najan kitu angger wae fitnah ka diri Mang Amad teu eureun eureun, oge
pitnah kana nagara iran,  komo deui pitnah ka ajaran/mahzab syiah nu dianut
ku mayoritas syiah anu dianggap sesat jst, padahal di dunia ngan iran anu
masihan kedudukan tertinggi ka tokoh agama di nagara, arab saudi anu
puseurmna umat islam, ulama-na tos disetting ku raja, tong ditanya israel
jeung antek antekna kumaha izidna ka nagara ieu ran, tina boikot, blokade,
embargo, jst, tp teu ngaruh kana perkembangan nagara ieu

2011/11/28 Ki Hasan <[email protected]>

> **
>
>
>
> Kamis, 24 November 2011IranLain Presiden Ahmadinejad, Lain Presiden SBY 
> Ternyata
> ada presiden yang menikahkan anaknya dengan sangat sederhana dan bersahaja.
> Hal ini berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden SBY yang
> menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar. Padahal Indonesia tidak lebih kaya
> dari Iran.
> Suasana pernikahan anak presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad. (foto: paaduu)
> *
> Teheran, PelitaOnline*– Siapa yang tidak mengenal Presiden Iran, Mahmud
> Ahmadinejad. Selain sebagai seorang pemimpin yang sangat berani, ia juga
> dikenal sebagai pemimpin yang sangat sederhana dan bersahaja.
>
> Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu tampak saat pertama kali menduduki
> kantor kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet istana Iran yang
> sangat tinggi nilainya kepada masjid di Teheran dan menggantikannya dengan
> karpet biasa yang mudah dibersihkan.
>
> Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu tampak  juga saat ia menikahkan
> putranya, Alireza Ahmadinejad tiga tahun yang lalu. Setelah ditelusuri,
> ternyata pernikahan tersebut hanya menelan biaya 3,5 juta Toman (setara
> dengan USD 3.500/ Rp 28 Juta). Meski terbilang sederhana, pernikahan ini
> berlangsung dengan khidmat dan syahdu.
>
> Hal ini sangat berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden
> Indonesia Ibas-Aliyya yang diselenggarakan hari ini (24/11). LSM Bendera
> mencatat bahwa Biaya pernikahan Ibas-Aliya menghabiskan dana sebesar Rp 12
> Miliar. Sementara itu, tabloid Cek dan Ricek melaporkan prosesi pernikahan
> ini menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar.
>
> Pernikahan Ibas-Aliya juga berdampak negatif terhadap masyarakat.
> Pernikahan ini telah merampas hak 300 siswa sekolah alam Cikeas dan SDN 1
> Cipanas karena diliburkan, menghilangkan nafkah 1000 pedagang Pasar Cipanas
> dan 1000 angkutan umum Cipanas serta belasan ribu masyarakat yang akan
> berbelanja di Pasar Cipanas yang  menggunakan angkutan umum.
>
> Hal berbeda akan kita temukan pada pernikahan putra Ahmadinejad
> sebagaimana dilukiskan oleh Seorang *blogger*, Javad Matin. Matin
> melukiskan prosesi pernikahan itu sebagai berikut:
>
> “SAAT itu, pada Rabu malam ketika telepon saya berdering, Saya diundang ke
> upacara pernikahan sahabat baik saya, Alireza, yang akan berlangsung malam
> berikutnya.
>
> Saya tahu setiap kali Idul Ghadir (Hari libur Islam di Iran) datang
> keluarga itu pergi ke *beyt* [Istana kepresidenan] dan dia akan
> dinikahkan dengan keponakan syahid Kaveh [tentara Iran, Garda Revolusi, dan
> anggota Basij yang tewas dalam perang Irak biasa disebut syahid].
>
> Kamis malam pukul sembilan, saya pergi ke istana kepresidenan. Dari luar
> tempat itu, semua tampak biasa saja, sampai-sampai saya mengira bahwa saya
> telah datang ke tempat yang salah. Sepertinya pernikahan putra seorang
> presiden tidak diadakan di sana.
>
> Saya memasuki taman dan sadar bahwa saya harus mematikan
> telepon. Sekelompok orang berbaris untuk salat. Kemudian saya memasuki
> aula. Sejumlah meja kosong karena tamu yang duduk sedang pergi untuk
> melaksanakan salat. Buah-buahan dan kue, sebotol air mineral, beberapa
> piring dan pisau telah ditata di meja untuk para tamu.
>
> Saya menanyakan keberadaaan “doktor” [sebutan untuk Ahmadinejad dari para
> pendukungnya karena dia adalah doktor di bidang teknik sipil dan manajemen
> lalu lintas transportasi]. Saya diberi tahu bahwa dia sedang salat di
> halaman belakang.
>
> Karena kurangnya ruangan, beberapa tamu pergi menuju halaman belakang.
> Saya salat bersama, seorang ajudan senior kepresidenan, Mojtaba Samareh
> Hashemi <http://en.wikipedia.org/wiki/Mojtaba_Samareh_Hashemi>. Kemudian
> saya kembali ke aula.
>
> Sang doktor sedang duduk di meja pertama di sebelah ayah pengantin wanita.
> Setelah bersalaman hangat dengannya dan beberapa pejabat lain, saya duduk
> di salah satu meja.
>
> Kemudian sang  pengantin pria memasuki aula. Dia mengucapkan salam kepada
> setiap tamu dan duduk di samping doktor dan ayah mempelai wanita, Haj Agha
> Akbari.
>
> Ketua panitia penyelenggara pernikahan, Mr. Kheirkhah, mengatakan betapa
> doktor begitu perhatian terhadap resepsi pernikahan ini sampai pada hal-hal
> yang detailnya. Dia mengatakan bahwa doktor hanya memesan satu jenis
> makanan dan membayar 3,5 juta toman [sekitar 3.500 dolar / Rp 28 juta]
> untuk biaya resepsi.
>
> Dia menambahkan bahwa jumlah tamu pria sebanyak 180 orang. Saya hanya
> melihat sedikit pejabat negara. Saya pernah ke pernikahan pejabat publik
> sebelumnya dan di sana tidak hanya ada pengeluaran mewah tapi juga banyak
> menteri dan pejabat negara yang hadir.
>
> Tapi apa yang saya lihat disini benar-benar penuh dengan kesederhanaan.
> Ini adalah resepsi rakyat, padahal ayah sang pengatin pria adalah orang
> nomor satu di negeri ini.
>
> Dalam pesta tersebut, aura kesederhanaan sangat terasa di mana-mana. Hal
> tersebut terbukti dari cara tamu dijamu. Hal ini juga bisa dilihat dari
> mobil yang digunakan untuk mengantar pengantin dan perjamuan itu
> sendiri yang sederhana namun lezat dan harum.
>
> Pembawa acara resepsi meledek Alireza tentang subsidi dan 1 juta toman
> yang akan diterima anaknya kelak, yang membuat doktor tersenyum.
>
> Upacara telah berakhir, tetapi sang doktor dan ayahnya pengantin wanita
> berdiri di pintu gerbang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada para tamu.
>
> Menarik melihat bagaimana sang doktor melayani anak berumur 7-8 tahun yang
> berteriak “Paman! Paman!” kepadanya. Dia memeluk dan memperlakukannya
> dengan baik.
>
> Semua orang telah pulang dan sang doktor menuju dapur untuk menyampaikan
> terima kasih kepada mereka yang bekerja untuk resepsi. Ketika semua orang
> telah pergi, pengantin pria dan wanita masuk ke mobil mereka tanpa ada
> formalitas tambahan dan pulang ke rumah dengan keluarga.
>
> Saya menyampaikan selamat kepada sahabat saya, Alireza,sang doktor,
> keluarganya yang terhormat, dan juga keluarga syahid Mahmoud Kaveh. Semoga
> mereka memiliki kehidupan yang baik di bawah bayangan Imam Zaman.
>
> Sudah menjadi hak setiap orang untuk melaksanakan pernikahan dengan
> kemewahan, terlebih lagi menggunakan uang pribadi. Namun, sebagaimana
> nasihat Ali bin Abi Thalib, seorang pemimpin memiliki kekhususannya
> tersendiri. Dengan tanggung jawab yang lebih besar, dia harus bisa
> menyesuaikan dan merasakan kehidupan rakyat terbawah yang dipimpinnya.”
>
> Apakah anda setuju dengan nasihat Imam Ali bin Abi Thalib di atas wahai
> bapak SBY?
>
>
>
>
>
>
>
> [rfel / Parid Ridwanuddin]
> *dilihat 3055 kali*.
>
>  
>

Kirim email ke