Tanggapan atas tanggapan Kang Ulil
   
  1)      saya sepenuhnya sepakat dengan pandangan Anda tentang pentingnya 
pesantren kembali ke “barak’ dan menjauhi politik praktis. Tapi bukankah barak 
atau habitat pesantren adalah masyarakat, dan berbicara masyarakat saat ini 
adalah berbicara "nasib" masyarakat yang tidak diuntungkan oleh struktur 
sosial-politik dunia yang tidak adil, sehingga masyarakat kemudian tidak 
memiliki kesempatan untuk belajar dan menuntut ilmu dengan tenang, dan akhirnya 
pemikiran dan khazanah inteletual islam/pesantren yang kaya itu menjadi tidak 
tergali. 
  2)      Perdebatan tentang neolib bukan soal berkepentingan atau tidak 
berkepentingan, bukan pula soal ahli atau tidak ahli. Tapi persoalan neolib 
adalah persoalan semua masyarakat yang melihat dan merasakan bahwa tata dunia 
global hari ini tidak adil. Saya tidak tahu, mungkin Kang Ulil tidak melihat 
dan merasakan ketidak adilan tata dunia global itu. Kang Ulil mungkin hanya 
melihat bahwa di Indonesia terjadi kejumudan pemikiran keagamaan, sehingga 
perlu diliberalisasi. Kejumudan pemikiran memang sebuah persoalan di semua 
Negara sedang berkembang, tapi ketidak adilan global juga persoalan mendasar 
dan lebih besar yang juga dialami oleh masyarakat dunia ketiga. 
  3)      Saya mau cerita kang, begini; ketika saya banyak diskusi dengan 
kawan-kawan sekuler seperti GMNI (gerakan mahasiswa nasional indoensia), saya 
tidak mendapati mereka ngoyok membincangkan soal fundamentalisme agama dan 
liberalisme agama. Bahkan ketika saya menyatakan bahwa saat ini banyak 
bermunculan Perda syariat yang mengancam nasionalisme (nation-state), mereka 
pun nampak kurang tertarik. Malah mereka dengan nyinyir mengatakan bahwa urusan 
perda syariat itu urusan anak IAIN ! kata mereka.  Pandangan seperti ini bagi 
saya salah besar. Karena ketika kita berbicara tentang perda syariat maka itu 
bukan saja soal agama, melainkan juga soal nasionalisme yang berada dalam 
ancaman sehingga layak diperbincangkan oleh semua warga Negara. Atau bila 
mereka tidak tertarik memperbincangkan, maka setidaknya mereka juga melihat 
bahwa perda syariat ini adalah ancaman sehingga kita perlu melawannya.
   
  Hal ini sama dengan pandangan yang mengatakan bahwa urusan neolib hanya 
urusan ekonom adalah pandangan yang “sesat”. Pada awalnya neolib memang 
berangkat dari konsep ekonomi. Tapi kemudian konsep neolib ini berkembang 
menjadi persoalan social, politik, budaya, agama, bahkan hingga ke selera 
makan. Jadi bagi saya persoalan neolib adalah  persoalan semua orang yang 
sensitive terhadap ketidak adilan global. Bagi yang gak sensitive memang tidak 
melihat neolib sebagai persoalan kali ye….?! 
   
  4)      Saya kira bukan lagi saatnya kita berdiskusi tentang ma makna neolib 
lughatan wa istilahan, karena saya yakin Kang Ulil sudah banyak membaca buku 
tentang neolib, juga karena Kang Ulil adalah orang Fredom Institute yang 
bersemangat mengkampanyekan “pentingnya neolib”.Yang jelas, neolib itu 
(setidaknya bagi saya) tak bisa dan tak perlu didefinisikan ! Karena tanpa 
didefiniskan, neolib sudah bisa kita rasakan (mungkin Kang Ulil gak merasakan 
ya…) ketika harga BBM naik, harga kebutuhan pokok melonjak, banjir di mana-mana 
akibat pengundulan hutan, kemiskinan rakyat Papua yang kaya, mahalnya biaya 
pendidikan, dan sebagainya. 
   
  5)      Salah satu “penyakit” yang diidap oleh intelektual kita saat ini 
adalah menyama-persiskan konsep yang ada dan muncul di luar (Barat/Timur) 
dengan realitas di Indonesia. Kesan ini pula yang saya tangkap dari pandangan 
Anda yang hanya melihat persoalan kiri dalam ruang sosial Amerika, sehingga 
anda berkesimpulan bahwa kiri adalah mainan. Mungkin di Amerika kiri adalah 
mainan, tapi di Indoensia kiri adalah perlawanan serius terhadap ketidak adilan 
tata dunia global. Karena itulah, partai yang berwatak kekiri-kirian seperti 
Papernas di Indoensia hingga kini masih kerap menjadi incaran kekerasan dan 
intimidasi oleh preman berjubah yang dibekingi oleh tentara dan tentara di 
bekingi oleh Amerika. Saya terus terang bukan anti Amerika. Amerika sebagai 
peradaban modern tetap saya menggaguminya. Tapi Amerika sebagai aktor utama 
dalam sistem dunia global yang tidak adil dan merugikan Negara dunia ketiga, 
tetap saya “benci” dan “kritik”.  Di sinilah letak proporsional saya
 dalam melihat Amerika. Tidak seperti Anda yang melihat Amerika secara 
“dogmatis” dan terpesona…..(emang Amerika cewek cantik apa..)
  6)       Saya tidak mau tahu dengan konsep “kiri” di Negara yang Anda 
tinggali sekarang itu. Yang jelas saya tidak sedang mengkampanyekan gerakan 
kiri. Saya hanya ingin agar kita ikut merasakan dan memikirkan fakta ketidak 
adilan global yang saat ini telah banyak memakan korban jutaan rakyat miskin 
yang sebagian besar berada di Negara-negara dunia ketiga itu. Kita melihat 
neoliberalisme itu bukan dari kaca mata ekonomi, tapi (sekali lagi) dari sisi 
gejala sosial, politik, budaya bahkan agama yang saat ini juga menjadi 
instrument dari gerakan neoliberalisme. 
  7)      Saya sangat menyayangkan bila Kang Ulil menempatkan “kiri” sebagai 
mainan anak muda NU yang saat ini kurang ruang perdebatan sehingga mencari 
musuh sekenanya. Pandangan ini tentu sangat emosional karena tidak meletakkan 
“kiri” atau “wacana anti neolib” sebagai “ijtihad” intelektual dan sosial yang 
layak diperdebatkan oleh siapaun dan kapanpun selagi kita masih memandang hal 
itu sebagai penting. Saya menyadari bahwa Anda mungkin “trauma” dengan 
perdebatan tentang neolib yang dulu pernah dilemparkan Ahmad Baso. Baso dulu 
memang kerap menyerang Anda sebagai agen neolib tapi kini akhirnya jatuh 
kepelukan Ma’ruf Amin (bener gak tuh..?). Tapi tolong, jangan semua orang yang 
mengkritik Anda karena tidak sensitif terhadap fakta neolib itu disamakan semua 
dengan Baso. 
  8)      Oiya, kang Ulil bilang bosen di sebelah kiri terus, masak sejak 
mahasiswa kiri terus. Emang Kang Ulil dulu waktu mahasiswa pernah “kiri” ya !? 
(he he…nanya doang, jangan marah lho…). Saya justru ketika mahasiwadulu tidak 
kiri, tapi setelah sekarang saya menikah dan berkeluarga, dan merasakan betapa 
hidup ini dibikin tidak adil oleh sistemyang ada, maka saya jadi tertarik 
dengan kiri. Tapi sekali lagi kita jangan terjebak dengan perdebatan kanan 
-kiri. Inti diskusi kita adalah : NU penting memelihara qunut, membangkitkan 
khazanah pesantren, tapi NU jangan lupa untuk melihat masyarakat di sekitar 
pesantren. Bukankah selain |U mengeluarkan komite Hijaz, NU juga mengeluarkan 
resolusi jihad. Yang pertama melawan kolonisasi pemikiran dan aqidah dari timur 
tengah, yang kedua melawan kolonisasi ekonomi-politik dari Barat (eropa/belanda)
   
