>
>Kamis, 24 November 2011
>Iran
>Lain Presiden Ahmadinejad, Lain Presiden SBY 
>Ternyata ada presiden yang menikahkan anaknya dengan sangat sederhana dan 
>bersahaja. Hal ini berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden SBY 
>yang menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar. Padahal Indonesia tidak lebih 
>kaya dari Iran.
>Suasana pernikahan anak presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad. (foto: paaduu)
>Teheran, PelitaOnline– Siapa yang tidak mengenal Presiden Iran, Mahmud 
>Ahmadinejad. Selain sebagai seorang pemimpin yang sangat berani, ia juga 
>dikenal sebagai pemimpin yang sangat sederhana dan bersahaja.
>
>Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu tampak saat pertama kali menduduki 
>kantor kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet istana Iran yang sangat 
>tinggi nilainya kepada masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet 
>biasa yang mudah dibersihkan.
>
>Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu tampak  juga saat ia menikahkan 
>putranya, Alireza Ahmadinejad tiga tahun yang lalu. Setelah ditelusuri, 
>ternyata pernikahan tersebut hanya menelan biaya 3,5 juta Toman (setara dengan 
>USD 3.500/ Rp 28 Juta). Meski terbilang sederhana, pernikahan ini berlangsung 
>dengan khidmat dan syahdu.
>
>Hal ini sangat berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden 
>Indonesia Ibas-Aliyya yang diselenggarakan hari ini (24/11). LSM Bendera 
>mencatat bahwa Biaya pernikahan Ibas-Aliya menghabiskan dana sebesar Rp 12 
>Miliar. Sementara itu, tabloid Cek dan Ricek melaporkan prosesi pernikahan ini 
>menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar.
>
>Pernikahan Ibas-Aliya juga berdampak negatif terhadap masyarakat. Pernikahan 
>ini telah merampas hak 300 siswa sekolah alam Cikeas dan SDN 1 Cipanas karena 
>diliburkan, menghilangkan nafkah 1000 pedagang Pasar Cipanas dan 1000 angkutan 
>umum Cipanas serta belasan ribu masyarakat yang akan berbelanja di Pasar 
>Cipanas yang  menggunakan angkutan umum.
>
>Hal berbeda akan kita temukan pada pernikahan putra Ahmadinejad sebagaimana 
>dilukiskan oleh Seorang blogger, Javad Matin. Matin melukiskan prosesi 
>pernikahan itu sebagai berikut:
>
>“SAAT itu, pada Rabu malam ketika telepon saya berdering, Saya diundang ke 
>upacara pernikahan sahabat baik saya, Alireza, yang akan berlangsung malam 
>berikutnya.
>
>Saya tahu setiap kali Idul Ghadir (Hari libur Islam di Iran) datang keluarga 
>itu pergi ke beyt [Istana kepresidenan] dan dia akan dinikahkan dengan 
>keponakan syahid Kaveh [tentara Iran, Garda Revolusi, dan anggota Basij yang 
>tewas dalam perang Irak biasa disebut syahid].
>
>Kamis malam pukul sembilan, saya pergi ke istana kepresidenan. Dari luar 
>tempat itu, semua tampak biasa saja, sampai-sampai saya mengira bahwa saya 
>telah datang ke tempat yang salah. Sepertinya pernikahan putra seorang 
>presiden tidak diadakan di sana.
>
>Saya memasuki taman dan sadar bahwa saya harus mematikan telepon. Sekelompok 
>orang berbaris untuk salat. Kemudian saya memasuki aula. Sejumlah meja kosong 
>karena tamu yang duduk sedang pergi untuk melaksanakan salat. Buah-buahan dan 
>kue, sebotol air mineral, beberapa piring dan pisau telah ditata di meja untuk 
>para tamu.
>
>Saya menanyakan keberadaaan “doktor” [sebutan untuk Ahmadinejad dari para 
>pendukungnya karena dia adalah doktor di bidang teknik sipil dan manajemen 
>lalu lintas transportasi]. Saya diberi tahu bahwa dia sedang salat di halaman 
>belakang.
>
>Karena kurangnya ruangan, beberapa tamu pergi menuju halaman belakang. Saya 
>salat bersama, seorang ajudan senior kepresidenan, Mojtaba Samareh Hashemi. 
>Kemudian saya kembali ke aula.
>
>Sang doktor sedang duduk di meja pertama di sebelah ayah pengantin wanita. 
>Setelah bersalaman hangat dengannya dan beberapa pejabat lain, saya duduk di 
>salah satu meja.
>
>Kemudian sang  pengantin pria memasuki aula. Dia mengucapkan salam kepada 
>setiap tamu dan duduk di samping doktor dan ayah mempelai wanita, Haj Agha 
>Akbari.
>
>Ketua panitia penyelenggara pernikahan, Mr. Kheirkhah, mengatakan betapa 
>doktor begitu perhatian terhadap resepsi pernikahan ini sampai pada hal-hal 
>yang detailnya. Dia mengatakan bahwa doktor hanya memesan satu jenis makanan 
>dan membayar 3,5 juta toman [sekitar 3.500 dolar / Rp 28 juta] untuk biaya 
>resepsi.
>
>Dia menambahkan bahwa jumlah tamu pria sebanyak 180 orang. Saya hanya melihat 
>sedikit pejabat negara. Saya pernah ke pernikahan pejabat publik sebelumnya 
>dan di sana tidak hanya ada pengeluaran mewah tapi juga banyak menteri dan 
>pejabat negara yang hadir.
>
>Tapi apa yang saya lihat disini benar-benar penuh dengan kesederhanaan. Ini 
>adalah resepsi rakyat, padahal ayah sang pengatin pria adalah orang nomor satu 
>di negeri ini.
>
>Dalam pesta tersebut, aura kesederhanaan sangat terasa di mana-mana. Hal 
>tersebut terbukti dari cara tamu dijamu. Hal ini juga bisa dilihat dari mobil 
>yang digunakan untuk mengantar pengantin dan perjamuan itu sendiri yang 
>sederhana namun lezat dan harum.
>
>Pembawa acara resepsi meledek Alireza tentang subsidi dan 1 juta toman yang 
>akan diterima anaknya kelak, yang membuat doktor tersenyum.
>
>Upacara telah berakhir, tetapi sang doktor dan ayahnya pengantin wanita 
>berdiri di pintu gerbang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada para tamu.
>
>Menarik melihat bagaimana sang doktor melayani anak berumur 7-8 tahun yang 
>berteriak “Paman! Paman!” kepadanya. Dia memeluk dan memperlakukannya dengan 
>baik.
>
>Semua orang telah pulang dan sang doktor menuju dapur untuk menyampaikan 
>terima kasih kepada mereka yang bekerja untuk resepsi. Ketika semua orang 
>telah pergi, pengantin pria dan wanita masuk ke mobil mereka tanpa ada 
>formalitas tambahan dan pulang ke rumah dengan keluarga.
>
>Saya menyampaikan selamat kepada sahabat saya, Alireza,sang doktor, 
>keluarganya yang terhormat, dan juga keluarga syahid Mahmoud Kaveh. Semoga 
>mereka memiliki kehidupan yang baik di bawah bayangan Imam Zaman.
>
>Sudah menjadi hak setiap orang untuk melaksanakan pernikahan dengan kemewahan, 
>terlebih lagi menggunakan uang pribadi. Namun, sebagaimana nasihat Ali bin Abi 
>Thalib, seorang pemimpin memiliki kekhususannya tersendiri. Dengan tanggung 
>jawab yang lebih besar, dia harus bisa menyesuaikan dan merasakan kehidupan 
>rakyat terbawah yang dipimpinnya.”
>
>Apakah anda setuju dengan nasihat Imam Ali bin Abi Thalib di atas wahai bapak 
>SBY?
>
> 
>
> 
>
>
>
>[rfel / Parid Ridwanuddin]
>dilihat 3055 kali.
>
>

Kirim email ke