Kang Ulil...
Kok tumben Anda "kembali" ke pesantren ?! Biasanya Anda selalu menyarankan
umat Islam untuk menggali pemikiran Barat karena mereka lebih mencerahkan dari
pada pesantren yang terlalu banyak hafalan. Tapi kini Anda mendorong kita untuk
"membangkitkan" kembali pesantren dengan segala kehebatannya yang pernah
dimiliki dulu, sehingga perdebatan kita bukan lagi hanya soal tahlil dan qunut,
melainkan lebih mengarah pada "dinamisasi" pemikiran dan khazanah intelektual
pesantren ?
Saya khawatir Anda saat ini sedang "ketakutan" atas gagasan menjadikan neolib
sebagai musuh di samping wahabisme? sehingga Anda mengalihkan diskusi kita pada
perlunya kembali "ngurusi" pesantren yang bukan hanya mengajarkan qunut dan
tahlil, tapi juga pesantren yang mengajarkan beragam ilmu pengetahuan seperti
teologi, ushul fiqh, dsb ?
Saya kira, kembali ke pesantren itu memang penting, dan itu persoalan
menyangkut internal Nu atau pesantren yang harus segera di kerjakan juga. Tapi
menyangkut persoalan eksternal NU dan pesantren adalah wahabisme dan
neoliberalisme yang juga harus mendapat perhatian khusus karena telah
"menyerang" eksistensi NU dan pesantren.
Gimana Kang..? kalau sudah ngomongin neoliberalisme, kok sampeyan gak kritis
ya...?
Shidqi (NCC Jogja)
Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,
Saya kira kritik yang disampaikan oleh Menag Maftuh
Basyuni dalam pertemuan RMI beberapa waktu lalu
tentang keterlibatan kiai dalam politik praktis,
sangat tepat waktu. Saya tak menyangka Pak Maftuh yang
"jelek-jelek" juga dari keluarga kiai itu "tega"
menyampaikan kritik itu di depan para kiai-kiai.
Tentu kita semua tahu yang menjadi sasaran kritik
Menag bukan sekedar keterlibatan kiai dalam partai
politik. Yang dia kritik jelas prilaku di lingkungan
kiai-kiai NU yang saat ini begitu bersemangat "ngurus"
partai ketimbang ngurus pondok mereka sendiri. Seruan
dia agar kiai-kiai "kembali ke barak" sangat tepat
sekali.
Saya kira memang kiai lebih baik menduduki posisi
seperti yang pernah dikemukakan oleh Arief Budiman
dulu, yaitu sebagai "cendekiawan yang berumah di
angin", sebagai figur moral yang "menyemprit" ketika
terjadi sesuatu yang tak beres di masyarakat. Tapi
kiai tak harus menjadi "eksekutor" langsung di
lapangan.
Indikasi bahwa "politik praktis" lebih menarik bagi
kiai adalah kantor PBNU yang ramai bukan main saat ada
event-event politik nasional yang besar, tetapi
mendadak sepi saat event itu berlalu.
Setelah era Gus Dur berlalu, salah satu sisi yang
kosong dalam NU adalah tidak adanya seorang pemikir
dari dalam tubuh NU yang bisa menjadi artikulator yang
baik bagi gagasan-gagasan besar NU ke dunia luar.
Pemikir tentu tak perlu banyak-banyak, satu juga sudah
cukup. Untuk ormas sebesar NU dengan (konon) 40 juta
anggota, tentu layak jika ormas ini memiliki seorang
artikulator ide yang setara dengan Mohammad Khatami,
mantan Presiden Iran, misalnya. Sebagai benteng
ideologi Aswaja, sudah tentu NU layak memiliki seorang
"teolog" dan pemikir yang dapat mengartikulasikan
doktrin itu ke luar dengan memakai bahasa modern saat
ini. Sebagai penerus warisan doktrin Asy'ariyyah,
sudah selayaknya NU memiliki seorang ulama/sarjana
(satu saja cukup, ndak usah banyak-banyak) yang
menguasai benar tradisi Asy'ariyah dengan baik,
mengartikulasikannya dalam wacana yang sesuai dengan
perkembangan zaman ini.
Menyedihkan sekali bahwa yang kita lihat saat ini
adalah banyaknya kiai NU yang berkiprah di dunia
politik, langsung atau tak langsung, tetapi sedikit
sekali yang dapat bekerja pada level pemikiran. Orang
yang tepat bekerja pada wilayah ini sebetulnya adalah
Kiai Said Aqil Siradj. Tetapi, tampaknya, beliau
kurang tertarik dengan kiprah di bidang pemikiran.
Padahal aspek ini sangat perlu diisi sehingga NU akan
tampil bukan saja dengan kebesaran jumlah anggota dan
barisan Banser-nya, tetapi juga dengan
gagasan-gagasannya yang merangsang diskusi publik.
Acuan intelektual dunia pesantren selama ini adalah
ulama-ulama yang sudah terlalu jauh dari segi waktu,
seperti Imam Ghazali, Imam Maturidi (yang meskipun
dicantumkan sebagai kiblat teologis NU tetapi karyanya
ndak pernah dibaca di pesantren; tafsir Imam Maturidi
yang terbit beberapa tahun lalu, "Ta'wilat Ahl
al-Sunnah" sudah selayaknya menjadi kajian kalangan
pesantren), Imam Al-Junaid, dll. Dibutuhkan pemikir di
kalangan NU yang bisa menjadi mediator antara "kiai
klasik" itu dengan konteks kehidupan warga Nahdliyyin
di dunia modern.
