Assalamu alaykum wr wb
786.
Top sekali tulisan Shaykh Ulil ini, menggugah semangat. Benar saya juga bisa
merasakan kegalauan ini. Bagaimana NU bisa membumi dan disenangi masyarakat.
Bagaimana NU menjadi cerdas dan gerakannya bisa memasuki semua unversity
seperti yg kita lihat dalam partai anak muda yg disenangi oleh mahasiswa saat
ini. "Cerdas", Sopan, Tidak malas Menolong yg lagi kesusahan dan tidak malas
berbuat untuk mengejar banyak anak muda, serta solid.
bagi kalangan Nu atau kami di tariqah adalah bagaimana energi dzikir dan
salawat yg telah dilakukan mewarnai kehidupan anak muda NU utk tidak malas,
berani berjuang dan berkorban tanpa imbalan politik, kedudukan, uang dll.
Bergerak seperti Jamaah Tabligh dari masjid ke masjid tanpa imbalan dan
berpikir 'cerdas' seperti ikhwan PKS untuk menarik anak muda. Meskipun
ke"cerdas"an ini masih saya berikan tanda kutip, karena bila mereka "cerdas"
dalam arti sebenarnya mereka akan mengetahui mana yg Haqq dan Bathil dari
sumbernya dengan mengikuti Wali Allah, bukan sekadar mengikuti 'siapa pemberi
dananya". Minimal mereka cerdas dalam menarik simpati anak muda.
Saya pernah berada di Jamaah Tabligh dan PKS untuk waktu yang cukup lama
untuk mengamati dan berdakwah bersama mereka, sampai kemudian saya bertemu Wali
Besar, Wali Qutb saat ini, Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani, yang
membuat saya sadar, kembali kpd amalan Ahlul Sunah wal Jamaah yg sesungguhnya
dan bangga dengan amalan beliau yg seperti amalan NU, tetapi beliau tidak
berpolitik dan sangat jujur dan terpercaya. Inilah yg tidak saya dapatkan
dibanyak kyai NU yg terjun dalam politik. Politik dan Keimanan, bagaikan
Keikhlasan dan Penipuan. ( Kebetulan keluarga besar saya di Surabaya adalah
keluarga NU, dan beberapa duduk di DPR ).
Dan saat ini kami bergerak menerobos masjid2 melalui jaringan jamaah Tabligh
yang telah menjadi Naqqshbandi Haqqani kemudian mulailah salawat dan dzikir
hidup di masjid tersebut. Sebenarnya senjata utamanya Salawat Nabi saw. Tetapi
bahkan di masjid NU sendiri atau di masjid tradisional kita susah mengembangkan
dzikir dan salawat, apalagi bila pakai rebana, marawis dan hadrah. Ada
penolakan dari mereka terhadap tariqah sufi. atau bila sesama tariqah mereka
tidak beri kesempatan tariqah lain dan bekerjasama.
Kami sekarang banyak bergerak di jakarta bandung cikarang lampung medan solo
surabaya jogja pekalongan kalimantan dan banyak kota lainnya dikalangan anak
mudanya (lihat jaringan tersebut di www.mevlanasufi.blogspot.com dimana semua
berkaitan kepada Syaikh Nazim dan Syaikh Hisyam. Inilah yg saya maksudkan peta
Politik Sufi dan Kekalifahan Islam dimasa mendatang adalah bagaimana membuat
diri kita terhubung pada Wali Allah.
Pergerakan kami dapat melalui dzikir langsung dari Naqshbandi Haqqani maupun
melalui jaringan Jamaah Tabligh maupun jaringan Pengamen Jalanan ( KPJ =
Kelompok Pengamen Jalanan) diberbagai kota di Indonesia. Nah sekarang yang saya
pikirkan bagaimana menyebarkan salawat ini melalui PKS ( ha..3x ) padahal
dahulunya Hasan al-Banna adalah Wali Sufi dan bertariqah, dan yg membuat mereka
tidak "cerdas" mengapa mereka tdk mengikuti jejak sang Pendiri ( Hasan al-Banna
qs) yg merupakan Wali Allah dan juga Wali Sufi. Hal inipun terjadi di Jamaah
Tabligh, 50% menolak Tariqah, meskipun Pendirinya Mawlana Ilyas adalah Ulama
Tariqah, Wali Sufi.
Bila teman2 di Jamaah Tabligh mau berpikir dalam Kitab Fadilah Amal Mawlana
Zakariya disebutkan amalan2 sufi/tasawuf. Begitu pula dalam tulisan Mawlana
Iqbal (khadim Mawlana Zakaria) mengatakan 40 hari khuruj adalah perjalanan
tingkat pemula, perjalanan selanjutnya mencari Mursyid.
Mengapa saya ngalor ngidul demikian panjang ke PKS, Jamaah Tabligh dll,
sebenarnya maksudnya hal serupa terjadi di NU. Kita kenal Wali Songo penyebar
islam yg merupakan Wali Sufi. Setiap Wali adalah Sufi, meskipun belum tentu
Sufi adalah Wali. Berapa dari kita yg mengikuti Wali sesungguhnya? Berapa dari
kita yg bertariqah? Atau berapa dari kita yang hanya mengikuti EGO, POLITIK,
DUNIA & SETAN? dan hanya mengikuti Nafsu kita,
Alhamdulillah bagi teman2 yg telah memiliki Guru Mursyid, Insya Allah hanya
124.000 Wali yg merupakan Mursyid yg Haqq (bayangkan dari 8 Milyar manusia).
Padahal di JT, PKS tidak ada yg namanya Tariqah Mutabarah wa Nadliyah, wajar
kalau mereka tidak mengenal Tariqah. Tapi di NU gudangnya Wali Allah. Meskipun
demikian banyak warga NU yg alergi pd tariqah, aneh bin ajaib. Syariat tanpa
Tariqah, zindik, Tariqah tanpa Syariat sesat ( Imam Malik).
Kenapa saya mendorong teman2 utk bertariqat, krn jamannya Kekalifahan
Sayidina Mahdi as sudah dekat. Akan ada banyak musibah besar di Indonesia dan
dunia. Tsunami besar akan berdatangan silih berganti, perang sesama Islam akan
terjadi demikian berat. Tanpa tariqah tak ada Taklid, Cinta dan Kepatuhan yg
besar. Bagaimana tentara bergerak tanpa kepatuhan. Patuh berasal dari Cinta.
Kalau kita cinta pd seseorang, maka kita akan patuh, kemudian "kepatuhan " ini
menimbulkan Iman dan Yakin. Politik Sufi, ialah Kekalifahan Sayidina Mahdi as.
Insya Allah Mas Ulil juga nantinya memiliki Mursyid ( atau mungkin juga sudah
ya Mas), seperti Dani Ahmad (bayat kepada Sh Hisyam 2006), Gus Dur ( bayat pd
sh Nazim 2001). Sehingga dalam perjalanannya selalu akan mendapat "perintah
yang terhubung kpd Mursyid & Nabi saw".
Mungkin kalau saat ini Kyai2 NU di Indonesia saya kagum pada KH.
Tawfiqurrahman Pekalongan (bayat pd Sh Hisyam 2001), beliau Wali Allah yg
sangat rendah hati dan tidak mau berpolitik. Pesantrennya menjadi yg paling
indah karena dibangun dengan CINTA yg benar kepada Allah swt, Nabi saw dan
Cinta Awliya Allah. " Ati Allah ati ur Rasul, ati Ulil amri minkum". Siapakah
Ulil Amri, mereka adalah para Wali Allah merekalah wakil Nabi saw saat ini, yg
manapun yg kalian ikuti, bagai bintang bercahaya yg dapat membimbing
kalian.Yang lainnya para Wali banyak yg tersembunyi dan tidak ingin dikenali.
wasalam, arief hamdani
( segera terbit, Politik Sufi, Kumpulan Ceramah Syaikh Nazim & Syaikh Hisyam
silahkan down load gratis di www.mevlanasufi.blogspot.com ).
Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,
Saya kira kritik yang disampaikan oleh Menag Maftuh
Basyuni dalam pertemuan RMI beberapa waktu lalu
tentang keterlibatan kiai dalam politik praktis,
sangat tepat waktu. Saya tak menyangka Pak Maftuh yang
"jelek-jelek" juga dari keluarga kiai itu "tega"
menyampaikan kritik itu di depan para kiai-kiai.
Tentu kita semua tahu yang menjadi sasaran kritik
Menag bukan sekedar keterlibatan kiai dalam partai
politik. Yang dia kritik jelas prilaku di lingkungan
kiai-kiai NU yang saat ini begitu bersemangat "ngurus"
partai ketimbang ngurus pondok mereka sendiri. Seruan
dia agar kiai-kiai "kembali ke barak" sangat tepat
sekali.
Saya kira memang kiai lebih baik menduduki posisi
seperti yang pernah dikemukakan oleh Arief Budiman
dulu, yaitu sebagai "cendekiawan yang berumah di
angin", sebagai figur moral yang "menyemprit" ketika
terjadi sesuatu yang tak beres di masyarakat. Tapi
kiai tak harus menjadi "eksekutor" langsung di
lapangan.
Indikasi bahwa "politik praktis" lebih menarik bagi
kiai adalah kantor PBNU yang ramai bukan main saat ada
event-event politik nasional yang besar, tetapi
mendadak sepi saat event itu berlalu.
Setelah era Gus Dur berlalu, salah satu sisi yang
kosong dalam NU adalah tidak adanya seorang pemikir
dari dalam tubuh NU yang bisa menjadi artikulator yang
baik bagi gagasan-gagasan besar NU ke dunia luar.
Pemikir tentu tak perlu banyak-banyak, satu juga sudah
cukup. Untuk ormas sebesar NU dengan (konon) 40 juta
anggota, tentu layak jika ormas ini memiliki seorang
artikulator ide yang setara dengan Mohammad Khatami,
mantan Presiden Iran, misalnya. Sebagai benteng
ideologi Aswaja, sudah tentu NU layak memiliki seorang
"teolog" dan pemikir yang dapat mengartikulasikan
doktrin itu ke luar dengan memakai bahasa modern saat
ini. Sebagai penerus warisan doktrin Asy'ariyyah,
sudah selayaknya NU memiliki seorang ulama/sarjana
(satu saja cukup, ndak usah banyak-banyak) yang
menguasai benar tradisi Asy'ariyah dengan baik,
mengartikulasikannya dalam wacana yang sesuai dengan
perkembangan zaman ini.
Menyedihkan sekali bahwa yang kita lihat saat ini
adalah banyaknya kiai NU yang berkiprah di dunia
politik, langsung atau tak langsung, tetapi sedikit
sekali yang dapat bekerja pada level pemikiran. Orang
yang tepat bekerja pada wilayah ini sebetulnya adalah
Kiai Said Aqil Siradj. Tetapi, tampaknya, beliau
kurang tertarik dengan kiprah di bidang pemikiran.
Padahal aspek ini sangat perlu diisi sehingga NU akan
tampil bukan saja dengan kebesaran jumlah anggota dan
barisan Banser-nya, tetapi juga dengan
gagasan-gagasannya yang merangsang diskusi publik.
Acuan intelektual dunia pesantren selama ini adalah
ulama-ulama yang sudah terlalu jauh dari segi waktu,
seperti Imam Ghazali, Imam Maturidi (yang meskipun
dicantumkan sebagai kiblat teologis NU tetapi karyanya
ndak pernah dibaca di pesantren; tafsir Imam Maturidi
yang terbit beberapa tahun lalu, "Ta'wilat Ahl
al-Sunnah" sudah selayaknya menjadi kajian kalangan
pesantren), Imam Al-Junaid, dll. Dibutuhkan pemikir di
kalangan NU yang bisa menjadi mediator antara "kiai
klasik" itu dengan konteks kehidupan warga Nahdliyyin
di dunia modern.
Akhir-akhir ini teman-teman mendiskusikan soal tradisi
tahlil, ziarah kubur dan qunut yang mendapat serangan
dari kaum salafi. Tanpa bermaksud mengecilkan soal
tahlik, masalah ini sebetulnya hanya permukaan saja
dari tradisi NU intelektual NU yang mestinya jauh
lebih kaya. Bagaimanapun inti NU adalah pesantren, dan
inti pesantren adalah tradisi pemikiran Asy'ariyyah
yang telah diwarisi oleh beberapa generasi dalam
rentang waktu yang berabad-abad.
Eksperimen-skperimen yang "mencerahkan" dalam NU
hampir sebagian berlangsung pada periode Gus Dur,
antara lain karena pada periode itulah muncul banyak
intelektual NU yang mengembang semangat besar untuk
mengembalikan NU ke masyarakat sipil dan menjadikan
tradisi intelektual NU kontekstual dengan keadaan yang
sudah berubah. Salah satu inspirasi penting dari
periode itu adalah lahirnya Ma'had 'Ali (semacam
Sekolah Tinggi) yang menampung para santri untuk
melakukan kajian pada level paskasarjana (graduate) di
pesantren.
Tolong dikoreksi jika pengamatan saya ini salah; saya
melihat bahwa level kajian Islam di pesantren saat ini
makin lama makin merosot menjadi kajian di tingkat
"sekolah menengah", atau kalau beruntung ya sampai
level "undergraduate" atau S-1. Kajian keislaman yang
levelnya paskasarjana hampir jarang sekali. Ide
pendirian Ma'had Ali dulu adalah untuk mengisi
kekosongan ini; yakni agar kajian Islam di pesantren
sampai ke level S-2 dan S-3. Pada generasi ayah dan
kakek saya, masih banyak santri yang mondok hingga 5
sampai sepuluh tahun. Kalau dikonversi dalam sistem
pendidikan modern, itu sama dengan level PhD atau
doktoral. Dengan kata lain, kiai-kiai yang memegang
pensantren dulu adalah sarjana dengan level akademik
yang setingkat S-2 atau S-3. Sekarang ini, usia santri
mondok makin pendek. Setelah tamat Aliyah, langsung
keluar dan mencari pendidikan modern di universitas.
Keadaan seperti inilah yang membuat tradisi
intelektual NU yang berpusat di pesantren makin lama
makin pudar. Masalah tahlil, menurut saya, hanyalah
permukaan dari masalah yang jauh lebih serius: yakni
para pemangku tradisi NU sendiri sudah kehilagan
semangat untuk mengembangkan tradisi itu.
Harapan yang masih tersisa sekarang ini adalah dari
anak-anak NU yang sekarang menempuh pendidikan di
Timur Tengah, terutama Mesir. Saya senang sekali
dengan "gairah intelektual" teman-teman muda NU di
Mesir yang bersentuhan dengan "inti" tradisi Islam
klasik dengan pelbagai variasinya di Al-Azhar, tetapi
juga membacai pemikiran-pemikiran kritis yang lahir
dari tangan para intelektual Muslim kontemporer di
sana. Mereka ini lah yang selayaknya mendapat
perhatian dari PBNU untuk mem-"boost" kembali gairah
tradisi NU.
Sekali lagi, tradisi NU bukan sekedar tahlil dan
qunut; itu hanya tradisi permukaan yang tetap penting
dijaga tetapi bukan di sana letak soalnya. Tradisi NU
adalah "batang tubuh pemikiran" yang diwarisi oleh
pesantren dari pemikiran Islam klasik yang sangat
kaya. Inti tradisi NU adalah kajian Islam di
pesantren.
Anjuran Menag agar kiai kembali ke barak saya maknai
sebagai peringatan kepada kiai-kiai NU untuk kembali
mengurus tradisi intelektual yang kaya ini. Saya ingin
melihat kembali pesantren mengkaji bukan saja
kitab-kitab kecil di bidang teologi, tetapi juga
karya-karya besar dari al-Baqillani, al-Haramain,
al-Ghazali, al-Iji, al-Taftazani, dll. Saya ingin
melihat pesantren tidak sekedar mengkaji tafsir
Jalalain atau Tafsir Munir-nya Kiai Nawawi, tetapi
juga al-Tafsir al-Kabir-nya al-Razi atau Tafsir
Qurtubi dengan sungguh-sungguh. Dalam bidang tasawwuf,
saya ingin melihat pesantren tidak sekedar mengkaji
kitab kecil seperti Bidayah al-Hidayah atau al-Hikam,
tetapi membaca Fusus al-Hikam-nya Ibn Arabi,
al-Risalah al-Qusyairiyyah, atau Al-Mawaqif-nya
al-Nifari, dst.
Kebesaran NU jelas tidak bisa ditunjang hanya dengan
kiprah politik yang hanya bersifat sementara, tetapi
lebih penting lagi adalah landasan pemikiran yang
kokoh. Para pendiri NU dulu adalah kiai yang levelnya
doktor, sekarang mutu kiai-kiai NU makin merosot tajam
menjadi hanya setingkat S-1 atau malah lebih rendah
lagi.
Mohon maaf jika email terlalu "bersemangat" hingga
akhirnya berkepanjangan.
Ulil
Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University
---------------------------------
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.
[Non-text portions of this message have been removed]