Salam, Saya kira kritik yang disampaikan oleh Menag Maftuh Basyuni dalam pertemuan RMI beberapa waktu lalu tentang keterlibatan kiai dalam politik praktis, sangat tepat waktu. Saya tak menyangka Pak Maftuh yang "jelek-jelek" juga dari keluarga kiai itu "tega" menyampaikan kritik itu di depan para kiai-kiai.
Tentu kita semua tahu yang menjadi sasaran kritik Menag bukan sekedar keterlibatan kiai dalam partai politik. Yang dia kritik jelas prilaku di lingkungan kiai-kiai NU yang saat ini begitu bersemangat "ngurus" partai ketimbang ngurus pondok mereka sendiri. Seruan dia agar kiai-kiai "kembali ke barak" sangat tepat sekali. Saya kira memang kiai lebih baik menduduki posisi seperti yang pernah dikemukakan oleh Arief Budiman dulu, yaitu sebagai "cendekiawan yang berumah di angin", sebagai figur moral yang "menyemprit" ketika terjadi sesuatu yang tak beres di masyarakat. Tapi kiai tak harus menjadi "eksekutor" langsung di lapangan. Indikasi bahwa "politik praktis" lebih menarik bagi kiai adalah kantor PBNU yang ramai bukan main saat ada event-event politik nasional yang besar, tetapi mendadak sepi saat event itu berlalu. Setelah era Gus Dur berlalu, salah satu sisi yang kosong dalam NU adalah tidak adanya seorang pemikir dari dalam tubuh NU yang bisa menjadi artikulator yang baik bagi gagasan-gagasan besar NU ke dunia luar. Pemikir tentu tak perlu banyak-banyak, satu juga sudah cukup. Untuk ormas sebesar NU dengan (konon) 40 juta anggota, tentu layak jika ormas ini memiliki seorang artikulator ide yang setara dengan Mohammad Khatami, mantan Presiden Iran, misalnya. Sebagai benteng ideologi Aswaja, sudah tentu NU layak memiliki seorang "teolog" dan pemikir yang dapat mengartikulasikan doktrin itu ke luar dengan memakai bahasa modern saat ini. Sebagai penerus warisan doktrin Asy'ariyyah, sudah selayaknya NU memiliki seorang ulama/sarjana (satu saja cukup, ndak usah banyak-banyak) yang menguasai benar tradisi Asy'ariyah dengan baik, mengartikulasikannya dalam wacana yang sesuai dengan perkembangan zaman ini. Menyedihkan sekali bahwa yang kita lihat saat ini adalah banyaknya kiai NU yang berkiprah di dunia politik, langsung atau tak langsung, tetapi sedikit sekali yang dapat bekerja pada level pemikiran. Orang yang tepat bekerja pada wilayah ini sebetulnya adalah Kiai Said Aqil Siradj. Tetapi, tampaknya, beliau kurang tertarik dengan kiprah di bidang pemikiran. Padahal aspek ini sangat perlu diisi sehingga NU akan tampil bukan saja dengan kebesaran jumlah anggota dan barisan Banser-nya, tetapi juga dengan gagasan-gagasannya yang merangsang diskusi publik. Acuan intelektual dunia pesantren selama ini adalah ulama-ulama yang sudah terlalu jauh dari segi waktu, seperti Imam Ghazali, Imam Maturidi (yang meskipun dicantumkan sebagai kiblat teologis NU tetapi karyanya ndak pernah dibaca di pesantren; tafsir Imam Maturidi yang terbit beberapa tahun lalu, "Ta'wilat Ahl al-Sunnah" sudah selayaknya menjadi kajian kalangan pesantren), Imam Al-Junaid, dll. Dibutuhkan pemikir di kalangan NU yang bisa menjadi mediator antara "kiai klasik" itu dengan konteks kehidupan warga Nahdliyyin di dunia modern. Akhir-akhir ini teman-teman mendiskusikan soal tradisi tahlil, ziarah kubur dan qunut yang mendapat serangan dari kaum salafi. Tanpa bermaksud mengecilkan soal tahlik, masalah ini sebetulnya hanya permukaan saja dari tradisi NU intelektual NU yang mestinya jauh lebih kaya. Bagaimanapun inti NU adalah pesantren, dan inti pesantren adalah tradisi pemikiran Asy'ariyyah yang telah diwarisi oleh beberapa generasi dalam rentang waktu yang berabad-abad. Eksperimen-skperimen yang "mencerahkan" dalam NU hampir sebagian berlangsung pada periode Gus