Ngaranna teh beda kumis. Titenan wae nu hiji teu kumisan, nu hiji deui kumisan badag :)
Sent from my iPhone Oman Abdurahman On 28 Nov 2011, at 12:47, Ki Hasan <[email protected]> wrote: > > Kamis, 24 November 2011 > > Iran > > Lain Presiden Ahmadinejad, Lain Presiden SBY > > Ternyata ada presiden yang menikahkan anaknya dengan sangat sederhana dan > bersahaja. Hal ini berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden SBY > yang menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar. Padahal Indonesia tidak lebih > kaya dari Iran. > > > Suasana pernikahan anak presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad. (foto: paaduu) > > Teheran, PelitaOnline– Siapa yang tidak mengenal Presiden Iran, Mahmud > Ahmadinejad. Selain sebagai seorang pemimpin yang sangat berani, ia juga > dikenal sebagai pemimpin yang sangat sederhana dan bersahaja. > > Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu tampak saat pertama kali menduduki > kantor kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet istana Iran yang sangat > tinggi nilainya kepada masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet > biasa yang mudah dibersihkan. > > Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu tampak juga saat ia menikahkan > putranya, Alireza Ahmadinejad tiga tahun yang lalu. Setelah ditelusuri, > ternyata pernikahan tersebut hanya menelan biaya 3,5 juta Toman (setara > dengan USD 3.500/ Rp 28 Juta). Meski terbilang sederhana, pernikahan ini > berlangsung dengan khidmat dan syahdu. > > Hal ini sangat berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden > Indonesia Ibas-Aliyya yang diselenggarakan hari ini (24/11). LSM Bendera > mencatat bahwa Biaya pernikahan Ibas-Aliya menghabiskan dana sebesar Rp 12 > Miliar. Sementara itu, tabloid Cek dan Ricek melaporkan prosesi pernikahan > ini menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar. > > Pernikahan Ibas-Aliya juga berdampak negatif terhadap masyarakat. Pernikahan > ini telah merampas hak 300 siswa sekolah alam Cikeas dan SDN 1 Cipanas karena > diliburkan, menghilangkan nafkah 1000 pedagang Pasar Cipanas dan 1000 > angkutan umum Cipanas serta belasan ribu masyarakat yang akan berbelanja di > Pasar Cipanas yang menggunakan angkutan umum. > > Hal berbeda akan kita temukan pada pernikahan putra Ahmadinejad sebagaimana > dilukiskan oleh Seorang blogger, Javad Matin. Matin melukiskan prosesi > pernikahan itu sebagai berikut: > > “SAAT itu, pada Rabu malam ketika telepon saya berdering, Saya diundang ke > upacara pernikahan sahabat baik saya, Alireza, yang akan berlangsung malam > berikutnya. > > Saya tahu setiap kali Idul Ghadir (Hari libur Islam di Iran) datang keluarga > itu pergi ke beyt [Istana kepresidenan] dan dia akan dinikahkan dengan > keponakan syahid Kaveh [tentara Iran, Garda Revolusi, dan anggota Basij yang > tewas dalam perang Irak biasa disebut syahid]. > > Kamis malam pukul sembilan, saya pergi ke istana kepresidenan. Dari luar > tempat itu, semua tampak biasa saja, sampai-sampai saya mengira bahwa saya > telah datang ke tempat yang salah. Sepertinya pernikahan putra seorang > presiden tidak diadakan di sana. > > Saya memasuki taman dan sadar bahwa saya harus mematikan telepon. Sekelompok > orang berbaris untuk salat. Kemudian saya memasuki aula. Sejumlah meja kosong > karena tamu yang duduk sedang pergi untuk melaksanakan salat. Buah-buahan dan > kue, sebotol air mineral, beberapa piring dan pisau telah ditata di meja > untuk para tamu. > > Saya menanyakan keberadaaan “doktor” [sebutan untuk Ahmadinejad dari para > pendukungnya karena dia adalah doktor di bidang teknik sipil dan manajemen > lalu lintas transportasi]. Saya diberi tahu bahwa dia sedang salat di halaman > belakang. > > Karena kurangnya ruangan, beberapa tamu pergi menuju halaman belakang. Saya > salat bersama, seorang ajudan senior kepresidenan, Mojtaba Samareh Hashemi. > Kemudian saya kembali ke aula. > > Sang doktor sedang duduk di meja pertama di sebelah ayah pengantin wanita. > Setelah bersalaman hangat dengannya dan beberapa pejabat lain, saya duduk di > salah satu meja. > > Kemudian sang pengantin pria memasuki aula. Dia mengucapkan salam kepada > setiap tamu dan duduk di samping doktor dan ayah mempelai wanita, Haj Agha > Akbari. > > Ketua panitia penyelenggara pernikahan, Mr. Kheirkhah, mengatakan betapa > doktor begitu perhatian terhadap resepsi pernikahan ini sampai pada hal-hal > yang detailnya. Dia mengatakan bahwa doktor hanya memesan satu jenis makanan > dan membayar 3,5 juta toman [sekitar 3.500 dolar / Rp 28 juta] untuk biaya > resepsi. > > Dia menambahkan bahwa jumlah tamu pria sebanyak 180 orang. Saya hanya melihat > sedikit pejabat negara. Saya pernah ke pernikahan pejabat publik sebelumnya > dan di sana tidak hanya ada pengeluaran mewah tapi juga banyak menteri dan > pejabat negara yang hadir. > > Tapi apa yang saya lihat disini benar-benar penuh dengan kesederhanaan. Ini > adalah resepsi rakyat, padahal ayah sang pengatin pria adalah orang nomor > satu di negeri ini. > > Dalam pesta tersebut, aura kesederhanaan sangat terasa di mana-mana. Hal > tersebut terbukti dari cara tamu dijamu. Hal ini juga bisa dilihat dari mobil > yang digunakan untuk mengantar pengantin dan perjamuan itu sendiri yang > sederhana namun lezat dan harum. > > Pembawa acara resepsi meledek Alireza tentang subsidi dan 1 juta toman yang > akan diterima anaknya kelak, yang membuat doktor tersenyum. > > Upacara telah berakhir, tetapi sang doktor dan ayahnya pengantin wanita > berdiri di pintu gerbang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada para tamu. > > Menarik melihat bagaimana sang doktor melayani anak berumur 7-8 tahun yang > berteriak “Paman! Paman!” kepadanya. Dia memeluk dan memperlakukannya dengan > baik. > > Semua orang telah pulang dan sang doktor menuju dapur untuk menyampaikan > terima kasih kepada mereka yang bekerja untuk resepsi. Ketika semua orang > telah pergi, pengantin pria dan wanita masuk ke mobil mereka tanpa ada > formalitas tambahan dan pulang ke rumah dengan keluarga. > > Saya menyampaikan selamat kepada sahabat saya, Alireza,sang doktor, > keluarganya yang terhormat, dan juga keluarga syahid Mahmoud Kaveh. Semoga > mereka memiliki kehidupan yang baik di bawah bayangan Imam Zaman. > > Sudah menjadi hak setiap orang untuk melaksanakan pernikahan dengan > kemewahan, terlebih lagi menggunakan uang pribadi. Namun, sebagaimana > nasihat Ali bin Abi Thalib, seorang pemimpin memiliki kekhususannya > tersendiri. Dengan tanggung jawab yang lebih besar, dia harus bisa > menyesuaikan dan merasakan kehidupan rakyat terbawah yang dipimpinnya.” > > Apakah anda setuju dengan nasihat Imam Ali bin Abi Thalib di atas wahai bapak > SBY? > > > > > > > > [rfel / Parid Ridwanuddin] > dilihat 3055 kali. > >
