Di Akhir Hadits : FA THUBA LIL GHURABA'. Bahagialah bagi peng-asing diri....

Yunika Ainia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Mas 
Ulil
   "Islam terlahir dalam keadaan asing, dan di akhir zaman akan kembali menjadi 
asing", bener nggak Mas kata-kata ini.
    
   Asing berarti aneh, aneh berkonotasi lucu dan tidak pada tempatnya. 
   Keanehan dan keasingan Islam pada akhir zaman yg tampak antara lain:
   - kok umatnya kumuh-kumuh tenan --pakaian kumel, rambut, jenggot gak 
dirawat, rumah ibadahnya juga dll.-- padahal mereka punya seabrek petunjuk 
dalam kitab sucinya ttg kebersihan
   - kok umatnya awut-awutan, --kerjaannya berantem sesama muslim, saling 
curiga, jegal menjegal, molor, tidak disiplin, suka menipu dll-- ini juga aneh, 
padahal bagaimana Nabi mereka mencontohkan kedisiplinan, keuletan, kebersamaan, 
saling menolong, menghormati pemimpin, menghormati yang berilmu dst.
   - kok umatnya mbeler-mbeler --Malas melakukan penelitian, malas membaca, 
tidak suka kemajuan teknologi tapi kalau ada orang maju lalu ikut-ikutan, tidak 
membangun kekuatan fisik dan mental. Padahal Agamanya adalah pelopor ilmu 
dengan Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabinya Ikro, isi AlQuran penuh 
dengan kajian yang menantang untuk diteliti, dan Nabinya mengisyaratkan bahwa 
mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah dst.
   
 
 Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
           Mas Shidqi,
 Terima kasih untuk tanggapannya. 
 
 (1) Saya tetap mengagumi barat sebagai puncak
 peradaban modern saat ini, sebagaimana saya juga
 mengagumi peradaban Islam pada masa keemasannya.
 Kekayaan intelektual peradaban Islam ini saya temukan
 di barat saat ini, dan saya pengen sekali pesantren
 kembali mengingat kembali kekayaan khazanah itu, dan
 tidak tenggelam dalam politik praktis.
 
 (2) Saya tidak terlalu berkepentingan dengan ideologi
 neo-liberalisme. Keahlian saya bukan di situ. Ini kan
 mainan anak-anak NU "kiri" yang sudah kehilangan
 ladang "perdebatan". Lalu dicarilah "musuh" sekenanya;
 setiap orang yang mengagumi peradaban barat langsung
 disebut "neo-liberal", he he he.... Amat disayangkan
 sikap anak-anak NU muda yang menjadi "dogmatis"
 seperti ini. Tapi, saya anggap ini hanya gejala sesaat
 saja; maklum, gerakan anti neo-liberalisme sedang
 trend di mana-mana. Saya sih ndak terlalu tertarik. 
 
 Saya dulu pernah sih "kepincut" dengan gagasan-gagasan
 kiri. Beberapa dari gagasan itu hingga sekarang masih
 tetap menarik buat saya. Tetapi, secara umum, ide-ide
 kiri sudah kehilangan daya tarik buat saya. Bagi saya,
 lebih banyak pemikiran lain yang jauh lebih menarik.
 Masak, sejak mahasiswa "kiri" terus... hehehe... Bosen
 ah...
 
 (3) Kalau Mas Shidqi bisa memberi penjelasan kepada
 saya, apa yang anda maksud dengan "neo-liberalisme",
 saya sangat senang. Saya tak banyak membaca mengenai
 soal ini. Kesan saya, masalah "neo-liberalisme" lebih
 banyak berkaitan dengan isu-isu ekonomi. Karena saya
 bukan ekonom, saya tak berani terlalu jauh masuk dalam
 area ini. 
 
 Saya setuju dengan banyak kritik kaum anti-globalisasi
 terhadap sistem ekonomi dunia saat ini, meskipun saya
 tak paham detil-detilnya. Tetapi, saya juga melihat
 kritik-kritik itu hanya penyempurnaan saja terhadap
 sistem pasar sekarang ini. Saya sih jelas pro-pasar
 bebas, tetapi kan tidak dengan sendirinya pro-pasar
 bebas langsung membuat seseorang seorang neo-liberal.
 Ya, toh?
 
 (4)Hampir setiap hari saya melihat mahasiswa "kiri" di
 kampus saya; mereka menyebarkan brosur
 anti-neoliberalisme. Kadang-kadang saya mendekat,
 mendengarkan ceramah mereka, tetapi karena tak menarik
 saya biasanya ndak tahan lama-lama mendengarkan.
 Beberapa brosurnya kadang-kadang saya ambil, baca
 sebentar. Beberapa menarik, beberapa membosankan, dan
 terkesan "dogmatis".
 
 Kalau soal kritik atas neo-liberalisme, di negara
 bagian Massachussets inilah tempatnya. Di Amerika,
 kalau anda menyebtu diri sebagai "liberal", maka
 artinya anda adalah seorang kiri. Negara bagian tempat
 saya tinggal ini disebut sebagai "state" yang liberal,
 artinya kiri. Maksud kiri di sini adalah kritis
 terhadap Partai Republik, kritis terhadap kebijakan
 pemerintah Bush sekarang, dan lebih dekat ke gagasan
 yang berbau "sosial demokrat" dalam pengertian yang
 dipahami di Eropa. Di kampus MIT yang bertetanggaan
 dengan kampus saya, terdapat seorang tokoh "liberal"
 yang dikenal gigih mengkritik Amerika dan ideologi
 neo-liberalisme, yaitu Noam Chomsky. Saya penyuka
 buku-buku Chomsky, dari dulu hingga sekarang. Meskipun
 beberapa saya kurang sepakat dengan
 pikiran-pikirannya.
 
 Poin saya, di negeri yang liberal, semua ide
 berkembang dengan bebas, termasuk ide-ide kiri yang
 membenci liberalisme. Di negeri yang berideologi
 "kiri", hal ini jelas tak mungkin terjadi. 
 
 Sori, agak "liberal", maksudnya ngelantur... :)
 
