Kamis, 24 November 2011IranLain Presiden Ahmadinejad, Lain Presiden
SBY Ternyata
ada presiden yang menikahkan anaknya dengan sangat sederhana dan bersahaja.
Hal ini berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden SBY yang
menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar. Padahal Indonesia tidak lebih kaya
dari Iran.
Suasana pernikahan anak presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad. (foto: paaduu)
*
Teheran, PelitaOnline*– Siapa yang tidak mengenal Presiden Iran, Mahmud
Ahmadinejad. Selain sebagai seorang pemimpin yang sangat berani, ia juga
dikenal sebagai pemimpin yang sangat sederhana dan bersahaja.

Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu tampak saat pertama kali menduduki
kantor kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet istana Iran yang
sangat tinggi nilainya kepada masjid di Teheran dan menggantikannya dengan
karpet biasa yang mudah dibersihkan.

Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu tampak  juga saat ia menikahkan
putranya, Alireza Ahmadinejad tiga tahun yang lalu. Setelah ditelusuri,
ternyata pernikahan tersebut hanya menelan biaya 3,5 juta Toman (setara
dengan USD 3.500/ Rp 28 Juta). Meski terbilang sederhana, pernikahan ini
berlangsung dengan khidmat dan syahdu.

Hal ini sangat berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden
Indonesia Ibas-Aliyya yang diselenggarakan hari ini (24/11). LSM Bendera
mencatat bahwa Biaya pernikahan Ibas-Aliya menghabiskan dana sebesar Rp 12
Miliar. Sementara itu, tabloid Cek dan Ricek melaporkan prosesi pernikahan
ini menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar.

Pernikahan Ibas-Aliya juga berdampak negatif terhadap masyarakat.
Pernikahan ini telah merampas hak 300 siswa sekolah alam Cikeas dan SDN 1
Cipanas karena diliburkan, menghilangkan nafkah 1000 pedagang Pasar Cipanas
dan 1000 angkutan umum Cipanas serta belasan ribu masyarakat yang akan
berbelanja di Pasar Cipanas yang  menggunakan angkutan umum.

Hal berbeda akan kita temukan pada pernikahan putra Ahmadinejad sebagaimana
dilukiskan oleh Seorang *blogger*, Javad Matin. Matin melukiskan prosesi
pernikahan itu sebagai berikut:

“SAAT itu, pada Rabu malam ketika telepon saya berdering, Saya diundang ke
upacara pernikahan sahabat baik saya, Alireza, yang akan berlangsung malam
berikutnya.

Saya tahu setiap kali Idul Ghadir (Hari libur Islam di Iran) datang
keluarga itu pergi ke *beyt* [Istana kepresidenan] dan dia akan dinikahkan
dengan keponakan syahid Kaveh [tentara Iran, Garda Revolusi, dan anggota
Basij yang tewas dalam perang Irak biasa disebut syahid].

Kamis malam pukul sembilan, saya pergi ke istana kepresidenan. Dari luar
tempat itu, semua tampak biasa saja, sampai-sampai saya mengira bahwa saya
telah datang ke tempat yang salah. Sepertinya pernikahan putra seorang
presiden tidak diadakan di sana.

Saya memasuki taman dan sadar bahwa saya harus mematikan
telepon. Sekelompok orang berbaris untuk salat. Kemudian saya memasuki
aula. Sejumlah meja kosong karena tamu yang duduk sedang pergi untuk
melaksanakan salat. Buah-buahan dan kue, sebotol air mineral, beberapa
piring dan pisau telah ditata di meja untuk para tamu.

Saya menanyakan keberadaaan “doktor” [sebutan untuk Ahmadinejad dari para
pendukungnya karena dia adalah doktor di bidang teknik sipil dan manajemen
lalu lintas transportasi]. Saya diberi tahu bahwa dia sedang salat di
halaman belakang.

Karena kurangnya ruangan, beberapa tamu pergi menuju halaman belakang. Saya
salat bersama, seorang ajudan senior kepresidenan, Mojtaba Samareh
Hashemi<http://en.wikipedia.org/wiki/Mojtaba_Samareh_Hashemi>.
Kemudian saya kembali ke aula.

Sang doktor sedang duduk di meja pertama di sebelah ayah pengantin wanita.
Setelah bersalaman hangat dengannya dan beberapa pejabat lain, saya duduk
di salah satu meja.

Kemudian sang  pengantin pria memasuki aula. Dia mengucapkan salam kepada
setiap tamu dan duduk di samping doktor dan ayah mempelai wanita, Haj Agha
Akbari.

Ketua panitia penyelenggara pernikahan, Mr. Kheirkhah, mengatakan betapa
doktor begitu perhatian terhadap resepsi pernikahan ini sampai pada hal-hal
yang detailnya. Dia mengatakan bahwa doktor hanya memesan satu jenis
makanan dan membayar 3,5 juta toman [sekitar 3.500 dolar / Rp 28 juta]
untuk biaya resepsi.

Dia menambahkan bahwa jumlah tamu pria sebanyak 180 orang. Saya hanya
melihat sedikit pejabat negara. Saya pernah ke pernikahan pejabat publik
sebelumnya dan di sana tidak hanya ada pengeluaran mewah tapi juga banyak
menteri dan pejabat negara yang hadir.

Tapi apa yang saya lihat disini benar-benar penuh dengan kesederhanaan. Ini
adalah resepsi rakyat, padahal ayah sang pengatin pria adalah orang nomor
satu di negeri ini.

Dalam pesta tersebut, aura kesederhanaan sangat terasa di mana-mana. Hal
tersebut terbukti dari cara tamu dijamu. Hal ini juga bisa dilihat dari
mobil yang digunakan untuk mengantar pengantin dan perjamuan itu
sendiri yang sederhana namun lezat dan harum.

Pembawa acara resepsi meledek Alireza tentang subsidi dan 1 juta toman yang
akan diterima anaknya kelak, yang membuat doktor tersenyum.

Upacara telah berakhir, tetapi sang doktor dan ayahnya pengantin wanita
berdiri di pintu gerbang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada para tamu.

Menarik melihat bagaimana sang doktor melayani anak berumur 7-8 tahun yang
berteriak “Paman! Paman!” kepadanya. Dia memeluk dan memperlakukannya
dengan baik.

Semua orang telah pulang dan sang doktor menuju dapur untuk menyampaikan
terima kasih kepada mereka yang bekerja untuk resepsi. Ketika semua orang
telah pergi, pengantin pria dan wanita masuk ke mobil mereka tanpa ada
formalitas tambahan dan pulang ke rumah dengan keluarga.

Saya menyampaikan selamat kepada sahabat saya, Alireza,sang doktor,
keluarganya yang terhormat, dan juga keluarga syahid Mahmoud Kaveh. Semoga
mereka memiliki kehidupan yang baik di bawah bayangan Imam Zaman.

Sudah menjadi hak setiap orang untuk melaksanakan pernikahan dengan
kemewahan, terlebih lagi menggunakan uang pribadi. Namun, sebagaimana
nasihat Ali bin Abi Thalib, seorang pemimpin memiliki kekhususannya
tersendiri. Dengan tanggung jawab yang lebih besar, dia harus bisa
menyesuaikan dan merasakan kehidupan rakyat terbawah yang dipimpinnya.”

Apakah anda setuju dengan nasihat Imam Ali bin Abi Thalib di atas wahai
bapak SBY?







[rfel / Parid Ridwanuddin]
*dilihat 3055 kali*.

Kirim email ke