Akhir-akhir ini teman-teman mendiskusikan soal tradisi
tahlil, ziarah kubur dan qunut yang mendapat serangan
dari kaum salafi. Tanpa bermaksud mengecilkan soal
tahlik, masalah ini sebetulnya hanya permukaan saja
dari tradisi NU intelektual NU yang mestinya jauh
lebih kaya. Bagaimanapun inti NU adalah pesantren, dan
inti pesantren adalah tradisi pemikiran Asy'ariyyah
yang telah diwarisi oleh beberapa generasi dalam
rentang waktu yang berabad-abad.
Eksperimen-skperimen yang "mencerahkan" dalam NU
hampir sebagian berlangsung pada periode Gus Dur,
antara lain karena pada periode itulah muncul banyak
intelektual NU yang mengembang semangat besar untuk
mengembalikan NU ke masyarakat sipil dan menjadikan
tradisi intelektual NU kontekstual dengan keadaan yang
sudah berubah. Salah satu inspirasi penting dari
periode itu adalah lahirnya Ma'had 'Ali (semacam
Sekolah Tinggi) yang menampung para santri untuk
melakukan kajian pada level paskasarjana (graduate) di
pesantren.
Tolong dikoreksi jika pengamatan saya ini salah; saya
melihat bahwa level kajian Islam di pesantren saat ini
makin lama makin merosot menjadi kajian di tingkat
"sekolah menengah", atau kalau beruntung ya sampai
level "undergraduate" atau S-1. Kajian keislaman yang
levelnya paskasarjana hampir jarang sekali. Ide
pendirian Ma'had Ali dulu adalah untuk mengisi
kekosongan ini; yakni agar kajian Islam di pesantren
sampai ke level S-2 dan S-3. Pada generasi ayah dan
kakek saya, masih banyak santri yang mondok hingga 5
sampai sepuluh tahun. Kalau dikonversi dalam sistem
pendidikan modern, itu sama dengan level PhD atau
doktoral. Dengan kata lain, kiai-kiai yang memegang
pensantren dulu adalah sarjana dengan level akademik
yang setingkat S-2 atau S-3. Sekarang ini, usia santri
mondok makin pendek. Setelah tamat Aliyah, langsung
keluar dan mencari pendidikan modern di universitas.
Keadaan seperti inilah yang membuat tradisi
intelektual NU yang berpusat di pesantren makin lama
makin pudar. Masalah tahlil, menurut saya, hanyalah
permukaan dari masalah yang jauh lebih serius: yakni
para pemangku tradisi NU sendiri sudah kehilagan
semangat untuk mengembangkan tradisi itu.
Harapan yang masih tersisa sekarang ini adalah dari
anak-anak NU yang sekarang menempuh pendidikan di
Timur Tengah, terutama Mesir. Saya senang sekali
dengan "gairah intelektual" teman-teman muda NU di
Mesir yang bersentuhan dengan "inti" tradisi Islam
klasik dengan pelbagai variasinya di Al-Azhar, tetapi
juga membacai pemikiran-pemikiran kritis yang lahir
dari tangan para intelektual Muslim kontemporer di
sana. Mereka ini lah yang selayaknya mendapat
perhatian dari PBNU untuk mem-"boost" kembali gairah
tradisi NU.
Sekali lagi, tradisi NU bukan sekedar tahlil dan
qunut; itu hanya tradisi permukaan yang tetap penting
dijaga tetapi bukan di sana letak soalnya. Tradisi NU
adalah "batang tubuh pemikiran" yang diwarisi oleh
pesantren dari pemikiran Islam klasik yang sangat
kaya. Inti tradisi NU adalah kajian Islam di
pesantren.
Anjuran Menag agar kiai kembali ke barak saya maknai
sebagai peringatan kepada kiai-kiai NU untuk kembali
mengurus tradisi intelektual yang kaya ini. Saya ingin
melihat kembali pesantren mengkaji bukan saja
kitab-kitab kecil di bidang teologi, tetapi juga
karya-karya besar dari al-Baqillani, al-Haramain,
al-Ghazali, al-Iji, al-Taftazani, dll. Saya ingin
melihat pesantren tidak sekedar mengkaji tafsir
Jalalain atau Tafsir Munir-nya Kiai Nawawi, tetapi
juga al-Tafsir al-Kabir-nya al-Razi atau Tafsir
Qurtubi dengan sungguh-sungguh. Dalam bidang tasawwuf,
saya ingin melihat pesantren tidak sekedar mengkaji
kitab kecil seperti Bidayah al-Hidayah atau al-Hikam,
tetapi membaca Fusus al-Hikam-nya Ibn Arabi,
al-Risalah al-Qusyairiyyah, atau Al-Mawaqif-nya
al-Nifari, dst.
Kebesaran NU jelas tidak bisa ditunjang hanya dengan
kiprah politik yang hanya bersifat sementara, tetapi
lebih penting lagi adalah landasan pemikiran yang
kokoh. Para pendiri NU dulu adalah kiai yang levelnya
doktor, sekarang mutu kiai-kiai NU makin merosot tajam
menjadi hanya setingkat S-1 atau malah lebih rendah
lagi.
Mohon maaf jika email terlalu "bersemangat" hingga
akhirnya berkepanjangan.
Ulil
Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
Play Sims Stories at Yahoo! Games.
[Non-text portions of this message have been removed]