Dur, antara lain karena pada periode itulah muncul banyak intelektual NU yang mengembang semangat besar untuk mengembalikan NU ke masyarakat sipil dan menjadikan tradisi intelektual NU kontekstual dengan keadaan yang sudah berubah. Salah satu inspirasi penting dari periode itu adalah lahirnya Ma'had 'Ali (semacam Sekolah Tinggi) yang menampung para santri untuk melakukan kajian pada level paskasarjana (graduate) di pesantren. Tolong dikoreksi jika pengamatan saya ini salah; saya melihat bahwa level kajian Islam di pesantren saat ini makin lama makin merosot menjadi kajian di tingkat "sekolah menengah", atau kalau beruntung ya sampai level "undergraduate" atau S-1. Kajian keislaman yang levelnya paskasarjana hampir jarang sekali. Ide pendirian Ma'had Ali dulu adalah untuk mengisi kekosongan ini; yakni agar kajian Islam di pesantren sampai ke level S-2 dan S-3. Pada generasi ayah dan kakek saya, masih banyak santri yang mondok hingga 5 sampai sepuluh tahun. Kalau dikonversi dalam sistem pendidikan modern, itu sama dengan level PhD atau doktoral. Dengan kata lain, kiai-kiai yang memegang pensantren dulu adalah sarjana dengan level akademik yang setingkat S-2 atau S-3. Sekarang ini, usia santri mondok makin pendek. Setelah tamat Aliyah, langsung keluar dan mencari pendidikan modern di universitas. Keadaan seperti inilah yang membuat tradisi intelektual NU yang berpusat di pesantren makin lama makin pudar. Masalah tahlil, menurut saya, hanyalah permukaan dari masalah yang jauh lebih serius: yakni para pemangku tradisi NU sendiri sudah kehilagan semangat untuk mengembangkan tradisi itu. Harapan yang masih tersisa sekarang ini adalah dari anak-anak NU yang sekarang menempuh pendidikan di Timur Tengah, terutama Mesir. Saya senang sekali dengan "gairah intelektual" teman-teman muda NU di Mesir yang bersentuhan dengan "inti" tradisi Islam klasik dengan pelbagai variasinya di Al-Azhar, tetapi juga membacai pemikiran-pemikiran kritis yang lahir dari tangan para intelektual Muslim kontemporer di sana. Mereka ini lah yang selayaknya mendapat perhatian dari PBNU untuk mem-"boost" kembali gairah tradisi NU. Sekali lagi, tradisi NU bukan sekedar tahlil dan qunut; itu hanya tradisi permukaan yang tetap penting dijaga tetapi bukan di sana letak soalnya. Tradisi NU adalah "batang tubuh pemikiran" yang diwarisi oleh pesantren dari pemikiran Islam klasik yang sangat kaya. Inti tradisi NU adalah kajian Islam di pesantren. Anjuran Menag agar kiai kembali ke barak saya maknai sebagai peringatan kepada kiai-kiai NU untuk kembali mengurus tradisi intelektual yang kaya ini. Saya ingin melihat kembali pesantren mengkaji bukan saja kitab-kitab kecil di bidang teologi, tetapi juga karya-karya besar dari al-Baqillani, al-Haramain, al-Ghazali, al-Iji, al-Taftazani, dll. Saya ingin melihat pesantren tidak sekedar mengkaji tafsir Jalalain atau Tafsir Munir-nya Kiai Nawawi, tetapi juga al-Tafsir al-Kabir-nya al-Razi atau Tafsir Qurtubi dengan sungguh-sungguh. Dalam bidang tasawwuf, saya ingin melihat pesantren tidak sekedar mengkaji kitab kecil seperti Bidayah al-Hidayah atau al-Hikam, tetapi membaca Fusus al-Hikam-nya Ibn Arabi, al-Risalah al-Qusyairiyyah, atau Al-Mawaqif-nya al-Nifari, dst. Kebesaran NU jelas tidak bisa ditunjang hanya dengan kiprah politik yang hanya bersifat sementara, tetapi lebih penting lagi adalah landasan pemikiran yang kokoh. Para pendiri NU dulu adalah kiai yang levelnya doktor, sekarang mutu kiai-kiai NU makin merosot tajam menjadi hanya setingkat S-1 atau malah lebih rendah lagi. Mohon maaf jika email terlalu "bersemangat" hingga akhirnya berkepanjangan. Ulil Ulil Abshar-Abdalla Department of Religion Boston University