  Jadi bagi saya, kiri kanan itu sekedar petunjuk jalan, yang penting adalah 
ketika kita sedang berjalan, tengoklah kanan kirimu, kali aja ada orang yang 
sedang kelaparan di sebelah kirimu dan ada orang yang sedang berkhutbah di 
sebelah kananmu. Jika engkau mendapati keadaan seperti itu, maka apa tindakan 
yang akan kau ambil ? (Hadis riwayat As-Shidqi)
   
  Shidqi
  LMNU (Lingkar Muda Nahdlatul Ulama) Jogja


Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Mas Shidqi,
Terima kasih untuk tanggapannya. 

(1) Saya tetap mengagumi barat sebagai puncak
peradaban modern saat ini, sebagaimana saya juga
mengagumi peradaban Islam pada masa keemasannya.
Kekayaan intelektual peradaban Islam ini saya temukan
di barat saat ini, dan saya pengen sekali pesantren
kembali mengingat kembali kekayaan khazanah itu, dan
tidak tenggelam dalam politik praktis.

(2) Saya tidak terlalu berkepentingan dengan ideologi
neo-liberalisme. Keahlian saya bukan di situ. Ini kan
mainan anak-anak NU "kiri" yang sudah kehilangan
ladang "perdebatan". Lalu dicarilah "musuh" sekenanya;
setiap orang yang mengagumi peradaban barat langsung
disebut "neo-liberal", he he he.... Amat disayangkan
sikap anak-anak NU muda yang menjadi "dogmatis"
seperti ini. Tapi, saya anggap ini hanya gejala sesaat
saja; maklum, gerakan anti neo-liberalisme sedang
trend di mana-mana. Saya sih ndak terlalu tertarik. 

Saya dulu pernah sih "kepincut" dengan gagasan-gagasan
kiri. Beberapa dari gagasan itu hingga sekarang masih
tetap menarik buat saya. Tetapi, secara umum, ide-ide
kiri sudah kehilangan daya tarik buat saya. Bagi saya,
lebih banyak pemikiran lain yang jauh lebih menarik.
Masak, sejak mahasiswa "kiri" terus... hehehe... Bosen
ah...

(3) Kalau Mas Shidqi bisa memberi penjelasan kepada
saya, apa yang anda maksud dengan "neo-liberalisme",
saya sangat senang. Saya tak banyak membaca mengenai
soal ini. Kesan saya, masalah "neo-liberalisme" lebih
banyak berkaitan dengan isu-isu ekonomi. Karena saya
bukan ekonom, saya tak berani terlalu jauh masuk dalam
area ini. 

Saya setuju dengan banyak kritik kaum anti-globalisasi
terhadap sistem ekonomi dunia saat ini, meskipun saya
tak paham detil-detilnya. Tetapi, saya juga melihat
kritik-kritik itu hanya penyempurnaan saja terhadap
sistem pasar sekarang ini. Saya sih jelas pro-pasar
bebas, tetapi kan tidak dengan sendirinya pro-pasar
bebas langsung membuat seseorang seorang neo-liberal.
Ya, toh?

(4)Hampir setiap hari saya melihat mahasiswa "kiri" di
kampus saya; mereka menyebarkan brosur
anti-neoliberalisme. Kadang-kadang saya mendekat,
mendengarkan ceramah mereka, tetapi karena tak menarik
saya biasanya ndak tahan lama-lama mendengarkan.
Beberapa brosurnya kadang-kadang saya ambil, baca
sebentar. Beberapa menarik, beberapa membosankan, dan
terkesan "dogmatis".

Kalau soal kritik atas neo-liberalisme, di negara
bagian Massachussets inilah tempatnya. Di Amerika,
kalau anda menyebtu diri sebagai "liberal", maka
artinya anda adalah seorang kiri. Negara bagian tempat
saya tinggal ini disebut sebagai "state" yang liberal,
artinya kiri. Maksud kiri di sini adalah kritis
terhadap Partai Republik, kritis terhadap kebijakan
pemerintah Bush sekarang, dan lebih dekat ke gagasan
yang berbau "sosial demokrat" dalam pengertian yang
dipahami di Eropa. Di kampus MIT yang bertetanggaan
dengan kampus saya, terdapat seorang tokoh "liberal"
yang dikenal gigih mengkritik Amerika dan ideologi
neo-liberalisme, yaitu Noam Chomsky. Saya penyuka
buku-buku Chomsky, dari dulu hingga sekarang. Meskipun
beberapa saya kurang sepakat dengan
pikiran-pikirannya.

Poin saya, di negeri yang liberal, semua ide
berkembang dengan bebas, termasuk ide-ide kiri yang
membenci liberalisme. Di negeri yang berideologi
"kiri", hal ini jelas tak mungkin terjadi. 

Sori, agak "liberal", maksudnya ngelantur... :)

Ulil 

--- ahmad shidqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kang Ulil...
> Kok tumben Anda "kembali" ke pesantren ?! Biasanya
> Anda selalu menyarankan umat Islam untuk menggali
> pemikiran Barat karena mereka lebih mencerahkan dari
> pada pesantren yang terlalu banyak hafalan. Tapi
> kini Anda mendorong kita untuk "membangkitkan"
> kembali pesantren dengan segala kehebatannya yang
> pernah dimiliki dulu, sehingga perdebatan kita bukan
> lagi hanya soal tahlil dan qunut, melainkan lebih
> mengarah pada "dinamisasi" pemikiran dan khazanah
> intelektual pesantren ?
> Saya khawatir Anda saat ini sedang "ketakutan"
> atas gagasan menjadikan neolib sebagai musuh di
> samping wahabisme? sehingga Anda mengalihkan diskusi
> kita pada perlunya kembali "ngurusi" pesantren yang
> bukan hanya mengajarkan qunut dan tahlil, tapi juga
> pesantren yang mengajarkan beragam ilmu pengetahuan
> seperti teologi, ushul fiqh, dsb ?
> Saya kira, kembali ke pesantren itu memang
> penting, dan itu persoalan menyangkut internal Nu
> atau pesantren yang harus segera di kerjakan juga.
> Tapi menyangkut persoalan eksternal NU dan pesantren
> adalah wahabisme dan neoliberalisme yang juga harus
> mendapat perhatian khusus karena telah "menyerang"
> eksistensi NU dan pesantren. 
> Gimana Kang..? kalau sudah ngomongin
> neoliberalisme, kok sampeyan gak kritis ya...?
> 
> Shidqi (NCC Jogja)
> 
> Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Salam,
> Saya kira kritik yang disampaikan oleh Menag Maftuh
> Basyuni dalam pertemuan RMI beberapa waktu lalu
> tentang keterlibatan kiai dalam politik praktis,
> sangat tepat waktu. Saya tak menyangka Pak Maftuh
> yang
> "jelek-jelek" juga dari keluarga kiai itu "tega"
> menyampaikan kritik itu di depan para kiai-kiai.
> 
> Tentu kita semua tahu yang menjadi sasaran kritik
> Menag bukan sekedar keterlibatan kiai dalam partai
> politik. Yang dia kritik jelas prilaku di lingkungan
> kiai-kiai NU yang saat ini begitu bersemangat
> "ngurus"
> partai ketimbang ngurus pondok mereka sendiri.
> Seruan
> dia agar kiai-kiai "kembali ke barak" sangat tepat
> sekali. 
> 
> Saya kira memang kiai lebih baik menduduki posisi
> seperti yang pernah dikemukakan oleh Arief Budiman
> dulu, yaitu sebagai "cendekiawan yang berumah di
> angin", sebagai figur moral yang "menyemprit" ketika
> terjadi sesuatu yang tak beres di masyarakat. Tapi
> kiai tak harus menjadi "eksekutor" langsung di
> lapangan.
> 
> Indikasi bahwa "politik praktis" lebih menarik bagi
> kiai adalah kantor PBNU yang ramai bukan main saat
> ada
> event-event politik nasional yang besar, tetapi
> mendadak sepi saat event itu berlalu.
> 
> Setelah era Gus Dur berlalu, salah satu sisi yang
> kosong dalam NU adalah tidak adanya seorang pemikir
> dari dalam tubuh NU yang bisa menjadi artikulator
> yang
> baik bagi gagasan-gagasan besar NU ke dunia luar.
> Pemikir tentu tak perlu banyak-banyak, satu juga
> sudah
> cukup. Untuk ormas sebesar NU dengan (konon) 40 juta
> anggota, tentu layak jika ormas ini memiliki seorang
> artikulator ide yang setara dengan Mohammad Khatami,
> mantan Presiden Iran, misalnya. Sebagai benteng
> ideologi Aswaja, sudah tentu NU layak memiliki
> seorang
> "teolog" dan pemikir yang dapat mengartikulasikan
> doktrin itu ke luar dengan memakai bahasa modern
> saat
> ini. Sebagai penerus warisan doktrin Asy'ariyyah,
> sudah selayaknya NU memiliki seorang ulama/sarjana
> (satu saja cukup, ndak usah banyak-banyak) yang
> menguasai benar tradisi Asy'ariyah dengan baik,
> mengartikulasikannya dalam wacana yang sesuai dengan
> perkembangan zaman ini.
> 
> Menyedihkan sekali bahwa yang kita lihat saat ini
> adalah banyaknya kiai NU yang berkiprah di dunia
> politik, langsung atau tak langsung, tetapi sedikit
> sekali yang dapat bekerja pada level pemikiran.
> Orang
> yang tepat bekerja pada wilayah ini sebetulnya
> adalah
> Kiai Said Aqil Siradj. Tetapi, tampaknya, beliau
> kurang tertarik dengan kiprah di bidang pemikiran.
> Padahal aspek ini sangat perlu diisi sehingga NU
> akan
> tampil bukan saja dengan kebesaran jumlah anggota
> dan
> barisan Banser-nya, tetapi juga dengan
> gagasan-gagasannya yang merangsang diskusi publik. 
> 
> Acuan intelektual dunia pesantren selama ini adalah
> ulama-ulama yang sudah terlalu jauh dari segi waktu,
> seperti Imam Ghazali, Imam Maturidi (yang meskipun
> dicantumkan sebagai kiblat teologis NU tetapi
> karyanya
> ndak pernah dibaca di pesantren; tafsir Imam
> Maturidi
> yang terbit beberapa tahun lalu, "Ta'wilat Ahl
> al-Sunnah" sudah selayaknya menjadi kajian kalangan
> pesantren), Imam Al-Junaid, dll. Dibutuhkan pemikir
> di
> kalangan NU yang bisa menjadi mediator antara "kiai
> klasik" itu dengan konteks kehidupan warga
> Nahdliyyin
> di dunia modern. 
> 
> Akhir-akhir ini teman-teman mendiskusikan soal
> tradisi
> tahlil, ziarah kubur dan qunut yang mendapat
> serangan
> dari kaum salafi. Tanpa bermaksud mengecilkan soal
> tahlik, masalah ini sebetulnya hanya permukaan saja
> dari tradisi NU intelektual NU yang mestinya jauh
> lebih kaya. Bagaimanapun inti NU adalah pesantren,
> dan
> inti pesantren adalah tradisi pemikiran Asy'ariyyah
> yang telah diwarisi oleh beberapa generasi dalam
> rentang waktu yang berabad-abad. 
> 
> Eksperimen-skperimen yang "mencerahkan" dalam NU
> hampir sebagian berlangsung pada periode Gus Dur,
> antara lain karena pada periode itulah muncul banyak
> intelektual NU yang mengembang semangat besar untuk
> mengembalikan NU ke masyarakat sipil dan menjadikan
> tradisi intelektual NU kontekstual dengan keadaan
> yang
> sudah berubah. Salah satu inspirasi penting dari
> periode itu adalah lahirnya Ma'had 'Ali (semacam
> Sekolah Tinggi) yang menampung para santri untuk
> melakukan kajian pada level paskasarjana (graduate)
> di
> pesantren. 
> 
> Tolong dikoreksi jika pengamatan saya ini salah;
> saya
> melihat bahwa level kajian Islam di pesantren saat
> ini
> makin lama makin merosot menjadi kajian di tingkat
> "sekolah menengah", atau kalau beruntung ya sampai
> level "undergraduate" atau S-1. Kajian keislaman
> yang
> levelnya paskasarjana hampir jarang sekali. Ide
> pendirian Ma'had Ali dulu adalah untuk mengisi
> kekosongan ini; yakni agar kajian Islam di pesantren
> sampai ke level S-2 dan S-3. Pada generasi ayah dan
> kakek saya, masih banyak santri yang mondok hingga 5
> sampai sepuluh tahun. Kalau dikonversi dalam sistem
> pendidikan modern, itu sama dengan level PhD atau
> doktoral. Dengan kata lain, kiai-kiai yang memegang
> pensantren dulu adalah sarjana dengan level akademik
> yang setingkat S-2 atau S-3. Sekarang ini, usia
> santri
> mondok makin pendek. Setelah tamat Aliyah, langsung
> keluar dan mencari pendidikan modern di universitas.
> 
> Keadaan seperti inilah yang membuat tradisi
> intelektual NU yang berpusat di pesantren makin lama
> makin pudar. Masalah tahlil, menurut saya, hanyalah
> permukaan dari masalah yang jauh lebih serius: yakni
> para pemangku tradisi NU sendiri sudah kehilagan
> semangat untuk mengembangkan tradisi itu. 
> 
> Harapan yang masih tersisa sekarang ini adalah dari
> anak-anak NU yang sekarang menempuh pendidikan di
> Timur Tengah, terutama Mesir. Saya senang sekali
> dengan "gairah intelektual" teman-teman muda NU di
> Mesir yang bersentuhan dengan "inti" tradisi Islam
> klasik dengan pelbagai variasinya di Al-Azhar,
> tetapi
> juga membacai pemikiran-pemikiran kritis yang lahir
> dari tangan para intelektual Muslim kontemporer di
> sana. Mereka ini lah yang selayaknya mendapat
> perhatian dari PBNU untuk mem-"boost" kembali gairah
> tradisi NU.
> 
> Sekali lagi, tradisi NU bukan sekedar tahlil dan
> qunut; itu hanya tradisi permukaan yang tetap
> penting
> dijaga tetapi bukan di sana letak soalnya. Tradisi
> NU
> adalah "batang tubuh pemikiran" yang diwarisi oleh
> pesantren dari pemikiran Islam klasik yang sangat
> kaya. Inti tradisi NU adalah kajian Islam di
> pesantren.
> 
> Anjuran Menag agar kiai kembali ke barak saya maknai
> sebagai peringatan kepada kiai-kiai NU untuk kembali
> mengurus tradisi intelektual yang kaya ini. Saya
> ingin
> 
=== message truncated ===

Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University



         

 
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke