Salam Mas Ulil,
Saya sependapat bahwa Kyai harus kembali mengurus pesantrennya. Memang, 
sebagian mereka sudah terlalu jauh bergelut dengan dunia politik. Saya juga 
sependapat Gus Dur semasa menjadi Ketua PB NU yang paling bertanggungjawab 
menggiatkan iklim keilmuan di kalangan anak muda NU. Tapi Gus Dur juga yang 
menarik-menarik Kyai Pesantren ke dalam pusaran arus politik seperti sekarang. 
Mohon saya diberitahu kenapa Gus Dur dulu berinisiatif mendirikan partai 
politik? Saya selama ini belum menemukan jawaban dari pertanyaan ini. Kenapa 
beliau tidak istiqamah saja merawat semangat keilmuan yang sedang tumbuh di 
kalangan anak muda NU? 

Wassalam
Arif Z



----- Original Message ----
From: lakpesdam <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, May 23, 2007 1:32:49 PM
Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik

Mas Ulil,
Kalau Anda bener-bener niat mendirikan pesantren yang bisa mengajarkan
kekayaan mistik, kayaknya saya yakin bisa. "Tidak usah" menunggu restu
Allah. Bersegeralah! Usul saya, Kajen atau Leteh adalah tempat yang pas
untuk mewujudkan cita-cita Anda yang mulia itu.
Tidak usah menuggu pensiun, Mas.
Hehehehehehehehe. ..

salam,
hamzah

----- Original Message -----
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED] com>
To: <[EMAIL PROTECTED] s.com>
Sent: Tuesday, May 22, 2007 10:42 PM
Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik

> Mas Arief,
> Kekayaan besar Islam antara lain adalah tasawwuf.
> Sedih sekali kekayaan ini dicaci-maki oleh banyak
> kalangan Islam sendiri. Karena saya tumbuh di
> lingkungan pesantren, tasawwuf menjadi bagian dari
> diri saya yang tak pernah bisa saya tinggalkan. Saat
> masih di pesantren dulu, saya mengalami "tasawwuf
> amali", sekarang saya mengalami fase lain, yaitu
> "tasawwuf fikri". Dua-duanya saling melengkapi.
>
> Figur yang saya kagumi, antara lain, adalah Imam
> Ghazali. Saya membaca berkali-kali "Misykat al-Anwar",
> dan tak pernah bosan. Imam Ghazali mengupas konsep
> "Cahaya Tuhan" dengan sangat memikat sekali. Tentu
> ulasan seperti yang dilakukan oleh Imam Ghazali itu
> tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang telah
> melalui "pengalaman mistik" yang mendalam.
>
> Hingga sekarang ini, saya tak pernah berhenti
> mengagumi dan menghayati Kitab al-Hikam yang nyaris
> seperti sebuah puisi. Saya tak sempat mempelajari
> kitab ini di pesantren dulu, karena dilarang oleh ayah
> saya, sebab saya belum cukup umur. Konon, orang boleh
> membaca kitab ini kalau sudah berumur 40 ke atas.
> Sekarang saya membaca sendiri, meskipun saya
> sebetulnya ingin mencari seorang "guru" kepada siapa
> saya bisa mengkaji kitab ini. Tidak seperti dalam
> ilmu-ilmu sekuler, "pengetahuan" dalam tradisi mistik
> seharusnya diajarkan melalui seorang "mursyid". Memang
> rasanya sungguh lain jika ajaran tasawwuf kita terima
> dari mulut seorang guru yang sudah menempuh "suluk"
> yang panjang dibanding jika kita hanya membaca buku
> saja. Karena itu, saya bisa memahami ajaran yang
> pernah saya terima di pesantren dulu, "man laisa lahu
> syaikh fasyaikhuhu syaithan," siapa yang belajar tanpa
> panduan seorang "master" atau guru maka syaitanlah
> yang akan menjadi gurunya.
>
> Tahun lalu, saya belajar tasawwuf sejumlah agama
> besar: Kristen, Hindhu dan Budha. Dari pengalaman
> mengambil kelas itulah saya kemudian menjadi tahu dan
> menghayati sendiri bahwa belajar pengetahuan yang
> masuk dalam kategori "irfan" atau "al-ilmu al-hudhuri"
> itu akan lebih "cespleng" dan meresap ke dalam diri
> kita jika melalui seorang syaikh, mursyid, profesor,
> atau guru.
>
> Selain Sykeh Hisyam Kabbani, saya mengagumi seorang
> sarjana Muslim "tradisional" lain di Amerika (kata
> "tradisional" di sini saya mengerti dalam pengertian
> yang diberikan oleh Seyyed Hussein Nasr) kebetulan dia
> adalah seorang muallaf. Namanya Ustaz Hamzah Yusuf.
> Dia mendirikan sebuah lembaga di California, Zaitunah
> Institute. Salah satu sumbangan penting Ustaz Hamzah
> adalah mengenalkan tradisi membaca Burdah yang indah
> itu di kalangan Muslim di Amerika. Dia telah
> menerjemahkan puisi Burdah itu ke dalam bahasa
> Inggris, dan memproduksi rekaman bacaan Burdah yang
> dilakukan oleh sebuah kelompok mistik dari Maroko.
> Saya menikmati benar pembacaan Burdah a la Maroko itu.
> Ada aspek penting yang perlu saya gari-bawahi di sini:
> saat saya mendengarkan lantunan Burdah a la Maroko
> itu, ada "nuansa" musikal yang berbeda dengan saat
> saya mendengarkan nasyid-nasyid yang lazim dikenal di
> kalangan PKS. Saya pernah lama bergaul dengan
> lingkungan semacam PKS itu, tetapi saya tak pernah
> bisa mencintai nasyid mereka. Jiwa saya tak ada di
> sana. Saya lebih mencintai Burdah dan Barzanji.
> Perhatikan ritme bait Burdah yang sangat populer di
> kampung-kampung ini:
>
> Ya rabbi bil mustafa balligh maqasidana
> Wa-ghfir lana ma mada ya wasi' al-karami
>
> Huwa al-habib al-ladzi turja syafa'atuhu
> Likulli haulin min al-ahwali muqtahimi
>
> Masing-masing suku kata dalam bait itu mewakili ritme
> "naik-turun" , menggambarkan sebuah konsep sentral
> dalam tradisi tasawwuf, yaitu "khauf dan raja'" (takut
> dan berharap), qabd dan bast (mengkerut mengembang),
> inqibad dan inbisat, dst. Ritme naik-turun ini yang
> tak saya jumpai dalam nasyid-nasyid PKS. Suasana
> nasyid umumnya tragis dan menyedihkan, seolah-olah
> ingin meratapi terus-menerus kekalahan Islam.
>
> Terakhir, menurut saya, pesantren sekarang ini kurang
> menghargai tradisi tasawwuf secara memadai, baik
> tasawwuf amali atau tasawwuf fikri. Setahu saya, tak
> ada satu pesantren pun yang mengajarkan al-Risalah
> al-Qusyairiyyah, misalnya. Kitab al-Hikam memang
> diajarkan, tetapi tidak cukup luas. Tetapi kita masih
> beruntung karena Ihya diajarkan secara luas sekali di
> pesantren-pesantren NU. Saya masih berharap suatu
> ketika ada seorang kiai yang mengajarkan Fusus
> al-Hikam karya Ibn Arabi seperti para ayatullah di
> Iran masih terus mengajarkan kitab ini hingga
> sekarang. Akan lebih baik lagi jika suatu ketika ada
> yang mengajarkan pula karya Al-Suhrawardi, "Hikmat
> al-Isyraq" atau karya Mulla Sadra, "Iksir al-Arifin".
> Akan lebih indah lagi kalalu suatu ketika puisi-puisi
> Masnawi-nya Mawlana Jalaluddin Rumi diajarkan di
> pesantren, dibarengi dengan tarian darwish yang
> berasal dari tarekat Mawlawiyyah. Aduh, saya bisa
> "mabuk" kalau sudah membaca karya-karya misik besar
> ini. Ini adalah kekayaan yang dahsyat sekali. Saya
> ingin arah pesantren ke depan adalah semacam itu:
> menggali khazanah Islam yang begitu kaya, termasuk di
> bidang tasawwuf.
>
> Suatu saat, saya bermimpi mendirikan pesantren yang
> bisa mengajarkan kekayaan mistik ini, kalau Allah
> mengizinkan.
>
> Ulil
>
>
>
>
> --- arief dani <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
>
> > Assalamu alaykum wr wb
> > 786.
> >
> > Top sekali tulisan Shaykh Ulil ini, menggugah
> > semangat. Benar saya juga bisa merasakan kegalauan
> > ini. Bagaimana NU bisa membumi dan disenangi
> > masyarakat. Bagaimana NU menjadi cerdas dan
> > gerakannya bisa memasuki semua unversity seperti yg
> > kita lihat dalam partai anak muda yg disenangi oleh
> > mahasiswa saat ini. "Cerdas", Sopan, Tidak malas
> > Menolong yg lagi kesusahan dan tidak malas berbuat
> > untuk mengejar banyak anak muda, serta solid.
> >
> > bagi kalangan Nu atau kami di tariqah adalah
> > bagaimana energi dzikir dan salawat yg telah
> > dilakukan mewarnai kehidupan anak muda NU utk tidak
> > malas, berani berjuang dan berkorban tanpa imbalan
> > politik, kedudukan, uang dll. Bergerak seperti
> > Jamaah Tabligh dari masjid ke masjid tanpa imbalan
> > dan berpikir 'cerdas' seperti ikhwan PKS untuk
> > menarik anak muda. Meskipun ke"cerdas"an ini masih
> > saya berikan tanda kutip, karena bila mereka
> > "cerdas" dalam arti sebenarnya mereka akan
> > mengetahui mana yg Haqq dan Bathil dari sumbernya
> > dengan mengikuti Wali Allah, bukan sekadar mengikuti
> > 'siapa pemberi dananya". Minimal mereka cerdas dalam
> > menarik simpati anak muda.
> >
> > Saya pernah berada di Jamaah Tabligh dan PKS untuk
> > waktu yang cukup lama untuk mengamati dan berdakwah
> > bersama mereka, sampai kemudian saya bertemu Wali
> > Besar, Wali Qutb saat ini, Mawlana Syaikh Hisyam
> > Kabbani ar-Rabbani, yang membuat saya sadar, kembali
> > kpd amalan Ahlul Sunah wal Jamaah yg sesungguhnya
> > dan bangga dengan amalan beliau yg seperti amalan
> > NU, tetapi beliau tidak berpolitik dan sangat jujur
> > dan terpercaya. Inilah yg tidak saya dapatkan
> > dibanyak kyai NU yg terjun dalam politik. Politik
> > dan Keimanan, bagaikan Keikhlasan dan Penipuan. (
> > Kebetulan keluarga besar saya di Surabaya adalah
> > keluarga NU, dan beberapa duduk di DPR ).
> >
> > Dan saat ini kami bergerak menerobos masjid2
> > melalui jaringan jamaah Tabligh yang telah menjadi
> > Naqqshbandi Haqqani kemudian mulailah salawat dan
> > dzikir hidup di masjid tersebut. Sebenarnya senjata
> > utamanya Salawat Nabi saw. Tetapi bahkan di masjid
> > NU sendiri atau di masjid tradisional kita susah
> > mengembangkan dzikir dan salawat, apalagi bila pakai
> > rebana, marawis dan hadrah. Ada penolakan dari
> > mereka terhadap tariqah sufi. atau bila sesama
> > tariqah mereka tidak beri kesempatan tariqah lain
> > dan bekerjasama.
> >
> > Kami sekarang banyak bergerak di jakarta bandung
> > cikarang lampung medan solo surabaya jogja
> > pekalongan kalimantan dan banyak kota lainnya
> > dikalangan anak mudanya (lihat jaringan tersebut di
> > www.mevlanasufi. blogspot. com dimana semua berkaitan
> > kepada Syaikh Nazim dan Syaikh Hisyam. Inilah yg
> > saya maksudkan peta Politik Sufi dan Kekalifahan
> > Islam dimasa mendatang adalah bagaimana membuat diri
> > kita terhubung pada Wali Allah.
> >
> > Pergerakan kami dapat melalui dzikir langsung dari
> > Naqshbandi Haqqani maupun melalui jaringan Jamaah
> > Tabligh maupun jaringan Pengamen Jalanan ( KPJ =
> > Kelompok Pengamen Jalanan) diberbagai kota di
> > Indonesia. Nah sekarang yang saya pikirkan
> > bagaimana menyebarkan salawat ini melalui PKS (
> > ha..3x ) padahal dahulunya Hasan al-Banna adalah
> > Wali Sufi dan bertariqah, dan yg membuat mereka
> > tidak "cerdas" mengapa mereka tdk mengikuti jejak
> > sang Pendiri ( Hasan al-Banna qs) yg merupakan Wali
> > Allah dan juga Wali Sufi. Hal inipun terjadi di
> > Jamaah Tabligh, 50% menolak Tariqah, meskipun
> > Pendirinya Mawlana Ilyas adalah Ulama Tariqah, Wali
> > Sufi.
> >
> > Bila teman2 di Jamaah Tabligh mau berpikir dalam
> > Kitab Fadilah Amal Mawlana Zakariya disebutkan
> > amalan2 sufi/tasawuf. Begitu pula dalam tulisan
> > Mawlana Iqbal (khadim Mawlana Zakaria) mengatakan 40
> > hari khuruj adalah perjalanan tingkat pemula,
> > perjalanan selanjutnya mencari Mursyid.
> >
> > Mengapa saya ngalor ngidul demikian panjang ke
> > PKS, Jamaah Tabligh dll, sebenarnya maksudnya hal
> > serupa terjadi di NU. Kita kenal Wali Songo penyebar
> > islam yg merupakan Wali Sufi. Setiap Wali adalah
> > Sufi, meskipun belum tentu Sufi adalah Wali. Berapa
> > dari kita yg mengikuti Wali sesungguhnya? Berapa
> > dari kita yg bertariqah? Atau berapa dari kita yang
> > hanya mengikuti EGO, POLITIK, DUNIA & SETAN? dan
> > hanya mengikuti Nafsu kita,
> >
> > Alhamdulillah bagi teman2 yg telah memiliki Guru
> > Mursyid, Insya Allah hanya 124.000 Wali yg merupakan
> > Mursyid yg Haqq (bayangkan dari 8 Milyar manusia).
> > Padahal di JT, PKS tidak ada yg namanya Tariqah
> > Mutabarah wa Nadliyah, wajar kalau mereka tidak
> > mengenal Tariqah. Tapi di NU gudangnya Wali Allah.
> > Meskipun demikian banyak warga NU yg alergi pd
> > tariqah, aneh bin ajaib. Syariat tanpa Tariqah,
> > zindik, Tariqah tanpa Syariat sesat ( Imam Malik).
> >
> > Kenapa saya mendorong teman2 utk bertariqat, krn
> > jamannya Kekalifahan Sayidina Mahdi as sudah dekat.
> > Akan ada banyak musibah besar di Indonesia dan
> > dunia. Tsunami besar akan berdatangan silih
> > berganti, perang sesama Islam akan terjadi demikian
> > berat. Tanpa tariqah tak ada Taklid, Cinta dan
> > Kepatuhan yg besar. Bagaimana tentara bergerak tanpa
> > kepatuhan. Patuh berasal dari Cinta. Kalau kita
> > cinta pd seseorang, maka kita akan patuh, kemudian
> > "kepatuhan " ini menimbulkan Iman dan Yakin. Politik
> > Sufi, ialah Kekalifahan Sayidina Mahdi as.
> >
> > Insya Allah Mas Ulil juga nantinya memiliki
> > Mursyid ( atau mungkin juga sudah ya Mas), seperti
> > Dani Ahmad (bayat kepada Sh Hisyam 2006), Gus Dur (
> > bayat pd sh Nazim 2001). Sehingga dalam
> > perjalanannya selalu akan mendapat "perintah yang
> > terhubung kpd Mursyid & Nabi saw".
> >
> > Mungkin kalau saat ini Kyai2 NU di Indonesia saya
> > kagum pada KH. Tawfiqurrahman Pekalongan (bayat pd
> > Sh Hisyam 2001), beliau Wali Allah yg sangat rendah
> > hati dan tidak mau berpolitik. Pesantrennya menjadi
> > yg paling indah karena dibangun dengan CINTA yg
> > benar kepada Allah swt, Nabi saw dan Cinta Awliya
> > Allah. " Ati Allah ati ur Rasul, ati Ulil amri
> > minkum". Siapakah Ulil Amri, mereka adalah para Wali
> > Allah merekalah wakil Nabi saw saat ini, yg manapun
> > yg kalian ikuti, bagai bintang bercahaya yg dapat
> > membimbing kalian.Yang lainnya para Wali banyak yg
> > tersembunyi dan tidak ingin dikenali.
> >
> > wasalam, arief hamdani
> > ( segera terbit, Politik Sufi, Kumpulan Ceramah
> > Syaikh Nazim & Syaikh Hisyam silahkan down load
> > gratis di www.mevlanasufi. blogspot. com ).
> >
> >
> > Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
> > Salam,
> > Saya kira kritik yang disampaikan oleh Menag Maftuh
> > Basyuni dalam pertemuan RMI beberapa waktu lalu
> > tentang keterlibatan kiai dalam politik praktis,
> > sangat tepat waktu. Saya tak menyangka Pak Maftuh
> > yang
> > "jelek-jelek" juga dari keluarga kiai itu "tega"
> > menyampaikan kritik itu di depan para kiai-kiai.
> >
> > Tentu kita semua tahu yang menjadi sasaran kritik
> > Menag bukan sekedar keterlibatan kiai dalam partai
> > politik. Yang dia kritik jelas prilaku di lingkungan
> > kiai-kiai NU yang saat ini begitu bersemangat
> > "ngurus"
> > partai ketimbang ngurus pondok mereka sendiri.
> > Seruan
> > dia agar kiai-kiai "kembali ke barak" sangat tepat
> > sekali.
> >
> > Saya kira memang kiai lebih baik menduduki posisi
> > seperti yang pernah dikemukakan oleh Arief Budiman
> > dulu, yaitu sebagai "cendekiawan yang berumah di
> > angin", sebagai figur moral yang "menyemprit" ketika
> > terjadi sesuatu yang tak beres di masyarakat. Tapi
> > kiai tak harus menjadi "eksekutor" langsung di
> > lapangan.
> >
> > Indikasi bahwa "politik praktis" lebih menarik bagi
> > kiai adalah kantor PBNU yang ramai bukan main saat
> > ada
> > event-event politik nasional yang besar, tetapi
> > mendadak sepi saat event itu berlalu.
> >
> > Setelah era Gus Dur berlalu, salah satu sisi yang
> > kosong dalam NU adalah tidak adanya seorang pemikir
> > dari dalam tubuh NU yang bisa menjadi artikulator
> > yang
> > baik bagi gagasan-gagasan besar NU ke dunia luar.
> > Pemikir tentu tak perlu banyak-banyak, satu juga
> > sudah
> > cukup. Untuk ormas sebesar NU dengan (konon) 40 juta
> > anggota, tentu layak jika ormas ini memiliki seorang
> > artikulator ide yang setara dengan Mohammad Khatami,
> > mantan Presiden Iran, misalnya. Sebagai benteng
> > ideologi Aswaja, sudah tentu NU layak memiliki
> > seorang
> > "teolog" dan pemikir yang dapat mengartikulasikan
> > doktrin itu ke luar dengan memakai bahasa modern
> > saat
> > ini. Sebagai penerus warisan doktrin Asy'ariyyah,
> > sudah selayaknya NU memiliki seorang ulama/sarjana
> > (satu saja cukup, ndak usah banyak-banyak) yang
> > menguasai benar tradisi Asy'ariyah dengan baik,
> > mengartikulasikanny a dalam wacana yang sesuai dengan
> > perkembangan zaman ini.
> >
> >
> === message truncated ===
>
>
> Ulil Abshar-Abdalla
> Department of Religion
> Boston University
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> http://www.numesir. org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir
dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
> ~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~
> Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda
harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
> kmnu2000-unsubscrib [EMAIL PROTECTED] com
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> --
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.467 / Virus Database: 269.7.6/814 - Release Date: 5/21/2007
2:01 PM
>
>




 
____________________________________________________________________________________
We won't tell. Get more on shows you hate to love 
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
http://tv.yahoo.com/collections/265 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke