Pertama-tama saya katakan bahwa tulisan anda tidak sistimatik. Di awal mula
anda jadikan budaya materialisme-kapitalisme sebagai sesuatu yang
bertentangan dengan budaya ihlas dalam pesantren. Pikir saya anda lalu
menjelaskan posisi bertentangan tersebut, misalnya, atau bagaimana budaya
kapitalisme terus merangsek masuk ke dalam rumah keluarga kiai, atau
menunjukkan bahwa budaya ikhlas dan materialisme itu kadang2
dipersahabatkan, dst. Cerita anda selanjutnya mengenai pesantren sebagai
tempat uzlah, sorogan dsb menjadi tidak menarik karena anda kemudian
langsung *dumada'an *bicara bagaimana seharusnya pesantren memosisikan diri
di era modern. Selain karena modernisasi dan kapitalisme itu membutuhkan
pembahasan terpisah, usulan2 anda sangat umum dan normatif.

Tapi yang lebih penting dari itu semua, menurut saya, kita jangan buru-buru
berfikir bagaimana beradaptasi dengan dunia modern. Seakan-akan modernisasi
adalah sebuah rangkaian takdir yang mau tidak mau harus dihadapi oleh
pesantren. Ini cara berfikir lama ala orientalis yang perlu direvisi. Kita
perlu terlebih dahulu berefleksi mengenai modernisasi itu. Misalnya, jika
modernisasi adalah sekedar model budaya yang dipraktikkan di barat berarti
itu sangat tidak substantif untuk dijadikan sebuah "problem" kan? Lalu jika
modernisasi adalah tahapan untuk bersifat "teknik" dalam hidup itu pun tidak
perlu menggelisahkan kita sepenuhnya karena para teknisi itu umumnya malah
dikendalikan oleh "mesin" buatannya sendiri. dsb. Artinya kita jangan melulu
memandang pesantren dari kaca mata dunia luar tapi perlu membalik muka
dengan memandang dunia luar dari perpekstif pesantren. Dengan begitu kita
tidak akan pernah gamang melihat apapun yang terdadi di belahan dunia
manapun. Ingat bahwa memosisikan pesantren sebagai tradisionalis yang
berhadapan dengan modernitas --dalam pengertian modern-tradisional yang
berlaku selama ini-- sangat tidak menguntungkan dunia pesantren karena
selalu memosisikan pesantren sebagai kelas dua yang harus "ngikut" di
belakang. Pesantren perlu berkembang dari latar dunianya sendiri. Ingat
bahwa para ilmuwan barat itu muncul dari sekolah-sekolah gereja. Di
"sekolah-sekolah agama" para murid memang dibekali dengan filosofi menganai
hidup sehingga pikiran dan karya kreatif akan selalu terangsang muncul; hal
yang tidak diajarkan dalam sekolah yang berorientasi terapan, teknik, dan
kerja seperti kebohongan yang selalu ditawarkan dunia modern untuk pesantren
dan umumnya negara-negara berkembang. Mudah-mudahan qt tidak saling salah
faham.

Jadi begitu.


On 1/13/07, Ena Nakiah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Problem mendasar dari dunia pesantren saat ini ialah tuntutan agar
> pesantren terus berkembang mempertahankan nilai-nilai agama di tengah
> desakan dunia modern. Nilai-nilai pesantren dibangun secara tekstual dan
> kontekstual dari tafsir kitab suci. Kini, nilai-nilai pesantren menghadapi
> benturan hebat dari ideologi kapitalisme. Misalnya, pergeseran nilai-nilai
> tulus ikhlas bergeser dengan nilai materialisme kapitalisme. Masyarakat
> kapitalisme berkeyakinan bahwa semua jasa mereka mesti dihargai oleh uang.
> Sementara nilai pesantren justru berbeda. Ajaran pesantren menganjurkan
> sikap ikhlas beramal. Keikhlasan yang dibangun bersandar kepada Allah SWT.
> Tujuan hidup manusia hanya mencari ridla Allah SWT. Sementara orientasi
> paham kapitalisme berorientasi kesejahteraan harta benda, modal, dan
> kekayaan.
>
> Benturan antara budaya pesantren dengan budaya materialisme tersebut,
> menjadikan pesantren semakin unik menyikapi fenomena modernisasi. Sebagian
> pesantren bersikap terbuka terhadap perubahan, tetapi sebagian yang lain
> menutup diri dari perubahan yang terjadi dari luar pesantren. Pesantren yang
> terbuka merasa tertantang meyakinkan masyarakat bahwa hidup memerlukan
> manusia bersikap tulus ikhlas, menyemai kebaikan setiap saat dan mencari
> keridlaan Allah. Uang hanyalah sarana untuk berbuat amal kebajikan. Uang
> bukan tujuan hidup. Benturan nilai-nilai itulah semakin menguatkan posisi
> pesantren sebagai akar tradisi yang unik. Bagaimana upaya pesantren
> mempertahankan nilai-nilai lokal tradisional dan agama dari desakan
> kapitalisme ? Bagimana corak pendidikan yang akan dikembangkan oleh
> pesantren guna memajukan kiprahnya?. Tulisan ini mencoba menelisik upaya
> pesantren memperatahankan diri dan menjaga idealitasnya di tengah belenggu
> sistem kapitalisme.
>
> Pesantren adalah tempat mengasingkan diri (uzlah) untuk mencari ilmu
> agama. Pada mulanya, pesantren tumbuh secara sederhana dengan sistem
> pengajian di dekat rumah kiai/guru. Pesantren kemudian tumbuh sebagai pilar
> bangsa yang berperan membangun masyarakat dari kemiskinan, kekerasan dan
> ketidakadilan. Pembelaan pesantren terhadap orang miskin ditunjukkan dengan
> usaha para kiai berdakwah, menganjurkan berbuat amal ma'ruf nahi mungkar
> (berbuat kebaikan dan mencegah kemaksiatan). Pesantren tumbuh di daerah
> Jawa, seperti pesantren Tebuireng dirintis oleh K. H. Hasyim Asy'ary
> didirikan untuk mendidik masyarakat yang rusak. Kehadiran pesantren
> menandingi kerusakan budaya yang tengah berkembang di desa tersebut.
> Pesantren menghadirkan nilai-nilai berbeda, misalnya, melarang minuman keras
> dan mencuri, disaat masyarakat setempat terlena dengan hidup berfoya-foya,
> maraknya pencurian dan peminum. Pesantren memberikan nuansa yang agamis,
> menyebarkan nilai-nilai Islam inklusif dan
> melebur bersama budaya masyarakat sekitar.
>
> Bagaimana pesantren mengembangkan metode pendidikan membangun budaya
> masyarakat ?. Pesantren memiliki ciri khas metode pembelajaran sorogan, dan
> bandongan. Sorogan dilakukan saat santri belajar membaca al-qur'an dan
> kitab-kitab kuning. Metode sorogan ini dilakukan dengan cara kiai/ustadz
> membacakan kitab dihadapan santri, kemudian santri membaca sendiri kitab
> mereka di hadapan para kiai/ustadz secara individual. Metode sorogan ini
> meniscayakan santri belajar mandiri menguasai kitab kuning. Apabila santri
> menemukan kesulitan, maka mereka bisa bertanya ke kawannya yang sudah lebih
> dahulu lancar membaca kitab. Sedangkan metode bandongan dilakukan pada
> pembelajaran klasikal. Cara bandongan dilakukan oleh kiai/ustadz membacakan
> kitab di hadapan sejumlah santri, kemudian santri menyimak dan mengartikan
> kitab tersebut dengan bahasa lokal. Metode bandongan tersebut dilakukan saat
> bulan puasa, atau saat pengajian kilat guna mengejar target mengkhatamkan
> beberapa kitab kuning
> dengan waktu yang cepat dan singkat. Kedua metode ini sorogan dan
> bandongan merupakan ciri khas pendidikan pesantren, yang kemudian berkembang
> dengan sistem pendidikan sekolah modern yang mengedepankan sistem klasikal.
>
> Pesantren kini memasuki abad modern. Pesantren memiliki konsekwensi untuk
> mampu eksis beradaptasi dengan kemajuan dunia modern. Apa saja konsekwensi
> dari perubahan zaman tersebut ? Pesantren selayaknya menjadi lembaga
> pendidikan sekaligus berperan sosial. Ada beberapa cara untuk memajukan
> pendidikan yang mencerahkan di pesantren, yaitu :
>
> Pertama, pesantren melakukan inovasi pendidikan yang memfokuskan kecakapan
> hidup. Kurikulum pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi penguasaan
> kitab kuning saja, tetapi lebih dari itu, melatih santri mengamalkan
> nilai-nilai ulama' sholeh di keseharian mereka. Santri dilatih menjalankan
> hidup tirakat, sederhana, taat, jujur, dan loyal terhadap kepentingan umum.
> Santri ditempa dengan cara hidup para kiai/ustadz sebagai model mereka.
> Santri akan memperhatikan apabila santri mengetahui kegunaan dari
> nilai-nilai pesantren bagi kehidupan mereka kelak di masa depan. Para santri
> diajarkan untuk bangun solat malam, mengerjakan puasa sunnah, membaca
> al-Qur'an serta hal-hal yang bermanfaat lainnya.
>
> Kedua, Pembelajaran di pesantren sebanyak mungkin memberikan ruang
> berlatih bagi santri agar mampu berinisiatif, kreatif dan berpikir bebas.
> Melatih santri memiliki banyak inisiatif memerlukan kondisi yang demokratis
> dan toleransi. Santri diajarkan mengelola perbedaan pendapat yang terjadi.
> Kreatif dilatih dengan memperbanyak tugas-tugas yang berfariasi. Misalnya,
> kreativitas menulis karya ilmiah dari kolaborasi kitab kuning dan
> kontemporer. Sikap kreatif yang tampak juga dari keseharian hidup santri.
> Mereka menekankan pada belajar mengalami sendiri hal yang mereka pelajari.
> Misalnya, pengamalan melaksankan ibadah agama, seperti solat jamaah lima
> waktu, memahami dan mengerti kitab kuning.
>
> Ketiga, Santri belajar menjalani hidup sehari-hari dengan kegiatan berarti
> (meaningfull). Mengisi kegiatan yang bermanfaat dan membuat suasana kondusif
> membutuhkan peran serta ketekunan para asatidz. Jika pesantren memiliki
> banyak kegiatan bermanfaat bagi santri, santri akan terasah bakatnya dan
> keterampilan mereka. Tetapi, sebaliknya, apabila santri banyak waktu kosong
> di pesantren, membuat santri malas belajar, tidur dan keluyuran di
> jalan-jalan. Kegiatan yang berguna bagi santri perlu dicari, disesuaikan
> dengan kondisi masing-masing pesantren. Misalnya, mengisi kegiatan
> beroerganisasi, khataman al-Qur'an, membaca shalawat nabi, kursus bahasa
> Arab dan Inggris, menulis karya ilmiah serta latihan khotbah atau pidato.
> Kegiatan semacam ini berguna bagi kehidupan santri di masyarakat setelah
> keluar dari pesantren.
>
> Keempat, Pesantren memegang teguh tradisi pengabdian dan perjuangan
> memajukan ummat. Persoalan ummat di sekitar pesantren adalah menjadi konsen
> pesantren. Pesantren memiliki tanggung jawab moral membenahi dan melindungi
> mereka. Keperdulian pesantren terhadap persoalan ummat merupakan khazanah
> pesantren yang akan terus dihargai oleh masyarakat sekitar. Jika pihak
> pesantren perduli menyelesaikan persoalan masyarakat sekitar, tentu dengan
> sendirinya masyarakat akan turut serta memajukan pesantren. Sebab tumbuh
> kembang pesantren di topang dari kebutuhan masyarakat sekitar.
>
> Kelima, Bentuk dakwah yang dikembangkan oleh pesantren perlu mengedepankan
> nilai-nilai kemaslahatan, keselamatan dan kesejahteraan ummat. Pesantren
> selayaknya menjadi tempat persemaian nilai-nilai relegius yang syarat dengan
> kebaikan. Akal budi seseorang bisa dibentuk di pesantren dengan nilai-nilai
> luhur yang dibutuhkan oleh manusia kontemporer. Misi dakwah pesantren
> berorientasi ke pembentukan nilai-nilai akhlakul karimah sebagai pondasi
> dasar manusia abad modern. Tanpa akhlakul karimah, manusia akan serakah dan
> sombong.
>
> Kelima cara diatas, diharapkan bisa membuka ruang pencerahan pendidikan
> pesantren di era modern. Setidaknya, pesantren mampu memelihara rasa percaya
> diri terhadap nilai-nilai yang dikembangkan membangun manusia yang cinta
> kepada Allah SWT dan menjadi kholifah di muka bumi ini. Pesantren kini
> dituntut mempertahankan ciri khas dan terus mengembangkan diri. Pesantren
> adalah sarana pendidikan yang mencerahkan masa depan bangsa yang bermoral
> dan memegang kuat nilai ajaran Islam. Bagaimana menurut anda?
>
> http://najlah.blogspot.com
>
> http://syaqo.blogspot.com
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke