Salam, berdebar-debar saya membaca posting mas Ulil. Posting seperti inilah yang saya tunggu-tunggu. Saya bahkan "curiga" sama mas Ulil, jangan-jangan pikiran 'beliau' ini menjiplak pikiran saya... :-) Yang jelas, membandingkan Burdah dengan Nasyid bukan pada tempatnya. Burdah jelas punya nuansa-nuansa tertentu yang hanya bisa dinikmati orang-orang Khos.
Hmm, saya dulu di Mesir tidak pernah sempat mengaji kitab-kitab yang disebutkan mas Ulil, hanya sempat membelinya. Membaca kitab-kitab itu sendiri memang belum sempurna, qolbu ini masing terasa kering, dan diam-diam saya membutuhkan orang untuk memuaskanku. Ketika di Mesir, ada seorang teman yang (waktu itu berencana) mengaji Futuhat Makkiyyah kepada orang Pakistan yang sudah 25 tahun menggeluti kitab-kitab Ibn Arabi, saya mendukungnya, dan kubilang, "mengajilah kepadanya, nanti saya akan mengaji kepadamu...". Kalimat itu ingin saya katakan lagi kepada mas Ulil, "mumpung masih punya tenaga, carilah Mursyid, dan mengajilah kepadanya, nanti saya pasti akan mengaji kepadamu...". Sebelum mas Ulil membaiat saya jadi muridnya, saya membaiat beliau jadi Mursyid saya. :-) Ayo, ramai-ramai kita baiat mas Ulil jadi Mursyid.... Wassalam, Luthfi ----- Original Message ----- From: Ulil Abshar-Abdalla To: [email protected] Sent: Tuesday, May 22, 2007 10:42 PM Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik Mas Arief, Kekayaan besar Islam antara lain adalah tasawwuf. Sedih sekali kekayaan ini dicaci-maki oleh banyak kalangan Islam sendiri. Karena saya tumbuh di lingkungan pesantren, tasawwuf menjadi bagian dari diri saya yang tak pernah bisa saya tinggalkan. Saat masih di pesantren dulu, saya mengalami "tasawwuf amali", sekarang saya mengalami fase lain, yaitu "tasawwuf fikri". Dua-duanya saling melengkapi.
