Boleh tanya saja kenapa jilbab itu rame diributan kok sekarang saja, dulu zaman setelah G30S PKI juga sempat rame pake krudung (bukan jilbab kayak sekarang), kenapa sebelum2nya nggak ada yang meributkan dan mewajibkan jilbab, apakah para ustadz yang mewajibkan jilbab lebih dalam ilmunya dari ulama-ulama dahulu??? Atau jangan-jangan2 50 tahun kedepan ganti lagi yang diwajibkan pakai burqa yang pake cadar karena ustadznya lebih canggih dari yang sekarang hehehe.......
Biarlah wanita yang memutuskan mau pake jilbabkah, kerudung atau burqa nggak usahlah para pria mengaturnya denagn alasan yang aneh2 padahal para lelaki ini nggak bisa nahan syahwat. Regards btw : Tokoh pahlawan nasional perempuan kayaknya nggak ada yang pakai jilbab gaya sekarang, kenapa ya..? apa mereka kurang islami......bahkan RA Kartini kondenan saja -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of irwan berhati nyaman Sent: Thursday, January 11, 2007 1:36 PM To: [email protected] Subject: Re: [kmnu2000] Dimanakah Doktrin Emansipasi Wanita Memposisikan Wanita Berjilbab? Para raksasa klasik Islam (baca: Fuqaha wa al-Mufassirin) secara konvensional mewajibkan jilbab dengan tendensi surat al-Nur: 31, al-Ahzab: 59, dan al-Ahzab: 53. Untuk menilai akurasi pendapat ulama klasik tersebut maka sangat urgen jika kita mencoba menafsirkan ayat-ayat tersebut secara kontekstual- historis. Pertama, Tuhan berfirman: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (al-Nur: 31) Ayat ini tidak bisa dijadikan tendensi hijâb, karena kata khumur merupakan bentuk pulral dari khimar yang artinya kerudung. Sedangkan kata juyub merupakan bentuk plural dari dari kata jaib yang artinya adalah ash-shadru (dada). Jadi penafsiran yang tepat adalah “hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya”. Tetapi anehnya para fuqaha dan mufassir mewajibkan jilbab hanya berdasarkan kata khumur yang artinya kerudung, tanpa melirik pada kata al-shard yang artinya dada. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa mereka menafsirkan ayat ini secara sepotong-potong dan parsial. Namun meski demikian, Ibn 'Athiyyah agak liberal dalam berpendapat, ia memperbolehkan wanita untuk menampakkan bagian2 tubuhnya jika memang ada kebutuhan, seperti ketika hendak berkerja dan berkomunikasi, meskipun lawan komunikasi tersebut adalah lain jenis. kedua, Tuhan berfirman: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 59). Dalam menafsirkan ayat ini, terjadi perbedaan antar ulama. Mayoritas penafsir klasik menafsirkan kata “al-idna`” dengan “menutupi wajah dengan kerudung”, tetapi al-Sya’rawi menafsirkan “al-idna`” dengan “anjuran memanjangkan pakaian” (tathwîl al-tsawb), bukan anjuran memakai jilbab. Konteks partikular munculnya ayat ini adalah bahwa di Arab terdapat tradisi "nongkrong" dipinggir jalan. Orang2 yg suka nongkrong tersebut matanya jelalatan dan suka menggoda setiap cewek2 yg lalu-lalang didepannya, lebih-lebih jika cewek tersebut statusnya adalah budak. Cowok2 mata keranjang tersebut lebih PD dan bermental menggoda cewek2 budak daripada cewek merdeka. Tetapi karena saat itu antara cewek2 budak dengan yang merdeka tidak ada identitas tertentu yang dapat membedakan keduanya (lantaran mereka semua tidak memakai jilbab), maka Tuhan menurunkan ayat di atas dengan tujuan (seperti bunyi firman Tuhan) "supaya mereka [cewek merdeka] lebih mudah dikenali". Dengan demikian, tujuan anjuran memakai kerudung (atau memanjangkan pakaian menurut versi al-Sya'rawi) adalah untuk membedakan antara cewek budak dengan yang merdeka, agar cewek merdeka tidak diganggu dan dikecengin. Untuk itu, bagi al-Jabiri, karena sekarang sudah tidak ada budak, maka jilbab sekarang tidak wajib. Ketiga, Tuhan berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya) , tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir (min wara` al-hijâb). Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (al-Ahzab: 53). Ulama klasik menafsirkan “min wara` al-hijâb” dengan “jilbab”. Penafsiran ini sangat problematik. Yang benar, berdasarkan konteks historis, adalah “dari belakang tabir”. Sejarah bercerita bahwa para sahabat memiliki kebiasaan buruk nongkrong di depan kamar istri-istri Nabi. Pada momen tertentu, ‘Uyainah bin Hashan memasuki kamar istri Nabi tanpa izin, padahal ketika itu Nabi sedang duduk disamping ‘Aisyah. Nabi pun kaget dan menggertak: “Hai Uyainah, kenapa tidak izin terlebih dahulu?”. Kejadian ini terulang berkali-kali, hingga Umar bin Khathab menganjurkan Nabi untuk menutupi ruangan istri-istrinya dengan tabir. Tetapi nabi kurang menghiraukan saran Umar dan keadaan tidak berubah; ruangan kamar istri Nabi tidak ditutup dengan tabir. Nah, ketika Nabi menikahi Zainab bint Jahsy, maka diadakanlah resepsi dan para tamu undangan pun datang menghadiri acara tersebut sambil menikmati hidangan yang disediakan. Ketika acara usai dan Nabi hendak memasuki kamar sang istri, di sana masih ada tiga sahabat yang masih asyik memperpanjang percakapan (seperti dalam ayat di atas). Hal ini sangat mengganggu Nabi dan Nabi pun malu untuk mengusir mereka. Lalu turunlah ayat di atas. Dari telaah historis ini, maka yang dimaksud dengan hijâb adalah “tabir”. Ayat ini menitikberatkan pada ajaran etika bertamu dengan meminta izin terlebih dahulu sebelum memasuki pintu rumah, bukan memakai jilbab. Dari telaah historis ini menandakan bahwa kewajiban jilbab seperti didoktrinkan oleh fuqaha klasik adalah berangkat dari penafsiran yang tekstual, literal, skiptural, atau bibliolatris. Jilbab dipandang sebagian kalangan sebagai konstruksi patriarki, bukan doktrinasi. Jilbab oleh sebagian pemikir Arab kontemporer, antara lain Gamal al-Banna, dipandang hanya diadopsi dari tradisi Hamurabi, Asyiria, Romawi, dan konsep harem dalam doktrin Kristen. salam, R-1 Masduqi Jamaluddin Mohammad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: saya setuju jika jilbab sbg resistensi terhadap budaya Barat. tpi sya ga sepakat jika jilbab d jadikan identitas Islam. Jilbab sudah ada sbelum Islam. org2 Yahudi-Nasrani jg memakai jilbab. Islam meniru mereka. kita sering berdebat soal jilbab, tpi kta lupa kegunaan jilbab. kita sering terjebak pd sarana, melupakan tujuan. --- [email protected] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Berjilbab dalam ajaran umat Islam adalah hal yang > wajib bagi setiap muslimah (Muslim Wanita), perintah > mengenakan jilbab jelas tertulis ayatnya dalam Alquran > surah Al-Ahzab:59 dan surah An-nur:31. Walau tak > banyak wanita muslim di jaman sekarang yang mengenakan > jilbab akan tetapi dengan berbagai alasan apapun > mereka menolak perintah jilbab, perintah jilbab tadi > akan tetap berada dalam Alquran hingga akhir hayat, > karena secara tegas Allah sendiri yang berjanji > menjaga kitab suci yang telah diturunkannya sampai > akhirat nanti. > > Sebenarnya jilbab tidak akan menjadi masalah yang > pelik jika setiap umat beragama mau menjalankan agama > mereka masing-masing serta menghargai ajaran agama > satu sama lain, sehingga tidak ada lagi yang > berpandangan miring tentang jilbab, namun ironisnya di > era globalisasi sekarang ini diskriminasi terhadap > jilbab ternyata semakin menjadi. Kelompok yang > mengatasnamakan diri mereka kaum emansipatoris > kewanitaan malah menganggap pakaian jilbab tidak > mewakili kaum wanita muslim untuk mengapresiasikan > kebebasan hak asasi mereka dalam berpakaian, padahal > diantara para muslimah di Indonesia, banyak sekali > yang berusaha untuk menjalan ajaran agama dengan benar > dan beristiqomah dalam mengenakan jilbab, tapi mengapa > mereka kaum feminisme dan emansipatoris wanita ini > seolah merendahkan dan menghalangi mereka dengan > jilbab mereka, seakan mereka tak tahu modernitas serta > cara berpakaian yang benar, padahal mereka juga wanita > Indonesia yang hanya ingin berusaha menjalankan ajaran > agama dengan sebenar-benarnya, dan tidak sedikit dari > mereka muslimah berjilbab ini adalah tokoh masyarakat, > cendekiawan serta ilmuwan negeri ini. Dimanakah > doktrin emansipasi wanita memposisikan muslimah yang > rela mengenakan jilbab atas kesadaran agama yang > mereka yakini? > > Sebagai ilustrasi dan ini memang benar terjadi, saya > mempunyai dua orang kawan wanita yang memakai jilbab, > yang pertama adalah lulusan akademi perawat, sedangkan > yang kedua adalah lulusan farmasi. Masalah yang sedang > mereka hadapi adalah sama, yaitu ketika melamar kerja > di perusahaan yang memang sejalan dengan bidang > mereka, ternyata taruhannya untuk diterima adalah > dengan melepaskan jilbab. Hal itu tentu saja membuat > kaget saya. Padahal negara ini adalah negara beragama, > dan seluruh lapisan masyarakatnya bebas menjalankan > agama mereka dengan khusyu dan keimanan yang tinggi > tanpa ada intervensi dari agama lain. Kedua teman saya > yang berjilbab ini adalah orang beragama, mereka > berdua berusaha menjalankan ajaran agama serta > perintah Allah dalam Alquran, lantas mengapa pihak > perusahaan itu menyuruh mereka lepas jilbab? Padahal > jilbab adalah bagian dari ajaran Islam. Dengan alasan > agar berpenampilan official, bagian personalia > perusahaan-perusahaan tersebut menolak mereka, apakah > muslimah berjilbab seolah kuno, tidak tahu hal > perkantoran, pekerjaan, teknologi dan lain-lain? > > Mengapa Indonesia yang katanya menghargai perbedaan > pendapat dan agama ini ternyata amat jauh kondisi > kebebasan beragamanya dari beberapa negara Arab yang > pernah saya kunjungi. Contoh Dubai, Kuwait, Saudi, dan > Mesir. Empat negara itu memang mayoritas penduduknya > beragama Islam, malah ada sebagian dari negara itu > yang memakai Islam sebagai asas dan sistem pemerintah > ketimbang Demokrasi Republik seperti Indonesia, namun > didalamnya juga ada rakyat yang beragama yahudi, > kristen, dan kristen koptik, tapi ternyata kebebasan > penduduknya menjalankan ajaran agama mereka lebih > bebas ketimbang di Indonesia. Di negara-negara itu > wanita berjilbab, bahkan sampai yang bercadar > sekalipun sangat biasa sekali masuk rumah makan > waralaba semacam kentucky, texas, dll. Terlebih di > mall atau pertokoan, rumah sakit, apartemen, bank, dan > segala macam tempat umum tanpa ada tudingan miring, > atau nada merendahkan, menghina, dan menjelekkan > sebagaimana yang kerap diterima di Indonesia. Malah > wanita-wanita berjilbab itu melakukan pekerjaan === Message Truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com --------------------------------- Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
