Hehehe, sanes /ceupil/ atuh Kang Dodi, /cepil/ panginten nya. Babasan mah asa arang langka dilemeskeun. Nu lumrah mah "tiis ceuli, herang panon" asana mah.
2012/3/8 dodi syaripudin <[email protected]> > ** > > > Kang GUn anu pas mah. Tiis ceuli herang mata kang, atanapi tiis ceupil > herang soca....hiks3 punten..Wass. > > ------------------------------ > *Dari:* Gunawan Yusuf <[email protected]> > *Kepada:* [email protected] > *Dikirim:* Kamis, 8 Maret 2012 8:36 > *Judul:* Re: [kisunda] Re: Buku Saku Tasawuf > > ----- Pesan yang Diteruskan ----- > > [image: Boxbe] <https://www.boxbe.com/overview> [email protected] > not on your > Guest List <https://www.boxbe.com/approved-list> | Approve > sender<https://www.boxbe.com/anno?tc=10826170252_1677474666>| Approve > domain <https://www.boxbe.com/anno?tc=10826170252_1677474666&dom> | Approve > [email protected]<https://www.boxbe.com/anno?tc=10826170252_1677474666&rt%7D> > ceuk Buya Hamka salah sahiji hartos tasyawuf nyaeta syifa nyaeta ubar > maksadna ubar keur hate, tah ieu link -na > > http://www.youtube.com/watch?v=QjKcjerTsao&feature=related > > http://www.youtube.com/watch?v=LWGyhSMTIPo&feature=related > > http://www.youtube.com/watch?v=Nv5xr9ybT24 > > DIJAMIN TIIS CEULI HERANG PANON !!!! > > > On 3/7/12, Abbas <[email protected]> wrote: > > Ayeuna kang ahsa nawiskeun buku ieu; sae oge. > > Tah ayeuna mah sok atuh tasawwuf nu laangsung ti > > kang Ahsa nyaalira; diantos pisan. > > > > --- In [email protected], Ahsa <albanduni@...> wrote: > >> > >> Judul : Buku Saku Tasawuf > >> Penulis :Haidar Bagir > >> Penerbit : Arasy Mizan > >> Cetakan : I, April 2005 > >> Tebal : 245 halaman > >>  > >> Mendengar kata tasawuf, yang terbetik dalam benak adalah sesuatu yang > >> berat. Sesuatu yang jauh, yang tidak terjangkau oleh akal awam kita. > >> Berpakaian serba putih, memelihara jenggot panjang dan menjauhi > kehidupan > >> dunia, hidup dalam kekurangan ekonomi alias miskin dan berpakaian lusuh. > >> Gambaran itulah yang kerap dimunculkan, saat mendengar kata tasawuf, dan > >> juga sufi (para pelaku tasawuf). > >> Ini masih ditambah lagi dengan pernyataan-pertanyaan ganjil atau nyleneh > >> yang seringkali susah dipahami dan terkesan melanggar keyakinan umum > kaum > >> Muslim. Seperti ucapan Al Hajjaj dan Ba Yazid Al-Busthami, misalnya > >> `’Akulah Sang Kebenaran†(ana Al-Haqq) atau `’Tak ada apapun dalam > >> jubah â€" yang dipakai oleh Busthami â€" selain Allah.†> >> Lalu, bagaimana dengan pengalaman spiritual seseorang yang merasa dekat > >> dengan Allah SWT sehingga mengaku bertemu Malaikat Jibril? Mendapat > wahyu > >> ataupun hal-hal gaib, pengalaman yang tak dialami oleh orang kebanyakan. > >> Apakah dia juga sufi dan merupakan hasil dari menekuni jalan tasawuf? > >> Untuk menjawab berbagai pertanyaan itu, Haidar Bagir, membahasnya dalam > >> buku saku berukuran kecil sehingga mudah dibawa ke manapun. > >> Dalam buku ini, Ketua Pusat Pengembangan Tasawuf Positif IIMAN ini > >> menjelaskan dengan bahasa lugas dan relatif mudah dimengerti, mengenai > >> tasawuf dan seluk beluknya. > >> Haidar juga `mengampanyekan’ tasawuf positif yang berdampak nyata > dalam > >> kehidupan pelakunya sehari-hari. Pemahaman yang benar mengenai tasawuf > >> positif, akan melahirkan seorang sufi yang berakhlak baik. Ia memberikan > >> contoh mengenai banyaknya pengalaman spiritual Lia Aminuddin, yang > mengaku > >> sebagai Imam Mahdi. Soal seringnya Lia bercengkerama dengan Malaikat > >> Jibril, menurut Haidar, hanya dia dan Rabb-nya yang tahu. Yang lebih > >> penting, penulis buku ini mempertanyakan, apakah semua pencapaian > >> spiritual itu, membuat Lia menjadi orang yang sangat concern dengan kaum > >> dhuafa dan kaum mustadh’afin atau tidak? > >> Tasawuf positif adalah sebuah pemahaman atas tasawuf yang berupaya > >> mendapatkan manfaat dari segala kelebihan dalam hal pemikiran dan > disiplin > >> yang ditawarkannya seraya menghindari ekses-eksesnya, sebagaimana > >> terungkap dalam sejarah Islam. Selain itu, betapapun diembel-embeli > >> istilah `positif’ , tasawuf ini tetap mempromosikan konsep Allh dalam > >> dua perwujudan, yakni perwujudan keindahan dan cinta (jamal) di samping > >> perwujudan keagungan dan kedahsyatan (jalal). > >> Tema tersebut menggambarkan bahwa metode tasawuf merepresentasikan sifat > >> Islam yang, selain berorientasi syariat, juga menekankan metode cinta. > >> Selama ini kita menganggap bahwa cinta kasih itu kaitannya dengan agama > >> Nasrani, sedangkan Islam identik semata-mata dengan syariah, ketaatan > pada > >> hukum, disiplin pada hukum. Hal ini, menurut penulis, merupakan akibat > >> dari pemahaman secara eksklusif atas aspek jalal (tremendum) Allah. Kita > >> `lupa’ pada satu aspek lainnya. > >> Membaca buku ini, kita diajak untuk mendalami sejarah tasawuf, > >> perjalanannya, kemabukan yang dialami sufi dan penyebabnya serta manfaat > >> dari menekuni jalan tasawuf dalam kehidupan modern kita saat ini. Tujuan > >> terpenting dari perjalanan itu adalah lahirnya akhlak yang baik dan > >> menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. > >> Buku ini mudah dipahami bagi para pemula, meskipun akan lebih baik, jika > >> penulisan kalimat-kalimatnya tidak terlalu panjang. Terlepas dari > >> kekurangan tersebut, buku ini memberikan manfaat bagi orang yang selama > >> ini penasaran dengan tasawuf dan hanya mempunyai sedikit waktu untuk > >> membacanya. (Jumat, 12 Agustus 2005/www.republika.co.id) > >> > >> > >> =>http://albanduni.wordpress.com =>http://ahmadsahidin.wordpress.com > >> > > > > > > > > > ------------------------------------ > > Yahoo! Groups Links > > > > > > >