 Ulil 
 
 --- ahmad shidqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
 > Kang Ulil...
 > Kok tumben Anda "kembali" ke pesantren ?! Biasanya
 > Anda selalu menyarankan umat Islam untuk menggali
 > pemikiran Barat karena mereka lebih mencerahkan dari
 > pada pesantren yang terlalu banyak hafalan. Tapi
 > kini Anda mendorong kita untuk "membangkitkan"
 > kembali pesantren dengan segala kehebatannya yang
 > pernah dimiliki dulu, sehingga perdebatan kita bukan
 > lagi hanya soal tahlil dan qunut, melainkan lebih
 > mengarah pada "dinamisasi" pemikiran dan khazanah
 > intelektual pesantren ?
 > Saya khawatir Anda saat ini sedang "ketakutan"
 > atas gagasan menjadikan neolib sebagai musuh di
 > samping wahabisme? sehingga Anda mengalihkan diskusi
 > kita pada perlunya kembali "ngurusi" pesantren yang
 > bukan hanya mengajarkan qunut dan tahlil, tapi juga
 > pesantren yang mengajarkan beragam ilmu pengetahuan
 > seperti teologi, ushul fiqh, dsb ?
 > Saya kira, kembali ke pesantren itu memang
 > penting, dan itu persoalan menyangkut internal Nu
 > atau pesantren yang harus segera di kerjakan juga.
 > Tapi menyangkut persoalan eksternal NU dan pesantren
 > adalah wahabisme dan neoliberalisme yang juga harus
 > mendapat perhatian khusus karena telah "menyerang"
 > eksistensi NU dan pesantren. 
 > Gimana Kang..? kalau sudah ngomongin
 > neoliberalisme, kok sampeyan gak kritis ya...?
 > 
 > Shidqi (NCC Jogja)
 > 
 > Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 > Salam,
 > Saya kira kritik yang disampaikan oleh Menag Maftuh
 > Basyuni dalam pertemuan RMI beberapa waktu lalu
 > tentang keterlibatan kiai dalam politik praktis,
 > sangat tepat waktu. Saya tak menyangka Pak Maftuh
 > yang
 > "jelek-jelek" juga dari keluarga kiai itu "tega"
 > menyampaikan kritik itu di depan para kiai-kiai.
 > 
 > Tentu kita semua tahu yang menjadi sasaran kritik
 > Menag bukan sekedar keterlibatan kiai dalam partai
 > politik. Yang dia kritik jelas prilaku di lingkungan
 > kiai-kiai NU yang saat ini begitu bersemangat
 > "ngurus"
 > partai ketimbang ngurus pondok mereka sendiri.
 > Seruan
 > dia agar kiai-kiai "kembali ke barak" sangat tepat
 > sekali. 
 > 
 > Saya kira memang kiai lebih baik menduduki posisi
 > seperti yang pernah dikemukakan oleh Arief Budiman
 > dulu, yaitu sebagai "cendekiawan yang berumah di
 > angin", sebagai figur moral yang "menyemprit" ketika
 > terjadi sesuatu yang tak beres di masyarakat. Tapi
 > kiai tak harus menjadi "eksekutor" langsung di
 > lapangan.
 > 
 > Indikasi bahwa "politik praktis" lebih menarik bagi
 > kiai adalah kantor PBNU yang ramai bukan main saat
 > ada
 > event-event politik nasional yang besar, tetapi
 > mendadak sepi saat event itu berlalu.
 > 
 > Setelah era Gus Dur berlalu, salah satu sisi yang
 > kosong dalam NU adalah tidak adanya seorang pemikir
 > dari dalam tubuh NU yang bisa menjadi artikulator
 > yang
 > baik bagi gagasan-gagasan besar NU ke dunia luar.
 > Pemikir tentu tak perlu banyak-banyak, satu juga
 > sudah
 > cukup. Untuk ormas sebesar NU dengan (konon) 40 juta
 > anggota, tentu layak jika ormas ini memiliki seorang
 > artikulator ide yang setara dengan Mohammad Khatami,
 > mantan Presiden Iran, misalnya. Sebagai benteng
 > ideologi Aswaja, sudah tentu NU layak memiliki
 > seorang
 > "teolog" dan pemikir yang dapat mengartikulasikan
 > doktrin itu ke luar dengan memakai bahasa modern
 > saat
 > ini. Sebagai penerus warisan doktrin Asy'ariyyah,
 > sudah selayaknya NU memiliki seorang ulama/sarjana
 > (satu saja cukup, ndak usah banyak-banyak) yang
 > menguasai benar tradisi Asy'ariyah dengan baik,
 > mengartikulasikannya dalam wacana yang sesuai dengan
 > perkembangan zaman ini.
 > 
 > Menyedihkan sekali bahwa yang kita lihat saat ini
 > adalah banyaknya kiai NU yang berkiprah di dunia
 > politik, langsung atau tak langsung, tetapi sedikit
 > sekali yang dapat bekerja pada level pemikiran.
 > Orang
 > yang tepat bekerja pada wilayah ini sebetulnya
 > adalah
 > Kiai Said Aqil Siradj. Tetapi, tampaknya, beliau
 > kurang tertarik dengan kiprah di bidang pemikiran.
 > Padahal aspek ini sangat perlu diisi sehingga NU
 > akan
 > tampil bukan saja dengan kebesaran jumlah anggota
 > dan
 > barisan Banser-nya, tetapi juga dengan
 > gagasan-gagasannya yang merangsang diskusi publik. 
 > 
 > Acuan intelektual dunia pesantren selama ini adalah
 > ulama-ulama yang sudah terlalu jauh dari segi waktu,
 > seperti Imam Ghazali, Imam Maturidi (yang meskipun
 > dicantumkan sebagai kiblat teologis NU tetapi
 > karyanya
 > ndak pernah dibaca di pesantren; tafsir Imam
 > Maturidi
 > yang terbit beberapa tahun lalu, "Ta'wilat Ahl
 > al-Sunnah" sudah selayaknya menjadi kajian kalangan
 > pesantren), Imam Al-Junaid, dll. Dibutuhkan pemikir
 > di
 > kalangan NU yang bisa menjadi mediator antara "kiai
 > klasik" itu dengan konteks kehidupan warga
 > Nahdliyyin
 > di dunia modern. 
 > 
 > Akhir-akhir ini teman-teman mendiskusikan soal
 > tradisi
 > tahlil, ziarah kubur dan qunut yang mendapat
 > serangan
 > dari kaum salafi. Tanpa bermaksud mengecilkan soal
 > tahlik, masalah ini sebetulnya hanya permukaan saja
 > dari tradisi NU intelektual NU yang mestinya jauh
 > lebih kaya. Bagaimanapun inti NU adalah pesantren,
 > dan
 > inti pesantren adalah tradisi pemikiran Asy'ariyyah
 > yang telah diwarisi oleh beberapa generasi dalam
 > rentang waktu yang berabad-abad. 
 > 
 > Eksperimen-skperimen yang "mencerahkan" dalam NU
 > hampir sebagian berlangsung pada periode Gus Dur,
 > antara lain karena pada periode itulah muncul banyak
 > intelektual NU yang mengembang semangat besar untuk
 > mengembalikan NU ke masyarakat sipil dan menjadikan
 > tradisi intelektual NU kontekstual dengan keadaan
 > yang
 > sudah berubah. Salah satu inspirasi penting dari
 > periode itu adalah lahirnya Ma'had 'Ali (semacam
 > Sekolah Tinggi) yang menampung para santri untuk
 > melakukan kajian pada level paskasarjana (graduate)
 > di
 > pesantren. 
 > 
 > Tolong dikoreksi jika pengamatan saya ini salah;
 > saya
 > melihat bahwa level kajian Islam di pesantren saat
 > ini
 > makin lama makin merosot menjadi kajian di tingkat
 > "sekolah menengah", atau kalau beruntung ya sampai
 > level "undergraduate" atau S-1. Kajian keislaman
 > yang
 > levelnya paskasarjana hampir jarang sekali. Ide
 > pendirian Ma'had Ali dulu adalah untuk mengisi
 > kekosongan ini; yakni agar kajian Islam di pesantren
 > sampai ke level S-2 dan S-3. Pada generasi ayah dan
 > kakek saya, masih banyak santri yang mondok hingga 5
 > sampai sepuluh tahun. Kalau dikonversi dalam sistem
 > pendidikan modern, itu sama dengan level PhD atau
 > doktoral. Dengan kata lain, kiai-kiai yang memegang
 > pensantren dulu adalah sarjana dengan level akademik
 > yang setingkat S-2 atau S-3. Sekarang ini, usia
 > santri
 > mondok makin pendek. Setelah tamat Aliyah, langsung
 > keluar dan mencari pendidikan modern di universitas.
 > 
 > Keadaan seperti inilah yang membuat tradisi
 > intelektual NU yang berpusat di pesantren makin lama
 > makin pudar. Masalah tahlil, menurut saya, hanyalah
 > permukaan dari masalah yang jauh lebih serius: yakni
 > para pemangku tradisi NU sendiri sudah kehilagan
 > semangat untuk mengembangkan tradisi itu. 
 > 
 > Harapan yang masih tersisa sekarang ini adalah dari
 > anak-anak NU yang sekarang menempuh pendidikan di
 > Timur Tengah, terutama Mesir. Saya senang sekali
 > dengan "gairah intelektual" teman-teman muda NU di
 > Mesir yang bersentuhan dengan "inti" tradisi Islam
 > klasik dengan pelbagai variasinya di Al-Azhar,
 > tetapi
 > juga membacai pemikiran-pemikiran kritis yang lahir
 > dari tangan para intelektual Muslim kontemporer di
 > sana. Mereka ini lah yang selayaknya mendapat
 > perhatian dari PBNU untuk mem-"boost" kembali gairah
 > tradisi NU.
 > 
 > Sekali lagi, tradisi NU bukan sekedar tahlil dan
 > qunut; itu hanya tradisi permukaan yang tetap
 > penting
 > dijaga tetapi bukan di sana letak soalnya. Tradisi
 > NU
 > adalah "batang tubuh pemikiran" yang diwarisi oleh
 > pesantren dari pemikiran Islam klasik yang sangat
 > kaya. Inti tradisi NU adalah kajian Islam di
 > pesantren.
 > 
 > Anjuran Menag agar kiai kembali ke barak saya maknai
 > sebagai peringatan kepada kiai-kiai NU untuk kembali
 > mengurus tradisi intelektual yang kaya ini. Saya
 > ingin
 > 
 === message truncated ===
 
 Ulil Abshar-Abdalla
 Department of Religion
 Boston University
 
 ---------------------------------
 Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing. 
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                       



                
---------------------------------
 Copy addresses and emails from any email account to Yahoo! Mail - quick, easy 
and free. Do it now...

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke